Working mom : Click !

Akhirnya saya membuat folder baru. WORKING MOM.

Hal ini karena di usia menjelang 10 tahun sejak saya menerjunkan diri dalam “dunia bekerja”, saya memasuki babak baru. Coba tanya pada semua ibu-ibu yang memilih untuk menjadi dosen. Apa alasan mereka memilih pekerjaan ini? KELUANGAN WAKTU. Sebagian besar jawabannya adalah demikian. Termasuk saya. Namun pada kenyataannya, dunia perdosenan tidak hanya mengajar titik. Semakin “naik” jenjang pangkat kita, semakin banyak “tugas tambahan” yang sifatnya manajerial maupun keprofesian yang harus dilakukan. Itulah sebabnya sampai tahun lalu, saya masih belum menghayati bahwa saya “bekerja”. Karena waktu saya sangat fleksibel. Hanya mengajar beberapa jam dalam seminggu. Sisanya? bisa di rumah, bisa beraktifitas pribadi. Lalu kemudian ada masa dimana saya merasa “terpaksa” melakukan tugas-tugas tambahan…Dan kini, babak baru itu adalah, saat saya menyadari bahwa “tugas-tugas tambahan” ini adalah menjadi tanggung jawab saya. Banyaknya senior yang memasuki masa pensiun, dan diskusi-diskusi dengan teman-teman sebaya, tampaknya berhasil menumbuhkan “sense of belonging” saya terhadap “rumah” tempat saya beraktivitas … eh bekerja. Di bidang profesi-pun, tak bisa saya pungkiri, saya sudah masuk ke fase …apa ya…middle? kalau dulu ada kasus yang “sulit” saya akan refer pada senior saya, sekarang….satu per satu mulailah para “junior” saya merefer kasus pada saya. Secara operasional, tahun ini saya memasuki babak baru sebagai ibu bekerja, yang aktifitas dan tanggung jawab saya membuat saya harus bekerja fulltime. Senin-Jumat, pagi-sore.

Setiap perubahan, pastilah membut dis-equilibrium. Situasi baru, tantangan baru. Untuk saya yang juga sangat ingin tetap menjadi “heart of my family” dalam arti yang sesungguhnya, saya menghayati betul bahwa saya harus belajar. Ini adalah kelas baru. Saya harus belajar pelajaran baru. Terutama karena justru support system di rumah kurang menjamin. Saya membayangkan….dulu enak banget ya saya, anak dua…pembantu dua. Beraktifitas cuman dua harian lah dalam seminggu. Sekarang, anak empat. Aktifitas full. Pembantu hanya pulang pergi. Ah, tapi alhamdulillah banget punya Pak Ayi sopir multitasking dan istrinya yang sangat membantu mengasuh Azzam dan Hana selama siang saya bekerja.

Yups, saya sudah membaca banyak referensi tentang work-family balanced. Saya sudah menemukan pendekatan yang paling “pas” untuk mengelola pekerjaan dan keluarga sama baiknya. Secara teoretis. Saya juga bersyukur, di kampus kolega saya 90 persen adalah ibu-ibu. Mereka punya anak, punya keluarga. Saya punya banyak “role model”. Saya bisa pilih siapa yang bisa jadikan “role model”, yang value-nya sama dengan saya dalam mengelola pekerjaan dan kehidupan keluarga secara seimbang. Yang bisa “hebat” di luar rumah dan “ibu yang menenangkan” di dalam rumah. Namun tetap saja, dalam menjalankannya, jatuh-bangun itu terasa. Tidak mudah.

Salah satu hal yang cukup terasa adalah saat ada beberapa “kesempatan besar” di depan mata, yang tak bisa diambil karena pertimbangan keluarga. Workshop ini-itu yang menggiurkan dan bisa meningkatkan kompetensi tapi beberapa hari di luar kota, Conference in-itu yang menawarkan pengalaman seru jalan-jalan ke luar negeri, kesempatan sekolah, acara sharing ini-itu yang bsia mengeyangkan kehausan akan ilmu tertentu…serta “komitmen” kita terhadap pekerjaan…

“Hal-hal kecil” juga tak kalah menggoda : godaan untuk beraktifitas di hari Sabtu-Minggu. Aktifitas sosial. Advokasi pada masyarakat. Padahal saya sudah berkomitmen untuk “menambal” minimnya kuantitas waktu di weekdays, dua hari di wiken itu saya harus ber-quality time bersama keluarga.

Pilih keluarga ! itu teorinya. Mudah. Tapi menjalaninya, menghayatinya, tak semudah itu. Saya yakin perasaan ini dialami oleh banyak ibu-ibu bekerja. Karena pilihannya bukan baik-buruk. Tapi baik-lebih baik.

Dulu, sebagai penonton, saya mudah berkomentar. Tapi sebagai pemain, menjalaninya….tak semudah itu ya…

Kadang dalam situasi itu, beberapa kali saya berpikir “coba ya, kalau anak-anak udah besar”. Pengen cepet-cepet si bungsu “bisa ditinggal”.

