Orang-orang anti mainstream : Para Penjaga Nurani

Dulu waktu saya masih muda (kkk…ngaku sekarang gak muda lagi….) sebelum menikah, bayangan saya tentang keluarga …. selain hal-hal “normatif” seperti ingin mendapatkan imam yang mumpuni, anak-anak sholih-sholihah… ingin juga punya ekonomi yang mapan….rumah bagus, mobil keyyen, liburan keluarga ke luar negeri setiap tahun ….

Yang dulu dibayangkan “nanti” itu, kini menjelma menjadi “sekarang”. Yups, alhamdulillah rejeki yang Allah berikan lewat penghasilan mas plus penghasilan saya, kian hari kian melampaui standar “cukup” menurut kami. Walaupun saya selalu ingat pesan mas : “Meskipun penghasilan kita bertambah, life style kita gak boleh ikutan berubah. Yang nambah hanya boleh dua: tabungan dan shodaqoh”; namun ya….yang namanya perasaan, masih pengen aja gitu bergaya keren membeli yang tak dibutuhkan namun diinginkan….jalan2 keluarga ke tempat keren di dalam maupun luar negeri …. kartu yang saya punya adalah : “biarin uangnya dari aku” … rasanya worthed lah, selama ini full aktivitas, kompensasinya adalah “liburan istimewa”.

Eh, tapi kenyataan berkata lain. Entah kenapa, sejak awal tahun ini saya selalu bertemu dengan orang-orang yang … “anti mainstream”. Saya akan cerita siapa orang-orang itu :

(1) Seorang senior saya, senior seusia papa saya…beliau punya beberapa kompetensi psikologis yang keren banget. Istilah kami mah “dewa” lah ūüėČ Kalau beliau mau, beliau bisa “pasang tarif” tinggi untuk keahliannya. Tapi apa yang terjadi? saya masih ingat waktu masih di Salman dulu, zaman saya masih mahasiswa mengundang beliau untuk mengisi salah satu seminar. Pas waktunya ngasih amplop, saya udah merasa malu banget, minta maaf beberapa kali karena yang bisa kami beri kecil sekali. Saya masih ingat jawaban beliau saat menerima amplop dari saya: “Ini saya terima ya, terima kasih. Tapi saya berikan kembali, untuk panitia”. Saya masih ingat senyumnya. Senyum yang sama ketika beberapa tahun kemudian, kami sudah jadi kolega, beliau melakukan hal yang sama setelah kami mengundangnya memberikan materi. Setiap akhir pekan, beliau yang bergabung dalam sebuah jaringan relawan; “blusukan” ke desa-desa, free of charge untuk membantu menyelesaikan masalah kdrt dan kekerasan seksual yang dialami wanita dan anak-anak. Sampai pensiunnya, beliau tetap “ngangkot” meskipun suami beliau seorang Jendral.

(2) Masih senior saya. Seusia mama saya juga. Cantik dan menarik. Saya ingat kata-kata teman saya. “Kalau beliau rajin “manggung”, pasti tenar deh”. Yups… kompetensi yang dimilikinya, plus penampilan yang mempesona meskipun usianya sudah lebih dari paruh baya, pastilah membuat orang terpana. Tapi apa yang dilakukannya? Beliau selalu menolak undangan media yang meminta beliau bicara “basa-basi” untuk satu topik. Beberapa bulan lalu, Beliau menolak “mentah-mentah” ketika kami meminta beliau berbagi mengenai satu kompetensinya, ketika tau acara itu akan kami “jual mahal” pada para profesional. “Kalau kayak gitu, aku gak mau. Yang aku mau, yuk kita bikin sesuatu untuk masyarakat. Apa produknya atau programnya, nyata. Nanti kita share ke masyarakat. Gratis. Aku gak usah dibayar” katanya.

(3) Akhirnya, saya pun bergabung dengan dua senior saya di atas dalam sebuah penyusunan program. Dalam kelompok ini, saya bertemu lagi dengan seorang senior yang tidak terlalu saya kenal. Beliau adalah seseorang yang telah mapan secara finansial di bidang industri. Suatu saat, beliau memutuskan keluar, meninggalkan tempat “basah” yang ia tempati dan lalu terjun ke dunia sosial, membantu anak-anak jalanan, anak-anak korban traffiking dan anak-anak “terpinggirkan” lainnya. Beliau juga ada dalam satu tim yang mengelola sebuah rumah belajar bagi para anak “gelandangan”.Ia dedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk itu.

