“mencari” sekolah vs “mencari” jodoh ;)

6281573469377Seminggu ini, khususnya 3 hari ini, adalah hari-hari penting bagi sebagian ortu yang memiliki anak kelas 6 SD. Beragam doa untuk kemudahan dan kelancaran UN anak-anaknya, dipanjatkan para ibu baik dalam bentuk status bbm, status facebook maupun pastinya di saat-saat mustajabnya doa. Minggu lalu, beberapa sekolah menggelar semacam “doa bersama” yang dihadiri anak dan orangtua. Pun dengan sekolah Azka.

Setelah program tambahan belajar plus tryot setiap hari Sabtu selama satu semester kemarin, kegiatan ditutup dengan acara mabit anak-anak yang ditujukan untuk “relaksasi” melalui beragam games yang ringan dan lucu. Dan hari Kamis lalu, saat tanggal merah, digelar acara “doa restu”. Tujuannya sama, relaksasi. Tapi lebih diarahkan untuk orangtuanya. Pengisi acaranya pas sih menurut saya, seorang trainer parenting yang kocak abis, mampu mengocok perut para orangtua dengan gayanya yang lucu abissss….

Betul sekali yang disampaikan trainer parenting tersebut, kayaknya yang tegang emak-bapaknya, terutama banget emak-emaknya hehe….. begitu masuk ruangan bawaannya udah pada berkaca-kaca ajah. Padahal anak-anaknya mah udah haha hihi.

Untuk yang berniat masuk SMP negeri, wajar kalau 3 hari ini akan merasa tegang. Karena perjalanan 6 tahun sekolah putera-puterinya, diukur dengan beberapa puluh soal. Beberapa puluh soal dari 3 mata pelajaran yang hasilnya, akan menentukan masuk SMP mana. Sekolah, buat sebagian orangtua, bukan hanya berfungsi sebagai institusi yang mengajarkan pelajaran. Tapi mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang akan masuk menjadi kepribadian anak.

Saya sendiri, jujur saja sudah tak tegang. Sudah antiklimaks buat saya. Tegang dan cemas abis, saya rasakan 5 minggu lalu, waktu Azka test di sebuat SMPIT. SMPIT yang menurut “penerawangan” kami, paling pas untuk jadi partner dalam mendidik Azka. Karena itu satu-satunya sekolah yang dirasa paling pas dalam segala sesuatunya dan kami gak punya pilihan kedua, maka wajarlah kalau saya cemas banget menghadapi testnya. Padahal yang test Azka ya…kkkk

Hihi…kalau saya flashback, suka pengen ketawa sendiri. Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat galau abis. Testnya tuh kan 3 ya, psikotest, test akademik dan test praktek ibadah. Nah, untuk  test praktek, saya percaya lah…sama Azka. Test akademik….dengan tambahan belajar di sekolah, tryout tiap minggu plus bimbel seminggu tiga kali, cukup lah…kami pun belikan beberapa buku soal sampai Azka bilang…hadeeuh…bosen bu, ngerjain soal terus haha….Nah, yang bikin galau adalah soal psikotest ini. Masalahnya adalah, saya tahu banget lah, apa yang akan diukur, gimana cara ngukurnya daaaan…..alat ukurnya, alias alat psikotestnya, itu ada di ruang kerja sayah….

Beberapa hari menjelang test, kegalauan saya meningkat. Insting seorang ibu kan ingin selalu melindungi anaknya ya? saya galau….saya bisa banget ngasih “latihan psikotest” sama Azka. Atau minimal, kasih tau nanti soalnya kayak apa, Azka harus gimana biar hasil evaluasinya bisa bagus. Tapi….terngiang-ngiang sumpah profesi, kode etik dan…tentunya ingat bahwa nanti saya harus pertanggungjawabkan di akhirat. Tapi sebagai seorang ibu….ingin sekali all out membantu anak….tapi kode etik….tapi sebagai seorang ibu….