Inilah yang ingin saya bagi dengan teman-teman sesama ibu bekerja. Bagaimana kita tetap bisa “bertahan” untuk berada di jalur kompas yang benar. Bagaimana kita tak hanya jadi manager, namun tetap jadi leader dalam kehidupan kita. Bagaimana kita tetap bisa luwes memenuhi tuntutan lingkungan, tapi tak pernah lupa arah tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Bagaimana kita tetap merasa nyaman dan proporsional menjalani “tanggung jawabĀ  ganda” kita. Bagaimana kita tetap amanah dalam pekerjaan namun tak membuat kita “terlena” dan melupakan apa yang lebih hakiki. Keluarga.

clickSaya percaya tak ada yang kebetulan. Begitupun ketika malam ini film Click ! hadir dan saya tonton. The right film in the rignt time šŸ™‚ Film yang dibintangi Adam Sandler ini, bercerita tentang seorang “Newman” yang ingin mencapai puncak karir di pekerjaannya, dan mendapatkan “remote ajaib” untuk mengatur kehidupannya. Singkat kata singkat cerita, ia selalu menggunakan remote itu untuk “melompat” ke saat-saat ia mencapai keberhasilan dalam pekerjaannya. Promosi, sampai sukses menjadi CEO. Dan dampaknya adalah, ia melewatkan banyak waktu dalam perjalanan kehidupan keluarganya. Seperti film keren lainnya, film ini bikin tertawa karena adegan-adegan lucu-nya, tapi bikin menangis karena adegan-adegan “menyentuh”nya.

Ada momen dimana saya curhat pada sahabat saya, saat satu situasi memaksa saya untuk lebih memprioritaskan pekerjaan daripada keluarga. Saya bilang pada sahabatĀ  saya, saya takut pola perilaku memprioritaskan pekerjaan ini menjadi “kebiasaan” bagi saya. Saya takuuuut sekali bayangan saya tentang masa tua saya (kalau panjang umur); berbincang dengan mas berdua, dengan kulit kami yang telah mengeriput di kursi taman menghadap halaman rumah kami yang luaaaaasĀ  sambil minum kopi dan membicarakan anak cucu kami dengan penuh bahagia, sirna karena tanpa sadar saya dan mas “sibuk” dengan dunia masing-masing. Satu hal yang amat mungkin terjadi dan sudah terjadi pada beberapa senior yang saya amati… dan membuat saya amat resah.

Buat teman-teman yang juga pernah mengalami keresahan yang sama, mari kita ingat pesan dalam film ini. Terkadang kita terlena untuk mengejar mimpi di ujung pelangi. Yang kita bayangkan adalah saat kita sampai disana. Namun ternyata yang kita dapati sampai di ujung sana, hanyalah “sekotak sereal”. Padahal kita sudah melewatkan banyak momen berharga untuk sampai di ujung itu.

Sering-seringlah mengkalibrasi kompas kehidupan kita. Melalui tafakur di keheningan malam, menemukan role model yang sesuai, menghayati waktu demi waktu, membayangkan akhir hidup seperti apa yang kita inginkan…..dan beragam cara lainnya.

Mari saling mengingatkan dan berdoa agar pilihan kita “bekerja” menjadi pilihan yang berkah, yang menjadi sajadah panjang kita untuk melakukan kebaikan. Kebaikan yang melindungi anak-anakĀ  kita saat kita tak ada di sisi mereka, kebaikan dan keberkahan yang membuat kita bisa menikmati indahnya kasih sayang dan kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita,Ā  di akhir hidup kita yang-entah kapan.

Ibu Bekerja atau Ibu Tidak Bekerja ; Siapa yang Lebih Stress?

Ehm…ehm…sebelum memulai tulisan ini, mau membuat “pengakuan dosa” dulu …

Sebenarnya judul tulisan ini tidak tidak terlalu saya suka. Mengacu pada tulisan sebelumnya https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/09/21/ibu-bekerja-dan-ibu-tidak-bekerja-pertanyaan-apa-yang-lebih-tepat/, maka judul tulisan ini tidak tepat. Judul tersebut lebih didasari oleh semangat agar tulisan ini “propokatip” sehingga menarik perhatian untuk dibaca hehe….belajar menjual diri gituh;)

stressed-woman-cartoonMemang saya ingin materi di tulisan ini diketahui banyak ibu. Karena penting, menurut saya. Inti dari tulisan ini adalah mengenai pengelolaan stress. Menurut saya, kemampuan manajemen stress merupakan “kemampuan dasar” yang harus dimiliki oleh para ibu. Beragam penelitian menunjukkan bahwa stress ini, apabila tak dikelola dengan baik, akan menjadi pintu gerbang gangguan kesehatan mental dan fisik. Beragam penelitian terutama di bidang psychoneuroimmunology menunjukkan korelasi yang tinggi antara tingkat stress dengan beragam penyakit yang “berat”.

