Renungan tahun ke-dua belas : Bisakah kita mengubah pasangan ?

112 tahun5 Juni lalu, pernikahan kami tepat berusia 12 tahun. 12×365 hari. Lumayan lama. Sejak dua tahun lalu, kami mendeklarasikan tanggal 15 Juni sebagai hari  ulang tahun keluarga pada anak-anak. Kami “memperingatinya” sebagai rasa syukur. Apalagi sejak beberapa tahun lalu, mulai ada beberapa teman yang  rumah tangganya kandas. Bukan oleh masalah besar. Tapi oleh masalah-masalah “biasa” yang juga kami alami. Artinya, “potensi” berpisah itu, juga kami miliki. Biasanya kami mensyukurinya dengan liburan  bersama. Ada sesi doa bersama untuk kebahagiaan keluarga kami.

Ada yang istimewa di hari “ulang tahun keluarga” tahun ini. Apakah itu? Yang pertama, si abah inget !!! haha…. saya agak kaget waktu 2 minggu sebelumnya si abah bbm bilang “ulang tahun keluarga kita liburan ke **** yuks” …. buat seseorang yang gak pernah inget hari ulangtahunnya sendiri, ini hal yang luar biasa….berarti saya berhasil membrain-wash nya haha…Yang kedua….selagi saya berencana untuk mengumpulkan foto momen bersama kami, si sulung Azka suatu hari datang dengan ide brilian. Dia akan bikin “short movie” perjalanan keluarga….maklum, baru 3 minggu lalu dia diajarin “movie maker” di les fotografinya…

Berdasarkan teori  “Kisaran Kerentanan Relasi Antar Pasangan Pada Usia Perkawinan” yang saya dapat dari  Prof Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, maka pernikahan kami ini (10-15/18) termasuk usia “lampu kuning”. Katanya di usia ini, baik istri maupun suami masuk ke masa “puber kedua”. Tapi istri biasanya fokus untuk menghadapi anak pertama yang umumnya sudah menginjak remaja. Bila tidak diwaspadai, suami bisa fokus pada remaja lain di luar perkawinan hehe …(wil gituh 😉. Tapi istri juga rentan dengan hadirnya pil, sehingga di usia pernikahan ini sering juga terjadi perceraian. Kalau ditinjau dari tahap perkembangan keluarga, maka menurut om Duvall (1977) kami sedang berada pada tahap perkembangan “family with school children”; yang salah satu tugas perkembangannya adalah “mempertahankan keintiman sebagai pasangan” disamping membantu anak-anak mencapai tugas perkembangannya.

Penghayatan kami sendiri…kami sedang merasa “nyaman-nyamannya” di usia pernikahan kami sekarang ini. Ya…berantem-berantem sih masih….tapi “basic trust” antar kami, rasanya telah terbentuk dengan kuat. Frekuensi pun sering nyambung. Empati dan “perspective taking” kerasa banget tumbuh dan berkembang. Pertengkaran-pertengkaran hanya berada di ranah “permukaan”; misalnya milih furniture…hehe…

Gak ada lagi “tragedi sukiyaki” seperti yang saya tulis di note facebook beberapa tahun yang lalu. Sekarang, bahkan  kami sudah bisa “bertelepati”. Di tempat yang berbeda, saya dan mas melakukan hal yang kami harapkan. Yang paling sederhana….pernah saya ke pasar tanpa mas. Di perjalanan pulang, mas nelpon minta dibeliin kue cucur kesukaannya. Tentu saya bilang “terlambat nelponnya”. Nyampe rumah….tadaaaaa….kue cucur saya hidangkan. Itu yang pertama kali saya beli di pasar tadi…haha…. Mas juga begitu. Pulang kerja, bawa sesuatu yang saya pengen banget, padahal saya gak bilang…

Sebulan lalu, si abah bilang gini: “enak ya de, kita sudah saling memahami” …. itu gara-garanya, saya minta tolong mas pesan sesuatu ke temennya. Tapi sebagai orang yang antisipatif dan tau kalau mas pelupa, saya juga langsung menghubungi temen mas tersebut untuk pesen. Dua minggu kemudian, saya “tagih” ke mas, mana pesenan ke temen mas? mas bilang lupa banget…maaf…begitu dia liat di meja…tadaaaa barangnya udah ada…… itu yang dia bilang “kita sudah saling memahami kekurangan masing-masing”. Demikian pun mas. Sudah sangat memahami kebiasaan-kebiasaan buruk saya, dan sudah tau harus bersikap gimana  yang membuat saya pas insyaf, jadi malu sendiri hehe…

Nah, artinya….selama 12 tahun ini kami sudah saling “bergerak”. Entah itu didorong oleh cinta atau komitmen. Gak penting lah…yang penting, kita mau “bergerak” memahami pasangan. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan seorang teman : “bisakah kita merubah pasangan?”.

Merubah pasangan. Merubah kepribadiannya, kebiasaan buruknya. Bisakah? mmmhhhh….karena ini dalam konteks sebagai seorang yang telah mengarungi perjalanan pernikahan selama 12 tahun, maka saya akan jawab dengan referensi pengalaman. Tapi sebelum itu, saya ingin mengajukan sekaligus menjawab satu pertanyaan.