Yang akhirnya menguatkan saya untuk tidak melakukan pelanggaran kode etik itu adalah, seorang sahabat saya. Waktu saya curcol soal kecemasan saya pada dia, dia bilang gini …“gw paham banget kecemasan elu, tapi tenang lah, gw yakin Azka punya potensi dan kemampuan”. JLEB. Banget. Saya tertohok. Perasaan saya “ingin membantu” Azka, membuat saya terbutakan akan satu hal. Kalau saya lakukan itu, berarti saya meragukan potensinya. Saya tidak mempercayai kemampuannya. Aduuuhhh….saya menghayati betul sekarang. Itu tidak mudah sodara-sodara….Insting seorang ibu yang ingin selalu melindungi anaknya, membuat kita tidak mudah untuk “percaya” pada kemampuan anak kita ! Ini pengalaman berharga banget buat saya. Struggle to surrender banget lah….

Pas hari h, kecemasan saya udah naik ke ubun-ubun. Subuhnya ampe “berantem” sama si abah. Saking cemasnya takut telat karena jarak dari rumah ke sekolah tsb cukup jauh dan bisa macet, saya pengen anter pake motor. Karena saya gak bisa nyetir apapun kecuali nyetir sepeda, pastinya kami akan bertiga naik motor. Si abah bilang, itu malah riskan ditilang. Jadi lebih baik pake mobil. Saya, keukeuh sureukeuh pengen pake motor, biar kalau macet bisa nyelap-nyelip. Akhirnya, setelah masing-masing keukeuh dengan pendapatnya, dengan wajah manyun dan mata berkaca-kaca saya ikutin saran mas, tapi berangkatnya 2 jam sebelum jam mulai test haha….orang cemas dilawan…. jadilah setengah 7, kami sudah nangkring di sekolah tsb, datang sebagai peserta kedua haha….

Sepanjang perjalanan, cemas saya memuncak sampai sakit perut…Aduh, bener deh,,,seumur-umur kalau menghadapi ujian, 3 kali sidang skripsi-profesi-tesis, gak pernah sampai sakit perut. Ini terjadi …. ! sambil menunggu jam mulai test, ngobrol ini itu dengan ibu-ibu teman Azka, kecemasan mulai reda. Menjelang jam 8, tim psikologi datang. Begitu tim psikologi turun dari mobil, eh…sebelum masuk ke ruang test, mereka menghampiri saya, trus pada cium tangan …. ternyata mereka adalah mahasiswa-mahasiswi saya….dari Biro tetangga yang bekerjasama dengan sekolah ini untuk psikotestnya. Aduuuh, sakit perut lagi. Apalagi saat ibu salah satu teman Azka bertanya mengapa, dan ketika saya bilang itu mahasiswa saya, beliau berkata : “ya ampun, mama Azka teh psikolog, kenapa gak bilang-bilang? kalau tau kan bisa minta latihan dulu..” ….. si syetan bertanduk hadir lagi dan bilang ke saya “iya ih, kenapa resource yang kamu punya gak kamu kasih all out ke anak kamu, kalau gagal, kamu nyesel loh”. Sakit peruuuuuut !!!! Apalagi tambah dapat info kalau persaingannya ketat, plus Azka kan SDnya bukan dari sekolah ini. Meskipun berkali-kali saya tanya ke yayasannya dan mereka bilang gak ada keistimewaan untuk calon yang berasal dari SD mereka, tetep we…liat daftar nama banyak banget yang dari SD mereka, hati jadi ciut.

Selama 2 minggu menunggu pengumuman, saya bener-bener berjuang untuk “ikhlas” berdoa mohon yang terbaik. Bukan berdoa biar diterima. Katanya kan, hakikat muslim itu adalah “berserah”. Puncak ketauhidan kita adalah, saat kita yakin apapun yang terjadi adalah yang terbaik dariNya. Selama kita masih yakin dan merasa yang kita inginkan yang terbaik, ya berarti belum sepenuhnya berserah. Struggle to surrender tea…

Sampai 3 minggu lalu, alhamdulillah Azka diterima. Sejak saat itu, buat saya udah selesai. Udah bayaran, udah dapet seragam, udah antiklimaks.