Kenapa istilahnya “dikelola” bukan “dihilangkan” ? karena memang kita tak bisa menghindari beragam hal dalam detik-detik kehidupan kita, yang potensial jadi sumber stress. Dan pengalaman bertemu dengan banyak ibu, membuat saya menyimpulkan bahwa … pengelolaan stress ini menjadi salah satu faktor penentu apakah seorang ibu bisa mencurahkan perhatiannya secara berkualitas pada keluarganya atau tidak. Faktor pengelolaan stress ini merupakan faktor yang lebih menentukan, dibanding faktor apakah ia bekerja atau tidak bekerja. Dan kita semua tahu, bahwa ibu itu adalah “the heart of family”, entah dia bekerja atau tidak bekerja. Jadi…sepakat kan, kalau ibu-ibu harus bisa mengelola stress-nya?

Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/09/21/ibu-bekerja-dan-ibu-tidak-bekerja-pertanyaan-apa-yang-lebih-tepat/. Mengacu pada tulisan tersebut, maka jelas bahwa pertanyaan di judul adalah pertanyaan yang salah. Dan jawabannya pun jelas, bahwa ibu bekerja dan ibu tidak bekerja, sama-sama bisa mengalami stress, sama-sama bisa tidak mengalami stress. Siapa yang lebih stress? nah, itu tergantung dari bagaimana kemampuan ibu untuk mengelola stressnya. Tulisan ini akan panjaaaaaaaang. Oleh karena itu, sepertinya dalam tulisan kali ini saya hanya akan membahas mengenai stress, stressor dan respons stress. Kenapa mulai dari situ? tak kenal maka tak sayang, bukan? keterampilan mengelola stress mulai dari pemahaman terhadap hal-hal yang terkait dengan stress itu sendiri.

Banyak teori yang mengungkap tentang stress. Dari beragam sudut pandang. Namun agar bisa dinikmati dengan renyah, saya pilih paparan stress dari buku Atkinson & Hilgrad’sIntroduction to Psychologi, 15th edition yang ditulis oleh Noelen-Hoeksema, et all (2009)

Baiklah, mari kita mulai.

Kita seriiing banget mendengar dan mungkin mengucap kata “stress”. Apa sih, stress itu? Secara umum, stress mengacu pada kejadian yang kita persepsikan mengancam kesejahteraan fisik atau psikologis kita. Kejadiannya, disebut stressor. Reaksi kita terhadap stressor, disebut respons stress.

Apa saja yang bisa jadi stressor? Gak akan abis sehari semalam menyebutkannya. Mulai dari hal-hal “besar” seperti kematian orang yang kita cintai, perceraian, bencana alam, bos yang amat sangat menyebalkan, sampai dengan hal-hal keciiiiiiil remeh temeh seperti anak yang numpahin air minum, suami yang lupa beliin barang titipan kita di mini market, hape abis batre, internet yang lelet, status-status di facebook, tukang sayur yang gak lewat-lewat, dll dll.

Secara umum, stressor tersebut bisa dikategorikan menjadi 2 kelompok besar:

1. Kejadian yang traumatis. Yaitu situasi bahaya yang sangat ekstrim yang berada di luar batas pengalaman manusia pada umumnya. Misalnya bencana alam, peperangan, kdrt, perkosaan atau pembunuhan.

2. Bersyukurnya, pengalaman traumatis tidak dialami oleh semua dari kita. Namun sumber stress juga bisa berasal dari “kejadian biasa” loh, tergantung dari :

a. Tingkat kemampuan kontrol kita terhadap situasi/kejadian tersebut. Kontrol adalah derajat seberapa besar kita bisa menghentikan atau menghindari situasi tersebut. Semakin tak bisa kontrol suatu situasi, maka kita akan semakin mempersepsikan situasi ini menjadi stressful. Kematian, misalnya. Tak bisa kita kontrol. Penyakit yang kita derita, juga tak bisa kita kontrol. Terkait hal ini, ada hasil penelitian yang penting bake bingiiits…yaitu : keyakinan bahwa kita bisa mengontrol situasi, dapat mengurangi dampak dari situasi tersebut, bahkan walaupun kita tak pernah melakukan kontrol tersebut. Jadi, kalau kita yakin bahwa kita bisa menangani anak yang rueweeeel, maka walaupun kita belum pernah menanganinya, keyakinan tersebut bisa membuat situasi anak rewel menjadi peristiwa yang tidak stressful buat kita. Dan keyakinan bahwa kita bisa mengonrol situasi, sama pentingnya dengan kemampuan aktual kita mengontrol situasi tersebut. Keyen kan……

b. Sejauh mana situasi tersebut bisa kita prediksi atau tidak. Meskipun kita tak bisa mengontrol satu situasi, tapi kalau kita sudah bisa memprediksikannya, dampak dari situasi tersebut akan jauh lebih ringan buat kita. Meskipun kita bingung gimana beresin rumah sendirian, tapi kalau si art kita yang pulang pergi udah izin sejak kemarin bahwa hari ini ia tidak akan masuk, maka kita tidak akan lebih stress dibandingkan jika si art tak masuk tanpa kabar berita (haha…gampang banget cari contohnya ini mah …dan pasti ibu-ibu pada ngangguk-ngangguk šŸ˜‰

c. Ada kejadian-kejadian yang disebut “major changes in life circumtances”. Yaitu perubahanĀ  dalam hidup yang kita alami. Kematian pasangan, pernikahan, pensiun, kehamilan, perubahan dalam pekerjaan, beragam perubahan yang terjadi di sekitar kita, adalah termasuk sumber stress yang potensial.

