Perbedaan : stratifikasi vs diferensiasi

Saya selalu mengatakan pada diri sendiri maupun pada orangtua dalam kesempatan mengobrol atau sesi konseling, bahwa “kita tidak akan tahu, dunia macam apa yang akan dihadapi oleh anak-anak kita. Maka, yang penting adalah membekali anak-anak kita dengan ban segala medan (kalau istilah di film Cars;)  dengan kemampuan dasar yang akan jadi “tameng” dan “senjata” menghadapi beragam tantangan di masa depan itu”.

Jujur saja, saya baru menghayati benar apa yang saya katakan itu akhir-akhir ini. Seperti juga orangtua kita dahulu tidak pernah membayangkan adanya internet yang potensial memaparkan konten pornografi pada anak-cucunya, adanya ipad yang bisa membuat anak kecil tahan berjam-jam dan orangtua merasa “terbantu” sehingga ia tak perlu bersusah payah mengajak anak berbicara atau bermain, adanya social media yang membuat “dapur” seseorang bisa tampak transparan dan telanjang di hadapan orang-orang yang tak ia kenal sekalipun…. Maka, kita pun tak bisa membayangkan teknologi apa lagi yang akan masuk dalam kehidupan anak-anak kita… situasi apa yang membuat perilaku anak-anak kita menjadi berubah tak sesuai dengan harapan kita….

Namun “kembang-kembang” ke arah “tantangan apa yang akan dihadapi anak-anak kita di masa depannya” itu, sebagian sudah terlihat. Dan jujur saja, saya sering menangis. Dalam hati maupun melalui lelehan air mata saya. Malam-malam saat anak-anak saya sudah terlelap (kalau saya gak terlelap duluan hehe…) saya sering memandangi mereka satu-satu dan bertanya pada lubuk hati saya yang terdalam…apa yang harus saya bekalkan pada mereka? ini bukan untuk kepentingan memberi materi parenting. Ini adalah pertanyaan seorang ibu yang resah akan “keselamatan” anak-anaknya di masa depan. Saya punya beberapa buku yang menggambarkan tantangan di abad ke-21, apa yang harus dilakukan…tapi itu dari barat. Gak compatible dan tidak menjawab pertanyaan lubuk hati saya.

Salah satu hal yang saya hayati harus saya bekalkan pada anak-anak saya adalah, bagaimana ia menghadapi perbedaan. Semakin hari, semakin banyak perbedaan yang dulu tak ternyatakan/dinyatakan, kini dilantangkan. Saya membayangkan anak-anak saya harus setegar karang memegang teguh keyakinannya …. aduh, bentar nangis dulu ya…;) namun di saat yang sama, ia harus selembut sutera untuk mengungkapkan keteguhan keyakinannya atau mengingatkan kesalahan orang lain.

Konsep yang indah, namun turunan operasionalnya panjang dan tak mudah.

Setegar karang memegang teguh keyakinannya.

Agar anak-anak memiliki keteguhan akan keyakinannya, maka saya harus menanamkan nilai-nilai yang saya yakini kebenarannya secara mengakar. Bagaimana caranya? membiarkan mereka bertanya. Berpikir kritis. Agar hati, pikiran, rasa, seluruh dimensi dalam diri mereka pada akhirnya terpuaskan dan semuanya meng-iyakan, semua memberikan alasan yang kuat untuk melakukan seluruh nilai-nilai kebaikan dan kebenaran Islam. Mereka paham dari segala sudut pandang; kenapa kita harus shalat, puasa, zakat, haji, menutup aurat, bekerja keras, jujur, menghargai orang lain, dll dll …sehingga tak ada logika apapun yang dengan mudahnya membelokkan value ini.

Dalam poin ini, mereka juga harus memiliki self confidence yang tinggi. Karena hanya seseorang yang punya kepercayaan diri yang tinggi-lah yang tak akan malu dan ragu untuk menunjukkan apa yang menjadi nilai dirinya. Ia akan percaya diri untuk berjilbab dengan benar disaat semua orang berlomba-lomba mengedepankan kemodisan dan mengorbankan kesyar’ian…Ia akan percaya diri untuk menjadi “berbeda”.

Selembut sutera untuk mengungkapkan keteguhan keyakinannya atau mengingatkan kesalahan orang lain.

