Mengenalkan “KERIPIK” pada anak

Saya masih ingat suatu malam kurang lebih 14 tahun lalu, saat itu saya masih aktif di Karisma Salman ITB, jadi Kadiv SDM. Ada acara presentasi program kerja dari tim-tim di bawah Divisi SDM. Ada duo “senior” yang mempresentasikan proker untuk “Pembinaan Pembina”. Mereka memulai presentasi dengan menyampaikan “motto” tim mereka : KERIPIK SINGKONG. Singkatan dari “Kritis Berpikir Kurangi Omong Kosong” haha….saking kreatipnyah singkatan itu, nempel memorinya ampe 14 tahun.

Jadi, KERIPIK yang saya tulis di judul bukanlah keripik singkong, keripik pisang, dan keripik-keripik lainnya …. tapi, “mengutil” istilah dari duo “senior” saya itu, KERIPIK yang saya maksudkan adalah “keritis berpikir” atau bahasa keyennya “critical thinking skill”.  Kemampuan berpikir kritis ini sudah lama jadi bahasan di psikologi, khususnya psikologi pendidikan. Tapi dalam tulisan ini, saya gak akan membahas sisi yang “akademis dan berat” …. selain saya gak tahu banyak karena bukan bidang penelitian saya, juga sesuai dengan singkatannya, kita bahas ini dari sisi yang ringan sajah.

Saya nemu link aplikatif mengenai mengajarkan kemampuan berpikir kritis pada anak, yaitu http://www.wikihow.com/Teach-Critical-Thinking.

Apa sih kemampuan berpikir kritis/critical thinking skills itu?

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang perlu dipelajari anak maupun orang dewasa untuk bisa menilai dan memecahkan masalah dengan tepat dan akurat. Melibatkan proses “menganalisa” dan “mengevaluasi” informasi yang dibutuhkan melalui pengamatan, pengalaman maupun komunikasi.

The core of  critical thinking is being responsive to information and not just accepting it. Questioning is the most important part of critical thinking. Saya suka deh dua kalimat ini. Suka banget. Banget. Banget.

Nah, setelah mengetahui apakah critical thinking itu, mari kita lanjut ke 6 Cara Mengajarkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Anak menurut link ini :

(1) Ajarkan anak untuk mengamati dan menarik kesimpulan berdasarkan pengamatannya. Ini merupakan kemampuan “observasi ilmiah” yang sangat penting sepanjang kehidupan.

  • Saat anak bisa mengamati suatu benda atau peristiwa dengan detil, maka pada dasarnya mereka sudah bisa diarahkan untuk melakukan penilaian atau pengambilan kesimpulan berdasarkan pengamatan mereka.

Berarti, kita juga mesti mengajarkan anak untuk melakukan pengamatan secara “menyeluruh” terhadap satu objek atau peristiwa. Kalau pengamatan anak gak utuh, maka penilaian dan kesimpulan pun pasti tak akurat bukan?  Mmmhhh….saya jadi inget…Azzam tuh suka ketuker aja antara “kuda nil” ama “banteng”. Mungkin karena ia hanya mengamati “gendutnya” aja. Baiklah….jadi nanti kalau Azzam bilang “banteng ke kuda nil”, tampaknya saya harus mencoba bilang “coba liat ada tanduknya engga?” … “kalau yang ada tanduknya, banteng atau kuda nil ya?” …mmmmh…baiklah…seru kayaknya.

  • Saat anak bertanya “kenapa”, maka kita harus meresponsnya dengan “menurut kamu gimana/kenapa?”. Hal ini bisa mendorong anak untuk membuat kesimpulan sendiri.

Bener nih….saya seringkali merasa “harus menjawab” pertanyaan KENAPA anak. Saya pikir itu lebih baik dibanding bilang “ih, kamu mah cerewet nanya-nanya terus…”. Ternyata ada cara yang jauuuh lebih baik. Mau coba dipraktekin ah poin ini ke Hana si TK A yang lagi segala macem ditanyain sampai emaknya mati gaya.

(2) Lakukan perbandingan antara objek dan topik yang kontras.