d. Konflik internal. Nah, kalau poin a, b dan c bicara tentang faktor diluar diri, poin ini bicara tentang faktor di dalam diri. Yaitu konflik dalam diri yang belum terselesaikan. Konflik terjadi saat seseorang harus memilih antara dua hal yang bernilai buatnya. Misalnya: Pengen bekerja tapi gak pengen ninggalin anak. Pengen pesbukan tapi harus beresin setrikaan. Pengen sekolah keluar negeri tapi gak mau ninggalin keluarga.

Bagaimana kita mengenali bahwa kita mengalami stress? dari respons kita. Perilaku kita. Ada dua reaksi kita terhadap stress. Bisa psikologis, fisiologis, atau keduanya.

Respons psikologis yang menunjukkan kita stress : Cemas. Marah dan agresi. Apatis dan depresi. Penurunan kognitif.

Respons fisiologis yang menunjukkan kita stress : Peningkatan dalam metabolic rate. Peningkatan detak jantung. Tekanan darah yang meninggi. Otot yang menegang. Pengeluaran endorfin dan ACTH.

Mengenai respons stress ini, tampaknya akan dibahas di tulisan selanjutnya. Tapi kalau kita lihat respons fisiologis stress, jadi make sense ya, kenapa si stress ini jadi berpengaruh terhadap kesehatan fisik kita.

Baiklah….saya ingin menutup tulisan ini dengan PR. Termasuk buat saya. Gak cuman buat ibu-ibu. Tapi buat mas-mas, neng-neng, adek-adek, siapapunĀ  yang baca tulisan ini.

PRnya adalah :

Coba hayati, ingat-ingat, dan lalu tuliskan: kejadian/situasi apa saja yang selama ini membuat kita stress. Kita bisa tahu dari respons psikologis dan respons fisiologis kita ya…..Lalu dari masing-masing kejadian/situasi tersebut, coba dihayati…kalau dikasih skala 1-10, berapa bobot stressnya.

Misalnya :

Setrikaan numpukĀ  9 / Anak berantem 6 / Suami gak jawab sms/bbm 10 /Gak punya waktu ke salon 8 / Deadline kerjaan 5 / Telat nyampe kantor 6

Setelah itu, ranling dari yang bobotnya paling besar ke yang bobotnya paling kecil.

Kalau ada yang merasa susah mengerjakan PR ini , ada dua kemungkinan. (1) Kita emang gak pernah mengalami stress (2) Kita gak peka, gak mengenali dan sulit menghayati diri sendiri. Kalau alternatif pertama sih wokeh, kalau alternatif kedua nih…..bahaya.

Self awareness, itu sangat penting untuk kesejahteraan psikologis kita. Fisik juga sih. Kita akan bertindak secara terarah, kalau kita tahu betul apa ynag terjadi dengan diri kita. Misalnya, contoh yang paling gampang adalah dalam kesehatan fisik. Kalau kita peka, kita akan mengenali kapan tubuh kita mulai “gak enak”. Kalau tenggorokan sakit nelen. Sariawan mulai bertumbuhan. Kalau kita menyadari itu, kita bisa sengaja satu hari istirahat. Karena kita tahu bahwa kalau gak istirahat, ini akan berlanjut menjadi flu berat. Bayangkan kalau kita gakĀ  peka. Kita gak nyadar bahwa “gak enak badan”. Aktivitas hajar terus, akhirnya…tumbeng…. Stress juga kayak gitu. Kalau kita peka, kita bisa lakukan pengelolaan agar gak berlanjut menjadi “sakit”; baik secara psikologis maupun fisik.

Okeh…selamat mengerjakan PR…ini akan kita gunakan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Sumber gambar : http://www.lifewithelizabethrose.com/superwoman-complex-does-this-sound-like-you/stressed-woman-cartoon/

Ibu bekerja dan ibu tidak bekerja : Pertanyaan apa yang lebih tepat?

Entah apa yang menjadi triggernya, issue “mom war” kini menyeruak lagi. Tentunya di dunia maya, di sosial media dan di grup-grupan. Rasanya, kalau di dunia nyata siiih…adem-ayem aja ;). Seorang teman saya di whatsapp grup bilang, membahas jawaban dari pertanyaan “mana yang lebih baik antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja?” itu tidak akan ada habisnya. Yups….saya sepakat dengannya. Tapi menurut saya, setiap pertanyaan pastilah ada jawabannya. Kalau tidak ada jawabannya, maka mungkin pertanyaannya yang salah. Baiklah, mari kita bahas pertanyaannya kalau begitu.

