Marshmallow Test (part One) : catatan tentang “self control”

Marshmellow-TestBagi teman-teman “orang psikologi” atau yang suka sama psikologi populer, mungkin pernah membaca mengenai “marshmallow test”. Marshmallow test adalah sebuah penelitian experimental yang dilakukan oleh Psikolog Walter Mischel pada anak usia 4 tahun di  tahun 1960-an.

Bagi yang ingin melihat ilustrasi penelitian tersebut dalam bentuk video, dapat menyaksikannya di link berikut ini:  https://www.youtube.com/watch?v=QX_oy9614HQ

Buat yang barusan liat, kita bisa menyaksikan tingkah lucu menggemaskan anak-anak yang diberi tantangan : “kamu bisa makan marshmallow ini sekarang, atau kalau kamu mau menunggu dan tidak memakannya, kamu akan dapat satu lagi marshmallow”. Tapi sebenarnya, apa yang diukur oleh penelitian ini sesuatu hal yang mendasar dan penting.

Dalam penelitian ini, sang peneliti lalu “mengikuti” kehidupan sekitar 110 anak yang menjadi partisipan dalam penelitian ini, yang kini berusia akhir 40an/awal 50an. Penelitian longitudinal tersebut mendapatkan hasil bahwa anak-anak yang mau menunggu, tidak memakan marshmallownya saat itu sehingga kemudian mereka mendapatkan dua marshmallow; menjadi orang dewasa yang kuliahnya selesai, mendapatkan penghasilan lebih tinggi, dan lebih tidak mengalami “overweight” dibandingkan dengan anak-anak yang langsung memakan marshmallow yang ditawarkan.

Dalam majalah APA (American Psychological Association) edisi Desember lalu, Sang Profesor menguraikan penelitian-penelitian lanjutan yang beliau tulis dalam bukunya: “The Marshmallow Test: Mastering Self-Control”. Ringkasan artikel itu yang akan saya share dalam tulisan pertama ini. Bagi yang ingin membaca artikel aslinya, dapat membuka link ini : http://www.apa.org/monitor/2014/12/marshmallow-test.aspx

Penelitian ini diilhami oleh perilaku anak-anaknya loh….yang membuat beliau ingin mengetahui bagaimana self control bisa berkembang dalam diri seorang anak dan bagaimana cara melatihnya. Menurut beliau, penelitian tersebut penting karena mengajarkan anak untuk membuat pilihan. Memiliki keterampilan self control serta memiliki motivasi untuk mengontrol diri, adalah hal yang penting saat menghadapi pilihan.

Setelah penelitian tersebut, sebenarnya beliau melakukan serangkaian penelitian lagi di tahun-tahun setelahnya. Dan hasil rangkaian penelitian beliau tersebut hasilnya sama: anak yang memilii self control yang baik dan mau “menunggu”, menjadi orang dewasa yang memiliki regulasi diri dan kontrol diri yang baik, serta perilaku lainnya yang menunjukkan bahwa self control adalah keterampilan berpikir dan keterampilan emosional yang sangat penting.

Good newsnya adalah ….keterampilan kognitif dan emosi tersebut…bisa diajarkan !!! apalagi pada anak usia dini. Keterampilan tersebut bisa diajarkan pada anak prasekolah, anak sekolah, remaja, bahkan pada orang dewasa sekalipun !

Bagaimana cara mengajarkannya? dengan hal-hal yang sederhana. Prinsipnya, ada dua hal yang harus kita ajarkan pada anak jika ingin menumbuhkan self control mereka: (1) anak-anak harus mengetahui “cara”nya mengontrol diri (2) anak-anak harus “termotivasi” untuk melakukan kontrol diri.

Tahapannya, yang pertama adalah …. jadilah model. Jika kita berjanji pada anak, jangan pernah mengingkarinya. Yang kedua adalah…anak harus belajar bahwa perilaku mereka memiliki konsekuensi. Jika mereka berperilaku baik, konsekuensi yang akan mereka terima pun baik. Jika mereka berperilaku buruk, konsekuensi yang akan mereka terima pun hal yang buruk.

Mereka harus menghayati bahwa ada hubungan antara apa yang mereka lakukan dan apa yang akan terjadi pada mereka, sehingga dari penghayatan ini akan tumbuh perasaan bahwa mereka bisa mengontrol perilaku mereka.

……

Secara pribadi, saya amat terkesan dengan penelitian “sederhana” maupun dengan konsep self control ini. Menurut pengamatan saya, banyak kekeruhan dalam masyarakat yang terjadi karena orang-orang dewasa lemah dalam self control dirinya. Perilaku impulsif di jalan raya yang kini jadi sorotan, atau perilaku reaktif di dunia maya adalah contoh nyatanya.

