“Freaky Friday” : Kiat jitu kala “rumput sebelah terlihat lebih hijau”

Setiap kali lewat di depan baltos (Balubur Town Square), saya selalu menikmati wajah seorang model hijab yang terpampang besar di salah satu dinding di sana. Wajah bulat telurnya, senyum manisnya, terlihat begitu “sempurna” dalam balutan hijab ceria. Sebagai seorang yang tidak cantik, terkadang saya suka membayangkan….gimana ya, kalau wajah saya secantik dia? saya menjadi dia? kayaknya sempurna.

Duluuuuuu saya juga punya seorang kenalan. Setiap kali berkunjung ke rumahnya, saya selalu membayangkan…gimana kalau ini adalah rumah saya. Rumahnya, adalah rumah idaman saya. Banget. Sempurna.

Pernahkah teman-teman mengalami pengalaman seperti saya? Jika pernah, saya ingin berbagi mengenai apa yang terjadi kemudian.

Yang terjadi kemudian adalah, artis cantik dengan wajah “sempurna” itu, kini sedang mengalami masalah. Mulai masalah kesehatan mental, kehidupan pernikahan, dan hubungan dengan ibu/puterinya. Kenalan yang saya ceritakan tadi, kini sedang stress berat karena sebuah peristiwa yang menimpa kehidupan keluarganya.

movie-poster-freaky-friday-1111774_400_300Pernah nonton film Freaky Friday? Itu adalah film tentang  seorang ibu dan seorang anak perempuannya yang selalu bertengkar dan memandang bahwa peran “yang lain” jauh lebih mudah dan lebih enak daripada perannya. Si ibu menganggap, alangkah mudah dan enak jadi anak. Si anak, menganggap alangkah mudah dan enak jadi ibu. Seorang “penyihir iseng”, lalu membuat mereka “berpindah jiwa”. Jiwa si ibu di badan si anak, jiwa si anak di badan si ibu. Masing-masing harus menjalankan peran sesuai tubuhnya. Si anak dituntut untuk menjadi seorang ibu, si ibu dituntut menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi si anak. Endingnya, masing-masing menyadari bahwa …. penilaian kita terhadap orang lain, seringkali salah. Masalah-masalah anak, tak semudah yang dibayangkan ibu. Tanggung jawab seorang ibu, tak segampang yang dibayangkan anak.

Mmmmhhh…sebenarnya gak pas banget sih, sama apa yang ingin saya ungkapkan. Namun the point is…terkadang…seringkali….eh, selalu …. kita memandang rumput tetangga lebih hijau, orang lain lebih bahagia dari kita, karena kita melihat hal positif yang tampak, dan kita ingin mengambil secuil yang tampak itu, kita “tempelkan” dalam kehidupan kita. Sehingga, hidup kita yang “hampir sempurna” itu, menjadi sempurna.

Saya misalnya, membayangkan…betapa “sempurnanya” saya… memiliki suami dan keluarga yang baik dan menyayangi saya, anak-anak yang membahagiakan, menjalani profesi yang saya sukai, plus…punya wajah bulat telur sempurna si model.

Tapi setelah tahu sekian masalah yang harus dihadapi si artis cantik itu di masa lalu dan masa kininya, apakah saya mau bertukar tempat dengannya? Gak. Saya cuman mau wajah bulat telur cantiknya saja. Gak mau menukar episode kehidupan saya dengan episode kehidupannya. Apakah saya mau menukar kehidupan saya yang menyenangkan dengan rumah idaman saya namun suami saya selingkuh? Saya juga tidak mau. Saya cuman mau rumahnya aja 😉

Nah….Buat saya, pengalaman menghayati ini membuat saya memahami arti satu kata yang powerfull dalam kehidupan kita. Syukur.

Jadi, buat teman-teman yang mungkin melihat…. betapa suami tetangga kita lebih perhatian, betapa  teman kita begitu mudah mendapatkan rejeki, betapa  rekan kerja kita begitu gampang dapat kesempatan promosi, betapa asiknya kenalan kita bisa sering liburan ke luar negeri, betapa “iri” kita dengan seseorang, betapa kita ingin “bertukar tempat” dengannya, betapa rumput sebelah tampak begitu hijau…

….sesungguhnya kita tak akan pernah tahu bagaimana keseluruhan episode kehidupan orang lain.

Andai Allah bukakan tabir kehidupan ini, maka mungkin kita akan menyesal dan tak akan pernah ingin jadi orang lain. Dengan segala jatuh-bangun yang kita lalui, dengan segala lebih kurang yang kita miliki, dengan segala sulit-mudah yang kita jalani, Allah telah memberikan yang terbaik untuk  kita.

Yups, Dia memberi kita cobaan. kesulitan. kesedihan.  Namun Dia telah menakar dengan super akurat, bahwa potensi yang kita miliki baik di dalam diri dan bantuan dari luar, melebihi kadar ujian yang diberikan.

Dia telah mengukurnya. Dengan Sempurna.

Maka, dengan demikian,  hidup kita telah sempurna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s