  • Cara ini akan mendorong anak untuk menyatakan dengan cara bagaimana ia “mengkategorikan persamaan dan perbedaan”. Cara ini akan menstimulasi kemampuan menganalisa dan mengkategorikan informasi. Salah satu contoh sederhana dari aktifitas ini adalah meminta anak membandingkan apel dan jeruk. Dorong mereka untuk menggambarkan bagaimana cara mereka berpikir “persamaan” dan “perbedaan” keduanya.

Good idea ! siapa bilang harus distimulasi dengan mainan mahal? tinggal buka kulkas, keluarin salah dua sayuran, lalu minta anak gambarin persamaan dan perbedaannya. Mari kita coba!!!!

  • Membandingkan dua cerita  yang kontras adalah cara yang bisa juga dilakukan untuk menstimulasi kemampuan berpikir kritis. Anak akan menganalisa karakter, setting, plot dan bagian-bagian cerita saat mereka membandingkan “persamaan dan perbedaan” dua cerita. 

Kayaknya ini cuman bisa buat anak yang udah besar ya…Tapi menurut saya sih, buat anak dua tahun juga udah mulai bisa. Saya punya buku “Menjadi Besar dan Kecil”. Cerita tentang persahabatan  Gaga si Gajah Besar dan Kelly si Kelinci Kecil. Itu Azzam suka banget. Saya juga suka, tapi karena ilustrasinya yang menarik dan kata-katanya yang sederhana. PAs buat anak dua tahun. Satu halaman besar Ilustrasi, satu kalimat di bawahnya. Tapi kayaknya si penulis buku itu memang bermaksud menstimulasi si kritikal thinking melalui cerita ini. Karena memang setiap kalimatnya mengandung “kontras” tadi.

(3) Mendiskusikan dan menganalisa cerita

  • Minta anak untuk menceritakan kembali cerita yang sudah ia dengar/dibacakan padanya menggunakan bahasanya sendiri. Cara ini akan mendorong mereka untuk mencoba “merangkum” hal-hal penting, dan tak hanya memberikan menjawab pertanyaan tentang fakta saja.
  • Tanyakan pertanyaan yang jawabannya tidak langsung ada di cerita yang disampaikan/dibacakan pada anak. Cara ini akan membuat anak membuat kesimpulan berdasarkan pemahaman mereka akan cerita. Misalnya dengan pertanyaan “menurut kamu, kenapa sih si singa gak jadi makan si tikus?” (hehe, ini mah contoh dari saya aja)
  • Minta anak untuk “menganalisa” tokoh dan setting dalam cerita. Hal ini akan menstimulasi kemampuan anak membandingkan apa yang ada di dalam cerita dan apa yang ada di luar cerita.
  • Arahkan anak untuk menghubungkan cerita dengan kejadian dalam kehidupan nyata mereka. Cara ini mengajarkan kemampuan berpikir kritis yang namanya kemampuan sintesa, yaitu anak menggunakan informasi yang sudah ia miliki untuk diterapkan pada hal yang baru.

Saya suka banget poin ketiga ini. Sebagai emak yang gak kreatif, saya banyak mengandalkan kegiatan “membaca buku”  untuk menstimulasi beragam hal dari anak-anak saya. Jadi poin ini tampaknya akan paling sering saya praktekkan 😉

(4) Mengajarkan kerjasama

  • Memberikan kesempatan pada anak untuk bekerjasama akan membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis saat mereka berbagi gagasan dan saling belajar.
  • Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membaca cerita bersama, dan minta anak saling menyampaikan “penilaiannya” terhadap cerita tadi. Hal ini bisa menstimulasi kemampuan “berdebat secara positif”, karena mereka akan belajar mempertahankan argumen mereka dengan cara yang baik.
  • Berikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi kreatifitas mereka dengan kegiatan bermain menggunakan media yang “bebas” seperti air, pasir atau gelembung. Tanya mereka, apa yang sedang mereka lakukan.

Untuk poin terakhir, kalau buat anak-anak saya, playdough adalah media yang berhasil menstimulasi kreatifitas berpikirnya. Mulai dari si 2 tahun, 5 tahun, 8 tahun sampai si 11 tahun, suka dan enjoy banget main playdough. Buat emaknya juga seneng karena gak terlalu bikin “berantakan” seperti kalau pake media air atau cat (dasar emak gak mau susah hehe).

