Tiga puluh enam : bersiap menghadapi dua titik kritis

36Saya percaya bahwa Allah sudah menciptakan kita sedemikian rupa sehingga dengan pengetahuan, pengalaman dan penghayatan dari aktifitas kita, kita bisa sampai pada keyakinan akan keMAHAannya. Saya, banyak menghayati keMAHAan Allah lewat ilmu yang saya pelajari. Psikologi. Salah satunya adalah ilmu tentang LIFE SPAN DEVELOPMENT. Perkembangan sepanjang rentang kehidupan. Bahwa Allah membuat manusia berubah. Dari segi fisik, kemampuan berpikir, tuntutan sosial, dll seiring dengan usianya.

Kemarin, saya berusia 36 tahun. 36 tahun adalah chronological age saya. Tanpa mengurangi rasa hormat pada teman-teman yang berpendapat bahwa hari lahir bukanlah “apa-apa”, namun saya selalu menjadikan momen hari lahir sebagai salah satu momen untuk … diam sejenak. Mengkalibrasi “kompas kehidupan” yang saya jalani. Apakah masih menuju ke arah yang benar?

Mungkin banyak yang mengalami hal seperti saya, dan seperti beberapa teman saya; bahwa pertambahan usia kronologis setiap tahun, tak selalu diiringi oleh pertambahan penghayatan usia. Kadang, penghayatan dalam diri kita terhadap usia kita berubahnya tidak tiap tahun. Tapi 5 tahunan; atau lebih cepat dari satu tahun.

Tahun ini, ada satu penghayatan yang berbeda terhadap usia saya, dari tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya sudah mulai berbulan-bulan lalu. Penghayatan bahwa saya kini sudah harus “matang”. Sebenarnya dimulai dari situasi profesi sih. Beberapa bulan lalu, ada satu titik dimana saya menghayati, bahwa sudah saatnya saya “mengambil tanggung jawab yang lebih besar”. Kalau ada kasus “sulit”, sudah saatnya saya belajar menanganinya, tidak selalu merefer ke senior. Demikian juga, beberapa bulan lalu ada situasi-situasi yang membuat saya menyadari bahwa persoalan yang ada di masyarakat, itu banyaaaaaak sekali.  Penghayatan itu akhirnya membuat saya memutuskan bahwa saya, dengan semua yang saya miliki, tak hanya akan tinggal di zona nyaman saya. Saya akan memposisikan diri saya untuk ikut “berjuang”; saya tidak mau menjaga diri tetap suci dengan berdiam diri. Bahwa persoalan tak hanya bisa selesai dengan diskusi di wa atau facebook grup. Akhirnya saya mengerti mengapa beberapa senior2 saya yang “terjun ke lapangan”, saat diminta untuk mengisi acara seminar atau diskusi selalu berkata : “Masalah ini bukan untuk didiskusikan atau diseminarkan. Masalah ini untuk diselesaikan”.

Mmmmh…paragrag di atas tampak abstrak kkkk… intinya adalah, seiring dengan saya dengan usia kronologis yang bertambah, penghayatan peran saya pun berubah. Dan saya senang dengan hal itu. Menunjukkan bahwa saya bergerak. Bahwa saya hidup. Bahwa saya menentukan dengan bentuk seperti apa  saya akan menjalani “sajadah panjang” ini.Semoga perubahan ini menuju ke arah yang lebih baik, di mata Nya.

Penghayatan lainnya di usia ini adalah …. entah mengapa beberapa bulan terakhir ini saya senaaaaang sekali memperhatikan orang-orang yang usianya berada di atas usia saya. Berdasarkan pengetahuan dan pengamatan saya; setelah masa remaja, ada 2 titik kritis lagi yang akan kita hadapi sebagai individu. Usia 40-an, saat kita berpindah tahap perkembangan dari “young adult” ke “middle adult”, dan usia 65-an, saat kita pindah tahap perkembangan dari “middle adut” ke “older adult”. Meskipun teorinya dari Barat, menurut saya tidak salah kalau kita mengapresiasi kesungguhan pada “scholar” di bidang perkembangan manusia, yang menemukan hasil dan membangun teori yang bisa mengambarkan kondisi empirik, sehingga kita punya pengetahuan dan bisa bersiap.

