Menasehati ; Cara mengajak ke kebaikan ?

Wiken kemarin, saya mengikuti Pelatihan Asesmen Terapeutik Anak Korban Kekerasan Seksual di Jakarta. Dua hari full Sabtu Minggu. Pembicaranya, ketua APSIFOR (Asosiasi Psikologi Forensik); seorang Psikolog Forensik yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia Praktisi. Selain cantik-menarik, beliau juga sangat menguasai banyak terapi dan dasar teoretisnya. Psikolog Forensik adalah Psikolog yang membantu proses hukum dengan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan kemampuannya sebagai psikolog profesional.

Memang beberapa waktu terakhir ini, muncul kesadaran dalam diri saya. Bahwa kalau kita mau bantu klien dengan maksimal, maka kita udah gak bisa lagi “sendirian”. Mau gak mau, kita harus kerjasama dengan banyak profesi lainnya. Dokter, terapis, termasuk kepolisian maupun kejaksaan. Sudah banyak kasus yang meminta bantuan kami dalam proses hukum; baik kasus-kasus perdata seperti perceraian dan perebutan hak asuh anak, maupu kasus pidana seperti kekerasan seksual. Selama ini saya berusaha “menghindar” karena gak tau ilmunya. Tapi mau sampai kapan menghindar? Balik lagi ke pertanyaan: semaksimal apa usaha kita membantu klien?

Selain mendapatkan “energi” dari pembicara dan juga teman-teman psikolog yang ikutan acara ini, saya seneng banget dapet ilmu baru. 2 dari 5 teknik asesmen terapeutik yang diperkenalkan, sama sekali baru buat saya. Dan keren banget. Gak sabar pengen cepet praktekin ke klien hehe… kalau ke anak-anak saya sendiri sih udah haha… Salah satu sesi “favorit” saya dalam pelatihan-pelatihan semacam ini adalah sesi role play. Biasanya kami berpasangan dan saling bergantian menerapkan satu demi satu teknik yang diajarkan. Dan saya paling menikmati kalau jadi klien. Kapan lagi diasses plus diterapi gratis haha…. Setiap kali pelatihan, selalu muncul insight dalam mengenal diri saya. Termasuk yang kemarin itu, salah satu teknik yang diajarkan membuat saya menjadi CLEAR mengenai perasaan saya pada orang-orang terdekat saya.

Dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan salah satu penghayatan lain yang saya dapat, yang tak ada hubungan langsung dengan konteks pelatihan dan profesi saya.

bahaya nasehatDalam agama, maksudnya agama Islam yang saya anut, banyak sekali ajaran untuk “menasehati”. Yang paling jelas dalam surat al-Ashr; yang dihafal bahkan oleh anak-anak TK.

(1) Demi massa (2) Sesungguhnya manusia itu benar – banar berada dalam kerugian (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Semakin hari, semakin kesini, semakin saya belajar, semakin saya menghayati bahwa….”menasehati” yang dimaksud tampaknya bukan dalam makna TERSURAT. Bukan makna yang sesungguhnya. Tapi makna TERSIRAT.

Kenapa saya menghayati demikian? Karena secara empiris, seringkali nasehat itu tidak efektif mengubah perilaku. Dalam konteks tujuan pembelajaran, kalau kita pake taksonomi dari Bloom, menasehati hanya berada pada tataran kognitif yang paling rendah. Memberi tahu. Dilihat dari sidut pandang komunikasi, menasehati adalah komunikasi satu arah. Dalam konteks parenting,  tidak ada satu pun fase perkembangan anak yang cocok untuk diarahkan dengan cara menasehati. 2 tahun? 3 tahun? anak SD? remaja? dewasa?  menasehati tidak menstimulasi kemampuan berpikir kritis, tidak membuat anak merasa didengarkan dan diterima, dan pada dasarnya, materi yang dinasehatkan pada umumnya sudah diketahui.

Dalam konteks dakwah pun, menasehati seringkali tak efektif. Beberapa waktu lalu sempat membaca beberapa thread terkait beberapa konteks persoalan salah-benar menurut ajaran agama. Saya tahu, ada beberapa orang berupaya menyampaikan hal yang benar. Tapi cara “menasehati” itu, membuat tulisan-tulisannya menjadi “kurang simpatik”, jadi tak bisa diharapkan untuk “argumentatif” apalagi “persuasif”.

