Obrolan tentang “metoda imunisasi” dan pendidikan seksual pada anak

Kemarin, salah satu topik yang diobrolin di salah satu wa-grup yang saya ikuti adalah mengenai pendapat seorang tokoh parenting tentang pendidikan seks pada anak usia dini. Artikelnya ada di situs health.detik.com. Berikut bagian terakhir yang menjadi bahan perbincangan:

“Setelah dirasa aman artinya anak menganggap apa yang diajarkan orang tua adalah sesuatu yang penting dan wajar, Ayah Edi mengatakan bisa dicoba tahap melihat gambar porno. Mengapa demikian? Ayah Edi menuturkan masalah sesungguhnya yang nanti akan dihadapi anak, terutama ketika mereka sudah bergaul dengan teman di sekolah, adalah melihat konten porno dalam bentuk gambar ataupun video. “Jadi nanti pas di sekolah, dia dikasih tahu temannya ada konten porno, dia udah pernah dan biasa melihat itu sama orang tuanya. Jadi semacam kekebalan. Tapi hal yang dia ingat waktu lihat konten begitu bahwa itu salah dan tidak seharusnya area pribadi kita dipertontonkan seperti itu,” terang Ayah Edi. Oleh karena itu, right response saat melihat konten porno perlu dilatih sejak kecil bahwa sesuatu yang ia lihat tidak seharusnya. “Cuma cara ini kan masih tergantung dari budaya atau nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga, tidak bisa disamakan,” tegas Ayah Edi.

Saya sendiri, kalau diminta menanggapi, maka tanggapan saya adalah “no comment”. Saya gak punya pengetahuan dan kapabilitas untuk berkomentar terhadap pendapat beliau. Saya belum pernah baca referensi secara intensif atau buat penelitian mengenai kesehatan reproduksi.

sexAlhamdulillahnya kemarin siang saat di kampus, dalam kegiatan yang kami lakukan saya duduk di sebelah teman saya yang memang “ahli” di bidang kesehatan reproduksi. “Ahli” dalam artian, bidang penelitiannya bertahun-tahun di sana. Kegiatannya seputar itu, referensi yang ada di kepalanya tentang kesehatan reproduksi remaja udah “ngelotok”. Jadilah saya meminta pendapatnya mengenai “metoda imunisasi” ini. Juga menyampaikan beberapa pertanyaan titipan teman-teman di wa grup tersebut. Tapi akhirnya, yang saya tanyakan tak hanya itu. Tapi semua “unek-unek” saya mengenai pendidikan seksual pada anak. “unek-unek” disini adalah gini…saya sudah sering baca mengenai bagaimana mengajarkan pendidikan seksual pada anak. Tapi ada beberapa poin mendasar yang saya gak ngerti WHY nya, dan “filosofi”nya. Nah, kesempatan saya tanyain ampe puas hal tersebut. Akhirnya kita jadi diskusi. Seru ! saya pengen membagi keseruan itu dalam tulisan ini. Sengaja saya buat dalam bentuk format tanya jawab, karena rasanya pertanyaan-pertanyaan saya juga jadi FAQ dari para ortu.

Apa sih alasan yang “mendasar” mengapa pendidikan seksual itu perlu diberikan pada individu?

Tujuan yang paling “mendasar”nya adalah agar individu menghayati sisi “seksualitas” yang ada dalam dirinya. Maksudnya gini…. kalau kita ngliyat manusia, kan bisa dilihat dari beragam sisi. Manusia sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk spiritual…. nah, ada juga sisi manusia sebagai “makhluk seksual”. YAng gak boleh “dinafikkan”. Kenapa manusia  perlu menghayati dirinya sebagai makhluk seksual? ya karena Allah sudah menganugerahkan itu. Dengan menghayatinya, maka tujuan selanjutnay adalah agar ia bisa memfungsikan seksualitasnya dengan baik dan benar.

Kapan kita bisa mulai mengajarkan pendidikan seksual pada anak?

Sedini mungkin, saat kita mengajarkan nama-nama anggota tubuh pada anak. Mmmmmmhhh..berarti usia satu tahunan, saat kita “mengajarkan” anak menunjuk bagian tubuh yang kita sebutkan, kita sudah bisa mengajarkan pendidikan seks ya…. Esensi dari mengenalkan organ seksual yang dimiliki anak adalah, agar ia aware pada seluruh bagian tubuhnya. Bahwa ia memiliki mata, hidung, mulut, juga memiliki dada, bokong, dan memiliki “organ intim”.

