Prejudice : sebuah renungan dan keresahan

PROLOG :

Saya bukan psikolog sosial. Bukan psikolog klinis dewasa. Bukan psikolog pendidikan. Bukan psikolog industri & organisasi. Tapi di lemari buku saya, buku-buku dengan tema sosial, klinis dewasa, pendidikan, industri & organisasi jumlahnya tak kalah banyak dengan buku psikologi umum dan eksperimen yang saya ajarkan, serta buku-buku psikologi perkembangan dan klinis anak yang saya praktekkan. Saya yakin di lemari teman-teman saya para dosen psikopad terutama yang sebaya saya, juga demikian. Bukan saja karena sebagian dari kami menempuh program profesi yang kurikulumnya menjadikan kami harus mempelajari dan “ahli” di semua bidang kajian psikologi itu dulu. Tapi  juga karena kami yang masuk di jurusan psikologi, memang tertarik dengan psikologi. Dalam beragam aplikasinya. Meskipun pada akhirnya kami memiliki “spesialisasi” masing-masing, namun tak heran kalau kami semua punya hobi yang sama; mengoleksi buku psikologi 😉

Malam ini saya menemukan satu buku yang tak pernah saya gunakan baik untuk mengajar maupun untuk praktek. Social Psychology 8th Edition, karangan David G. Myers. Saya ingin menulis tentang satu bahasan dalam psikologi sosial; yaitu PREJUDICE. Kenapa saya pengen nulis tentang ini? ada deeeeeh … #centil#

……………………………………

PREJUDICE

Saya akan mecoba menyampaikan kembali apa yang om Myers uraikan di buku ini mengenai definisi prejudice, sumber prejudice (sosial, motivasional, kognitif), dan efek dari prejudice. Pastinya di ujung akan saya tutup dengan “penghayatan” saya terhadap prejudice ini.

  • DEFINISI PREJUDICE

Prejudice is a negative prejudgement of a group and its individual members. Prejudice (atau terjemahan bahasa Indonesia-nya adalah prasangka); adalah pra-anggapan terhadap kelompok dan anggota kelompok tersebut. Prejudice adalah sikap. Sikap adalah kombinasi dari perasaan, tendensi perilaku dan belief (keyakinan).

Prejudice berakar dari stereotype. Stereotype is a belief about the personal attributes of a group of people. Stereotypes are sometimes overgeneralized, inaccurate and resistant to new information. Secara sederhana, stereotype adalah “generalisasi” kita terhadap sesuatu. Sebenarnya, “generalisasi” ini mendekati benar sih….cuman, jadi masalah kalau “overgeneralisasi”. Misalnya, mas pernah cerita bodor. Suatu saat katanya ada orang Indonesia bertemu orang Amerika. Orang Amerika itu berkata “kamu pinter main tenis ya…”. Si orang Indonesia yang sumur hidup belum pernah main tenis itu heran….trus nanya kenapa….si Amerika lalu berkata: “Kan Yayuk Basuki  yang hebat main tenisnya itu orang Indonesia. Kamu juga orang Indonesia, berarti kamu pinter main tenis” . Kalau di ujian Filsafat ilmu dan logika waktu saya kuliah dulu, itu namanya “kesesatan berpikir”.

Kalau prejudice ini berupa sikap, maka perilaku yang muncul adalah diskriminasi. Yang artinya adalah unjustifiable negative behavior toward a group or its member.

  • SUMBER PREJUDICE

Sumber prejudice ada 3; yaitu : sumber sosial, sumber motivasional dan sumber kognitif.

(1) Sumber sosial

Sumber sosial terjadinya prejudice adalah adanya “unequal status”. Misalnya saja, dalam sejarah ada dua “unequal status” yang umum, yaitu warna kulit dan gender. Black were inferior, woman were weak. Sumber sosial lainnya adalah sosialisasi. Sosialisasi ini bisa dari orangtua pada anak, dari figur otoritas misalnya guru, pemuka komunitas agama, pemuka masyarakat. Satu lagi sumber sosial adalah “support institusi”. Misalnya sekolah, pemerintah, atau media.