Haruskah kita mengubah pasangan? itu pertanyaan saya. Jawaban saya? Harus. (Kau yang bertanya….engkau yang menjawab…#dinyanyiin pake lagu dangdut#). Kenapa harus? karena itu bagian dari kewajiban sesama muslim. Amar ma’ruf nahi munkar. Kalau suami kita merokok kita diem aja….suami kita suka mengejek orang kita diem aja….suami kita berlebihan main games kita diem aja…tentu itu tidak benar. Apalagi kalau nanti kita semakin “senior”… mungkin status sosial ekonomi  suami kita udah semakin tinggi….. jadi bos di kantor, disegani masyarakat…akan semakin sedikit orang yang bisa “mengingatkan”. Siapa lagi yang bisa “mengingatkan”nya selain kita, pasangannya? Jadi kita harus “mencanangkan” dalam hati, bahwa kita adalah orang yang selalu akan “menjaga pasangan kita” untuk selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan.

Nah, sekarang baru ke pertanyaan temen saya itu. Bisakah kita merubah pasangan ? jawaban saya : BISA. Sejauh mana kita bisa merubah pasangan ? Naaah…ini yang rada “tricky”.

Mengubah kepribadian? berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, kepribadian bukan hal yang mudah untuk diubah. Itulah sebabnya, para konselor pernikahan suka meminta calon pasangan suami istri untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan perilaku bermasalah pasangannya. Itu sebabnya juga, ketulusan untuk “mengubah pasangan” yang menggebu sebelum pernikahan, pada umumnya berakhir dengan keputusasaan. Kata rekan saya yang banyak bergerak di dunia KDRT, pada umumnya istri sudah mengetahui kecenderungan suami yang suka menganiaya fisik. Sebagian bahkan sudah mengalami KDP (kekerasan dalam pacaran).

Jadi, apa dong yang bisa diubah? Ada hukum dasar dalam psikologi: B=f (P,E). Behaviour atau perilaku adalah fungsi dari environment dan personality. Kita sulit untuk mengubah personality pasangan kita, yang udah terbentuk saat kita bertemu dengannya. TApi kita BISA mengubah behaviour pasangan kita. Artinya, perilaku dalam konteks tertentu.

JAdi, kita tak akan pernah bisa mengubah suami kita yang pendiam jadi supel. Tapi kita bisa membantu agar  PERILAKU suami kita berubah,  tak mengurung diri di kamar saat berkunjung ke rumah orangtua kita. Kita akan sulit mengubah kecenderungan agresi suami kita, tapi kita bisa mengubah perilaku suami kita untuk tak memaki-maki orang yang nyalip saat ia menyetir, di depan anak-anak. Biar berimbang…suami akan sulit mengubah sikap impulsif istrinya untuk belanja. Tapi suami bisa mengubah perilaku belanja istrinya, saat ia lagi bokek.

Dan perubahan PERILAKU itu, sudah cukup untuk membuat kehidupan berumahtangga menjadi nyaman. Apapun dasar pernikahan kita- entah itu cinta, komitmen, atau intimacy kalau pake teori Triangular Love-nya Sternberg; itu akan cukup membuat kita merubah PERILAKU yang diharapkan oleh pasangan. HAnya satu syaratnya. KEDEWASAAN. Itulah sebabnya pernikahan itu, adalah tugas perkembangan di usia dewasa.

Jadi, kalau mau flashback…memilih calon pasangan itu….ganteng/cantik boleh; soleh/solehah harus; kaya gak apa-apa, pinter gak salah…namun yang WAJIB harus di-cek adalah, apakah ia cukup dewasa untuk mau MENDENGARKAN dan FLEKSIBEL untuk MAU MENGUBAH  PERILAKUNYA DALAM SITUASI TERTENTU, situasi yang bermakna bagi pasangannya.

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama.
  “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan: 74).

Advertisements

My teacher, My mother …

Hari Selasa kemarin, saya mengambil raport Hana. Resmi-lah Hana menjadi anak TK B 😉 Hari Jumat besok, saya akan mengambil raport Azka dan Umar.  Saya selalu excited dengan momen pengambilan raport ini. Kenapa? karena, tidak seperti ibu-ibu lain yang cukup sering ke sekolah dan berinteraksi dengan guru-guru anaknya, sebagai ibu bekerja saya amat jarang ke sekolah anak-anak untuk ketemu ibu guru.

Untuk guru Hana, kemarin agak sering kontak. Karena Hana sempat “mogok” dengan seribu satu alasan untuk main angklung. Dan karena main angklungnya setiap hari Kamis, maka ia mendeklarasikan pada saya…“Teteh Hana gak mau sekolah setiap hari Kamis”. Nanti di tulisan lain saya akan ceritakan gimana strategi kami; Saya dan ibu gurunya sehingga Hana kembali mau masuk dan latihan angklung setiap hari Kamis;).