Next question: Bagaimana caranya?

Caranya adalah, dengan memberi nama seluruh anggota tubuhnya, termasuk organ-organ seksualnya. Kenapa harus dikasih nama? agar bagian tubuhnya itu, tidak menjadi bagian tubuh yang “misterius”; yang kayak Voldermort “tak boleh disebut namanya”. Dengan memberi nama, maka ia bisa membicarakan bagian tubuhnya itu. Misalnya, anak bisa bilang kalau “tititnya gatal”. Atau ekstrimnya saat mendapatkan pelecehan seksual, ia bisa menceritakannya. Nah, kalau bagian tubuh itu tidak diberi nama, cuman disebut “ininya” atau ‘itunya”, bagaimana anak akan bisa cerita?

My big question : Saya pernah baca bahwa saat memberi nama organ-organ seksual anak, itu harus menggunakan istilah “ilmiah” seperti Penis dan Vagina. Sebenarnya apa sih filosofi di baliknya? apa urgensinya gituh? Soalnya menurut saya jadi “gak nature” gituh…menurut saya lebih “nature” kalau pake istilah yang umum biasa kita pakai. Di sunda misalnya, untuk penis biasanya disebut titit atau lebih halusnya mamas. Untuk vagina disebut momok, atau sebutan lain yang sudah “umum”. Saya penasaran banget dengan jawabannya !

Sebenarnya, penyebutan organ seksual itu tidak mutlak harus pake istilah ilmiah seperti penis dan vagina. Esensinya adalah, penamaan itu tidak boleh menjadi bahan “olok-olok” atau “asosiasi” dengan hal tertentu. Ini bagian dari tubuhku. Aku harus menghargainya. Penamaan seperti “burung”, “belalai”, atau “gunung” untuk payudara, itu membuat bagian tubuh itu menjadi olok-olok. Misalnya ketika mendengar itilah itu jadi ketawa-ketawa… Menurut pengalaman teman saya ini yang sudah mengadakan beragam kegiatan advokasi dan intervensi kesehatan reproduksi khususnya buat anak SMP, ia menggunakan isntilah vagian dan penis pada anak SMP itu, karena biasanya anak-anak itu sudah “terkontaminasi” dengan beragam istilah yang “mengolok-olok” itu tadi. Tapi kalau buat anak-anak kita, ya…kita bisa sebut dengan sebutan yang kalau istilah saya “lebih nature”.

Lalu apa tahap selanjutnya?

Tahap selanjutnya, untuk anak prasekolah…..yang harus diajarkan adalah, kalau istilah saya “stratifikasi” dari bagian-bagian tubuh itu. Mana yang boleh dilihat semua orang, mana yang hanya boleh dilihat oleh keluarga, mana yang gak bole diliatin ke sembarang orang. Nah, di sini sebenarnya sex ducation akan kental terwarnai oleh value kita. Buat muslim, disini saat yang tepat mengajarkan makna aurat. Kalau keluar rumah, harus pake baju panjang. Celana pendek hanya boleh dipake kalau di dalam rumah. Yang boleh gendong atau cium hanya siapa saja…. Kalau udah mandi, harus pake handuk leuar kamar mandi, malu kalau titit/momoknya keliatan orang lain. Kalau pake baju renang, jangan yang “two pieces”. Kenapa? dsb dsb.

Setiap tahap perkembangan, pastinya materi pendidikan seksual yang tepat diberikan juga berbeda. Mengingat saya punya anak yang menjelang haid, saya nge-blank, kapan sih saya harus menjelaskan misalnya bahwa proses reproduksi itu terjadi dengan cara penis masuk ke vagina…apakah itu perlu disampaikan? atau gimana?

Pemberian informasi pendidikan seksual itu, kalau di rumah lakukan “by nature”. Keywordnya adalah, saat anak bertanya atau saat kita melihat anak sudah “nyerempet-nyerempet”. Misal saat si 5 tahun bertanya : “dede bayi keluar dari mana?” ; atau saat si 10 tahun bertanya: “gimana sih ibu bisa hamil?” atau saat misalnya anak kita bilang ” bu, teman laki-laki kakak suka bilang tegang…tengang…itu teh apa sih?” atau misalnya  “kata temenku, dia suka liat video orang yang lagi gituan”. Pada saat anak mengalami menstruasi atau mimpi basah, itu titik kritis yang pas banget buat jelasin. Pada anak yang haid, jelaskan haid itu apa, mengapa terjadi, lalu bisa lanjut ke proses kehamilan, dll. Demikian juga pada anak laki-laki.