“Mana yang lebih baik antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja?”. Ini adalah pertanyaan yang kurang jelas. Variabelnya “ill defined” kalau bahasa penelitian mah. Apanya yang lebih baik? ada beragam banyak kemungkinannya …mmmhhh…kalau dari perbincangan yang biasa terjadi, mari kita asumsikan yang dimaksud “lebih baik” adalah kualitas pengasuhannya, yang kemudian akan berdampak pada kualitas anaknya. Okey…jadi pertanyaannya sekarang adalah, “mana yang lebih baik kualitas pengasuhannya pada anak, ibu bekerja atau ibu tidak bekerja?”

Karena kita sedang membahas pertanyaan, maka yang harus kita pahami selanjutnya adalah, mengapa pertanyaan itu muncul? Kalau menurut saya sih, pertanyaan itu muncul karena ada kenyataan yang berubah. Mari kita list asumsi apa saja yang harus dipenuhi agar ibu bisa memberikan pengasuhan berkualitas pada anak. (1) adanya waktuĀ  untuk berinteraksi dengan anak, (2) pengetahuan yang memadai untuk menstimulasi dan menanggapi perilaku anak, (3) kesediaan untuk memprioritaskan anak dari segala aktifitas yang lain saat anak membutuhkan, (4) kesabaran menghadapi beragam macam ulah anak, (5) …… apa lagi ya? asa banyak hehe…monggo diteruskan masing-masing…

Nah, tampaknya pertanyaan “mana yang lebih baik….” tadi muncul karena adanya pemahaman bahwa kualitas pengasuhan, tak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Misalnya, banyak yang mengutarakan bahwa anak yang diasuh ibunya yang berpendidikan tinggi, itu lebih baik dibanding diasuh pembantunya yang berpendidikan rendah. Pertanyaannya : apakah otomatis, tingkat pendidikan berbanding lurus dengan kualitas pengasuhan? Gimana kalau si pembantu yang lulusan SD itu, seperti tetehnya anak-anak saya dulu; teh Ema : sangat supel, interaktif, suka bacain buku, suka ngajak main aktif, ngajarin main sepeda, sangat responsif terhadap kebutuhan anak, pinter dan sabar kalau ngebujuk dan nyuapin makan……asumsi tadi menjadi kurang pas dibandingkan sebagian kenyataan yang ada.

Demikian juga dengan asumsi bahwa ibu yang bekerja, itu “eksistensi” dirinya akan lebih tinggi, sehingga dia lebih hepi…Pertanyannya : Apakah tingkat ke-hepi-an seorang ibu bekerja akan otomatis membuat kualitas pengasuhannya menjadi lebih baik? apakah otomatis ke-hepi-annya “menular” pada keluarganya? gimana kalau ke ‘hepi”an seorang ibu bekerja harus dibayar dengan tak adanya kuantitas maupun kualitasĀ  interaksi dengan keluarganya? Anak-anaknya? …

Dulu, jaman saya sebagai anak, ibu-ibu yang “tidak bekerja” adalah ibu-ibu yang secara sistem sosial pada waktu itu, tak mendapat kesempatan berpendidikan tinggi. Sekarang, “profil psikologis” ibu-ibu yang “memilih tidak bekerja” sudah jauh berbeda. Mereka bependidikan tinggi, dengan wawasan yang sangat luas, kemampuan manajemen yang super….Dulu, “ibu bekerja” digambarkan sebagai “wanita karir” yang “egois”, yang “menyerahkan anak pada pembantu”. Sekarang, ibu-ibu bekerja rela membawa pompa asi ke tempat kerja demi memberi asi eksklusif pada bayinya, “membayar” kuantitas waktu pengasuhan yang hilang karena bekerja dengan beragam upaya.

Hasilnya? kualitas anak-anak dari ibu yang tidak bekerja, ada yang okeh …. ada yang kurang okeh. Sama juga dengan anak-anak yang ibunya bekerja. Kalau demikian, jadi mana yang lebih baik?

Nah, kalquestau suatu pertanyaan sudah sulit dijawab, maka….mungkin kita salah mengajukan pertanyaan. Seperti jaman dulu, para ahli psikologi perkembangan bertanya: “mana yang lebih berpengaruh terhadap perilaku individu? faktor bawaan atau faktor lingkungan?” Sekian lama….pertanyaan ini sulit dijawab karena kenyataannya tidak bisa menunjukkan satu keteraturan. Akhirnya, pertanyaannya diganti: “Bagaimana faktor bawaan dan faktor lingkungan berinteraksi dalam menentukan perilaku individu?” . Nah, ini baru bisa dijawab.

Tampaknya…dalam kasus ibu bekerja dan ibu tidak bekerja ini, akan lebih tepat jika pertanyaan “mana yang lebih baik kualitas pengasuhannya, ibu bekerja atau ibu tidak bekerja?” ini diganti dengan : “ibu bekerja yang bagaimana yang kualitas pengasuhannya akan menjadi baik?” ….“ibu tidak bekerja yang bagaimana yang kualitas pengasuhannya akan menjadi baik?” .