Dulu, saya berpikir efektifitas nasehat itu, kalau dari skala 1 sampai 10….nilainya 1 lah … Sekarang saya berubah pikiran. Pengalaman baik sebagai istri selama 13 tahun, sebagai seorang ibu selama 12 tahun, sebagai seorang psikolog dan dosen selama 10 tahun. Dampak nasehat, bisa jadi MINUS. Kalau saya mengeluhkan sesuatu pada mas dan mas kemudian menasehati saya, yang saya rasa adalah : “sebel…aku juga udah tau…” (hehe…mungkin karena saya belum jadi istri sholehah). Kalau saya nasehatin Kaka Azka, dia pasti jawab : “Iya bu…Kaka juga tau….”. “Nasehatin klien”, itu adalah PANTANGAN. Kalau mau nekad, coba aja. Dijamin kliennya jadi super defensif.

Intinya, saya gak pernah dapet benefit dari kegiatan menasehati. Justru dampaknya adalah….membuat komunikasi tertutup. Mana mau anak cerita terbuka sama kita tentang kesalahan dan  kegagalannya kalau dia tau persis yang akan ia terima bukan solusi, tapi nasehat yang dia udah tau. Mana mau pasangan terbuka sama kita kalau curhatan kita dibalas dengan nasehat yang kita juga udah tau. Mana bisa menumbuhkan kekuatan dalam diri klien kalau nasehat yang kita berikan. Mana bisa menstimulasi daya kritis mahasiswa kalau kita mengajarkan dan menasehati, bukan berdialog dan diskusi argumentatif melalui sudut pandang masing-masing.

Penghayatan dan pengamatan itulah yang membuat saya menyimpulkan, tampaknya “menasehati” yang disebutkan dalam ajaran agama, sesungguhnya meminta kita untuk berpikir : “cara-cara menasehati” yang paling pas untuk setiap orang dalam situasi tertentu.

Sesungguhnya seluruh jenis psikoterapi yang saya pelajari, seupriiiiiiit dari banyak teknik terapi yang ada, menurut saya adalah operasionalisasi dari “menasehati”. Sesungguhnya, beragam macam penelitian untuk mencari metoda belajar yang paling tepat adalah upaya untuk mencari cara “menasehati”. Sesungguhnya, berbagai teknik komunikasi dalam parenting, adalah upaya menemukancara untuk “menasehati”.

Bukankah menasehati itu maknanya adalah mengajak orang lain menuju kebaikan dan kebenaran? Dan bukankah itu makna dakwah? Maka, sejatinya bagi kita muslim/muslimah yang pada hakikatnya menjadi “duta” bagi agamanya, yang memiliki kewajiban berdakwah, kita harus belajar bagaimana cara menasehati yang efektif.

Bahasanya, sesuai dengan peran masing-masing. Psikolog mempelajari psikoterapi, Guru dan dosen mempelajari metoda pembelajaran, seorang ibu mempelajari teknik parenting… dan pintu masuk untuk semua itu adalah …. KEMAMPUAN MENDENGAR-KAN. Mendengarkan. Mendengarkan.

Dengarkan pilihan kata, dengarkan rangkaian kalimat, “dengarkan” intonasinya, “dengarkan” volume suaranya, “dengarkan” ekspresi wajahnya, “dengarkan” persepsinya, “dengarkan” harapannya, “dengarkan” kebutuhannya…. BAnyak yang harus kita dengarkan dari orang yang ingin kita ajak menuju kebaikan dan kebenaran. Entah itu klien, mahasiswa, murid, anak, pasangan, mad’u…..

Oleh karena banyak yang harus kita dengar, maka porsi mendengarkan kita haruuuuuuus lebih banyak dari porsi bicara. Coba aja berkomunikasi sama anak kita. Atau pasangan. Pasti mereka lebih senang kalau kita mendengarkan, memperhatikan, sesekali bertanya, sesekali meng-iyakan, lalu di akhir percakapan, mungkin kita hanya perlu satu kalimat, namun akan “powerfull” karena kalimat itu abstraksi dari bermenit-menit atau berjam-jam kita mendengarkan. Itulah proses menasehati seharusnya. Apalagi menasehati dalam konteks agama. Seringkali “semangat” kita menyampaikan kebenaran membuat kita tak mau mendengarkan apapun dari orang lain. Yang penting saya sudah menyampaikan. Soal dia paham atau menerima? Do we Care?

