(Terpaksa) Mandiri : Blessing in Disguise

Kombinasi antara menjadi fulltime-working mother, plus 4 anak dan tak ada pembantu nginep; kalau mau dicurcol-in … bisa gak abis-abis. Tuntutan domestik yang bejibun di satu sisi (meskipun si abah sangat membantu secara teknis dan emosional) dan tuntutan profesi-pekerjaan yang tanggung jawabnya kian hari kian bertambah  di sisi lain, kalau mau dihayati sebagai stressor sih beneran bisa bikin stress… Tapi…saya tahu bahwa sepanjang apapun curhatan saya, itu akan menjadi gema, yang terdiri dari 2 kata: KONSEKUENSI PILIHAN. Semua ini terjadi karena ; (1) Kami sepakat memutuskan  saya tetap bekerja. (2) Kami akhirnya sepakat,  bahwa saya “lebih nyaman” kerepotan tapi pasti dengan si teteh pulang pergi yang bantuannya minimalis, dibanding “insecure” dengan adanya pembantu nginep tapi “cemas” gak tau kapan mereka akan bilang “mau pulang tanpa alasan pasti dan gak tau akan balik lagi atau engga” 🙂 …. tuh kan, gak niat curhat pun teuteup curcol 😉

Konon kan katanya kita punya kebebasan untuk memilih “realita” mana yang mau kita nikmati… jadi daripada mengeluhkan segala macam “penderitaan” akibat dari pilihan yang sudah diputuskan, mari kita lihat sisi lainnya sajah.

Konon katanya, salah satu “benefit” yang akan didapat oleh anak yang ibunya bekerja adalah, mereka menjadi mandiri. Setelah menjalaninya, saya setuju … dengan satu tambahan sisipan kata: anak yang ibunya bekerja, (terpaksa) mandiri. Nah, sisipan kata “terpaksa” ini bermakna banyak. Saya melihat, faktor “terpaksa” ini yang kini menjadi penting untuk menumbuhkan kemandirian anak.

Kenapa? karena by nature, menumbuhkan kemandirian anak itu, memberi konsekuensi yang tidak menyenangkan  buat ortu. Coba lah kita hayati….. kalau kita adalah seorang ibu yang suka dengan kebersihan … mana rela kita membiarkan si 5 tahun belajar bikin susu sendiri yang pasti akan tumpah sana-sini. Kalau kita seorang ibu yang “apik”, mana rela membiarkan si 3 tahun makan belepotan sana-sini dan kena bajunya. Kalau kita seorang ibu yang “perfectionist”, mana mau kita membiarkan si 8 tahun melipat selimut dengan lipatan yang gak rapi, si 10 tahun motongin sayur dengan ukuran yang gak sama dan bergerigi,  …. Kalau kita seorang ibu yang memperhitungkan efisiensi waktu, berapa sering kita membiarkan anak-anak kita bekerjasama mencuci….. yang waktunya pasti akan lamaaaaa karena diselang main air, berantem, “percobaan ini-itu”…. Padahal, “kemandirian” itu hanya  bisa ditanamkan dengan cara “meng-alam’i”, membiasakan.

Akan lebih mudah meminta dan “mengajarkan” kemandirian pada anak-anak kita saat kita “terpaksa”. “Terpaksa” minta si 5 tahun bikin susu sendiri karena lagi kerepotan ngurus adiknya. “Terpaksa” minta tolong si 10 tahun motongin sayuran karena kalau engga, makan malam akan telat. “Terpaksa” membiasakan si 8 tahun beresin kasur dan sprei sendiri karena di pagi yang hectic, mana sempaaat ….. Hukum “terpaksa” ini juga sering dimanfaatkan oleh ibu-ibu yang memasukkan anak-anaknya ke pesantren. “Biar terpaksa mandiri”; seringkali menjadi salah satu alasan utama ortu mem-pesantren-kan atau mem-boarding school-kan anak.

Di sisi lain, kemandirian ini menjadi satu hal yang amat penting. Kemandirian  menjadi salah satu kualitas anak yang “didambakan” dan…saat ini banyak dikeluhkan orangtua. Jujur saja, dulu saya sering “tidak percaya” saat mendengar kasus-kasus yang diceritakan senior mengenai “ketidakmandirian” anak/remaja/ individu. Tapi sekarang, saya tidak kaget lagi mendengarkan keluhan mengenai anak kelas 3 SD yang masih harus disuapin ibunya saat makan, anak kelas 5 yang alat-alat sekolahnya masih harus disiapin ama ortu, anak SMP yang handuknya masih harus dijembreing ortu, anak SMA yang kamarnya masih harus diberesin ortu, anak kuliahan yang masih harus dibangunin dan diingetin jadwal kuliah ama ortu…. Saya kebayang banget betapa “hal-hal kecil kemandirian ini” menjadi bahan omelan harian yang amat melelahkan buat ortu, terutama ibu.

Nah, balik lagi ke “realita” yang saya pilih untuk saya nikmati di tengah “keriweuhan” saya, adalah kemandirian anak-anak saya. Sebenarnya, saya awalnya tidak menganggap “bermakna” sih … “tugas-tugas rutin” dan aktifitas keseharian yang sudah biasa dilakukan anak-anak saya, secara sendiri. Namun itu menjadi bermakna saat mudik kemarin, Yangti-nya anak-anak terkaget-kaget melihat Azka si 11 tahun yang dengan sukarela membantu saya mencuci, lalu saya suruh menjemur dan melipat segambreng pakaian kami. Beliau juga kaget melihat Hana yang saat menumpahkan minuman, langsung bertanya: “yangti, boleh minta lap pel?” atau mendengar cerita Umar yang sudah biasa bolak-balik ke warung pake sepeda buat beli bumbu-bumbu yang kurang 😉 ….. Mereka mendapat pujian setinggi langit dari Yangti-nya hehe….

blessing inAda satu kejadian yang membuat saya kemudian benar-benar mensyukuri “keterpaksaan” kondisi yang dihadapi keluarga kami. Jumat lalu, pagi-pagi saya harus bawa Azzam ke dokter anak karena diare. Dan sepulangnya dari dokter, dia mogok gak mau sama pengasuhnya. Padahal saya harus pergi ke biro karena ada janji klien. Akhirnya, jadilah Azzam dibawa, plus 3 kakaknya. Pas jadwal konsul, saya titip Azzam ke Azka. Sejam. Setelah selesai, saya mendapat laporan Azzam rewel dan ngamuk, tapi bisa diatasi oleh si 11 tahun itu 😉 dan…yang saya “terharu” adalah … kemudian saya tahu bahwa  pada saat yang sama Hana mau bab dan..Umar yang mengurus. Si 8 tahun yang “jijik”an itu, dengan penuh kesadaran mengantar, menemani, mengurus dan “nyebokin” adiknya haha…

Yah, itulah salah satu “blessing in disguise” yang bisa membuat saya “bersyukur” dan tersenyum. Soalnya kalau ingetnya yang riweuh-nya, ntar tiap hari disodorin gambar wajah cemberut sama Hana 😦

 

Dalam bahasa agamanya, itu disebut “hikmah” 🙂 … Mari kita cari terus hikmah- hikmah dalam kehidupan kita….biar kita bisa bersyukur,  bersyukur lagi, dan terus bersyukur 😉 .

 

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Novita Ungu
    Aug 13, 2014 @ 11:53:10

    seru fit bacanya … hebat masih bisa melihat sisi positifnya dibanding curcor sisi negatifnya … syalutt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s