(4) Beberapa waktu lalu, tempat saya beraktivitas menerima 12 “tamu istimewa”. Kami menyebut mereka “laskar pelangi”. 12 siswa SMA dari sebuah kabupaten miskin di luar pulau Jawa. Selama 10 hari, mereka kami bekali kemampuan psikologis untuk menjalani kuliah. Darimana mereka bisa kuliah? Bahkan 2 orang diantara mereka akan langsung dikirim ke Jerman? Bupatinya, seorang S2 lulusan Amerika, adalah putera daerah yang menempuh seluruh pendidikannya dengan beasiswa. Ia memperjuangkan 40% APBD mereka untuk pendidikan. Daerah mereka tak pernah “dilirik” oleh pemerintah pusat. Maka, Bapak ini lah yang berusaha menjalin kerjasama dengan berbagai pihak di luar negeri untuk memajukan pendidikan di kabupatennya. Saya mendapat cerita dari teman yang pergi kesana, dan kami berdua (saya dan teman saya yang cerita), tak bisa menahan linangan air mata. Mendengar bapak itu “blusukan” ke SD dan menemukan seorang anak yang seragamnya masih setengah kering karena ternyata ia hanya punya satu baju; ia “langsung” memesan mesin jahit dan sejumlah kain dari glodok, lalu mengajarkan keterampilan menjahit pada keluarga si anak. Kedua belas anak ini dibekali pesan oleh beliau: “satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan adalah dengan pendidikan. kita boleh miskin, tapi kita tidak boleh bermental minta-minta” ….

(5) Seorang saudara mas, rumahnya sangat sederhana untuk ukuran penghasilannya. Tapi di kalangan keluarganya, siapapun yang membutuhkan dia tolong, “tanpa tedeng aling-aling”. Berapa banyak saudara yang telah ia bebaskan utangnya.

((6) Masjid di depan komplek kami sedang dibangun. Saat panitianya ke rumah kami dan ngobrol-ngobrol, mereka bilang salah seorang tetangga komplek kami, menyumbang 100 juta !!! padahal di lingkungan kami gak ada sih, yang kaya bangeeeet. ……….

Kalau saya coba abstraksikan dari 6 orang yang saya temui beberapa bulan ini, mereka punya 1 kesamaan. eh dua deng ….. (1) mereka tak memikirkan diri sendiri (2) mereka “mewakafkan” apa yang mereka punya: harta, kemampuan untuk orang lain

Yups…..yups…. kita sudah mendengar beragam kisah sahabat yang memiliki dua sifat di atas: Abu Bakar yang “membeli” untuk membebaskan¬† Bilal, bahkan pernah menginfakkan seluruh hartanya. Usman membeli sumur dari orang Yahudi dengan harga sangat mahal agar kaum muslimin bisa minum gratis…. Rasulullah… menurut Ust Syafii Antonio, beliau miskin bukan karena penghasilannya kecil. Tapi karena alur hartanya bergerak sangat cepat. Cepat dikeluarkan untuk kepentingan ummat.

Yups, kita sudah hafal kisah-kisah itu. Tapi bertemu dengan orang-orang yang kita kenal, orang-orang “biasa”, membuat konsep dan nilai¬† itu hadir secara nyata dan ada, dan itu jauh membuat kita lebih….tertampar. Malu, dan semoga akhirnya menggerakkan. timthumb.php

No no no …. tentu tak salah kalau saya menikmati hasil jerih payah saya… toh saya tak merugikan orang lain. Tapi saya berpikir begini… di jaman sekarang ini, dimana segala keburukan : ghibah, fitnah, riya, bisa kita lakukan dengan sekali atau dua kali “klik”; maka kita butuh lingkungan kebaikan yang “extraordinary”. Dan salah satu pintu menuju itu adalah, bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang anti mainstream itu. Yang bisa memberi kita perspektif lain tentang lifestyle yang akan kita pilih.

Mereka, saya sebut “para penjaga nurani”. Mereka tak kaya harta, tapi mereka kaya hati. Di jaman ini ketika narsisisme begitu menggejala, mereka mengingatkan saya pada hadits “Khairunnas anfa‚Äôuhum linnas”,¬†“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”¬†(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga di mana pun aktifitas kita, kita bisa bertemu dengan mereka-mereka, merasa “kabita” dengan lifestyle mereka, dan semoga kiat mendapat hidayah untuk mengikutinya. Aamiin….

Mereka-mereka yang tak hanya hidup untuk diri sendiri. Salam takzim untuk para penjaga nurani. Sumber gambar : http://latinbusinesstoday.com/2014/01/5-steps-less-selfish-want/

Advertisements

Ridho Suami Dalam Pandangan Psikologi

Dalam Islam, salah satu syarat mutlak bagi istri bekerja adalah, RIDHO SUAMI. Bagi sebagian wanita, hal ini dipandang sebagai aturan yang “merendahkan” wanita. Mengapa kalau mau bekerja, istri harus atas seizin suami namun mengapa tak ada aturan sebaliknya? Saya bisa memahami argumen ini. Berdasarkan asumsi bahwa wanita dan laki-laki itu adalah SAMA dan harus DIPERLAKUKAN SAMA, maka pendapat “merendahkan wanita” ini menjadi logis. Apakah itu berarti bahwa saya juga setuju terhadap pendapat ini? tidak, saya tidak setuju. Saya tidak setuju karena value saya saya berbeda. Dengan demikian, asumsi nya pun menjadi berbeda. Sebagai seorang muslimah, value saya adalah ajaran agama saya.

