Ibu Bekerja atau Ibu Tidak Bekerja ; Siapa yang Lebih Stress?

Ehm…ehm…sebelum memulai tulisan ini, mau membuat “pengakuan dosa” dulu …

Sebenarnya judul tulisan ini tidak tidak terlalu saya suka. Mengacu pada tulisan sebelumnya https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/09/21/ibu-bekerja-dan-ibu-tidak-bekerja-pertanyaan-apa-yang-lebih-tepat/, maka judul tulisan ini tidak tepat. Judul tersebut lebih didasari oleh semangat agar tulisan ini “propokatip” sehingga menarik perhatian untuk dibaca hehe….belajar menjual diri gituh;)

stressed-woman-cartoonMemang saya ingin materi di tulisan ini diketahui banyak ibu. Karena penting, menurut saya. Inti dari tulisan ini adalah mengenai pengelolaan stress. Menurut saya, kemampuan manajemen stress merupakan “kemampuan dasar” yang harus dimiliki oleh para ibu. Beragam penelitian menunjukkan bahwa stress ini, apabila tak dikelola dengan baik, akan menjadi pintu gerbang gangguan kesehatan mental dan fisik. Beragam penelitian terutama di bidang psychoneuroimmunology menunjukkan korelasi yang tinggi antara tingkat stress dengan beragam penyakit yang “berat”.

Kenapa istilahnya “dikelola” bukan “dihilangkan” ? karena memang kita tak bisa menghindari beragam hal dalam detik-detik kehidupan kita, yang potensial jadi sumber stress. Dan pengalaman bertemu dengan banyak ibu, membuat saya menyimpulkan bahwa … pengelolaan stress ini menjadi salah satu faktor penentu apakah seorang ibu bisa mencurahkan perhatiannya secara berkualitas pada keluarganya atau tidak. Faktor pengelolaan stress ini merupakan faktor yang lebih menentukan, dibanding faktor apakah ia bekerja atau tidak bekerja. Dan kita semua tahu, bahwa ibu itu adalah “the heart of family”, entah dia bekerja atau tidak bekerja. Jadi…sepakat kan, kalau ibu-ibu harus bisa mengelola stress-nya?

Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/09/21/ibu-bekerja-dan-ibu-tidak-bekerja-pertanyaan-apa-yang-lebih-tepat/. Mengacu pada tulisan tersebut, maka jelas bahwa pertanyaan di judul adalah pertanyaan yang salah. Dan jawabannya pun jelas, bahwa ibu bekerja dan ibu tidak bekerja, sama-sama bisa mengalami stress, sama-sama bisa tidak mengalami stress. Siapa yang lebih stress? nah, itu tergantung dari bagaimana kemampuan ibu untuk mengelola stressnya. Tulisan ini akan panjaaaaaaaang. Oleh karena itu, sepertinya dalam tulisan kali ini saya hanya akan membahas mengenai stress, stressor dan respons stress. Kenapa mulai dari situ? tak kenal maka tak sayang, bukan? keterampilan mengelola stress mulai dari pemahaman terhadap hal-hal yang terkait dengan stress itu sendiri.

Banyak teori yang mengungkap tentang stress. Dari beragam sudut pandang. Namun agar bisa dinikmati dengan renyah, saya pilih paparan stress dari buku Atkinson & Hilgrad’sIntroduction to Psychologi, 15th edition yang ditulis oleh Noelen-Hoeksema, et all (2009)

Baiklah, mari kita mulai.

Kita seriiing banget mendengar dan mungkin mengucap kata “stress”. Apa sih, stress itu? Secara umum, stress mengacu pada kejadian yang kita persepsikan mengancam kesejahteraan fisik atau psikologis kita. Kejadiannya, disebut stressor. Reaksi kita terhadap stressor, disebut respons stress.

Apa saja yang bisa jadi stressor? Gak akan abis sehari semalam menyebutkannya. Mulai dari hal-hal “besar” seperti kematian orang yang kita cintai, perceraian, bencana alam, bos yang amat sangat menyebalkan, sampai dengan hal-hal keciiiiiiil remeh temeh seperti anak yang numpahin air minum, suami yang lupa beliin barang titipan kita di mini market, hape abis batre, internet yang lelet, status-status di facebook, tukang sayur yang gak lewat-lewat, dll dll.

Secara umum, stressor tersebut bisa dikategorikan menjadi 2 kelompok besar:

1. Kejadian yang traumatis. Yaitu situasi bahaya yang sangat ekstrim yang berada di luar batas pengalaman manusia pada umumnya. Misalnya bencana alam, peperangan, kdrt, perkosaan atau pembunuhan.

2. Bersyukurnya, pengalaman traumatis tidak dialami oleh semua dari kita. Namun sumber stress juga bisa berasal dari “kejadian biasa” loh, tergantung dari :

a. Tingkat kemampuan kontrol kita terhadap situasi/kejadian tersebut. Kontrol adalah derajat seberapa besar kita bisa menghentikan atau menghindari situasi tersebut. Semakin tak bisa kontrol suatu situasi, maka kita akan semakin mempersepsikan situasi ini menjadi stressful. Kematian, misalnya. Tak bisa kita kontrol. Penyakit yang kita derita, juga tak bisa kita kontrol. Terkait hal ini, ada hasil penelitian yang penting bake bingiiits…yaitu : keyakinan bahwa kita bisa mengontrol situasi, dapat mengurangi dampak dari situasi tersebut, bahkan walaupun kita tak pernah melakukan kontrol tersebut. Jadi, kalau kita yakin bahwa kita bisa menangani anak yang rueweeeel, maka walaupun kita belum pernah menanganinya, keyakinan tersebut bisa membuat situasi anak rewel menjadi peristiwa yang tidak stressful buat kita. Dan keyakinan bahwa kita bisa mengonrol situasi, sama pentingnya dengan kemampuan aktual kita mengontrol situasi tersebut. Keyen kan……