Jujur saja, saya jauuuuuuh lebih suka pertanyaan ini.Kenapa?

Pertama : Tak membandingkan. Bekerja atau tidak bekerja, menurut saya adalah perbedaan yang sifatnya diferensiasi, bukan stratifikasi. (Tentu sebagai muslimah, diferensiasi ini berlaku jika pekerjaan yang dilakukan memenuhi kaidah syariat ya….pekerjaannya bermanfaat, halal, dan caranya tak melanggar aturan agama). Kalau sifatnya stratifikasi, ada yang lebih baik dan lebih tidak baik, bagaimana ibu-ibu yang tak punya pilihan? kalau ibu bekerja dipandang lebih baik, bagaimana dengan ibu yang tak punya kompetensi untuk bekerja? apakah dia menjadi “lebih tidak baik”? kalau ibu tak bekerja dipandang lebih baik, apakah ibu yang suaminya wafat dan ia terpaksa harus bekerja menafkahi anak-anaknya menjadi “lebih tidak baik?”

Kedua : Menghembuskan optimisme. Apapun situasi kita, entah karena keterpaksaan atau karena pilihan, kita bisa mengupayakan agar situasinya membuat kualitas pengasuhan kita lebih baik. Interaksi. Kombinasi. Banyak faktornya. Lebih banyak yang bisa kita kendalikan dan upayakan.

Ketiga : Membuat kita “waspada”. Alert. “bergerak”. “Hidup”. Tak ada yang otomatis. Menjadi ibu yang 24 jam bersama anak? tak otomatis membuat kita merasa tak harus “berusaha”. Menjadi ibu yang percaya diri karena prestasi yang diraih di luar rumah? tak otomatis membuat kita merasa tinggal kipas-kipas.

Keempat : Fokusnya bukan pada orang lain. Tapi fokusnya pada diri kita. Kalau kita fokus pada diri kita, gak akan terjadi “mom war”. Kita gak akan punya waktu untuk mengurusi pilihan orang lain. Kita akan “ter-occupied” untuk belajar terus, dan mengavaluasi…apakah pilihan aktivitas kita sebagai ibu, sudah memenuhi kualifikasi “pengasuhan yang berkualitas” atau belum.

Gak usah ikut perang-perangan…lebih baik kita “berdamai” dengan pilihan yang kita ambil. Kalau kita semangat perang dengan ibu-ibu yang pilihannya beda sama kita, jangan-jangan itu karena kita masih galau dengan pilihanĀ  kita šŸ˜‰

Nanti kita ulas faktor-faktor apa saja dalam diri ibu dan di luar diri ibu yang bisa kita upayakan untuk memberikan pengasuhan yang berkualitas pada anak-anak kita. Insya Allah….

“Freaky Friday” : Kiat jitu kala “rumput sebelah terlihat lebih hijau”

Setiap kali lewat di depan baltos (Balubur Town Square), saya selalu menikmati wajah seorang model hijab yang terpampang besar di salah satu dinding di sana. Wajah bulat telurnya, senyum manisnya, terlihat begitu “sempurna” dalam balutan hijab ceria. Sebagai seorang yang tidak cantik, terkadang saya suka membayangkan….gimana ya, kalau wajah saya secantik dia? saya menjadi dia? kayaknya sempurna.

Duluuuuuu saya juga punya seorang kenalan. Setiap kali berkunjung ke rumahnya, saya selalu membayangkan…gimana kalau ini adalah rumah saya. Rumahnya, adalah rumah idaman saya. Banget. Sempurna.

Pernahkah teman-teman mengalami pengalaman seperti saya? Jika pernah, saya ingin berbagi mengenai apa yang terjadi kemudian.

Yang terjadi kemudian adalah, artis cantik dengan wajah “sempurna” itu, kini sedang mengalami masalah. Mulai masalah kesehatan mental, kehidupan pernikahan, dan hubungan dengan ibu/puterinya. Kenalan yang saya ceritakan tadi, kini sedang stress berat karena sebuah peristiwa yang menimpa kehidupan keluarganya.

movie-poster-freaky-friday-1111774_400_300Pernah nonton film Freaky Friday? Itu adalah film tentangĀ  seorang ibu dan seorang anak perempuannya yang selalu bertengkar dan memandang bahwa peran “yang lain” jauh lebih mudah dan lebih enak daripada perannya. Si ibu menganggap, alangkah mudah dan enak jadi anak. Si anak, menganggap alangkah mudah dan enak jadi ibu. Seorang “penyihir iseng”, lalu membuat mereka “berpindah jiwa”. Jiwa si ibu di badan si anak, jiwa si anak di badan si ibu. Masing-masing harus menjalankan peran sesuai tubuhnya. Si anak dituntut untuk menjadi seorang ibu, si ibu dituntut menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi si anak. Endingnya, masing-masing menyadari bahwa …. penilaian kita terhadap orang lain, seringkali salah. Masalah-masalah anak, tak semudah yang dibayangkan ibu. Tanggung jawab seorang ibu, tak segampang yang dibayangkan anak.

