You Are What You Read : Pelajaran dari “Mamak”

serial anak mamakSejauh ini, tamat sudah 3 buku Serial Anak Mamak karya Tere Liye, saya baca. Meski bacanya cuman bisa pas wiken, ngumpet-ngumpet  sebelum “ketauan” ama si bungsu Azzam 2,5 tahun  yang akan langsung teriak : “Ibu, jangan baca buku…ayo main sama De Azzam”.

Saya sudah selesai membaca buku AMELIA si bungsu yang kuat, BURLIAN si pangais bungsu yang istimewa, dan PUKAT si anak kedua yang jenius. Tinggal si sulung ELIANA si anak pertama yang pemberani yang belum saya baca.

Sebenarnya saya sangat pemilih dalam membaca buku. Maklum, karena waktu yang amat terbatas, maka pengennya nemu buku yang bener-bener refreshing sekaligus memberikan energi di tengah bacaan lain yang wajib di baca: tugas mahasiswa dan literatur-literatur baik untuk kepentingan mengajar maupun untuk penanganan klien.

Dan buku Serial anak-anak Mamak ini, memenuhi kriteria yang saya butuhkan : “ringan, syarat pesan yang dalam, menggugah emosi”. Hana si panais bungsu yang cermat memperhatikan saya kalau lagi baca buku-buku ini, sering berkomentar : “Aneh ibu mah…tadi senyum-senyum…ketawa-ketawa…terus nangis….emang gimana sih bu ceritanya?”

Di tengah segala macam bombardir cerita keburukan baik yang dilakukan oleh anak-anak kita maupun orang dewasa dari beragam kelompok, nilai-nilai kebaikan yang ingin ditunjukkan dan ditularkan oleh sang penulis terasa sangat kuat. Nilai kejujuran melalui cerita celengan naga yang diceritakan oleh Nek Kiba, guru ngaji mereka dalam buku PUKAT sangat kuat, sekaligus mengaduk emosi. Demikian juga nilai-nilai baik seperti “jangan bergibah”, diungkapkan dengan lugas sekaligus menghibur lewat perbincangan ringan Mamak dengan BURLIAN saat BURLIAN keukeuh pengen tau dan membicarakan “urusan orang lain”.

Persahabatan, kerja keras, kesungguhan, semua nilai kebaikan yang kini semakin memudar …. serasa menenukan oase yang menyegarkan di tengah hiruk pikuk masalah negeri ini. Dan salah satu tokoh sentral dalam 4 buku ini, tentulah Mamak, ibu dari 4 anak itu. Saya menemukan banyak pelajaran menjadi orangtua yang baik dari gambaran perilaku Mamak. Ketegasannya, kelembutannya, cara dia mengajarkan konsekuensi pada anak …. dan satu lagi : caranya mengajarkan kemandirian.

Kemandirian. Di jaman ini, konon adalah sebuah harta yang cukup mahal, karena semakin sulit ditemukan pada anak-anak kita. Banyak faktornya. Sosial ekonomi yang baik sehingga ada bibi atau teteh atau mbak yang membantu. Kalaupun tak ada, rasa tak tega seorang ibu mengingat beban anak di sekolah sudah cukup berat, membuat ibu tak tega menuntut kemandirian dari anak-anaknya.

Coba saja… cung-ngacung ibu yang memberikan tanggung jawab nyuci dan nyetrika seragam sendiri buat anaknya yang udah kelas 6 ! Padahal Eliana, sang kakak sulung di kisah ini, sejak SD sudah bertanggung jawab mengurus urusan rumah sendirian, karena Mamak harus bekerja.