Sudah banyak yang mengingatkan kita untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Tinggal kita mempraktekkannya. Kesungguhan kita belajar mendengarkan dan mencari cara “menasehati” adalah bukti kita peduli, dan itulah kekuatan yang bisa mengubah  orang lain menjadi lebih baik.

Advertisements

Buku Plus Plus

Salah satu tantangan utama ibu bekerja P4 seperti saya adalah, memanfaatkan seuprit waktu setiap harinya untuk aktivitas yang high quality. (Note : P4= Pergi Pagi Pulang Petang). Bayangkan … kalau kita di rumah, 10 jam yang kita lewatkan untuk aktifitas di luar rumah, bisa kita pake stimulasi segala macem tuh … sementara untuk ibu bekerja, paling waktu yang dimiliki untuk bermain bersama anak PUREnya 1-2 jam-an lah…

Salah satu moment harian untuk “menebus” 10 jam yang saya lewatkan bersama anak-anak adalah, membaca buku sebelum tidur. Tentu “sebelum tidur” ini bukan dalam artian harfiah. Biasanya saya mengajak anak-anak terutama si TK B Teteh Hana dan si “mau Playgroup” Azzam mulai naik tempat tidur J-2. Dua jam sebelum jam tidur mereka. Bukan apa-apa sih, soalnya setelah seharian beraktivitas, rebahan meluruskan punggung adalah hal ynag sangat saya rindukan hehe… Stimulasi motorik jatahnya Sabtu dan Minggu 😉

Dan “buku” yang dibacakan pada ritual sebelum tidur, bukan buku biasa. Namun Buku Plus Plus. Karena sayah bukan ibu yang kreatif, maka segala macam buku, terutama buku yang “tiga dimensi” menjadi penting dan ada di rumah saya. Buku suara, buku pop up, buku dengan beragam tekstur, bantal buku, buku kain, buku puzzle, buku yang ada boneka jari-nya, dan beragam jenis buku lainnya. Nanti saya ceritain satu-satu ya…

Di tulisan ini saya mau ceritain satu buku yang akhir-akhir ini jadi favorit si bungsu 3 tahun Azzam. Meskipun jatah baca bukunya cuman 2 (jadinya 4 karena 2×2 sama Hana 😉 … dia cuman mau dibacain satu buku. Tapi 4 kali haha…. Meskipun “cape deeeeeh” baca buku yang sama empat kali berturut-turut, tapi saya seneng banget saat anak-anak menikmati, dan emosinya larut dalam satu buku.

Saya masih inget, buku kesukaan si sulung Kaka Azka adalah “Pak Badru Kebingungan”. Buku kesukaan Mas Umar, adalah ….”atlas dunia” haha….. ciyuss… awalnya saya kaget waktu dia saya minta bawa buku yang mau dibacain. Dia bawa atlas. Tapi dia menikmati banget waktu saya tunjukkan … ‘ini amerika, ini eropa, ini australia, ini jawa, ini surabaya”. Tamat petanya, masuklah ke bagian favoritnya: bendera-bendera negara. Ini jepang, ini korea, ini italia….itulah “buku bacaan yang ia nikmati”.

Hana, buku kesukaannya adalah segala macam koleksi buku Princess Islami. Princess Rahima, Adila, Karima, Aziza, dll dll. Nah, si bungsu Azzam baru dua minggu ini-sejak dia ulang tahun ke-3,  bisa “anteng” dibacain satu buku plus punya buku favorit.  Buku favoritnya bcovererjudul “Tiga Babi Kecil”, sebuah cerita terkenal dari barat sono, yang diterjemahkan oleh Erlangga for Kids. Sebenarnya saya punya semua serinya, termasuk Goldilocks dan Tiga Beruang yang fenomenal itu. Tapi saya lupa simpennya dimana hehe….

Saya akan cerita plus plus nya buku itu ya…

(1) Buku ini mengajarkan konsep kuat-rapuh. Memang konsep perbandingan lebih banyak diajarkan di buku Goldilocks. Tapi persamaannya dengan buku Goldilocks adalah, konsep itu diajarkan melalui cerita yang keren banggetssssss !!!