Mmmmhhh…sebenarnya gak pas banget sih, sama apa yang ingin saya ungkapkan. Namun the point is…terkadang…seringkali….eh, selalu …. kita memandang rumput tetangga lebih hijau, orang lain lebih bahagia dari kita, karena kita melihat hal positif yang tampak, dan kita ingin mengambil secuil yang tampak itu, kita “tempelkan” dalam kehidupan kita. Sehingga, hidup kita yang “hampir sempurna” itu, menjadi sempurna.

Saya misalnya, membayangkan…betapa “sempurnanya” saya… memiliki suami dan keluarga yang baik dan menyayangi saya, anak-anak yang membahagiakan, menjalani profesi yang saya sukai, plus…punya wajah bulat telur sempurna si model.

Tapi setelah tahu sekian masalah yang harus dihadapi si artis cantik itu di masa lalu dan masa kininya, apakah saya mau bertukar tempat dengannya? Gak. Saya cuman mau wajah bulat telur cantiknya saja. Gak mau menukar episode kehidupan saya dengan episode kehidupannya. Apakah saya mau menukar kehidupan saya yang menyenangkan dengan rumah idaman saya namun suami saya selingkuh? Saya juga tidak mau. Saya cuman mau rumahnya aja šŸ˜‰

Nah….Buat saya, pengalaman menghayati ini membuat saya memahami arti satu kata yang powerfull dalam kehidupan kita. Syukur.

Jadi, buat teman-teman yang mungkin melihat…. betapa suami tetangga kita lebih perhatian, betapaĀ  teman kita begitu mudah mendapatkan rejeki, betapaĀ  rekan kerja kita begitu gampang dapat kesempatan promosi, betapa asiknya kenalan kita bisa sering liburan ke luar negeri, betapa “iri” kita dengan seseorang, betapa kita ingin “bertukar tempat” dengannya, betapa rumput sebelah tampak begitu hijau…

….sesungguhnya kita tak akan pernah tahu bagaimana keseluruhan episode kehidupan orang lain.

Andai Allah bukakan tabir kehidupan ini, maka mungkin kita akan menyesal dan tak akan pernah ingin jadi orang lain. Dengan segala jatuh-bangun yang kita lalui, dengan segala lebih kurang yang kita miliki, dengan segala sulit-mudah yang kita jalani, Allah telah memberikan yang terbaik untukĀ  kita.

Yups, Dia memberi kita cobaan. kesulitan. kesedihan.Ā  Namun Dia telah menakar dengan super akurat, bahwa potensi yang kita miliki baik di dalam diri dan bantuan dari luar, melebihi kadar ujian yang diberikan.

Dia telah mengukurnya. Dengan Sempurna.

Maka, dengan demikian,Ā  hidup kita telah sempurna.

BPIP Pagi : Positive Self Talk

Hari Sabtu pagi kemarin, saya mengikuti acara “BPIP Pagi” . Program ini adalah program “Sharing” yang rutin diadakan BPIP (Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi) sebulan sekali. BPIP Pagi/Sore selalu berupaya menyajikan tema-tema aktual dan menarik untuk masyarakat,Ā  baik masyarakat akademis maupun masyarakat umum. Bulan depan misalnya, BPIP Pagi akan mengupas mengenai tema pendidikan seksual pada anak dan remaja, dari sudut pandang yang belum banyak dibahas. Untuk para orangtua dan guru, nantikan undangannya ya….;)

positiveTema BPIP Pagi di hari Sabtu lalu lebih ditujukan pada kalangan akademisi dan praktisi profesional, yaitu POSITIVE SELF TALK. Pembicaranya adalah kakak kelas saya waktu di Psikologi, mbak Sitha Koosdina yang akrab dipanggil mbak Ade. Beliau juga adalah istri kolega saya di kampus, mas Hary Setyowibowo. Ya, dunia memang selebar daun kelor kkk

Menurut saya, materi ini adalah materi yang akan bermanfaat juga untuk kita semua, karena bisa diterapkan oleh masing-masing diri. Sebagai ibu, kita juga bisa mengajarkan positive self talk ini pada anak.

Berikut saya coba tuliskan inti-inti materi yang didapat, dengan cara yang “ringan”, semoga berhasil šŸ˜‰

Pernahkah dalam pikiran kita, kita “ngobrol” dengan diri sendiri? tentang apapun. Jika pernah, atau sering bahkan selalu….itu yang namanya Self Talk. Dialog dalam diri. Yang rajin nulis diary, itu adalah self talk yang dituliskan.

Positive self talk adalah cara yang secara sadar kita lakukan agar “perbincangan dalam diri kita” yang awalnya negatif menjadi positif.

Apa sih manfaat Positive Self Talk ini?

(1) Menghentikan Negative Self Talk. Karena ada kecenderungan yang kuat dalam diri kita untuk menilai diri kita negatif sebagai respons awal menghadapi persoalan.

