MASA KECIL: ANTARA AKU DAN FATHIMAH (Fitriyadi, 2014)

Tulisan ini merupakan tanggapan saya terhadap “pertanyaan” Kang Andri Fitriadi. Kang Andri atau kami biasa menyebutnya Kang Afiet ini, adalah salah seorang “akang” di Karisma Salman ITB. Salah satu hal yang saya suka dari beliau adalah rangkaian-rangkaian kalimat yang mengalir ringan dan “enakeun” dalam tulisan-tulisannya. Saya adalah “secret fans” tulisannya sejak jaman beliau menulis di Bukom dulu. Gak percaya? ini dia tulisan beliau….

MASA KECIL: ANTARA AKU DAN FATHIMAH

Dahulu, aku selalu berangkat sekolah bersama-sama dengan teman dengan berjalan kaki. Aku, yang rumahnya paling jauh, memulai perjalanan dengan menghampiri rumah teman pertama, kemudian kami berdua menghampiri rumah teman kedua dan seterusnya. Jarak komplek rumah kami dengan sekolah lumayan jauh untuk ukuran anak SD. Kegiatan mendatangi rumah teman untuk mengajaknya berangkat sekolah disebut dengan “nyampeur”.

Dahulu, waktu sekolah kami tidaklah terlalu lama karena dahulu tidak ada yang namanya full-day school. Paling lama pukul 12 siang kami sudah sampai di rumah. Selepas shalat dzuhur dan makan siang, terbentang waktu yang sangat lapang buat kami, anak-anak SD yang memang senang bermain. Bila musimnya tiba kami membawa layang-layang lengkap dengan benang dan gelasan. Gelasan ini adalah upgrade dari benang dengan tambahan bulir gelas sehingga bisa dipakai untuk “ngadu” layang layang. Bukan hanya itu, seabreg mainan siap memanjakan kami. Sebut saja main gambar, kaleci (kelereng), sorodot gaplok, kasti, sapintrong, galah asin, boy-boyan, ucing sumput (petak umpet), gatrik, dan lain sebagainya. Apalagi bila musim liburan tiba. Wahana ekplorasi kami semakin luas. Dari mulai nonton sepakbola tarkam sampai berenang di sungai. Tidak jarang kami menjelajah daerah yang sama sekali belum pernah kami jelajahi. Dalam basa Sunda, tradisi menjelajah ini biasa disebut “Jarambah”.

Memang tidak pernah nonton TV? oh, tentu saja ada. Tapi dahulu channel TV tidak banyak dan kita sudah tahu kapan saja waktunya ada acara-acara film itu. Mulai dari film legendaris si Unyil hingga film kartun seperti Google V, The Mask, Flash Gordon, Silver Hawk, hingga film Jepang semacam Lion Man. Tapi, karena waktu pemutaran sebentar dan jadwalnya terukur, kami tidak banyak menghabiskan waktu-waktu kami untuk menonton televisi. Dunia bermain, diluar sana, jauh lebih menantang dan menarik dibandingkan nongkrong di depan televisi.

Memang tidak ada Video Game? Oh, dulu belum ada Playstation, Game Online atau semacamnya. Game paling canggih yang pernah kami mainkan adalah GameWatch (dibaca Gimbot) yang biasa kami sewa di taman dekat rumah. Ada beberapa permainan Gimbot yang ada seperti Gimbot Kereta Api, Gimbot Kapal Selam dan Gimbot Koboi. Kami tidak banyak bermain Gimbot ini karena kami harus menyewa Gimbot itu dari Bapak penyewa Gimbot. Jadi, konsekuensinya, semain lama bermain, semakin banyak uang dari kantong harus dikeluarkan.

Selepas bermain dari siang sampai waktu Ashar atau lebih, kami menutup hari dengan pergi ke masjid dan mengaji. Waktu mengaji ini biasanya ba’da Maghrib sampai Ba’da Isya. Belum ada metode Iqra waktu itu jadi kami belajar dengan cara ‘tradisional’ dengan bimbingan Pak Ustadz lulusan pesantren dari Cianjur atau Sukabumi. Bukan hanya mengaji, kami pun belajar Fiqh dan lain-lain dari beliau dengan referensi kitab kuning semacam Safinatun Najah, Tijan Darori, Tanbihul Ghafilin dll. Cara mengajarnya pun dengan metode klasikal .Ajaibnya, hingga 30 tahun masa belajar itu lewat, aku masih menghafal bagaimana dulu Pak Ustadz mengajar.