(2) Pas dibeli, di buku ini ada 50 stiker. 15 diantaranya adalah stiker bebek. Stiker bebek itu harus ditempel di setiap halaman, di gambar bebek yang “bersembunyi” diantara gambar lainnya. Ada dua aspek perkembangan anak yang terstimulasi disini. Motorik halus (melepas dan menempel stiker) dan ketajaman persepsi visual; tepatnya visual figure-ground discrimination (menemukan bebek yang “bersembunyi”). Yakinlah, anak usia 2-5 tahun, sangat suka dengan jenis buku seperti ini ! Jadi, pengalaman pertama bagi anak dibacakan buku ini, akan sangat menyenangkan. Kalau saya, setelah stiker bebeknya habis pas baca pertama kali, membaca kedua kali dan seterusnya tetap pake pola itu namun anak diminta menemukan gambar lain yang “tersembunyi”. Dalam buku ini, di setiap halaman selalu ada tikus dan serigala jahat yang bersembunyi. Percaya atau tidak, berhasil menemukan serigala jahat di tiap halaman merupakan hal yang mengasyikkan dan “membanggakan” buat anak 3 tahun !

babi1(3) Selain stiker bebek, di dalam buku ini pada bagian bacaannya ada kata yang disertai gambar. Gambar itu, stickernya harus ditempel. Aspek apa yang terstimulasi dalam kegiatan mencari stiker yang sesuai gambar ini? aspek persepsi visual juga , yaitu mencari perbedaan bentuk plus motorik halus tentunya (visual form discrimination).

(4) Bagaimana setelah semua stiker habis? pada saat kita membacakan, pada bagian kata yang ada gambarnya, tunjuk gambarnya. Biarkan anak yang menyebutkan katanya. Ini menstimulasi apa? working memory. Anak akan terus “alert” saat menikmati bacaan. Sekilas mengenai working memory….dulu jaman saya kuliah 18 tahun lalu, dalam proses mengingat teorinya mengatakan bahwa berdasarkan jenis dan kapasitasnya, memory itu ada 3 : sensory memory, short term memory, dan long term memory. Saat saya mulai ngajar 10 tahun lalu, muncul istilah working memory. Bahwa “short term memory” yang tadinya kita pikir pasif, ternyata tidak. saat kita mengingat, kita pun aktif mengolah. Intinya dan sederhananya mungkin begitu. Anak harus alert untuk mengingat dan menyebutkan gambar dalam bagian cerita itu. Apa gunanya working memory? oh, banyak banggets….banyak sekali aktivitas akademik anak yang menggunakan kemampuan working memory. Membaca dan berhitung adalah dua diantaranya. Coba perhatikan anak yang lagi belajar baca dengan mengeja. Misalnya dia mengeja BE-CA. be-e, be. ce-a, ca. PAs dia baca “ca”, dia lupa lagi “be” nya. Jadi ulang lagi. Nah, itu artinya working memorynya belum kuat. Saat mengeja “ca”, ia juga harusnya tetap mengingat si “be”. Begitu lah kira-kira….Saat anak sudah bisa mengucap dengan jelas, anak bisa diajak aktivitas ini. Mulai usia 2 tahun, anak udah bisa banget.

babi2(5) Nah, ini dia bagian klimaks yang ditunggu-tunggu Hana dan Azzam saat dibacakan buku ini. Ada bagian cerita si serigala jahat meniup rumah babi pertama yang terbuat dari jerami, rumah babi kedua yang terbuat dari ranting, dan rumah babi ketiga yang terbuat dari batu bata. Di bagian ini, saya akan meniup mereka….jadi di halaman ini Azzam udah siap-siap nutup wajahnya dan lalu teriak “tolong..tolong….ada ujan acay ibu!!” haha…..tapi kalau saya berenti dia teriak lagi ” lagi bu…hujan acaynya….lagi….”

Dan begitu sampai halaman terakhir lalu saya menyudahi dengan kalimat “aya si tata sareng si mamat”….Azzam pun akan teriak “bacain dari awal lagi…bacain dari awal lagi…” Nah, disitu saya merasa senang sambil ngantuk kkkk

Selamat menikmati kebersamaan dengan buah hati kita….ada tak terhingga caranya. Buku yang wokeh, akan sangat membantu kita. Percayalah, tak hanya mereka yang terhibur. Kita pun. Mari kita nikmati.

 

Sssssstttt ….

