Ibu bekerja dan ibu tidak bekerja : Pertanyaan apa yang lebih tepat?

Entah apa yang menjadi triggernya, issue “mom war” kini menyeruak lagi. Tentunya di dunia maya, di sosial media dan di grup-grupan. Rasanya, kalau di dunia nyata siiih…adem-ayem aja ;). Seorang teman saya di whatsapp grup bilang, membahas jawaban dari pertanyaan “mana yang lebih baik antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja?” itu tidak akan ada habisnya. Yups….saya sepakat dengannya. Tapi menurut saya, setiap pertanyaan pastilah ada jawabannya. Kalau tidak ada jawabannya, maka mungkin pertanyaannya yang salah. Baiklah, mari kita bahas pertanyaannya kalau begitu.

“Mana yang lebih baik antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja?”. Ini adalah pertanyaan yang kurang jelas. Variabelnya “ill defined” kalau bahasa penelitian mah. Apanya yang lebih baik? ada beragam banyak kemungkinannya …mmmhhh…kalau dari perbincangan yang biasa terjadi, mari kita asumsikan yang dimaksud “lebih baik” adalah kualitas pengasuhannya, yang kemudian akan berdampak pada kualitas anaknya. Okey…jadi pertanyaannya sekarang adalah, “mana yang lebih baik kualitas pengasuhannya pada anak, ibu bekerja atau ibu tidak bekerja?”

Karena kita sedang membahas pertanyaan, maka yang harus kita pahami selanjutnya adalah, mengapa pertanyaan itu muncul? Kalau menurut saya sih, pertanyaan itu muncul karena ada kenyataan yang berubah. Mari kita list asumsi apa saja yang harus dipenuhi agar ibu bisa memberikan pengasuhan berkualitas pada anak. (1) adanya waktu  untuk berinteraksi dengan anak, (2) pengetahuan yang memadai untuk menstimulasi dan menanggapi perilaku anak, (3) kesediaan untuk memprioritaskan anak dari segala aktifitas yang lain saat anak membutuhkan, (4) kesabaran menghadapi beragam macam ulah anak, (5) …… apa lagi ya? asa banyak hehe…monggo diteruskan masing-masing…

Nah, tampaknya pertanyaan “mana yang lebih baik….” tadi muncul karena adanya pemahaman bahwa kualitas pengasuhan, tak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Misalnya, banyak yang mengutarakan bahwa anak yang diasuh ibunya yang berpendidikan tinggi, itu lebih baik dibanding diasuh pembantunya yang berpendidikan rendah. Pertanyaannya : apakah otomatis, tingkat pendidikan berbanding lurus dengan kualitas pengasuhan? Gimana kalau si pembantu yang lulusan SD itu, seperti tetehnya anak-anak saya dulu; teh Ema : sangat supel, interaktif, suka bacain buku, suka ngajak main aktif, ngajarin main sepeda, sangat responsif terhadap kebutuhan anak, pinter dan sabar kalau ngebujuk dan nyuapin makan……asumsi tadi menjadi kurang pas dibandingkan sebagian kenyataan yang ada.

Demikian juga dengan asumsi bahwa ibu yang bekerja, itu “eksistensi” dirinya akan lebih tinggi, sehingga dia lebih hepi…Pertanyannya : Apakah tingkat ke-hepi-an seorang ibu bekerja akan otomatis membuat kualitas pengasuhannya menjadi lebih baik? apakah otomatis ke-hepi-annya “menular” pada keluarganya? gimana kalau ke ‘hepi”an seorang ibu bekerja harus dibayar dengan tak adanya kuantitas maupun kualitas  interaksi dengan keluarganya? Anak-anaknya? …

Dulu, jaman saya sebagai anak, ibu-ibu yang “tidak bekerja” adalah ibu-ibu yang secara sistem sosial pada waktu itu, tak mendapat kesempatan berpendidikan tinggi. Sekarang, “profil psikologis” ibu-ibu yang “memilih tidak bekerja” sudah jauh berbeda. Mereka bependidikan tinggi, dengan wawasan yang sangat luas, kemampuan manajemen yang super….Dulu, “ibu bekerja” digambarkan sebagai “wanita karir” yang “egois”, yang “menyerahkan anak pada pembantu”. Sekarang, ibu-ibu bekerja rela membawa pompa asi ke tempat kerja demi memberi asi eksklusif pada bayinya, “membayar” kuantitas waktu pengasuhan yang hilang karena bekerja dengan beragam upaya.