“Bismillahi – ngawiti ingsun ing iki kitab kang den ngarani kitab safinatun najah. Hal le nuwun pitulung lan ngalap berkah kalawan nyebat asmaning Allah”

Selepas Isya, kami biasanya mengerjakan PR (bila ada PR). Itu pun paling lama sampai pukul 8 malam. Tidak ada nonton joget-joget YKS, tidak ada nonton jingkrak-jingkrak dangdut di TV. Hening. Istirahatnya maksimal sampai besok hari memulai belajar kembali.
———————————————————————————————-
Fathimah nampak masih mengantuk saat dibangunkan. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Dengan langkah berat Fathimah masuk ke kamar mandi, ambil air wudhu dan shalat shubuh. Selepas itu, Fathimah duduk di meja makan. Hidangan sarapan sudah tersedia. Sembari sarapan, channel channel TV mulai berhamburan menghampiri anak-anak. Sponges Bob, Chalk Zone, Sofia The First dll. Seringkali Fathimah diperingatkan oleh Nenek dan Ibunya karena hilang fokus makannya karena asyiknya tayangan Sofia the First yang dia gandrungi. Selepas makan, mandi pagi dan tengg….pukul 06.45 Fathimah diantar ke sekolah.

Fathimah ini kelas 2 SD lho dan dia harus berangkat sekolah sama dengan berangkatnya orang-orang dewasa bekerja. Memang mulai belajar pukul 08.00 tapi dia harus menjalani Morning Journal setiap hari pada pukul 07.30.

Pukul 08.00-Pukul 15.30 adalah waktu yang sangat lama, menurutku untuk anak SD, yang harus dihabiskan di sekolah. Selain Ilmu Umum juga ada konten lokal semisal Al-Quran Hadits, Fiqh, Bahasa Arab, TIK, dan lain lain. Kurikulum 2013? Tematik? Waduh makhluk apa lagi ini? Yang aku tahu, sepulang sekolah sampai di rumah pukul 16.30 wajah Fathimah sudah nampak sangat lelah. Mandi, makan sore sambil ditemani Pororo hingga maghrib. Tadinya kami ingin Maghrib-Isya ini belajar mengaji seperti tradisi ayahnya dahulu. Tapi, apa mau dikata, dia sudah menghempaskan diri di kasur empuknya dan menghilang di balik peraduannya.
———————————————————————————————-
Khawatir. Kata itu cukup mewakili gejolak hatiku saat ini. Ditengah gempuran media sepanjang waktu, oase imani untuk anak-anak semakin hari semakin kering dan sulit untuk diisi lagi dengan kesejukan tilawah Al-Quran, khyusuknya shalat berjamaah, dan belajar kesantunan dan tata krama. Terlebih dia kehilangan waktu bermainnya karena harus dijejali mata pelajaran yang menggunung yang harus dia pelajari setiap hari. hmmm…seringkali bimbang itu hadir….apakah uang berjuta-juta yang aku keluarkan untuk sekolah Fathimah ini dapat berbuah manis di masa depan dia nanti atau ini menjadi bumerang bagi orang tuanya yang menyangka bahwa sekolah yang katanya “bagus” itu bisa menghasilkan anak yang super dan juga shaleh?

Mohon saran para pakar psikologi Lita Edia, Fitri Ariyanti dan pakar konseling Eva Novita Ungu

Bener kan…tulisannya asiiiik 😉 . Karena nama saya di-tag, jadinya saya merasa berkewajiban untuk menjawab pertanyaan yang BEURAT itu. Alhamdulillahnya, Dua teteh saya dan seorang akang…ketiganya teteh2 dan akang Karisma juga, telah menjawab dengan jawaban yang keyeeen…jadi saya punya contekan kkk…. Mmmmhh…jadinya saya melengkapi sajah tanggapan dari teh Lita, teh Noviet dan Kang Bony.

  • Bony Budiman masa kecil sy 60 – 75 % mirip dengan andri, mirip pada kebiasaan sekolah, main dan ngaji di masjid kampung…. masa kecil fatimah 40 – 60 % beda dengan Yasmin/Annisa… beda di uang SPP yg gratis, beda di sekolah yg cumaa 3 jam (kelas 1-2 SD) dan jadi 5 jam setelah kelas 3… Alasan Yasmin_Nisa sekolah di SD Negri ya karena kekhawatiran sy-dini yg mirip dengan kekhawatiran andri sekarang. Khawatir anak2 itu kehilangan masa berharga untuk bermain. Yasmin-Nisa ngaji sama ibunya, Karena saya percaya pendidikan terbaik untuk anak2 ada di rumah… guru terbaik adalah orangtuanya (untuk kasus saya saya ya ibunya krn sy LDR)… dan saya sudah membuktikannya… Tapi saya juga gak mau bilang cara keluarga saya mendidik anak adalah yg plg baik atau lbh baik dibanding yg lain… sama sekali tidak… karena tiap keluarga punya tantangan masing2… punya kebutuhan yg bisa jadi sangat berbeda… every family is special…