Meskipun semakin hari semakin kuat keputusan saya untuk “menjalani sajadah panjang” kehidupan ini dengan beraktifitas profesional di luar rumah, namun justru ada kekhawatiran bahwa keputusan ini didasarkan atas “buta mata” tanpa mempertimbangkan berbagai hal yang harus dipertimbangkan. Meskipun ustadz yang saya jadikan rujukan tidak mempermasalahkan seorang wanita untuk bekerja saat pekerjaannya syar’i dan mendapat ridho suami, namun untuk meyakinkan hati, saya pun meminta “second opinion” dari ustadz lain.¬† Beliau adalah pembimbing saya waktu ke tanah suci. Expertisenya di bidang fiqih, beliau adalah ketua dewan fiqih sebuah pesantren terkenal di Bandung. Saya senang berkonsultasi dengan beliau karena selalu cepat balasannya. Karena memang keterampilan interpersonal beliau baik sekali, maka sesibuk apapun beliau, kalau kita berkonsultasi beliau prioritaskan untuk menjawabnya. Saya kontak beliau via bbm. Berikut percakapan kami :

S : “ustadz, apakah ada ayat al Qur’an atau hadits yang eksplisit mengatakan bahwa wanita itu sebaiknya tinggal di rumah?”// U : “sebaiknya demikian jika ada fitnah” // S : “apa saja yang termasuk fitnah ustadz?”//U : “godaan pria-wanita, kemaksiatan” // S : “berarti kalau pekerjaannya jauh dari maksiat, terhindar dari godaan pria wanita dan diridhoi suami, tidak berdosa jika wanita bekerja/beraktivitas di luar rumah ya ustadz?” //U : “Ya, engga apa-apa”

Noted. Rambu-rambunya Clear.

Saya juga berkali-kali bertanya pada mas, apakah ia ridho kalau saya memilih untuk berkarya di luar rumah. Beberapa kali pertanyaan saya tetap dijawab sama. Mas ridho dengan catatan, keluarga terutama anak-anak menjadi prioritas.

Jujur saja, saya setuju kalau menjadi ibu bekerja itu, BEURAT. Kenapa? karena pengamatan maupun hasil penelitian bahkan di negara-negara Barat yang memandang pria-wanita itu SETARA, seorang ibu bekerja tidak akan terlepas dari tanggung jawab domestiknya. Potensi sumber stressornya menjadi dobel. Satu urusan domestik. Menjamin kelangsungan hidup fisik dan psikologis anggota keluarganya terpenuhi, PLUS menjalankan tugas pekerjaannya. Pekerjaannya itu sendiri sih, mungkin gak terlalu jadi stressor ya…saya melihat banyak wanita bekerja yang memang mencintai pekerjaannya. Saya pernah membaca jurnal bahwa stressor pekerjaan, itu adalah stressor yang konstruktif. Yups, memang hectic kalau udah dikepung deadline. Namun ketika sudah melewatinya, perasaan “I did it!” itu, meningkatkan self esteem wanita bekrja. Yang jadi sumber stressor yang destruktif biasanya relasi. Bos yang nyebelin, teman kerja yang kurang ajar, klien yang neko-neko, gitu-gitu deh….

Dan….seorang wanita bekerja pasti merasakan saat-saat “menyebalkan” dan “tertekan” oleh pekerjaannya. Saat pekerjaannya begitu menyita emosi dan pikiran, lalu porsi perhatian pada domestik pun tersedot. “Prioritaskan keluarga” …. menjadi jargon yang pada kenyataannya, tak selalu mudah untuk dilaksanakan. Kenapa? karena pilihannya bukanlah memilih antara baik-buruk. Namun, pilihannya adalah baik-baik. Nah, disitulah mengapa Islam baru memperbolehkan istri bekerja setelah mendapat ridho dari suami.

Semester ini, saya benar-benar “tak bisa bernafas”. Apalagi dua bulan ini. Ada pekerjaan pribadi yang sudah bertahun-tahun saya kerjakan tiap bulan Februari. Sedangkan rutinitas mengajar 4 mata kuliah, 2 jabatan managerial dengan lokasi satu di bandung satu di jatinangor, bimbingan-bimbingan skripsi dan tesis….tugas-tugas kepanitiaan …kalau dulu saya termasuk yang menolak saat akan diterapkan kebijakan “office hour” untuk kami, yang artinya kami harus ngantor dari jam 9-16, kalau sekarang…saya sangat setuju !!! lha wong setiap hari faktanya gitu kok. Itu belum diitung dengan “curi-curi waktu” bimbingan pake imel. Dalam situasi itu, tak kuasa juga menolak beberapa kelompok mahasiswa yang dengan ide-ide brilian mereka minta dibimbing untuk bikin paper yang akan dipresentasikan di konferensi di luar negeri.

Ssssst….sebenarnya, beban ini standard sih, bahkan teman-teman saya, banyak yang bebannya lebih berat. Cuman buat saya pribadi, menjadi ibu 4 anak tanpa pembantu nginep itu…bikin bebannya dua kali lipat. Apalagi si sulung dan si bungsu, sedang berada dalam tahap perkembangan yang “sulit”. Satunya remaja, satunya “terrible two”. Dengan karakteristik egosentris yang amaaaaat menonjol.