(5) Menyampaikan cerita “tanpa akhir”

  • Menyampaikan cerita “tanpa akhir” dan meminta anak untuk menyelesaikan cerita tersebut adalah cara untuk menstimulasi kemampuan berpikri kritis yaitu sintesa. Anak harus mengambil informasi dari cerita dan harus mengembangkan daya kreatifitas untuk menyusunnya menjadi akhir cerita. Katanya, bisa juga dengan bertanya ” kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Nah, untuk poin ini…ini mah bagian si abah….bukannya saya gak kreatip “mengarang” cerita baru. Tapi saya gak mau berperan sebagai “gatekeeping” . Saya ingin menstimulasi terjadinya relasi ayah-anak yang berkualitas, karena penelitian menunjukkan efek positif yang signifikan baik untuk ayah maupun untuk anak (haha….ini alesan emak pemalas yang tak kreatip;)

 (6) Mempraktekkan “Metoda Socrates”
  • “Metoda Socrates” ada bertanya terus dan terus sampai ke akarnya. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Pada anak, memang hal ini natural. Sudah tak aneh lagi kalau anak usia prasekolah “tak pernah puas” dengan jawaban kita. Teruuuuus dia kejar sampai dia paham betul. “Mengapa”. Nah, katanya saat anak bertanya “mengapa…mengapa…mengapa” tanya kembali “mengapa” menurut mereka. Ambil posisi “kontra” dengan anak biar anak belajar berargumen.

Di akhir link ini, dikatakan bahwa cara-cara diatas bisa dilakukan juga untuk orang dewasa. Dengan “level yang lebih abstrak”.

Saya setuju bahwa sikeripikapapun kita, berarapun usia kita dan menjadi apapun kita, kemampuan berpikir kritis ini memang harus kita asah. Memang kebutuhan “eksplisit”nya ada di dunia akademis. Mahasiswa  saat membuat skripsi, tesis atau disertasi. Tapi menurut saya sih, dalam beragam konteks, kemampuan ini diperlukan.

Bahkan dalam konteks beragama. Menurut saya, ada orang-orang yang bisa menghayati nilai-nilai keagamaan secara mendalam  dengan cara menerima bahwa “Ini perintah Allah. Laksanakan saja”. Namun ada juga orang-orang yang penghayatan mengenai nilai-nilai keagamaannya akan lebih mendalam dengan cara “berpikir kritis”. Jeffrey Lang misalnya, profesor matematika dari Amerika yang merasa penghayatan keagamaannya semakin mendalam saat “bertanya”. Sampai ia menuliskan 2 buku yang saya suka, “Even the Angel Ask (Bahkan Malaikat pun Bertanya)” dan “Aku Menggugat, Maka Aku Kian Beriman”

Dalam tataran aplikasi, saya setuju dengan pendapat  Ali Syariati dalam bukunya “Haji” yang mengatakan kita harus  selalu “menggugat niat” kita saat kita ingin melakukan satu amalan. Artinya bertanya…terus…terus…terus dan terus, ambil posisi “kontra”. Hal ini dilakukan agar kita bisa menghayati betul apa “motiv” kita dalam melakukan satu amalan. Karena penilaian amal itu, tergantung pada niatnya (tentunya setelah caranya benar). Moga-moga dengan ikhtiar ini, Allah menjaga niat kita dari awal sampai akhir melakukan amalan itu. Fyi, Ali Syariati itu Syiah. Tapi no problemo buat saya. Saya baca bagian yang sreg-nya aja. Bagian yang syiah-syiahnya saya lewat hehe….

Jadi, memang kita harus selalu mengasah kemampuan berpikir kritis kita. Biar bisa mengidentifikasi berita yang cuman mengutip seutil informasi sesuai “kebutuhan” (kampanye) nya. Biar bisa mengidentifikasi mana media yang suka gak “cover both side” kalau memberitakan sesuatu, biar kalau baca berita gak langsung main klik “share” aja, tapi “dianalisa” dulu….darimana sumbernya, si sumber itu selama ini objektif gak, kira-kira apa efeknya kalau saya share berita ini.

Haha…kenapa kesimpulannya jadi kesini yaks….

Jaka Sembung Makan Combro….Gak Nyambung Bro… kkkk

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s