    Eva Novita Ungu saya bukan ahli konseling, tp kmrn ikut kajian ust budi ashari, ktnya anak tk sd memang tidak semestinya diserahkan porsi pendidikannya lbh banyak ke sekolah, mirip kaya bony, beliau menyarankan anak tk sd tidak sampe sore sekolahnya … bukti terbaik hasil pendidikan jaman dulu yah kita2 ini ktnya … yg masih lebih banyak waktu bermainnya, waktu kumpul ma ortunya dll

    Sammaaa…masa kecil saya juga mirip dengan masa kecil Kang Afiet dan Kang Bony…ya, memang kita satu “cohort”/angkatan/generasi kan … Dan hari-hari Azka/Umar, si kelas 6 dan kelas 3, sangat mirip dengan Fathimah. Itu adalah konsekuensi dari pilihan kami menyekolahkannya di SDIT, yang fullday. Bahkan, fullday school adalah salah satu kriteria teknis pertama buat kami saat cari sekolah buat anak-anak. Kenapa? karena kami memutuskan bahwa saya bekerja. Fulltime.

    Saya setuju, bahwa kondisi pengasuhan yang dijalankan oleh Kang Bony dan teh Dini adalah ideal. Kombinasi dari ibu berpendidikan tinggi yang bekerja “part time” di rumah, punya orientasi pendidikan anak yang wokeh, ada support ART, adalah kombinasi ideal bagaimana kuantitas dan kualitas pengasuhan anak bisa optimal di rumah. Dengan demikian, saya dukung sepenuhnya pilihan Kang Bony dan teh Dini untuk mencari sekolah yang “sebentar”, biar anak lebih terpapar pendidikan dari ibunya. Tampaknya itu juga yang dimaksud oleh Ust Budi Ashari yang disampaikan oleh teh Noviet.

Lita Edia fathimah insyaa Allah bahagia memiliki ayah dan ibu yg lekat dengan dirinya. Sekolah full day belum tentu beban…kan mereka main sama teman temannya. Kadang kekhawatiran kita yg justru mereka jadi kurang menikmati apa yg mereka tadinya ingin nikmati. Misal anak di kasih PR… tadinya mereka semangat ngerjain…eh karena si ibuna hore (am) dan ngerasa itu ngebebanin anak (dan ibuna) jd kesel terus BT sama soal soalna terus ibuna ngomel ngomel…jadi we anakna ngahuleng daaan jd ikut BT sama sekolah…ehehe… #imajiner . Di sekolah tempat saya ikut serta mengelola, ada anak anak yang ngga jadi happy karena ortunya khawatir akan ini itu

Setuju juga ama pendapat teh Lita (kkk…ketahuan males mikir;)… saya ingin menitikberatkan bahwa … studi-studi mutakhir yang dilakukan tidak lagi bersifat “labelling”.  Jadi labelling “ibu di rumah, pasti anak baik”, “ibu bekerja, anak terlantar”, “sekolah sebentar, anak bahagia”, “sekolah fullday, anak stress” atau “ortu bercerai, anak broken home” dll dll itu sudah lama ditinggalkan. Dengan berkembangnya pandangan positive psychology, sekarang fokusnya lebih pada “faktor apa yang bisa membuat anak sejahtera dengan kondisi yang ada?”. Itu sebabnya saya menebalkan kata “kombinasi” saat membahas pengasuhan keluarga Kang Bony. Kenapa? karena walaupun ibu di rumah, namun salah satu faktor lain tak terpenuhi; misalnya pendidikannya sangat rendah, kecapean karena ngurus urusan rumah tangga sendiri, gak punya visi dan keterampilan mendidik anak… kuantitas dan kualitas yang harusnya optimal tidak akan terjadi. Demikian juga sebaliknya pada ibu bekerja. Jadi, untuk keluarga yang tidak bisa mencapai pengasuhan yang “ideal”,misalnya single parent,  dont worry…. ada banyak hal yang bisa diupayakan biar kebutuhan anak-anak kita tetap terpenuhi.