Saya sudah komitmen bahwa dengan beban yang padat, saya gak mau bawa kerjaan ke rumah, dan sabtu minggu saya gak mau diganggu kerjaan. Cuman itu tadi… minggu lalu, saya terpaksa harus melanggar komitmen. Dua hari berturut-turut saya pulang lewat maghrib, karena saya sudah konfirmasi mas bisa ada di rumah sebelum maghrib. Minggu lalu kami memberikan training 10 hari pada 12 siswa terbaik dari sebuah kabupaten tertinggal yang akan mendapatkan beasiswa. Tadinya sudah berniat potong materi biar sebelum maghrib udah di rumah. Tapi memandang wajah-wajah laskar pelangi yang begitu antusias dan penuh semangat itu…tak tega saya memotong materi.

Lalu sabtu minggunya, saya pun harus beraktifitas. Ada tiga acara yang harus saya ikuti. Kesemuanya adalah pekerjaan “untuk masyarakat”. Malam itu, kamis malam, dengan takut-takut saya bilang ke mas, minta izin sabtu minggu untuk beraktifitas. Takuuut banget. Karena itu berarti, mas harus asuh anak-anak terutama Hana dan Azzam. Takut banget Karena mas jarang sekali marah. Selama hampir 13 tahun bersama, belum sampai 5 kali ia marah. Kalaupun marah, itu karena ada hal yang sangat prinsip yang saya langgar. Dan harus beraktifitas sabtu minggu, rasanya termasuk pelanggaran prinsip itu. Ah, andai saja kegiatan itu bisa saya cancel atau delegasikan, tapi kegiatan ini adalah kegiatan advokasi yang penting sekali. Yang tak bisa saya delegasikan atau cancel. Akhirnya dengan ragu saya pun mengatakannya. Tanpa diduga, mas berkata : “gapapa, kan gak tiap minggu padet gini. Anak-anak biar sama aku” Ploooong….kadar stress yang tadinya udah di angka 9 menuju 10, langsung turun menuju titik nol.

Pause dulu.

Perlu saya luruskan, bahwa ilustrasi diatas bukan berarti bahwa suami saya adalah suami terbaik di dunia. Bukan berarti kalau ia tidak mengizinkan saya beraktivitas di akhir pekan artinya dia tidak baik. Itu adalah haknya. Bukan berarti bahwa suami yang lebih senang istrinya memilih sajadah panjang di rumah dan tidak mengizinkan beraktifitas di luar itu bukan suami yang baik. Cerita ini dalam konteks ridho suami terhadap istri bekerja.

Meskipun tak salah, bayangkan kalau pada saat itu mas marah dan berkata “kan sudah komit sabtu minggu tidak beraktivitas”. Bayangkan betapa besarnya konflik dan stress yang akan saya rasakan…. Nah, that’s the point. Menurut penghayatan saya, “rahasia” di balik kewajiban mendapatkan ridho suami bagi istri yang bekerja adalah karena operasionalisasi dari ridho suami secara psikologis adalah, adanya support dari suami. Terutama emotional support. Sudah bukan rahasia umumlah, kalau wanita itu didukung secara emosional maka ia akan mampu “menaklukkan dunia” secara hiperbolanya mah.

Sekali lagi menurut pendapat saya, seorang ibu bekerja tak mungkin sukes, bahkan tak mungkin survive tanpa ridho suaminya. Pengejawantahan Ridho dalam bahasa agama, bahasa psikologisnya adalah support. Emotional support,¬† informational support, technical support. Semua teman-teman saya yang berprestasi di tempat kerjanya, adalah mereka-meraka yang mendapat restu dan ridho serta dukungan dari suami-suami mereka. Timbal baliknya, Saya melihat meskipun teman-teman saya adalah istri-istri yang mandiri, beberapa memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dari suaminya, bahkan secara finansial banyak yang jauh melebihi suaminya, namun meraka sangat menghargai dan menghormati suami-suaminya. Saya pun tak melihat wajah “terhina” dari para suami yang mengantar dan menunggui teman-teman saya beraktivitas sambil mengasuh anak-anaknya…malah romantis kliatannya hehe….

Yups, ternyata ajaran agama itu terbukti kebenarannya.

Saya banyak menyaksikan apa dampaknya bila seorang ibu bekerja tanpa ridho suaminya. Sangat stressfull dan mengganggu keharmonisan keluarga. Sikap suami yang tak ridho istrinya bekerja, menurut pengamatan saya bisa dalam dua bentuk:

(1) Pasif. Suami¬† tidak memberikan support. Liat istrinya dar-der-dor kena deadline, ia tak mau tau. Mungkin ia marah saat istrinya terlambat menyiapkan sarapan. Pokoknya seolah-olah berkata “itu urusanmu sendiri”.

(2) Aktif. Suami tidak hanya tidak memberikan support, namun juga secar aktif melakukan beragam cara untuk membuat istri MERASA BERSALAH atau BERTANGGUNG JAWAB atau masalah yang ada. Misalnya, suami sengaja bersikap permisif pada anak. Aturan istrinya tidak dipedulikan. Ketika istri protes, ia berkata “makanya, kamu jangan kerja. Kalau kamu gak kerja, aku mau ikutin aturan kamu”. Atau, saat ada masalah dengan anak, si suami berkata pada pihak ketiga : “masalah anak kan tanggungjawab ibu ya…”. Atau lebih vulgar lagi “ibunya kerja sih, coba kalau ibunya di rumah”.

