BPIP Pagi : Positive Self Talk

Hari Sabtu pagi kemarin, saya mengikuti acara “BPIP Pagi” . Program ini adalah program “Sharing” yang rutin diadakan BPIP (Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi) sebulan sekali. BPIP Pagi/Sore selalu berupaya menyajikan tema-tema aktual dan menarik untuk masyarakat,  baik masyarakat akademis maupun masyarakat umum. Bulan depan misalnya, BPIP Pagi akan mengupas mengenai tema pendidikan seksual pada anak dan remaja, dari sudut pandang yang belum banyak dibahas. Untuk para orangtua dan guru, nantikan undangannya ya….;)

positiveTema BPIP Pagi di hari Sabtu lalu lebih ditujukan pada kalangan akademisi dan praktisi profesional, yaitu POSITIVE SELF TALK. Pembicaranya adalah kakak kelas saya waktu di Psikologi, mbak Sitha Koosdina yang akrab dipanggil mbak Ade. Beliau juga adalah istri kolega saya di kampus, mas Hary Setyowibowo. Ya, dunia memang selebar daun kelor kkk

Menurut saya, materi ini adalah materi yang akan bermanfaat juga untuk kita semua, karena bisa diterapkan oleh masing-masing diri. Sebagai ibu, kita juga bisa mengajarkan positive self talk ini pada anak.

Berikut saya coba tuliskan inti-inti materi yang didapat, dengan cara yang “ringan”, semoga berhasil 😉

Pernahkah dalam pikiran kita, kita “ngobrol” dengan diri sendiri? tentang apapun. Jika pernah, atau sering bahkan selalu….itu yang namanya Self Talk. Dialog dalam diri. Yang rajin nulis diary, itu adalah self talk yang dituliskan.

Positive self talk adalah cara yang secara sadar kita lakukan agar “perbincangan dalam diri kita” yang awalnya negatif menjadi positif.

Apa sih manfaat Positive Self Talk ini?

(1) Menghentikan Negative Self Talk. Karena ada kecenderungan yang kuat dalam diri kita untuk menilai diri kita negatif sebagai respons awal menghadapi persoalan.

(2) Meredakan Stress. Pikiran negatif itu bikin badan “cape”. Sehingga pemikiran yang positif akan berpengaruh sebaliknya.

(3) Membuat kita menjadi lebih pede.

Gak seperti mie dan bubur yang ada versi instan-nya, Positive Self Talk ini tidak instan. Ada tahap-tahapnya sampai kita bisa “mereplace” si negatif self talk  menjadi positive self talk. Berikut adalah tahapannya:

 

Level I : Negative Acceptance
Kita terima rasa negatif itu. Kita terima bahwa kita punya keterbatasan. Jadi, kalau kita merasa gak pede tampil di depan umum karena gak cantik misalnya, terima rasa itu.

Level II: Recognition & Need to Change
Kita harus memunculkan keinginan untuk berubah. “Oke, saya orangnya memang kaku jadi susah sosialisasi. Tapi saya gak bisa saya gini terus.

Level III : Decision to Change
“Saya memutuskan untuk mau berubah. Saya bisa berubah”

Level IV : The Better You

Level V : The Universal Afirmation
Saya ingin berubah, dan saya ingin mengajak orang lain, Fokusnya tidak hanya pada diri sendiri tapi juga pada orang lain.

Secara teoretis, Positive Self Talk ini akarnya adalah dari pendekatan REBT-nya Albert Ellis (Rational Emotive Behavior Therapy).

REBT memandang perilaku manusia bisa dijabarkan dalam rumus :

A; Activating event (situasi pemicu) … B: Belief (Irrational & Rational) … C: Consequence.

Kita harus mengenali, ketika ada suatu kejadian apa “irrational belief kita?”. Misalnya setiap ada kejadian, kita langsung berpikir “iya, gue mah emang bloon” atau “saya mah lebay” atau “aku mah gak bisa apa-apa”….atau apapun “irrational belief “ kita, keyakinan kita pada diri diri sendiri. Setelah itu,  kenali konsekuensi negatifnya jika “kepercayaan negatif” tersebut terus kita pegang. Setelah itu, ubah si irrational belief menjadi rational belief yang sesuai dengan diri kita. Jadi kata-kata positif yang kita “sugestikan” pada diri kita itu, akan sangat individual.

Nah…ini materi yang paling menarik buat saya…Bagaimana caranya membuat “positive self talk”. Kenapa menarik? pake bingiiits lagi 🙂 karena banyak yang selama ini saya lakukan ternyata salah ;(

Begini nih Karakteristik Positive Self Talk yang bener…..

(1) Kalimat dalam bentuk : “Saya….” “Gue…” “Aku ….” ” I…” misalnya “I believe I can fly” … pilih kalimat yang akan bermakna dan “menggerakkan” buat kita.

(2) Sesuai dengan perubahan yang diinginkan. Misalnya : “Gue berani nelpon dosen pembimbing” (ini buat mahasiswa yang takuuut nelpon dosen pembimbing skripsinya hehe…)

(3) Bukan kalimat negasi. Nah, ini nih kesalahan yang umum dilakukan…Kata “tidak, bukan”… itu secara psikologis menekankan kata di depannya. Jadi kalau kita bilang “saya gak takut….saya gak takut” … itu menekankan rasa TAKUT …. sehingga wajar kalau nantinya kita jadi tambah takut.

(4) Bukan kalimat yang absolut (selalu, sama sekali, tidak pernah). Misalnya : “Saya selalu kuat…saya selalu kuat”…. ” saya tidak pernah menyerah…saya tidak pernah menyerah….” itu malah akan membebani diri kita.

(5) Realistis untuk dicapai.

(6) Kalimat present tense dan sederhana (jangan menggunakan kata “akan”).

(7) Diulang-ulang

Nah…penting banget kan….

Terakhir…teknik positive self talk ini bisa macem-macem : Bisa Silent Self Talk (dalam hati), Self Speak (perbincangan dalam diri), Self Conversation (diucapkan, biasanya “bicara dengan diri kita” di cermin), Self Write (ditulis), dan tape talk (direkam)

Nah, yuks…kita praktekkan…terutama yang terbiasa pikirannya wara-wiri “ngobrol”, paling potensial untuk mudah menerapkan teknik ini. Dan buat para emak, bisa menanamkan hal ini pada anak. Bantu anak untuk mengubah “irrational belief” tentang dirinya, katakan “positive self talk” untuk anak berulang-ulang, sehingga ia yakin bahwa ia adalah seorang yang positif. Misalnya : “kaka tuh kreatif banget”. “adek mah mau mencoba” dll dll.

Buat latihan pertama, monggo yang udah baca ini tuliskan positive self talk untuk diri sendiri berdasarkan 7 karakteristik di atas… yang melakukannya akan dapat pahala kkkkkk (ikut-ikutan sama yang geje;) …Tapi untuk latihan dan menuliskan di komen, ciyuss…yuks kita coba…

Semangat !!!!

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. farhila
    Jan 27, 2015 @ 11:58:59

    Selamat siang..
    Saya tertarik dengan sharing yang mba fitri tulis. Saya mahasiswi s1 jurusan psikologi, ingin mengambil judul skripsi “pengaruh pelatihan self talk terhadap kecemasan akademik”. Tetapi masih bingung mendapatkan narasumber yang menguasai materi self talk. apakah BPIP dapat membantu untuk memberikan pelatihannya? Trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s