Logika yang sama berlaku juga pada masalah fullday non fullday. Ini agak panjang bahasannya. Kita sering mendengar ada istilah “tugas perkembangan “. Nah, om Hurlock (1981) menyebut tugas – tugas perkembangan ini sebagai produk dari social expectations. Artinya, ia akan berubah seiring dengan waktu, berbeda sesuai tempat. Itu sebabnya kita bisa faham, mengapa pada zaman Rasulullah dulu, para sahabatnya usia belasan sudah bisa menjadi panglima perang? Aisyah pun dinikahi Rasul di usia yang (menurut ukuran kita sekarang) “belia”? Karena social expectation pada zaman itu, di tempat itu, berbeda dengan social expectation pada zaman ini, di Indonesia. Tugas perkembangannya pun berbeda. Remaja-remaja di Pinggiran Bandung Selatan sana, tugas perkembangannya di usia 12-15 tahun, itu beda sama tugas perkembangan remaja di dago. Tugas perkembangan mereka yang di sana adalah menikah. Menjadi istri dan ibu. Itu temuan mahasiswa saya.

Jadi kalau kita lihat kenyataannya, tampaknya anak-anak seperti Fathimah dan Azka-Umar sudah memiliki tugas perkembangan yang berbeda dalam hal sekolah, dan sepertinya…seperti kata teh Lita …banyak yang baik-baik saja. Satu lagi….adaptasi manusia itu, sudah terbukti dengan temuan plastisitas otak. Lha wong terbukti kok…ada pasien yang salah satu hemisfer otaknya mati, fungsinya di-cover oleh hemisfer otak yang satunya lagi…Jadi anak-anak kita juga sangat mungkin sudah beradaptasi dengan tuntutan harus “nyaris 12 jam sekolah”.

Jujur saja, kekhawatiran yang sama pernah saya rasakan. Jika kita bandingkan generasi kita dengan generasi mereka, pasti kita akan khawatir. Karena kita pake standar “cukup” dan “tidak” yang dulu. Setelah diskusi dengan beberapa teman yang bergerak di bidang psikologi perkembangan, akhirnya kami  melihat bahwa ….apa yang dibutuhkan anak-anak jaman sekarang, masih bisa terpenuhi dengan kondisi sekarang. Namun  bentuknya yang berbeda. Susah buat kita untuk menciptakan kembali dunia “Si Bolang” seperti yang kita jalani dulu. Mau sepedahan? orangtua waswas karena keamanan jaman sekarang jauuuh dengan keamanan jaman kita dulu. Mau main bola sepuasnya ? duh….nyari lapangan bola semakin sulit bukan? Mau “abring-abringan” kayak saya dulu … dengan teman sekolah yang juga tetangga…sekarang itu pertemanan anak bukan didasarkan pada geografis kok… Contoh sederhana, ada sekitar 10 anak sebaya Azka di komplek saya, gak ada yang sekolahnya sama. Apakah itu berarti stimulasi untuk motorik dan sosial anak menjadi nol?

duluSaya setuju dengan upaya sebagian teman-teman yang berupaya “mengembalikan lagi” kondisi seperti dulu. Menggiatkan kembali permainan tradisional misalnya. Namun upaya itu tak sepenuhnya bisa dilakukan. Itu realitasnya. Karena kondisi non fisik masyarakat, anak-anak kita, itu perubahannya amat dipengaruhi kondisi fisik. Saya pengen banget ngajarin anak-anak “galah asin”. Tapi dimana? sama siapa?

Sudut pandang lain yang bisa kita upayakan adalah, melihat apa yang terjadi sekarang. Ada klub futsal dimana-mana. Ada arena-arena outbond. Di mall, ada wahana Ice Skating. Di game master, ada wahana apa sih tuh, yang jingkrak-jingkrak ngikuti pola di layar itu…. Untuk yang ekonomi kelas menengah dan menengah ke atas, Alternatif bentuk stimulasinya beragam. Kognitif? oh, itu mah gak usah dibicarakan. Coba lihat beragam permainan di tablet atau ipad. Itu stimulasi kognitif semua. Stimulasi lengkap dari aspek-aspek dasar belajar. Sosial? yups, mereka gak bisa abring-abringan secara fisik. Tapi kalau saya intip obrolan wa-an Azka, owh…tenang…proses persahabatan, pengelolaan konflik, kerjasama dan kompetisi-nya, terstimulasi kok….

Jadi, khawatir itu tanda kita peduli. Itu sayap yang satu. Kita seimbangkan dengan sayap satunya lagi : “abundant mentallity”. Mencoba melihat dan memanfaatkan apa yang ada sebagai sumber daya. Menurut saya hal ini penting biar kita jadi orangtua yang optimis.