Dua hari lagi, tepatnya di hari Senin kita akan memasuki bulan Rajab. Di Bulan Rajab, kita diajarkan untuk banyak berdoa: “Allahumma baariklana fii rojaba wa sya’bana waballighna ramadhaan”. Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban , dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan. Masih dua bulan lagi, tapi kita diajarkan untuk berdoa agar Allah memanjangkan usia kita sampai dengan bulan Ramadhan. Sebenarnya ulama terdahulu, membagi 12 bulan ini menjadi dua : 6 bulan pasca Ramadhan berdoa agar amal ibadah kita selama Ramadhan kita diterima Allah, dan setengah tahun menuju Ramadhan berdoa agar di-sampaikan pada bulan Ramadhan.

Maka, seharusnya memang bulan Rajab ini mejadi “early warning system” buat kita menyiapkan diri memasuki bulan Ramadhan. Membaca buku-buku mengenai fiqih maupun makna dan keistimewaan Ramadhan, perlu kita mulai. Demikian juga berlatih berpuasa, disunnahkan dimulai di bulan Rajab ini.

Saya sendiri, betul-betul ingiiiiin sekali diberi kesempatan sampai di Ramadhan tahun ini. Ramadhan tahun ini sangat saya rindukan karena…. saya rindu semangatnya. Ada satu keistimewaan ramadhan yang saya hayati akhir-akhir ini. Ramadhan mengajarkan kita semangat untuk menahan diri. MENAHAN DIRI. Sebuah kemampuan yang sepertinya “mahal” akhir-akhir ini.

Bayangkan ! hal-hal yang HALAL saja, di bulan ramadhan bisa di HARAMkan ! siang hari makan-minum, berhubungan seksual dengan suami/istri kita. Apa salahnya? itu baik ! itu benar ! Tapi tidak boleh…haram….kenapa? “Sign” apa yang Allah ajarkan melalui syariat ini?

Jawabannya buat saya pribadi adalah, kemampuan MENAHAN DIRI.

Ada masa, dimana BERBICARA itu ISTIMEWA. LANTANG itu bermakna BERANI. Itu adalah zaman saat siapa yang bicara, akan mendapatkan hukuman. Ada masa, dimana orang sulit mengatakan hal yang benar. Ada masa, dimana menulis itu sulit. Ada masa, dimana pengetahuan itu sangat sulit didapat.

Dan kini, kita sampai pada masa dimana setiap kita bisa bicara. Tak peduli siapa dan dimana kita, kita bisa bicara apa saja. Komentar apa saja. Menulis apa saja. Kini, kita sampai pada masa dimana kita bisa dapat pengetahuan apa saja, dari siapa saja, kapan saja.

Kini, kita sampai pada saat dimana mudah sekali mengatakan yang benar.  Mengatakan “kamu jelek” adalah benar. Apa salahnya? emang dia jelek kok. Mengatakan “i love you so much much much ” pada pasangan kita adalah benar. Malah harus bukan?

Tapi jaman ini bukan mengajarkan kita untuk HANYA berkata dan bertindak BENAR. Jaman ini mengajarkan kita untuk berkata dan bertindak BIJAK. Jaman ini mengajarkan kita untuk DIAM !!!! tutup mulutmu, buka hatimu. Berbincanglah dengan nuranimu. Menjadi-lah RADIKAL. Apa ultimate goal kita bicara? apa manfaat kita bertindak? tepatkah saya mengungkapkannya disini? sekarang? apa konteksnya? bagaimana nanti dampaknya?

Menahan diri. Diam. Merenunsilencegi apa yang akan kita lakukan. Itulah yang diajarkan Ramadhan pada kita. Karena sejatinya, diam dan tak berbuat apa-apa itu berbeda. Diam bisa berarti kita berhasil mengalahkan kekuatan hawa nafsu yang besar dalam diri kita. Diam bisa berarti kita punya hal lain yang lebih bermakna untuk dilakukan. Diam bisa berarti kita punya strategi yang lebih membawa kebaikan. Dan itulah yang diajarkan Ramadhan.

Itulah mengapa saya begitu merindukan Ramadhan tahun ini. Karena lewat RamadhanNya, Ia mengajarkan kita untuk menjadi lebih BIJAK. Untuk menarik diri kita dari segala keriuhan dan kebisingan yang seringkali….tak perlu kita berada di dalamnya, karena tak bermakna apa-apa buat hidup maupun mati kita.