(2) Sumber motivasional

Ada 3 teori yang menjelaskan sumber motivasional dari prejudice ini.

a. Teori Frustrasi-Agresi. Menurut teori ini, saat kita tidak bisa mencapai tujuan kita, kita jadi frustrasi. Naaah…saat kita frustrasi, kita cenderung menjadi agresi. Objek agresi kita, bisa kelompok. Maka terjadilah prejudice. “Prasangka”. Salah satu sumber frustrasi adalah kompetisi yang memperebutkan satu kebutuhan yang sama. Saat dua kelompok berkompetisi, maka “keberhasilan” satu kelompok akan menjadi sumber frustrasi bagi kelompok lain.

b. Teori Social Identity. Bagus dan keyen deh definisinya. Gak akan saya terjemahin saking bagusnya #alesan padahal kemampuan bahasa inggris terbatas haha….# social identity is the “we” aspect of our self concept; the part of aour answer to “who am I?” that comes from our group. Nah, kalau identitas sosial kita merasa “superior”, “lebih baik” dari kelompok sosial lain, maka akan terjadilah prejudice.

c.  Teori Motivation to Avoid Prejudice. Ternyata eh ternyata, katanya penelitian tahun 1989&2000 menunjukkan bahwa orang yang punya prejudice sangat tinggi dan sangat rendah menunjukkan perilaku “prejudice otomatis” yang sama.

(3) Sumber kognitif

Bagian ini berbicara bagaimana “pikiran kita bekerja”, sebagai dasar munculnya stereotyping dan prejudice. Ada tiga sumber kognitif, yaitu:

a. Kategorisasi: bagaimana cara kita “mengelompokkan orang”. Ada kecenderungan dalam “pengelompokkan” ini “membesar-besarkan” persamaan dalam satu kelompok, juga “membesar-besarkan” perbedaan antar kelompok. Ada satu cerita favorit saya dan keempat anak saya dalam buku “Cerita di Waktu Badai”. Judulnya Bibelbin dan Bibelbu. Begini ceritanya:

Dahulu, di negeri yang jauh, dua kerajaan bersebelahan, tetapi dinding lebar dan tinggi memisahkan kedua kerajaan itu. Di satu sisi tinggal Bibelbin dan Bibelbu di sisi lainnya. Mengapa dindingnya setinggi itu, dan siapa pembuatnya, tiada yang tahu. Bertahun-tahun dinding itu memenuhi maksud pembuatnya; Supaya Bibelbin dan Bibelbu tidak saling mengganggu.

Penduduk Bibelbin dan penduduk Bibelbu tak pernah berkenalan, tetapi saling menjelekkan. “Hati-hati terhadap Bibelbu!”, kata penduduk Bibelbin. “Kata orang, mereka tak berbulu dan telinganya berwarna hijau!” “Larilah bila muncul Bibelbin!” Seru penduduk Bibelbu. “Kata orang, jari kakinya berbulu… dan telinganya biru!”

Musim berganti musim, tahun-tahun pun cepat berlalu. Di kedua sisi dinding pemisah rasa takut makin bertambah dan bertumbuh. Dinding itu lebar. Dinding itu tinggi, dan mungkin kini pun masih berdiri, andaikata tidak ada seorang bocah Bibelbu yang bermain-main di dekat dinding itu. Ia membanting-banting bola dan melemparkannya ke udara. Bola itu terpelanting dan jatuh ke seberang dinding. Di balik dinding, secara kebetulan, seorang bocah berpangku tangan. Si bocah Bilbebin melihat bola itu melayang kepadanya dari Bibelbu. Dipungutnya bola itu dan dikembalikannya ke Bibelbu. Bocah Bilbelbu menangkap bolanya, dan lagi-lagi melemparkannya.

Tak terasa waktu cepat berlalu, dengan sedih berpisahlah kedua anak itu. Tetapi mereka akan datang kembali dengan membawa teman satu lagi. Dua Bibelbin dan dua Bibelbu bermain bola pada hari itu. Semua puas dan bersenang hati. Mereka berjanji untuk datang lagi. Esoknya delapan anak Bibelbu dan delapan anak Bibelbin bermain di dekat dinding batu dengan teman dari sisi lain. Segera anak Bibelbin datang semua, dan anak Bibelbu demikian pula. Udara jadi penuh balon, bola, layang-layang dan tawa ria.

“Ada apa ini?” teriak penduduk dewasa. “Mengapa kalian berbuat begini?” “Mengapa bermain dengan mereka yang harus dibenci dan ditakuti?” “Mereka tertawa, kami juga”, jawab anak Bibelbin ceria. “Apa bedanya telinga hijau dan tubuh yang tak berbulu?” “Mirip kita juga anak Bibelbin itu”, kata anak-anak Bibelbu. “Biar saja kaki mereka berbulu, atau telinga mereka biru”.