Marriage is a PartnershipSekali lagi, itulah kesempurnaan ajaran agama kita. Buat ibu bekerja, tampaknya kita harus selalu evaluasi kembali “koordinat” keridhoan suami pada kita, ada di titik mana.

Tak salah sebenarnya jika seorang suami ingin seluruh potensi istrinya tercurah di dalam rumah, hanya untuknya dan anak-anaknya. Di sisi lain, tak salah juga keinginan wanita untuk berkiprah di masyarakat dengan rambu-rambu syar’i yang ia patuhi. Jika keinginan suami tak sesuai dengan kebutuhan istri, atau kebutuhan suami tak sesuai dengan keinginan istri, nah disitu potensial mengganggu keharmonisan rumah tangga. Maka, buat yang belum menikah, issue bekerja atau tidak bekerja setelah menika merupakan issue penting dan prinsip yang menurut saya harus dibicarakan saat taaruf.

 

 

 

Mother vs Daughter

Hari ini, ada kejadian yang mengingatkan saya pada dua orang. Saya akan ceritakan dulu siapa dua orang ini.

Yang pertama adalah seorang ibu, berusia 57 tahun. Beliau bercerita tentang sakit hati yang mendalam atas perilaku anak-anaknya yang “sangat keterlaluan” padanya. Saya ingat beliau, karena itu pengalaman pertama saya bertemu seorang ibu yang “sakit hati” dan “marah” pada anak-anaknya. Saya sudah terbiasa bertemu dengan anak, entah itu usia anak, remaja atau dewasa; yang marah, sakit hati, benci pada orangtuanya, pada ibunya. Kenapa ibu itu saya ingat? karena saat itulah saya menghayati….bener banget ajaran agama yang memberikan tempat mulia bagi seorang ibu. Sampai syurga pun ada di telapak kakinya. Karena bagi seorang ibu, sebenci-bencinya ia pada anaknya, sesakit hati apapun, semarah-marahnya, namun balutan rasa sayang itu, tak pernah lepas. Saya sering mendengar seorang anak yang ingin pergi meninggalkan orangtuanya, meninggalkan ibunya… baik secara fisik maupun psikologis. Dan itu bisa. Banyak yang telah melakukannya. Dan secara “teknis”, itu membuat persoalan yang dihayati anak menjadi lebih mudah. Saya benci ibu saya, saya ingin lari dan pergi dari keluarga saya. Tapi¬† kemarahan dan ke-sakit hati-an seorang ibu terhadap anaknya, merupakan masalah yang amat rumit. Kenapa? karena meskipun bisa dan sangat bisa, seorang ibu tak akan mau meninggalkan anaknya. Meskipun anak-anaknya sudah besar, sudah dewasa…namun baik secara fisik terutama secara psikologis, seorang ibu tak akan pernah bisa “meninggalkan” anaknya. Ini yang membuat masalah menjadi rumit. Karena kemarahan dan rasa sakita hati yang dirasakan ibu tak¬† meluruhkan rasa sayang dan ingin melindungi anaknya.

Yang kedua adalah ibu dari seorang remaja. Anaknya kelas 2 SMA. Suatu saat, saya yang sedang “berguru” menjadi ibu dari seorang remaja mengobrol dengannya. Dia menceritakan bahwa anaknya punya hobi yang sesungguhnya sangat tidak ia sukai. “Tapi saya engga melarangnya. Karena saya tahu, segitu sukanya dia sama hobinya itu, dia tidak akan menuruti kata-kata saya kalaupun saya melarangnya. Nah, kalau kejadian kayak gitu kan dia jadi berdosa melawan ibunya”. Jujur saja, saat itu saya gak ngerti. Logika yang aneh menurut saya.

Tapi kejadian dini hari ini, membuat saya menjadi mengerti.

indexDini hari tadi, setelah Azka selesai sholat dan sahur, saya meminta dia membantu pekerjaan saya. Ringan sekali. Hanya mengecek dan merapikan berkas. Tapi saya sangat membutuhkan bantuannya. “Sekalian biar gak ketiduran sampai Subuh” kata saya. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, saya panggil … dia tak keluar dari kamarnya. Akhirnya setelah saya datangi ke kamarnya, dia mau, dengan wajah dan sikap ogah-ogahan yang secara demontratif dia tunjukkan. Sikapnya itu membuat saya murka. Gabungan dari kesal, marah, sedih, kecewa,¬† butuh bantuan, merasa dia tidak peduli pada kondisi saya, membuat saya murka. Seperti yang saya katakan padanya, “Ibu gak akan minta bantuan kalau ibu bisa kerjain ini sendiri”.

Campur aduk perasaan negatif tersebut membuat saya menangis, dan tentunya Azka juga. Saya tahu dia sangat kesal, benci, marah sama saya. Saya juga merasakan hal yang sama. Dalam pikiran saya,¬† saya ingin mengatakan betapa “keterlaluannya” dia. Dimintain bantuan gitu aja gak mau. Lalu satu bagian diri saya ingin mengatakan semua pengorbanan yang telah saya lakukan buat dia. Sejak duluuuuuu sampai dengan hari kemarin. Tapi saya tahu, saya tidak boleh mengatakannya. Itu akan menimbulkan yang namanya¬† “psychological destructive” . Kalau saya mengatakan pengorbanan saya untuk dia, pengorbanan ibu pada anaknya, Saya akan menghancurkannya secara psikologis. Dan dampaknya akan dalam.