 

“Uji Publik” Generasi “Isyhadu bi anna muslimun”

Setelah melalui rangkaian Munaqosah atau ujian dan dinyatakan lulus, hari ini Azka dan Umar mengikuti “uji public” dan “sidang terbuka”. Untuk Umar hafalan, untuk Azka Tajwid dan Ghorib. Ghorib adalah bacaan al-Qur’an yang sifatnya “exceptional“, yang harus kita hafal.

Alhamdulillah seperti tahun lalu, saya bisa menyempatkan hadir di acara istimewa ini. Dan seperti tahun lalu, air mata saya mengalir deras. Mulai ketika anak-anak kelas 2-3 masuk panggung diiringi doa khatam Qur’an. Doa ini dilantunkan oleh para guru dan teman-temannya yang belum lulus, yang ikut “menonton”. Doa khatam Qur’an ini, adalah salah satu doa favorit saya. Karena indaaaaah banget dan “powerfull” rasanya.

“Allahummarhamna Bil Quran, Waj’alhulanna Imaaman Wa Nuuran, Wa Huda Wa Rohmah, Allahumma Dzikkirna Minhu maa Nasiiha, Wa’allimna Minhu maa Jahiilna, Warzuqna Tilaawatahu, Aana Al Laili Wa Aana An Nahaari, Waj’alhulanna Hujjatan, Yaa Rabbal Alamin”

“Ya Allah turunkan rahmat qur’an. Jadikan Qur’an cahaya petunjuk kebenaran. Allah ingatkan kami semua yang kami lalai, berikan ilmu yangg bermanfaat, jadikan qur’an bacaan yang kami cintai di malam dan siang. Jadikan Qur’an penerang. Ya Tuhan penguasa Semesta alam” C360_2015-04-09-10-24-36-356

Setelah membaca beberapa doa bersama di depan, mulailah “uji publik”nya. Para orangtua dipersilahkan “menguji” hafalan anak-anaknya dengan meminta anaknya menyampaikan hafalan surat tertentu.Pada ujian gharib dan tajwid, modelnya berbeda. Anak-anak itu akan diperlihatkan ayat Al-Qur’an yang cara membacanya “exceptional”, lalu ia diminta membaca, menjelaskan mengapa bacaannya berbeda, dan diuji tajwidnya. Jujur,saya juga banyak yang baru tahu.

Waktu ujian Umar, Saya tidak sanggup ngacung; karena air mata saya terlalu deras. Jauh lebih deras dari tahun lalu.

Mungkin karena … saat memandang anak-anak itu, mendengarkan lantunan hafalan mereka, terbayang pula “ujian” yang akan mereka hadapi. Di jaman mereka besar nanti, tak terbayang ujiannya akan seberat apa. Saya ingat pertanyaan mas Umar beberapa hari lalu: “Ibu, ibu mending meninggal sebelum hari kiamat atau hidup sampai hari kiamat?”. Waktu saya tanya kenapa ia bertanya seperti itu, Umar menceritakan betapa dahsyatnya kiamat. Sebenarnya, dalam pikiran saya, setelah ia menceritakan dahsyatnya hari kiamat, saya pun teringat bahwa semakin dekatnya hari kiamat, beratnya ujian bagi yang ingin berpegang teguh pada ajaran Nya juga akan semakin berat.

Dan “tanda-tanda” semakin beratnya ujian itu, kini mulai terasa. Anak-anak kita digempur oleh kenyataan yang kemudian ditegaskan oleh pendapat-pendapat “kritis”. Apa gunanya menghafal Qur’an? Banyak yang hafal Qur’an tapi nyontek, membully, korupsi…. Sebaliknya banyak muslim/ah yang tidak bisa membaca Qur’an tapi berprestasi, peduli pada orang lain….

Bahwa kenyataan itu ada, saya tak menafikkannya. Tapi bahwa membaca dan menghafal itu tak ada korelasinya dengan kualitas akhlak, saya tak setuju. Pertanyaan “mana yang lebih baik : beragama tapi tak berprestasi vs tak beragama tapi berprestasi” menurut saya pertanyaan yang pesimistis. Seolah kita tak punya pilihan lain. Seolah hanya dua kondisi itu saja yang bisa dicapai oleh anak-anak kita.