b. Sejauh mana situasi tersebut bisa kita prediksi atau tidak. Meskipun kita tak bisa mengontrol satu situasi, tapi kalau kita sudah bisa memprediksikannya, dampak dari situasi tersebut akan jauh lebih ringan buat kita. Meskipun kita bingung gimana beresin rumah sendirian, tapi kalau si art kita yang pulang pergi udah izin sejak kemarin bahwa hari ini ia tidak akan masuk, maka kita tidak akan lebih stress dibandingkan jika si art tak masuk tanpa kabar berita (haha…gampang banget cari contohnya ini mah …dan pasti ibu-ibu pada ngangguk-ngangguk šŸ˜‰

c. Ada kejadian-kejadian yang disebut “major changes in life circumtances”. Yaitu perubahanĀ  dalam hidup yang kita alami. Kematian pasangan, pernikahan, pensiun, kehamilan, perubahan dalam pekerjaan, beragam perubahan yang terjadi di sekitar kita, adalah termasuk sumber stress yang potensial.

d. Konflik internal. Nah, kalau poin a, b dan c bicara tentang faktor diluar diri, poin ini bicara tentang faktor di dalam diri. Yaitu konflik dalam diri yang belum terselesaikan. Konflik terjadi saat seseorang harus memilih antara dua hal yang bernilai buatnya. Misalnya: Pengen bekerja tapi gak pengen ninggalin anak. Pengen pesbukan tapi harus beresin setrikaan. Pengen sekolah keluar negeri tapi gak mau ninggalin keluarga.

Bagaimana kita mengenali bahwa kita mengalami stress? dari respons kita. Perilaku kita. Ada dua reaksi kita terhadap stress. Bisa psikologis, fisiologis, atau keduanya.

Respons psikologis yang menunjukkan kita stress : Cemas. Marah dan agresi. Apatis dan depresi. Penurunan kognitif.

Respons fisiologis yang menunjukkan kita stress : Peningkatan dalam metabolic rate. Peningkatan detak jantung. Tekanan darah yang meninggi. Otot yang menegang. Pengeluaran endorfin dan ACTH.

Mengenai respons stress ini, tampaknya akan dibahas di tulisan selanjutnya. Tapi kalau kita lihat respons fisiologis stress, jadi make sense ya, kenapa si stress ini jadi berpengaruh terhadap kesehatan fisik kita.

Baiklah….saya ingin menutup tulisan ini dengan PR. Termasuk buat saya. Gak cuman buat ibu-ibu. Tapi buat mas-mas, neng-neng, adek-adek, siapapunĀ  yang baca tulisan ini.

PRnya adalah :

Coba hayati, ingat-ingat, dan lalu tuliskan: kejadian/situasi apa saja yang selama ini membuat kita stress. Kita bisa tahu dari respons psikologis dan respons fisiologis kita ya…..Lalu dari masing-masing kejadian/situasi tersebut, coba dihayati…kalau dikasih skala 1-10, berapa bobot stressnya.

Misalnya :

Setrikaan numpukĀ  9 / Anak berantem 6 / Suami gak jawab sms/bbm 10 /Gak punya waktu ke salon 8 / Deadline kerjaan 5 / Telat nyampe kantor 6

Setelah itu, ranling dari yang bobotnya paling besar ke yang bobotnya paling kecil.

Kalau ada yang merasa susah mengerjakan PR ini , ada dua kemungkinan. (1) Kita emang gak pernah mengalami stress (2) Kita gak peka, gak mengenali dan sulit menghayati diri sendiri. Kalau alternatif pertama sih wokeh, kalau alternatif kedua nih…..bahaya.

Self awareness, itu sangat penting untuk kesejahteraan psikologis kita. Fisik juga sih. Kita akan bertindak secara terarah, kalau kita tahu betul apa ynag terjadi dengan diri kita. Misalnya, contoh yang paling gampang adalah dalam kesehatan fisik. Kalau kita peka, kita akan mengenali kapan tubuh kita mulai “gak enak”. Kalau tenggorokan sakit nelen. Sariawan mulai bertumbuhan. Kalau kita menyadari itu, kita bisa sengaja satu hari istirahat. Karena kita tahu bahwa kalau gak istirahat, ini akan berlanjut menjadi flu berat. Bayangkan kalau kita gakĀ  peka. Kita gak nyadar bahwa “gak enak badan”. Aktivitas hajar terus, akhirnya…tumbeng…. Stress juga kayak gitu. Kalau kita peka, kita bisa lakukan pengelolaan agar gak berlanjut menjadi “sakit”; baik secara psikologis maupun fisik.

Okeh…selamat mengerjakan PR…ini akan kita gunakan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Sumber gambar : http://www.lifewithelizabethrose.com/superwoman-complex-does-this-sound-like-you/stressed-woman-cartoon/

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Novie Astrini
    Sep 25, 2014 @ 08:00:39

    tulisannya bikin adeem, udah dapet intinya, mengelola stress itu yang penting šŸ™‚

  2. puti
    Nov 05, 2014 @ 05:16:08

    Assalamualaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s