Saat saya masih menangis karena marah, sedih, kesal, kecewa dan campur aduk perasaan negatif itu, tiba-tiba muncullah rasa takut. Takut kalau kekesalan dan¬† kemarahan saya padanya membuat ia mendapatkan hal buruk, tak diberkahi Allah…dicatat sebagai dosa pada ibu, apalagi dia sudah baligh.

Saya masih mendengar tangisannya di kamar. Sebagai manusia, individu, saya juga masih marah. Tapi sebagai seorang ibu, jauh di lubuk hati saya, saya mendoakannya. Saya memaafkannya.

Sebagai manusia, sebagai individu, sampai saat ini saya masih marah, masih kesal. Mungkin sampai sore dia pulang pun kemarahan saya masih tersisa. Tapi sebagai ibu, saya titipkan makanan dan minuman kesukaannya ke sopir yang akan menjemputnya nanti sore dari sekolah, dan langsung mengantarnya ke tempat les. Pulang les dia jam setengah tujuh, berarti dia akan buka puasa di jalan.

Kalau teringat kejadian tadi, saya masih menangis. Saya paham sekarang. Saya paham perasan dua ibu yang saya ceritakan. Saya pun mengerti makna Rahim. Saya mengerti seberapa besar cinta ibu. Saya mengerti seberapa besar cintaNYa.

Hari ini saya mendapat pelajaran istimewa.

Tiga jebakan ilmu

Kurang lebih sebulan lalu, mas membeli 16 jilid buku Ihya Ulumuddin Karya Imam Al Ghazali. Setiap kali mas beli buku belasan jilid, saya teh suka seneng-seneng khawatir. Senengnya, tentu saja karena koleksi buku di rumah kami bertambah. Khawatirnya ….. pesimis mbacanya itu looh….sedangkan sehari-hari udah hah-heh-hoh ter-occupied sama aktifitas harian di dalam dan luar rumah. Tafsir Ibnu Katsir 15 jilid yang dibeliin 2 bulan lalu aja belum khatam ;(.

Untuk meminimalisir rasa khawatir saya, saya buka-bukalah daftar isinya. Dari mulai jilid 1 tentang ilmu, sampai jilid 16 mengenai kematian. Minimal saya tahu punya buku tentang apa saja di rumah ini hehe…. Saya pun sempat baca jilid 1 nya, tentang ilmu.

Intinya adalah, ilmu itu adalah sesuatu yang amat penting dan mulia. Dengan demikian, otomatis pencari dan penyebar ilmu pun mendapat tempat yang mulia. Di buku tersebut saya menemukan kembali beragam “ilmu” yang diajarkan oleh orang-orang di lingkungan saya sejak saya ingat di masa kecil dulu, sampai dengan kini.

Tulisan ini bukan mengenai isi buku Imam Al-Ghazali tersebut. Tulisan ini adalah renungan saya terhadap “3 jebakan” terkait dengan ilmu, yang sering saya rasakan dan saya amati.

Jebakan pertama

Jebakan pertama terjadi pada saat kita punya¬† ilmu sedikit atau ilmu terbatas tentang sutau hal. Di masa dimana orang difasilitasi dan “didorong” untuk “berbicara sebebas-bebasnya” saat ini, seringkali banyak opini, pendapat bahkan persuasi yang kita lakukan,¬† melampaui apa yang sesungguhnya kita pahami. Kita berkomentar ini-itu tentang politik lah, olahraga lah, kesehatan lah, apa lah, rame sih….. tapi…apa gunanya? Seringkali pendapat yang kita ungkapkan pun “tidak jelas posisinya”. Apakah pengalaman pribadi, opini pribadi, baca dari buku apa, mengutip pernyataan siapa…. sehingga semua campur aduk …. dan mungkin kita tak peduli dampaknya buat orang lain. Sebenarnya sih, kalau saya mau jahat, untuk saya pribadi ini menguntungkan. Banyak yang bertemu dengan saya di ruang konsultasi, menyampaikan kebingungannya mengenai pola asuh lah, peran ayah lah, arah stimulasi anak lah… Tapi over all, saya merasa … untuk diri kita pribadi, mari kita mulai menakar ilmu yang kita miliki. Hanya bicara sesuai dengan yang kita pahami. Orang yang paham, akan beda dampak ucapan/tulisannya dengan orang yang tidak paham.