(2) Meredakan Stress. Pikiran negatif itu bikin badan “cape”. Sehingga pemikiran yang positif akan berpengaruh sebaliknya.

(3) Membuat kita menjadi lebih pede.

Gak seperti mie dan bubur yang ada versi instan-nya, Positive Self Talk ini tidak instan. Ada tahap-tahapnya sampai kita bisa “mereplace” si negatif self talkĀ  menjadi positive self talk. Berikut adalah tahapannya:

 

Level I : Negative Acceptance
Kita terima rasa negatif itu. Kita terima bahwa kita punya keterbatasan. Jadi, kalau kita merasa gak pede tampil di depan umum karena gak cantik misalnya, terima rasa itu.

Level II: Recognition & Need to Change
Kita harus memunculkan keinginan untuk berubah. “Oke, saya orangnya memang kaku jadi susah sosialisasi. Tapi saya gak bisa saya gini terus.

Level III : Decision to Change
“Saya memutuskan untuk mau berubah. Saya bisa berubah”

Level IV : The Better You

Level V : The Universal Afirmation
Saya ingin berubah, dan saya ingin mengajak orang lain, Fokusnya tidak hanya pada diri sendiri tapi juga pada orang lain.

Secara teoretis, Positive Self Talk ini akarnya adalah dari pendekatan REBT-nya Albert Ellis (Rational Emotive Behavior Therapy).

REBT memandang perilaku manusia bisa dijabarkan dalam rumus :

A; Activating event (situasi pemicu) … B: Belief (Irrational & Rational) … C: Consequence.

Kita harus mengenali, ketika ada suatu kejadian apa “irrational belief kita?”. Misalnya setiap ada kejadian, kita langsung berpikir “iya, gue mah emang bloon” atau “saya mah lebay” atau “aku mah gak bisa apa-apa”….atau apapun “irrational belief “ kita, keyakinan kita pada diri diri sendiri. Setelah itu,Ā  kenali konsekuensi negatifnya jika “kepercayaan negatif” tersebut terus kita pegang. Setelah itu, ubah si irrational belief menjadi rational belief yang sesuai dengan diri kita. Jadi kata-kata positif yang kita “sugestikan” pada diri kita itu, akan sangat individual.

Nah…ini materi yang paling menarik buat saya…Bagaimana caranya membuat “positive self talk”. Kenapa menarik? pake bingiiits lagi šŸ™‚ karena banyak yang selama ini saya lakukan ternyata salah ;(

Begini nih Karakteristik Positive Self Talk yang bener…..

(1) Kalimat dalam bentuk : “Saya….” “Gue…” “Aku ….” ” I…” misalnya “I believe I can fly” … pilih kalimat yang akan bermakna dan “menggerakkan” buat kita.

(2) Sesuai dengan perubahan yang diinginkan. Misalnya : “Gue berani nelpon dosen pembimbing” (ini buat mahasiswa yang takuuut nelpon dosen pembimbing skripsinya hehe…)

(3) Bukan kalimat negasi. Nah, ini nih kesalahan yang umum dilakukan…Kata “tidak, bukan”… itu secara psikologis menekankan kata di depannya. Jadi kalau kita bilang “saya gak takut….saya gak takut” … itu menekankan rasa TAKUT …. sehingga wajar kalau nantinya kita jadi tambah takut.

(4) Bukan kalimat yang absolut (selalu, sama sekali, tidak pernah). Misalnya : “Saya selalu kuat…saya selalu kuat”…. ” saya tidak pernah menyerah…saya tidak pernah menyerah….” itu malah akan membebani diri kita.

(5) Realistis untuk dicapai.

(6) Kalimat present tense dan sederhana (jangan menggunakan kata “akan”).

(7) Diulang-ulang

Nah…penting banget kan….

Terakhir…teknik positive self talk ini bisa macem-macem : Bisa Silent Self Talk (dalam hati), Self Speak (perbincangan dalam diri), Self Conversation (diucapkan, biasanya “bicara dengan diri kita” di cermin), Self Write (ditulis), dan tape talk (direkam)

Nah, yuks…kita praktekkan…terutama yang terbiasa pikirannya wara-wiri “ngobrol”, paling potensial untuk mudah menerapkan teknik ini. Dan buat para emak, bisa menanamkan hal ini pada anak. Bantu anak untuk mengubah “irrational belief” tentang dirinya, katakan “positive self talk” untuk anak berulang-ulang, sehingga ia yakin bahwa ia adalah seorang yang positif. Misalnya : “kaka tuh kreatif banget”. “adek mah mau mencoba” dll dll.

Buat latihan pertama, monggo yang udah baca ini tuliskan positive self talk untuk diri sendiri berdasarkan 7 karakteristik di atas… yang melakukannya akan dapat pahala kkkkkk (ikut-ikutan sama yang geje;) …Tapi untuk latihan dan menuliskan di komen, ciyuss…yuks kita coba…

Semangat !!!!