Menurut saya, ada satu hal yang mendasari konsep ini. Cara pandang terhadap perbedaan. Saya teringat beberapa tahun lalu, seorang teman yang baru menikah “curhat” pada saya. Intinya, ia yang tinggal bersama kakak iparnya sedang merasa kesal pada kakak iparnya, karena kakak iparnya ini selalu menganggap perbedaan yang terjadi adalah “right or wrong”. Bukan “it just different”. Misalnya cara nyuci piring, cara ngejemur pakaian, ukuran sayuran untuk sop, tingkat kekeringan tempe goreng….Saya ingat, saya ngakak waktu itu. Tapi saya teringat lagi cerita teman saya ini saat ke tanah suci. Yups…ternyata cara bikin mie aja…kalau pola pikirnya “right or wrong”, cara saya yang benar, cara kamu salah, itu bisa bikin 40 hari berhaji, yang kesempatannya kemungkinan besar cuman sekali seumur hidup itu, menjadi amat tidak nyaman.

Jadi, menurut saya ada banyak hal yang seharusnya kita pandang sebagai “differensiasi”, saat ini banyak dimaknai sebagai “stratifikasi”. Bukan “kita berbeda”, tapi “saya benar, kamu salah”. Teko, hanya akan mengeluarkan isi teko. Cara pandang kita, akan terwujud dalam perilaku kita. Pilihan kata yang kita tulis/ucapkan, gestur yang kita tunjukkan….

Tapi benar, bahwa ada perbedaan yang sifatnya “benar-salah”. Saya jujur kamu mencontek. Itu salah satu contohnya. Dalam situasi-situasi seperti ini, maka mereka harus berani mengingatkan. Caranya? CARA …. ya, CARA … kebaikan yang dibungkus dengan sesuatu yang buruk, yang akan lebih tertangkap adalah CARAnya. Bungkusnya. Karena itu yang tampak pertama kali.

Maka, saya harus terus menanamkan nilai pada anak-anak saya untuk bersikukuh mengingatkan dengan cara yang baik. Apapun “norma sosial” yang berlaku saat itu. Tak menghinakan, dengan argumentasi yang dipahami lawan bicara.

Cara yang baik. Apakah ini cukup? Tidak…kalau kita hayati, apa sih yang membuat kita merasa harus BEREAKSI DENGAN KERAS (dan KASAR) terhadap suatu yang kita nilai kesalahan? sebenarnya harusnya bukan KERAS ya, namun TEGAS.

Satu hal yang saya hayati yang mendasari mengapa sebagian orang merasa harus BERSIKAP KERAS adalah karena bersikap keras dan “tak lazim”, salah satunya punya efek samping untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Berapa banyak orang yang namanya tak pernah kita dengar, prestasinya tak kentara, namun sangat akrab namanya di telinga kita karena ia begitu KERAS bersuara, meskipun apa yang ia suarakan tak bermakna. Tak mengenai sasaran. Tak tepat. Jadi, saya harus memberikan pengalaman yang membuat anak-anak merasa “he/she is someone”. Mereka adalah seseorang yang punya sesuatu untuk menjadi “eksis”. Sehingga ia tak perlu mencari eksistensi dengan cara-cara yang tak tepat.

Yang kedua, yang saya hayati, sikap KERAS dan OVER seseorang itu bisa jadi karena ia ingin menegaskan identitasnya. Ada banyak peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, yang mengaduk-aduk emosi dan mempertanyakan value diri kita; seolah-olah menantang kita untuk menunjukkan: SIAPA KITA. . Seharusnya, penghayatan SIAPA KITA itu, kita wujudkan dalam bentuk nilai-nilai yang merepresentasikan SIAPA KITA itu. Gak perlu kita yakinkan orang lain siapa kita dengan kata-kata. Orang lain akan menilai SIAPA KITA dari perilaku kita.

Hhhhmmmm…amat sangat berat. Oh, tenang …. ada jurus pamungkas. Baik buat saya ataupun buat anak-anak saya. DOA. Ia mampu mengubah takdir. Menembus masa lalu dan masa depan. Menembus kehidupan dan kematian. Keyakinan bahwa Allah itu ADA. Bahwa Ia, tak pernah tidur. Bahwa Ia, tak akan membiarkan kebenaran kalah oleh kesalahan. Bahwa tanganNya, akan selalu “ikut campur” dalam kehidupan ini. Bahwa kita bisa serahkan seluruh upaya kita mempertahankan keyakinan dan mengingatkan keburukan padaNya. Bahwa kita tak dibiarkan “sendirian” membela kebenaran. Bahwa kita tak perlu memaksakan cara yang salah untuk mempertahankan kebenaran. Bahwa Rahman-Rahimnya, akan selalu hadir di hati ….

Untuk anak-anakku…Rahima(s)  dan Abdurrahman(s). Semoga Allah selalu menjaga kita dalam kebaikan dan keselamatan ….

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s