Saya tidak suka pertanyaan sejenis itu, karena membatasi kita dari pilihan lain yang seharusnya menjadi aspirasi kita : beragama dan berprestasi. Hafal al qur’an dan peduli pada orang lain.

Maka, pada semua anak-anak di panggung itu saya ingin berkata :

Yups, kita bisa menjadi UNGGUL DAN BERMANFAAT tanpa harus kenal Al Qur’an. Tapi itu hanya bila kita percaya jika kehidupan kita selesai saat kita menghembuskan nafas terakhir.

Itu bukan yang kita yakini…

Yang kita yakini adalah,  bahwa setelah nyawa kita terlepas dari raga, ada kehidupan lain nak….

Kehidupan yang abadi. Selamanya. Dalam kehidupan abadi itu, bukan hanya prestasi dan kebermanfaatan kita yang akan dinilai. Tapi apa yang mendasari prestasi dan kebermanfaatan itu. Dan buat kita sebagai muslim/muslimah; ajaranNya lah yang harus menjadi dasar keunggulan kita.

Maka, teruslah membaca Al Qur an nak, teruslah menghafal. Yakinilah adanya kehidupan setelah kematian.

Menjadi UNGGULlah, menjadi BERMANFAATlah, menjadi HEBATlah, lalu setelah itu, teriakkan: “Isyhadu Bi anna muslim/muslimah !” Saksikan bahwa aku seorang muslim/muslimah! Jangan banyak buang energimu untuk tersulut saat Robb kita direndahkan.

Bekerjalah, berkaryalah, peduli-lah, dan tunjukkan indahnya Islam dengan akhlakmu. Yakinkan pada dunia bahwa Al Quran  adalah benar-benar mukjizat. Sumber kekuatanmu. Sumber prestasimu. Sumber kasih sayangmu.

JODOH : Takdir atau Pilihan?

bu sawApakah jodoh itu takdir atau pilihan? Pertanyaan ini diajukan oleh salah seorang jamaah MPI (Majelis Percikan Iman) di Pengajian rutinnya hari Ahad pagi. Pak Aam, atau lengkapnya Ustd Aam Amiruddin, seorang doktor bidang komunikasi yang mengasuh pengajian tersebut memberikan jawabannya.

Jawabannya menggunakan perspektif tawakkal. Bahwa jika kita mengalami keburukan dari pasangan kita, maka itu adalah TAKDIR jika kita telah berikhtiar maksimal saat proses pemilihannya.

Sebaliknya, bisa jadi keburukan itu adalah PILIHAN kita, jika sebelum kita menikah kita melihat tanda-tanda keburukan, namun tetap menikah dengannya, atau kita sama sekali tak melakukan upaya untuk mengenali calon pasangan hidup kita.

Apakah pengenalan itu = pacaran? NO. KIta tetap bisa mengenal calon pasangan dengan cara-cara yang Syar’i. Yang penting kita tahu hal-hal apa yang harus diwaspadai. Mengenai caranya, itu kembali pada value masing-masing.

……………..

Acara BPIP Pagi berjudul “Mengenali Indikator Gejala Patologis Pada Calon Pasangan” ini diawali oleh keprihatinan kami; tim psikolog di BPIP pada persoalan antar pasangan pernikahan yang kami temui. Salah satu faktor penyebabnya, adalah kurangnya pengenalan terhadap kepribadian “beresiko” dari calon pasangan.

Kenapa faktor kepribadian yang “beresiko” itu perlu dikenali? Karena pernikahan itu adalah teamwork. Membutuhkan kerjasama yang harmonis antara dua orang yang berkomitmen di dalamnya, untuk menghadapi dan mengatasi segala badai yang akan datang. Pernikahan, bisa jadi SYURGA dunia jika kita bekerjasama dengan pasangan yang bisa “memberi” dan “melengkapi” kita. Namun sebaliknya, Pernikahan bisa jadi NERAKA dunia saat pasangan kita, jusru menjadi sumber stress dan “menggerogoti” energi kita.

Yups, tak ada rumah tangga yang tak “bermasalah”. Namun masalah sebesar apapun akan bisa dihadapi saat pasangan bersatu, dengan dewasa mau berubah dan bekerjasama. Nah, pada orang-orang tertentu dengan kecenderungan kepribadian tertentu, kedewasaan dan kemauan untuk bekerjasama ini tak ada. Akibatnya, salah satu pasangan “berjuang sendirian” untuk mempertahankan keluarganya. Yang paling saya sedihkan adalah, dampaknya pada anak jika pasangan ini sudah punya anak.