Minggu lalu, kami diundang oleh SMP tersebut untuk wawancara. Saya dan mas hadir. Satu jam wawancara dan dialog, saya seneng banget. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak sekolah pada kami, menurut saya bagus. Karena dalam proses itu, kami menyamakan “nilai”. Dan item pertanyaan yang dipilih pun, pas menurut saya. Tidak hanya yang sifatnya umum dan normatif. Misal mereka bertanya, bagaimana pendapat kami mengenai gadget terutama hape. Mereka juga bertanya bagaimana pendapat kami tentang “rasa suka-sukaan” yang sangat biasa terjadi di usia SMP, lalu bagaimana value kami tentang pacaran. Saya juga banyak bertanya mengenai hal-hal yang saya anggap penting, misalnya saya menanyakan bagaimana prinsip mereka mengenai anak yang “bermasalah”, bagaimana sistem penanganan jika terjadi kasus bullying yang sedang marak, dll dll. Alhamdulillah bikin lega, karena value kami sama. Baik dalam hal “agama” maupun mengenai aspek-aspekkepribadian  yang akan dibangun oleh sekolah tersebut. Salah satu konsep yang saya suka adalah, sekolah ini melalui program-programnya tidak mengedepankan kompetisi, melainkan kerjasama. Itu sesuai banget sama kepengenan kami. Juga skeolah ini tidak mencetak individu-individu yang “eksklusif”, tapi berbaur dan terjun ke masyarakat.

Saat tahu ketatnya persaingan masuk sekolah ini plus cukup mahalnya biaya masuk sekolah ini, sopir saya bertanya “bagusnya apa sih bu, sekolah ini?” haha….pertanyaan kritis …. Lalu saya menjawab kurang lebih begini: bahwa dengan pilihan aktifitas saya, harus diakui minim sekali waktu saya untuk Azka. Begitu juga abahnya yang sering di luar kota. Saya perlu bantuan skeolah yang gak cuman ngajarin pelajaran, tapi juga ngajarin nilai. Nilai yang harus sama dengan nilai yang kami ingin tanamkan pada Azka.

Dipikir-pikir, proses ikhtiar mencari skeolah buat anak itu sama dengan proses iktiar “mencari jodoh” ya…hehe

Apa aja prinsipnya?

(1) Tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada adalah pasangan yang sesuai. Demikian pula tidak ada sekolah yang sempurna, yang ada adalah sekolah yang sesuai.

Untuk mengetahui apakah sesuai atau tidak, maka kita harus tau dulu siapa kita, apa value kita. Apa yang penting dan gak penting buat kita. Apa yang kurang dalam diri kita, yang ingin kita lengkapi dari pasangan kita. Pokoknya mah harus “kutahu yang kumau” lah. Yups…pastinya kita semua pengen anak kita sholeh. Tapi, kita harus bisa operasionalkan. Karena karakteristik sekolah itu beda-beda. Mau sholeh yang kayak gimana? Mau sholeh yang orientasinya kemana? Seperti apa? Mau sholeh yang kompetitif? its oke. Mau sholeh yang kolaboratif? its oke too. Mau sholeh dengan dominansi pengetahuan agama? okeh. Mau sholeh dengan dominansi pengetahuan sains? bahasa? sosial? its oke too.

(2) Tak ada pasangan yang gak punya kekurangan. Yang penting, dia dewasa dan mau menerima masukan, mau berubah ke arah lebih baik. Tak ada sekolah yang tak punya kekurangan. Yang penting, sekolah itu terbuka menerima masukan, dan mau beruba saat ada masukan yang lebih baik.