Saya selalu kagum dan berterima kasih pada ibu-ibu guru itu. Terutama ibu-ibu yang mengajar anak usia dini; yang kalau kata teorinya sih dari usia PG sampai kelas 3 SD. Ada satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh guru-guru anak usia dini ini; yaitu…”responsif” dan “unconditional love”. Memang idealnya 2 kompetensi ini harus dimiliki oleh guru di semua jenjang, namun terlebih di guru anak usia dini.

Kenapa? karena yang dibutuhkan oleh anak usia PG, TK, kelas 1-3 di sekolah, bukanlah seorang “guru”. Tapi seorang “ibu”. Gak percaya? coba intip kegiatan anak di usia ini. Yang paling gamblang adalah kegiatan anak PG dan TK. KAlau kita intip, kesibukan bu guru bukanlah untuk hal-hal yang sifatnya “akademis”. Tapi mengurus hal-hal yang sifatnya “nurture”. Nganter anak-anak pipis dan ee, ngelap ingus anak-anak yang flu, cebokin, bantu nyiapin dan mengarahkan saat makan, melerai yang rebutan mainan, menemani yang tantrum, mengajak yang pasif, membujuk yang mogok….

Dulu, saya pikir kalau guru SD mah udah concern-nya ke akademik….ternyata engga. Saya bener-bener kaget waktu pembagian raport Umar kelas 1 semester 1, bu gurunya dalam sesi konsultasi “melaporkan” gini : “Alhamdulillah bu, sekarang Umar nangisnya udah jarang…” WHAT ???? Umar suka nangis di kelas ????? Lalu saya pun bertanya lebih lanjut…dan kemudian tahulah saya bahwa….di awal-awal masuk kelas 1, Umar sering banget nangis di kelas. Pensil ilang nangis, lagi nulis kecoret temen nangis, mau lomba tahfidz dia gak pake peci nangis, merasa gak bisa ngerjain, nangis…..hadeeuhhh…. Trus gurunya bilang gini: “kalau lagi nangis gitu, saya mah peluk aja dia…da Umar mah sebenarnya pinter, cuman kalau lagi emosional, yang dia butuhkan ditenangin aja”. Itu persis yang akan saya lakukan !!! Daaan….dari obrolan itu tahulah saya bahwa kasus Umar yang sering nangis itu, itu mah kasus ringan….di hari-hari pertama sekolah, ada yang tantrum, muntah, pipis sampai pup di celana. Daaan…dengan sabar serta responsif ibu guru menemani dengan baik. Kalau ibu guru tak responsif, kejadian – kejadia nitu bisa berdampak pada anak-anak. Misalnya anak yang ngompol bisa jadi ejekan teman-temannya, dll.

Soal unconditional love.…saya banyak belajar dari guru-gurunya Azka, Umar dan Hana di TK mereka. Di TK ini, semua anak, baik yang “hebat” maupun yang “unik”, semua “disayangi”. Operasionalisasinya buat saya, terlihat saat pentas seni. Gak ada ceritanya yang tampil hanya yang “wanter”. Yang hiperaktif? malah dikasih peran utama sebagai pendekar silat. Namanya anak aktif, loncat sana-sini, gerak sana-sini, jadinya keliatan jawara banget. Yang ID? (Intellectual Disability)..tetep dikasih peran nari manuk dadali, karena kemampuan imitasinya bagus. SI anak gak hafal gerakannya. Tapi ia tetep terlihat okeh karena ia meniru gerakan temen-temennya. YAng “pemalu”? tetep eksis jadi pohon…..

teacherSaya jadi ingat….pernah baca satu jurnal yang isinya menyatakan bahwa guru prasekolah, dengan sikap responsif-nya, bisa membentuk attachment (kelekatan emosi) dan bisa memblokade efek negatif “insecure attachment” anak sama orangtuanya. Jadi, kalau ada anak yang kelekatan emosi sama ortunya “insecure”- maka anak potensial menunjukkan perilaki “negatif” di sekolah. Tantrum, agresi, dll. Tapi, perilaku ini tidak akan muncul jika ibu gurunya responsif, karena anak jadi membangun “secure attachment” sama gurunya.

Dalam beragam kesempatan berinteraksi dengan guru terutama guru prasekolah, saya selalu menyampaikan hal ini. Ya, terkadang guru “pesimis’ dengan mengatakan “kalau sama kita kan hanya 5 jam sehari bu, kan sisanya sama orangtua..”. Melalui tulisan ini saya ingin mengatakan, Ya, bersama ibu/bapak memang hanya 5 jam. Tapi bisa jadi, interaksi 5 jam itu bisa “menyelamatkan” anak dari keburukan-keburukan yang potensial terjadi saat anak mendapatkan pengasuhan yang buruk di keluarga.

Terutama buat guru-guru prasekolah dan guru anak usia dini…let’s be a mother buat anak-anak didiknya…kalau menurut saya, insya allah setiap anak kita berdoa “rabbighfirlii…wali-wali dayya warhamhumaa kamaa robbayani soghiiiro….” ibu-ibu guru yang jadi “ibu” di sekolah , juga akan “kecipratan” doa ini….

Salam takzim untuk guru-guru di seluruh dunia…