Btw, tampaknya saya jadi ngacaprak kesana-kemari…maaf ya….;)

Andri Fitriyadi Masalah yang sering timbul adalah ketika Fathimah memanfaatkan waktu mainnya yang terbatas (antara jam 16.00-18.00) dengan sesuatu yang dia kehendaki dan kadang kala sangat sangat kreatif (menggunting sesuatu, menempel kertas, membuat macam-macam dll) atau ‘menghilang’ keluar rumah dengan sepedanya bermain dengan kakak-kakaknya yang datang menghampiri ke rumah. Hal ini ‘bertabrakan’ dengan keinginan umminya yang ingin Fathimah di rumah saja sambil baca Iqra karena Umminya tahu habis maghrib Fathimah sudah tidur dan tidak ada kesempatan lagi untuk ngaji.

Lita Edia fisik anak beda beda ya Andri Fitriyadi, tapi anak saya termasuk cepet cape. Jadinya sy ngga narget banyak memang untuk belajar dirumah. Dirumah tinggal main dn yg asik asik aja. Sama ngerjain PR. Ngulang hafalan…sama baca Al QuR’an habis shubuh sama.ayahnya

Setuju lagi ama bu Lita …. 😉 indikator paling gampang apakah pilihan sekolah buat anak pas atau engga, liat anaknya. Selama anak tak menunjukkan masalah, berarti kapasitas fisik dan psikologis yang dia punya, lebih besar daripada persoalan yang harus ia hadapi.

Dulu, saya seperti Umminya Fathimah. Di rumah ada jadwal belajar lagi. Itu waktu Azka. Sampai akhirnya itu tak berlanjut karena saya tak tega lihat betapa cerianya Umar kalau main sepeda sepulang sekolah, atau betapa “khusyuk”nya Azka baca komik kesukaannya di sisa 2 jam sebelum maghrib.

Tentang pendidikan agama di rumah….saya setuju itu tanggung jawab orangtua. Da orangtua kan, yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti. Dampaknya anak sholeh atau engga-pun, orangtua yang merasakan. Kalau saya pribadi, untuk “pengetahuan” dan “keterampilan” agama, saya merasa sekolah yang saya pilih sudah cukup memberikan itu. Azka-Umar sudah lancar mengaji dengan makhraj dan tajwidnya. Demikian pula dengan hafalan, sholat, puasa sunnah, sholat sunnah dll dll. Kami memposisikan diri untuk “mengikat” dan “membumikan” nilai-nilai agama itu menjadi “way of life”nya. Menurut penghayatan saya, itu hal yang paling penting dari agama. Misalnya, saya mewajibkan Umar ke masjid setiap maghrib (plus Subuh kalau ada abahnya), lalu saya jelaskan kenapa harus begitu. Mengaji, biar seayat-dua ayat… adalah karena di  zaman ini keburukan begitu banyak. anak dihipnotis, dijual, dibunuh diambil organnya, diperkosa…kita butuh banyak kebaikan untuk menangkal itu. Membaca Qur’an, satu hurufnya mengandung 10 kebaikan. Itu sebabnya kita butuh baca Qur’an untuk memagari kita dari keburukan di luar sana. Itu value yang saya tanamkan. Dan nilai-nilai agama lain….tawakkal, ikhtiar maksimal, rahman-rahim, dll dll… Dan itu bisa dilakukan tanpa “program khusus” … Bisa saat kita bertanya apa yang dipelajari di sekolah, saat dia cerita temannya begini-begitu, pelajarannya susah, dll dll.

apakah uang berjuta-juta yang aku keluarkan untuk sekolah Fathimah ini dapat berbuah manis di masa depan dia nanti atau ini menjadi bumerang bagi orang tuanya yang menyangka bahwa sekolah yang katanya “bagus” itu bisa menghasilkan anak yang super dan juga shaleh?

Setelah panjang lebar ngacapruk, tetap saya tak bisa jawab pertanyaan ini. Variabel untuk menjadikan anak yang super dan shaleh itu, amat sangat banyak. Tergantung juga dari operasionalisasi super dan saleh itu. Namun saya yakin…ikhtiar kita, mencari partner pendidikan yang paling pas buat anak-anak kita plus doa-doa yang kita panjatkan selalu, semoga menjadi jalan turunnya keberkahan bagi anak kita.

Keberkahan itu, kalau saya operasionalisasikan adalah kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat. Tak ada yang lebih baik dari itu bukan? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s