Jebakan kedua

Jebakan kedua bisa terjadi pada orang yang punya satu ilmu mendalam. Semakin seseorang mempelajari satu ilmu, maka ia akan semakin merasa tak tahu dan semakin merasa bodoh. Saya paham ungkapan itu sekarang. Saya juga paham mengapa teman-teman atau senior-senior saya, yang ilmunya mengenai sesuatu keren banget, mengatakan “saya baru tau sedikit” saat saya minta mereka sharing ke masyarakat umum. Saya pikir, awalnya mereka gak mau berbagi. Tapi kini saya mengerti. Beberapa waktu belakangan ini saya mempelajari satu topik psikologi secara mendalam. Dan… ya….saya merasa bloon dan tak tau apa-apa tentang semua hal yang selama ini saya anggap saya tahu. Ibaratnya kemaren-kemaren saya berenang di kolam renang, rasanya saya penguasa air. Lalu kini saya menyelami samudra …. ya ampun….ilmu saya seuprit banget !!!! Lalu, jebakannya dimana? jebakannya adalah, bahwa perasaan “ternyata saya cuman tau sedikit” itu, membuat kita untuk merasa “gak pantes” berbagi. Menyeimbangkan perasaan itu, tak mudah. Tapi menurut saya, kalau kita punya satu ilmu, bagikanlah. Mungkin ilmu yang kita punya itu, bermanfaat besar buat orang lain.

Jebakan ketiga

Jebakan ketiga kita rasakan saat kita semangat belajar “ilmu akhirat” atau “ilmu dunia”. Sebenarnya pembagian ini tidak tepat. Tapi untuk menjelaskan maksud saya, sementara kita pakai dulu, dengan “tanda kutip” ya…. Saya pernah mengalami kegalauan untuk “memposisikan” “ilmu akhirat” yaitu ilmu dari al-qur’an dengan “ilmu dunia” yang saya pelajari yaitu psikologi. 40 hari di tanah suci tahun lalu, adalah kontemplasi saya mengenai hal ini. Dan saya sudah punya jawabannya. Bahwa “ilmu akhirat” adalah batasannya. Melalui “ilmu akhirat”, saya tahu value apa yang harus saya ikuti. Operasionalisasinya? berapa kali Allah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa kita harus berpikir.¬† Untuk menyingkap rahasia alam…… . Kita perlu “ilmu alat” untuk menyingkap kebesaran Allah ! Makanya,¬† jujur saya sediiiiiiih banget kalau ada yang bilang, semua penyakit bisa sembuh oleh ****. Halooooo…apa kabar dunia kedokteran? Atau ada yang mengatakan … “ah, mendidik anak mah pake bismillah aja. Yang penting mah sabar”. Yups….tapi sabar yang bagaimana yang harus kita tunjukkan saat anak kita mengalami autism? sabar seperti apa saat menghadapi anak adhd? sabar seperti apa saat menghadapi anak yang agresif? sabar seperti apa menghadapi si remaja ? sabar seperti apa saat anak kita terpapar pornografi? Hei….semua itu ada ilmunya loooh…. Hanya bersandar pada nilai tanpa tahu ilmu operasionalisasinya tidak otomatis membuat kita menjadi lebih sholeh.

Itu satu sisi. Sisi lain, ada yang terlalu mengagungkan “ilmu dunia”. “Ah, menghafal Al-Quran itu kan cuman bentuk stimulasi memori…kan bisa distimulasi dengan cara lain”. “Baligh? itu gak ada dalam literatur psikologi perkembangan”. Hanya bersandar pada ilmu tanpa mempedulikan nilai, tak otomatis membuat kita menjadi lebih cerdas.

Nah, kalau kita berada di salah satu dari kelompok itu, maka menurut saya, kita terjebak. Terjebak oleh apa? terjebak oleh sikap “tak menghargai ilmu”. Ulama yang menafsirkan Qur’an itu, ilmunya tak terkira. Para ilmuwan yang menghabiskan puluhan tahun untuk riset, baik itu dunia kedokteran, psikologi, fisika, keuangan, dll beragam “ilmu dunia”, itu ilmunya tak terkira. Ayo, kita mulai hargai ilmu.

Dan…penangkal dari ketiga jebakan ilmu itu menurut saya adalah…. sikap rendah hati. Rendah hati. Rendah hati.

Mari beTHB-6-cobalajar rendah hati.

Rendah hati menahan diri saat kita tak menguasai sesuatu//Rendah hati membagi ilmu meskipun kita merasa bodoh¬† saat kita mendalami satu ilmu//Rendah hati menghargai beragam ilmu// Rendah hati menghargai orang berilmu//Rendah hati mempelajari ilmu dengan seimbang, baik “ilmu dunia” maupun “ilmu akhirat”.

((x*x)-x )/2

2015-03-01_09.44.11Hari minggu kemarin, saya berusaha mencari dua mainan truk Umar di gudang. Mainan truk yang saya beli waktu Umar berusia 3 tahunan dan tergila-gila pada semua jenis truk. Salah dua mainan yang saya ingat karena saya beli di Kidz Station dengan harga yang cukup mahal. Haha…biasa..ibu-ibu…sangat ingat dengan hal-hal yang berbau ekonomis ūüėČ

Saya cari tadinya mau dikasihin ke Azzam. Ternyata gak ketemu,malah nemu dua pistol-pistolan air. Karena anak-anak belum pada mandi, yowis saya kasih dua pistol itu sama Azzam dan Umar. Mereka asyik banget main di balkon, sedang saya ketak-ketik kerjaan.