Saya jadi ingat…setelah kami (saya dan Azka) baca buku itu, saya bilang ke Azka, “tuh Ka….Eliana tuh sebesar Kaka loh, kelas 6. Tapi dia bertugas ngurus semua pekerjaan rumah loh…masak, nyetrika…berarti Kaka juga harusnya bisa kayak gitu” … jawabannya di luar perkiraan saya. Tadinya saya mengira dia akan jawab “beda jaman”. Tapi jawabannya ternyata begini: “ya beda atuh bu….Eliana tuh pulangnya siang… kalau kaka, jam 4. Eliana tuh gak bimbel..Kaka bimbel…” katanya haha….

Yups, kondisi saya yang terbatas tanpa pembantu menginap, membuat saya beberapa kali menerapkan aturan kemandirian. Umar, setiap wiken saya tugaskan mencuci. Selain itu kalau ada bahan masakan yang kurang,misalnya minyak, atau terigu, atau apa gitu,,,,saya tak segan menyuruhnya ke warung. Azka, tugas rutin hariannya adalah masak nasi dan pesen air galon kalau abis. Selain itu, selalu saya minta bantu masak. Beberapa gorengan seperti tempe tepung goreng, biasanya saya suruh kerjakan dari awal sampai akhir. Begitu juga Umar. Kalau mereka pengen cemilan misalnya pisang aroma, atau bola-bola coklat, atau macaroni schutel, saya siapin aja bahan-bahannya. Saya minta Azka memanage adik-adiknya sesuai kemampuan mereka. Jangan tanya bagaimana bentuk dan hasilnya. Tapi its oke. Toh, merek atetap menikmati dan bangga dengan “hasil karya” mereka. Hana si TK B, sudah biasa membuat teh manis sendiri. Umar sudah biasa membuatkan susu untuk Azzam. Kalau pas mereka libur sedangkan saya bekerja, saya minta mereka goreng telor atau ayam sendiri untuk makan siang mereka.

Saya setuju dengan Mamak…  jadi apapun mereka nantinya, keterampilan dasar kemandirian itu harus mereka miliki, terutama menurut saya adalah KEPEDULIAN terhadap kondisi lingkungan dan PENGHAYATAN TERHADAP PROSES. Saya paling gak suka kalau saya riweuh, anak-anak enaaaak aja nonton TV. Bisa, saya bisa bereskan semuanya sendiri. Tapi ada satu hal yang tidak saya ajarkan kalau begitu; KEPEDULIAN. Penghayatan terhadap proses, pernah saya tulis sebagai dasar untuk menghargai.

Nah, tapi jujur aja, kadang semangat untuk konsisten mengajarkan kemandirian itu, menyurut. Misalnya kalau ngobrol sama teman, lalu teman saya berkomentar “negatif” seperti : “euleuh, kasian atuh” atau “haaa? dirimu mengizinkan Azka nyalain kompor sendiri? gak bahaya tuh?”. Komentar-komentar seperti itu, jujur menyurutkan dan membuat saya mempertanyakan, apakah langkah saya tepat? Meskipun rasanya sih, apa yang saya tuntut itu sesuai dengan kemampuan mereka dan tak membahayakan.

Tapi membaca buku serial anak Mamak, membuat saya merasa…keinginan saya sederhana, dan apa yang saya lakukan tidak salah. Yups, memang setting saya dan mamak sangat berbeda. Waktu, tempat dan kondisi. Tapi bukankah cita-cita kami sama? ingin anak-anak kami tumbuh dengan memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian. Dua hal yang bisa kami bekalkan karena kami sebagai orangtua tak akan bisa selalu bersama  mereka dan “melindungi” mereka seumur hidup meraka. Jadi, mungkin medianya akan berbeda. Tapi saya akan mengikuti jejak Mamak dalam mendidik kemandirian pada anak-anak mereka.

Saya juga sangat suka cara Mamak dan Bapak menumbuhkan kekuatan pada anak-anak mereka:

Eliana yang pemberani, Pukat yang jenius, Burlian yang istimewa dan Amelia yang kuat…..

Azka the reliable, Umar the explorer, Hana the resilient dan Azzam the little star …. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s