“ROBOHKAN DINDINGNYA!” Terdengar teriakan dari Bibelbin atau mungkin dari Bibelbu – entah dari mana, tiada yang tahu. Mereka yang kakinya mulus maupun berbulu kini bergotong-royong bersama-sama, menyingkirkan bongkah dan batu bata, sampai dinding itu tiada bekasnya. Dan, pada hari yang penuh tawa ria, permainan layang-layang dan bola, semua bisa melihat betapa kecilnya perbedaan yang ada antara mereka. Di tempat berdirinya dinding itu sekarang penuh ditumbuhui bunga. Dan kini, Bibelbin dan Bibelbu bahkan lebih bahagia.

b. Distinctiveness : Preceiving People Who Stand Out. Fenomena prejudice yang bersumber dari adanya kaum mayoritas dan minoritas.

c. Attribution. Sumber prejudice juga bisa berawal dari sikap kita yang fokus pada orang, bukan pada situasi. Kita fokus pada “siapa dia/mereka” bukan “apa yang dia/mereka lakukan”

  • AKIBAT DARI PREJUDICE

Dalam buku ini, om Myers menjelaskan akibat/konsekuensi dari Prejudice yang intinya adalah:  Kalau kita udah punya stereotype tertentu pada sekelompok orang, maka fakta apapun yang berbeda, tidak akan kita perhatikan. Kalau bahasa si Cepot-nya mah “Ceuk Aing Koneng, Koneng” . Gak peduli faktanya gimana. Kita bisa menciptakan “our own reality”, daaaan juga bisa membuat orang menjadi berperilaku sesuai dengan yang di-prejudice-kan. Misalnya kalau kita punya prejudice bahwa kelompok tersebut “licik”, maka prejudice ini justru akan membuat si kelompok yang sudah menerima prejudice itu menjadi demikian.

EPILOG

Baiklah….demikian pengantar kuliah Psikologi Sosialnya hehe…

Membaca tentang prejudice atau prasangka ini, tentunya kita telah terpapar salah satu, salah dua, salah tiga dst sumber-sumber prejudice. Di usia kita saat ini (usia sayah maksudnya….) tak dapat dipungkiri, prejudice itu ada. Otomatis suka muncul. Namun, intensitasnya bisa berbeda. Menurut saya, ini yang harus kita hayati. Prejudice apa yang kita miliki, kendalikanlah. Karena perilaku yang didasarkan pada prejudice, akan menjadi perilaku yang kebenarannya menjadi dipertanyakan. Menurut saya sih…

Apalagi di Indonesia yang punya “social identity” yang beragam. Sebagai pengamat sosial amatiran, saya melihat….di Indonesia ini, tak hanya ada beragam identitas sosial atau kelompok yang besar: agama, suku bangsa, status sosial, profesi, partai, komunitas agama…tapi juga sampe yang printil-printil….gaya jilbab, warna jilbab, …. kelompok-kelompoknya teh bisa printiiiiiil banget. Tapi prejudicenya sudah nampak. Yang gaya jilbabnya gini mah “pasti bla..bla..bla..”. Jujur saja saya resah dan gelisah …tapi bukan pada semut merah (haha….ketahuan deh remaja jaman Obbi Mesakh). Keresahan dan kegelisahan saya adalah pada banyaknya prejudice yang beredar. SARA, sub-SARA, sub-subnya SARA…. Mudaaaaah banget untuk menyebar kebencian antara satu kelompok dengan kelompok lainnya kalau prejudice sudah terpupuk.

Saya pernah berpikir lama tentang hal ini. Bagaimana “hukum” prejudice dalam agama yang saya anut? Lagi berpikir….merenung, datanglah Hana dari sekolah. Dengan semangat 45 dia menceritakan apa yang dia hafal hari itu di sekolah. “Unzhur maa qoola wa tandzur man qoola”. “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan”.

AHA !!!! itu dia jawabannya ! Implisit, hadist itu mengajarkan kita untuk berpikir dan bertindak objektif. Tanpa prasangka. Tanpa prejudice. Lihatlah faktanya. Tak terhingga banyaknya kisah yang menceritakan keagungan Rasulullah yang bersikap dan berperilaku objektif pada orang lain yang berbeda kelompok dengannya. Gak ada “kesesatan berpikir” kalau partai ini X, maka semua orang dari partai ini juga X. Kalau suku ini Y, orang dari suku ini juga Y. Agama ini Z…. Pasti semua yang beragama ini Z juga. Rasul kita tercinta, begitu “kritis” melihat situasi. Objektif.

prejudiceJadi, menurut saya….sebagai pribadi, sebagai orangtua, sebagai profesional, sebagai bagian dari kelompok tertentu, adanya prasangka dalam diri kita harus kita sadari dan kendalikan.

Jangan ajarkan anak-anak kita prasangka. kebencian. Ajarkan mereka untuk teguh pada apa yang mereka yakini, pada saat yang sama ajarkan mereka untuk menghargai perbedaan. Beri contoh pada mereka untuk bangga dengan “identitas sosial kita”, tanpa harus merendahkan orang lain.

Kasih sayang dan kebersamaan yang harus kita ajarkan dan contohkan, bukan kebencian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s