Hasilnya? kualitas anak-anak dari ibu yang tidak bekerja, ada yang okeh …. ada yang kurang okeh. Sama juga dengan anak-anak yang ibunya bekerja. Kalau demikian, jadi mana yang lebih baik?

Nah, kalquestau suatu pertanyaan sudah sulit dijawab, maka….mungkin kita salah mengajukan pertanyaan. Seperti jaman dulu, para ahli psikologi perkembangan bertanya: “mana yang lebih berpengaruh terhadap perilaku individu? faktor bawaan atau faktor lingkungan?” Sekian lama….pertanyaan ini sulit dijawab karena kenyataannya tidak bisa menunjukkan satu keteraturan. Akhirnya, pertanyaannya diganti: “Bagaimana faktor bawaan dan faktor lingkungan berinteraksi dalam menentukan perilaku individu?” . Nah, ini baru bisa dijawab.

Tampaknya…dalam kasus ibu bekerja dan ibu tidak bekerja ini, akan lebih tepat jika pertanyaan “mana yang lebih baik kualitas pengasuhannya, ibu bekerja atau ibu tidak bekerja?” ini diganti dengan : “ibu bekerja yang bagaimana yang kualitas pengasuhannya akan menjadi baik?” ….“ibu tidak bekerja yang bagaimana yang kualitas pengasuhannya akan menjadi baik?” .

Jujur saja, saya jauuuuuuh lebih suka pertanyaan ini.Kenapa?

Pertama : Tak membandingkan. Bekerja atau tidak bekerja, menurut saya adalah perbedaan yang sifatnya diferensiasi, bukan stratifikasi. (Tentu sebagai muslimah, diferensiasi ini berlaku jika pekerjaan yang dilakukan memenuhi kaidah syariat ya….pekerjaannya bermanfaat, halal, dan caranya tak melanggar aturan agama). Kalau sifatnya stratifikasi, ada yang lebih baik dan lebih tidak baik, bagaimana ibu-ibu yang tak punya pilihan? kalau ibu bekerja dipandang lebih baik, bagaimana dengan ibu yang tak punya kompetensi untuk bekerja? apakah dia menjadi “lebih tidak baik”? kalau ibu tak bekerja dipandang lebih baik, apakah ibu yang suaminya wafat dan ia terpaksa harus bekerja menafkahi anak-anaknya menjadi “lebih tidak baik?”

Kedua : Menghembuskan optimisme. Apapun situasi kita, entah karena keterpaksaan atau karena pilihan, kita bisa mengupayakan agar situasinya membuat kualitas pengasuhan kita lebih baik. Interaksi. Kombinasi. Banyak faktornya. Lebih banyak yang bisa kita kendalikan dan upayakan.

Ketiga : Membuat kita “waspada”. Alert. “bergerak”. “Hidup”. Tak ada yang otomatis. Menjadi ibu yang 24 jam bersama anak? tak otomatis membuat kita merasa tak harus “berusaha”. Menjadi ibu yang percaya diri karena prestasi yang diraih di luar rumah? tak otomatis membuat kita merasa tinggal kipas-kipas.

Keempat : Fokusnya bukan pada orang lain. Tapi fokusnya pada diri kita. Kalau kita fokus pada diri kita, gak akan terjadi “mom war”. Kita gak akan punya waktu untuk mengurusi pilihan orang lain. Kita akan “ter-occupied” untuk belajar terus, dan mengavaluasi…apakah pilihan aktivitas kita sebagai ibu, sudah memenuhi kualifikasi “pengasuhan yang berkualitas” atau belum.

Gak usah ikut perang-perangan…lebih baik kita “berdamai” dengan pilihan yang kita ambil. Kalau kita semangat perang dengan ibu-ibu yang pilihannya beda sama kita, jangan-jangan itu karena kita masih galau dengan pilihan  kita 😉

Nanti kita ulas faktor-faktor apa saja dalam diri ibu dan di luar diri ibu yang bisa kita upayakan untuk memberikan pengasuhan yang berkualitas pada anak-anak kita. Insya Allah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s