Usia 40. Life begin at 40 kata John Lennon. Rasulullah, menjadi Rasul di usia 40 tahun. Tampaknya ada sesuatu “ayat kauniyah” Allah pada manusia di usia 40 ini. Saya membaca beberapa buku psikologi barat dan literatur islam tentang usia 40 tahun ini. Wow ! panjang lah kalau harus saya tuliskan. Mangga search sendiri … pasti akan merasa wow lah …tapi gak usah pake koproll ya ..hehe

Saking istimewanya, usia 40 tahun ini disebutkan dalam Al Qur’an :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tua ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri.”” (Al-Qur’an, Surat Al-Ahqaf, ayat 15)

Dan, 40 tahun itu, kalau saya panjang umur, adalah 4 tahun lagi ! saya sendiri menyaksikan ada yang “selamat” melewati usia ini, ada yang “tak selamat”. Dan “keberhasilan” melawati titik kritis ini, akan berpengaruh pada keberhasilannya mengatasi titik kritis selanjutnya; yaitu usia 65 tahun. Usia 65 ini, disebut sebagai usia “empty nest”. Sarang kosong. Bagi ibu bekerja, usia ini adalah usia pensiun. Bagi ibu rumah tangga, usia ini adalah usia saat anak terakhir biasanya meninggalkan rumah. Saya menyaksikan, di usia ini … saatnya kita “bertumpu” pada kekuatan diri pribadi kita. Tak ada lagi pekerjaan ataupun anak-anak yang “menyokong eksistensi” kita. Usia ini menurut penghayatan saya, adalah simulasi bahwa kita akan menghadapNya, sendirian. Tidak bisa bersandar pada siapapun. Dan saya menyaksikan, ada yang “selamat” melewati tahap ini, dan tak sedikit yang “tak selamat”.

Beberapa hari terakhir ini, diskusi saya dengan mas adalah tentang hal ini. Bahwa kami harus “menyiapkan diri” menghadapi usia 40 tahun. Yang menurut kami, adalah usia untuk “lepas landas”. Gak ada lagi acara “pencarian jati diri” dan “mencari eksistensi”. Baik secara spiritual, fisik, material, psikologis, akademis, kami harus sudah matang. Hiks…moga2 target akademis sayah tercapai ;). Saya yang juga bercerita pada mas tentang kegalauan sebagai hasil dari menyaksikan beberapa figur “hebat” dan “tangguh” yang ternyata “tak selamat” menghadapi titik kritis usia 65 tahun, membuat kami menyiapkan langkah apa yang membuat resiko “tidak selamat” itu menjadi lebih kecil.

Tak ada keraguan dari kebenaran ayat Allah yang menyatakan bahwa hidup ini, adalah ujian. Salah satu sumber ujian  itu, adalah pada perubahan dalam diri kita sendiri.

Mungkin kita tak sampai pada dua titik kritis itu. Mungkin kita akan dipanggilNya kembali sebelum usia 40 atau 65 tahun. Namun upaya kita menyiapkan diri, semoga membuat kita kembali padaNya dalam kondisi jiwa yang tenang.

Yaa Ayyatuhan Nafsul Mutmainnah, Irji’ii Ilaa Rabbiki Radhiyatan Mardhiyah, Fadkhulii fii Ibadii Wadkhulii Jannatii.” (Wahai nafsul mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.) #QS.Alfajri :27-30

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Rahadian Dewi
    Feb 24, 2015 @ 10:52:30

    aaahh mb fitri tulisannya kereen..salam kenal ya mb, saya mulai mengikuti blog mb setelah ikut seminar mb waktu dies natalies fak psikologi…pengen bisa nulis kayak gini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s