Siapa yang paling pas ngajarin pendidikan seksual ke anak?

Saya ingat teman saya ini pernah cerita hasil penelitiannya, bahwa buat anak SMP orangtua masihlah figur signifikan untuk bertanya mengenai hal ini. Namun sayangnya, orangtua belum berperan sebagai sumber informasi yang “pas” buat anak dalam hal ini. Sebaiknya, orangtua “sejenis” yang mengajarkan pendidikan seks pada anak ini. Ibu ngobrol sama anak perempuannya, Ayah ngobrol sama anak laki-lakinya.

Terkait isu “metoda imunisasi” yang disampaikan oleh tokoh parenting ynag sedang dibicarakan, bagaimana tanggapannya?

Menurut teman saya ini, “metoda imunisasi” mungkin tepat jika ; (1) dilakukan pada anak yang sudah terpapar pornografi. Misal kita cek di hystory laptop anak kita, dia menonton tayangan pornografi. Lalu kita tanya…”De, kemaren dede nonton apa sih?” Lalu anak menunjukkan, dan dibahas bersama.

Nah…coba kita hayati…… situasi ini hanya akan terjadi jika hubungan emosional ortu dengan anak baik bukan? bahwa orangtuanya tidak akan langsung marah, menasehati atau bahkan memberi hukuman pada anaknya. Itu syaratnya anak mau terbuka. Kenapa harus anak yang sudah terpapar pornografi? karena kalau tidak, bisa jadi langkah ini justru menjadi pintu gerbang perkenalan anak dengan pornografi.

Lalu yang ke(2) adalah, “metoda imunisasi” ini hanya akan mencapai tujuannya jika pengawasan ortu dipastikan intensif dan kontinyu. Bayangkan anak sudah “dikenalkan” dengan konten tersebut, lalu selanjutnya ortunya gak konsisten memonitor dan “membahas”….

Ini adalah “closing statement” dari temen saya tersebut, yang amat sangat penting :

Orangtua cenderung menjejali anak dengan nilai dan norma yang sifatnya kognitif dalam masalah seksualitas ini. Padahal, seksualitas ini dominan ada di area “rasa”. Suka atau tidak suka, degdegan, sembriwing-sembriwing. Oleh karena itu, sebaiknya “rasa” anak juga “diolah”. Misalnya dengan membicarakan perasaan si gadis muda yang degdegan saat ngeliat temen laki-laki yang dia suka. Atau perasan “ser-seran” dan “tegang” si anak laki-laki saat melihat perempuan yang bajunya terbuka dan “seksi”. Rasa-rasa yang mereka rasakan itu jangan “dinafikan”; tapi justru dibahas lalu diajarin untuk mengolah. Misalnya, pada remaja laki-laki yang “gampang tegang”, berarti dia harus banyak menghindari melihat perempuan2 yang “mengggoda”. Atau pada remaja perempuan yang deg-degan gak ketulungan saat deketan sama kecengannya, berarti jangan sampai jadian lalu berduaan, karena deg-degan itu artinya apa…tegang itu artinya apa…. Kalau kita cuman membekali mereka dengan pengetahuan dan aturan yang sifatnya kognitif, maka pada kenyataannya saat mereka pacaran atau liat konten pornografi dan yang aktif adalah “rasa”, mereka jadi gak bisa mengolah dan mengendalikannya.

……

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan renungan bahwa ….. pendidikan seks hanya akan berjalan dengan baik jika kita punya “hubungan baik dan mendalam” dengan anak kita. Kalau anak kita punya kepercayaan 100 persen bahwa ia bisa cerita apapun pada ibunya, ayahnya, tanpa mendapatkan konsekuensi negatif. Didengarkan. Tidak langsung disalahkan, dimarahi, dicap buruk. Bahwa ayah ibunya akan melindungi dia dari keburukan. Itu yang harus kita bangun. Untuk mengajarkan pendidikan seksual, dan untuk mengajarkan apapun.

Semoga ikhtiar ini membuat anak-anak kita selalu mendapat perlidungan dariNya, karena pada dasarnya kita sebagai orangtua tak punya kuasa untuk melindungi anak-anak kita.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s