Dalam dunia praktek sebagai psikolog, saya semakin yakin akan pentingnya self control untuk kita bangun dalam diri anak. Saya selalu bilang dan meyakini bahwa self control itu seperti otot. Semakin dilatih, ia akan semakin kuat. Saya juga selalu berusaha meyakinkan orangtua bahwa self control bukanlah sesuatu yang bisa “tumbuh otomatis seiring dengan usia”. Ia harus diajarkan. Dilatih.

Anak dua tahun, saat tak mendapatkan keinginannya tantrum. Anak dua belas tahun, saat tak mendapatkan keinginannya lempar barang. Anak dua puluh tahun, saat tak mendapatkan keinginannya menyiksa orangtua. Itu bukan kabar dari koran atau sinetron. Itu saya temui secara nyata, di ruang praktek saya.

Dalam tulisan kedua, saya akan berbagi pengalaman mengajarkan keterampilan “menunggu”, sebagai salah satu bentuk “self control” yang paling dasar pada anak usia 2 tahun 9 bulan, si bungsu Azzam. Inshaa allah.

Sumber gambar : http://www.astanduplife.com/whats-your-marshmallow/

Advertisements

Tak Sekedar Agenda …

IMG-20141224-WA0007Banyak diantara kita yang menjadikan awal tahun baru ini sebagai titik untuk mengevaluasi dan membuat rencana tahunan. Saya adalah salah satunya. Salah satu momen yang cukup menyenangkan buat saya setiap akhir tahun adalah, mencari buku agenda untuk tahun yang baru. Buku agenda itu, bukan hanya sekedar buku bagi saya. Ia juga adalah “belahan jiwa” yang akan menemani hari-hari padat saya, juga sebagai “jangkar” yang bisa mengendalikan produktifitas hari-hari saya. Haha…bombastis banget ya? tapi, memang demikianlah adanya….

Salah satu momen yang menyenangkan untuk saya adalah…menjelang tidur atau bada Subuh, ketika saya menuliskan dengan detil jam per jam, menit per menit apa yang harus saya lakukan. Dan momen yang lebih menyenangkan adalah saat menjelang tidur saya lihat kembali “jadwal” itu, dan semuanya saya checlist, yang artinya….kegiatan itu selesai saya lakukan. Percaya atau tidak, tanpa “list” itu…dijamin hari-hari saya tak akan produktif. Meskipun sudah “tertulis” di pikiran, namun tanpa bantuan tulisan dalam agenda itu… saya bisa cuman ngobrol ngalor ngidul, ngelamun gak jelas, dan ujungnya…stress karena kerjaan gak beres.

Setelah gak ada asisten yang menginap, fungsi agenda itu menjadi bertambah. Dia adalah “external hardisk” buat saya. Maklum, seabreg urusan mulai yang serius misalnya ujian mahasiswa sampai yang gak serius tapi kalau lupa bisa berakibat fatal (misalnya lupa ngasih tau sopir untuk jemput anak-anak lebih awal karena ada jadwal sekolah yang berubah), atau beliin cemilan yang udah dijanjiin ke anak-anak,  sulit saya ingat tanpa bantuan tulisan.

Salah satu fungsi lain yang sangat penting dari agenda buat saya juga adalah, “merapikan hati” kkk. Maklum, kalau dikepung deadline, hati jadi resah dan gelisah. Tapi dengan mengurai kepungan deadline itu satu persatu,  menuliskan kapan harus dikerjakan,target per bulan-per minggu,  apa yang jadi prioritas, sampai breakdown per hari, itu bikin perasaan legaaaa. Secara psikologis, situasinya menjadi bisa kita kontrol. Dan perasaan bisa mengontrol situasi itu, secara psikologis menyehatkan. Maklumlah, kalau hanya mengikuti perasaan, banyak hal “penting” lain yang ingin dikerjakan, berakibat hal yang urgent menjadi luput dan ujungnya…stress lagi ;(

Jadi, buat saya, si agenda itu tak pernah hanya sekedar sebuah buku. Makanya, dalam pemilihannya tidak pernah sederhana. Itulah sebabnya juga, kalau pilih agenda saya gak pernah ngajak anak-anak apalagi mas, biar khusyuk 😉 Agenda yang akan jadi belahan jiwa itu haruslah menyenangkan, warna dan designnya harus bikin semangat dan … sesuai dengan kepribadian saya haha…

Jadi, buat teman-teman yang merasa hari-harinya kurang seru, kurang produktif, kurang “bergairah” mungkin bisa mencoba pengalaman saya ini. Hunting agenda yang lutu, lalu membuat rencana-rencana. Tahunan, yang dibreakdown jadi bulanan, mingguan, lalu harian.

Percayalah, setiap kali membuat checklist dari kegiatan harian yang telah direncanakan, rasanya bahagiaaaa banget. Meskipun apa yang kita rencanakan setiap harinya, mungkin adalah hal yang sama.

Photos by : Azka Rahima