Setengah jam berlalu, saya lihat ke balkon ternyata sudah ganti pemain. Yang main sekarang Hana dan Azzam, tak kalah serunya. Sedangkan Umar nonton TV dengan baju setengah basah kuyup. Ketak-ketik lagi…saya tengok balkon setengah jam kemudian, eh…ternyata pemainnya udah ganti lagi. Kini Hana dan Umar lagi asyik bermain. Azzam ternyata sedang “berendam” di kamar mandi. Sepertinya dia berhasil dibujuk si abah untuk mandi. Saya lanjutkan ketak-ketik dan waktu saya lihat di balkon, pemainnya sudah berubah lagi…Azka kini yang lagi main sama Umar. Tak kalah heboh….Ternyata pistol air adalah permainan yang seru dimainkan anak usia 3 sampai 12 tahun ya….

Pasangan main yang berganti-ganti, mengingatkan saya pada “rumus” interaksi interpersonal yang harusnya terjalin dalam satu keluarga. rumusnya, seperti yang tertulis di judul. ((x*x)-x)/2. x adalah jumlah anggota keluarga.¬† Jadi kalau sepasang suami istri belum punya anak, relasi yang harusnya terjadi adalah ((2×2)-2)/2= 1. Ya satu, suami-istri. Nah, kalau keluarga saya yang jumlahnya 6 berarti relasi interpersonal yang harus terjadi adalah ((6×6)-6)/2=15 ! ibu-abah, ibu-azka, ibu-umar, ibu-hana, ibu-azzam, abah-azka, abah-umar, abah-hana, abah-azzam, azka-umar, azka-hana, azka-azzam, umar-hana, umar-azzam, hana-azzam. Haha…iseng banget ya…membuktikan bener gak 15 gitu kkk…..Nah, kalau yang anaknya 12 gimana? ((14×14)-14)/2 = ….? mangga itung sendiri.

Buat apa sih rumus ini? apa gunanya? …..

Satu hal yang bisa disimpulkan dari rumus tersebut adalah, semakin banyak anggota keluarga…berarti semakin banyak relasi interpersonal yang harusnya terbentuk. Yups ! that’s right ! Kenapa? dalam buku “Psikologi Keluarga” yang disusun oleh Prof. Kusdwiratri Setiono senior kami di Fakultas, jika relasi interpersonal salah satu, salah dua atau beberapa anggota keluarga mengalami “konslet”, maka akan mengganggu keharmonisan keluarga. Terutama akan terasa kalau udah pada besar nanti sih…. Dan pengalaman saya membantu permasalahan keluarga, teori tersebut terbukti betul.

Keluarga, dalam seluruh literatur dikatakan sebagai satu lingkungan, konteks, ikatan, yang paling awal dan mendasar dari seseorang. Hubungan darah, adalah satu hubungan yang tak bisa kita putuskan. Teman-teman yang terjun di dunia klinis dewasa, tau betul bagaimana konteks keluarga sangat penting dalam memahami persoalan psikopatologis kliennya. Hubungan anggota keluarga, bisa menjadi “protective factor” atau “risk factor” bagi kesehatan mental seseorang.

Dalam konteks umum, kebahagian keluarga akan sulit terbentuk jika ada satu hubungan interpersonal yang buruk. Dalam konteks agama, kalau kita ingin masuk syurga bersama keluarga kita, pengejawantahan operasionalnya, salah satunya menurut saya adalah ilmu tentang relasi interpersonal ini.

Jadi, sebagai orangtua kita perlu untuk mencermati relasi interpersonal setiap anggota keluarga kita. Jangan sampai bibit ketidakharmonisan terjadi, yang akan jadi bibit perpecahan dalam keluarga besar anak-anak kita nantinya. Caranya? beri kesempatan interaksi. Pada si remaja yang senang mengurung diri di kamar, berikan aturan tegas bahwa ada waktunya dia harus keluar kamar dan berinteraksi dengan adik-adiknya. Beri kesempatan si adik dan si kakak berinteraksi. Buat para ibu, berikan kesempatan pada si ayah untuk punya hubungan interpersonal dengan masing-masing anak. Kita sendiri pun, jangan terjebak untuk berlindung di balik kalimat: “dulu waktu kaka kecil, kan ibu sering main sama kaka, sekarang giliran adek dong”. Baik si kaka maupun si adik masih membutuhkan ibunya. Berapapaun usia anak kita, mereka butuh ibunya. Mereka butuh ayahnya. Hanya bentuk relasinya aja yang beda.

Waktunya gimana? saya sangat percaya kualitas dalam relasi. Mungkin hanya sepuluh, atau lima menit kita berduaan sama si remaja…di dapur sambil gorang-goreng…cuman dengerin kekesalannya pada temannya….mungkin cuman lima¬† menit kita sempat nyanyi-nyanyi sama si bungsu. Mungkin cuman sempet 15 menit nemenin anak kita belajar. Tapi itu cukup kok…

Semoga hubungan psikologis yang baik, akan membuat ikatan hati antar anggota keluarga kita semakin erat, semakin menghayati untuk saling mendoakan, dan kita bisa saling melindungi di dunia dan saling menyelamatkan di akhirat. aamiin…..