Kami, yang berlatar belakang psikologi sedikit banyak punya gambaran, perilaku dan kepribadian seperti apa yang mulai masuk area “kuning”, mana yang masuk area “merah”. Namun kami banyak menerima pertanyaan dari teman non-psikologi yang belum menikah, apakah kecenderungan kepribadian “beresiko” ini bisa dideteksi sebelum menikah? Gimana biar kita bisa IKHTIAR maksimal dan menghindarkan diri dari calon pasangan yang setelah menikah nanti melakukan tindak kekerasan pada kita, bermasalah dengan keluarga besar, tak memberi nafkah, gak mau kerja, kecanduan ini-itu, selingkuh, menyiksa anak, dll dll?

Dengan pertimbangan itulah kami akhirnya menggulirkan judul ini, dengan mengundang senior kami, ibu Prof Sawitri yang sudah lebih dari 30 tahun menjadi konselor perkawinan. Saat kami mengunjungi rumahnya nan asri untuk berdiskusi mengenai topik ini, beberapa kasus yang beliau ceritakan memperkuat keyakinan kami bahwa pengetahuan ini penting untuk masyarakat.

Tgl 14 Februari adalah waktu yang kami pilih untuk acara ini. Sebenarnya, sampai detik terakhir masih ragu sih…apakah acara ini akan ada peminatnya, mengingat beberapa orang berkomentar “judulnya serem amat” haha.. Saya masih ingat .. pagi itu, panitia mengirimkan file publikasi untuk saya cek apakah acc atau tidak. Sambil memesan lontong padang Uda Pero di Simpang Dago, saya lihat dan saya kirimkan balasan pada panitia: “ok, acc”. Sepuluh menit kemudian, saat saya sampai di kantor di Dago 438, panitia pendaftaran bilang sudah ada belasan yang mendaftar….. teknologi memang “gila” ….

Dan jumlah itu terus bertambah, sampai seminggu setelah publikasi, kuota 70 orang sudah terpenuhi. Padahal masih ada 3 minggu lagi menuju acara. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengadakan batch 2 untuk mengakomodasi pendaftar yang sudah masuk di “waiting list”. Makanya ayo buruan daftar …. nanti keabisan tempat looh (hehe…numpang promo).

Banyak diskusi menarik baik sebelum maupun pada saat acaranya. Beberapa pertanyaan kritis semisal:

  • Apakah orang yang punya kepribadian “beresiko” ini tidak layak bahagia ?
  • Bukankah setiap orang pasti punya kekurangan? dan bukankah pasangan bisa saling memberi dan menerima?
  • Bagaimana kalau sudah terlanjur cinta?

Semua pertanyaan itu dijawab dengan tuntas dan sistematis oleh Ibu Sawitri. Dalam paparannya, beliau menjelaskan terlebih dahulu apa ciri-ciri orang yang “sehat mental”. Dengan gayanya yang komunikatif, Ibu membawa kita untuk “mengevaluasi” diri kita apakah kita tergolong “sehat mental” atau tidak; apakah kalau kita “gelo-gelo saeutik” mah wajar atau engga… Dari situ lalu kita diajak mengenali beberapa perilaku dan kepribadian  yang mengarah pada patologis. Perilaku-perilaku konkrit yang bisa jadi indikator; baik berdasarkan ilmu psikologi klinis maupun berdasarkan pengalaman puluhan tahun beliau menjadi konselor pernikahan.

Note : saat saya bicara “pasangan” dan “kdrt”, bukan hanya mengacu pada laki-laki; tapi juga pada perempuan. Karena pada kenyataannya, memang demikian. Maka, acara ini tak hanya terbatas untuk perempuan, namun juga untuk laki-laki.Karena pengetahuan ini penting untuk laki-laki maupun perempuan, itu sebabnya kami memberi diskon khusus jika yang datang adalah pasangan Di batch pertama, ada 8 pasangan yang ikut.

Acara ini, highly recommended bukan saja untuk pasangan yang sedang melakukan penjajakan, namun juga yang sudah menikah agar bisa me-refresh semangat kita membangun keluarga yang SAMARA. Tak lupa juga, cucok buat kita-kita yang punya anak remaja untuk bekal menyeleksi calon mantu haha….