Saya sudah menemukan TK dan SD yang “pas” buat anak-anak saya. Apakah TK dan SD itu sempurna? no no no. Beberapa kali saya memberikan masukan terhadap hal yang saya pikir penting untuk diluruskan. Dan ciri sekolah yang baik adalah, ia  mau menerima masukan yang objektif. Mau mengakui kesalahan, mau meminta bantuan, mau berubah. Itu pula yang kita harapkan dari pasangan kita bukan?

(3) Dalam proses mencari pasangan hidup yang mengikuti syariat islam, faktor sumber informasi menjadi krusial. Demikian pula saat mencari sekolah.

Kita tidak diperbolehkan melakukan perkenalan dengan berduaan….tapi kita harus pandai-pandai mencari sumber informasi yang akurat mengenai calon pasangan kita. Rasul bilang, seseorang itu menjadi teman setelah menginap bersama. Teman satu kost, informasinya akan lebih valid dibandingkan teman-teman lain yang hanya tahu calon pasangan kita “dari luar” aja.

Saya sering bilang, kalau cari sekolah, jangan percaya brosur. Pasti kalau cuman liat dari brosur atau web, bagus semua. Apalagi sekolah baru. Idealismenya hebat, tapi belum punya pengalaman bagaimana membumikan idealisme tersebut dalam kenyataannya. Salah satu cara ampuh adalah, cari testimoni. Dari orang yang kita percaya, dari orang yang valuenya sama dengan kita. Memilih SMP ini, buat saya cukup dengan meminta pendapat seorang teman, yang anak nya sekolah di situ, dan punya value yang sama dengan saya. Baik value agama maupun value psikologi yang buat saya cukup penting hehe…. Dan beliau pun memberikan informasi yang objektif, sehingga kami bisa timbang-timbang, apakah fit gak dengan kebutuhan kami.

Semoga, di SMPnya nanti, kami mendapatkan sakinah mawaddah warohmah hehe….

Buat ibu-ibu/bapak-bapak  yang masih berjuang cari pasangan hidup sekolah yang pas, Semangat ! Insya allah ikhtiar kita smeoga mengundang keberkahan buat anak-anak kita. Aamiin….

 

 

Advertisements

Apa yang lebih mahal dari batu akik? ;)

inisiatip

Tiga bulan lalu, di pin board Umar si kelas 3 di kamarnya, diantara tempelan jadwal pelajarannya, saya mendapatkan surprise. Ada tulisan cakar ayamnya : “Rabu, PR matematika. Kamis, SBK bawa kardus bekas”. Saya tanya itu tulisan apa, dia bilang “Iya, mas Umar kan pelupa, mas Umar tulis biar mas Umar inget”.

Sebulan lalu, waktu kami ke toko buku, seperti biasa dia menghilang dan ketika ketemu, menyodorkan dua buah buku. Tumben bukan buku komik, melainkan buku “Aku Jago Menggambar”. Ada dua Buku: Aku Jago menggambar Bunga dan Aku Jago Menggambar Pemandangan. Saya merasa aneh banget. Menggambar adalah “musuhnya”. Motorik halus adalah kelemahannya.Tak heran kalau mata pelajaran SBK, entah itu menggambar, menggunting, membuat prakarya, nilainya selalu di bawah rata-rata kelas. Saya penasaran banget,  saya tanya kenapa dia pilih dua buku tersebut.  Dia bilang “Mas Umar kan paling gak bisa menggambar bu, nilai SBKnya suka jelek terus…buku ini kan ngajarin langkah-langkahnya menggambar, jadi mas Umar bisa latihan”. katanya

Dalam dua peristiwa tersebut, saya peluk dia, saya bilang saya bangga pada dia…. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Setiap orangtua, punya “nilai-nilai” tertentu yang ingin ditanamkan dan ditumbuhkembangkan dalam diri anaknya. Salah satu cara bagi kita, orangtua,  mengidentifikasi kualitas penting apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita, adalah dengan mengingat momen-momen membahagiakan/membanggakan apa yang kita ingat dari anak-anak kita.

Bisa jadi, peristiwa yang “membanggakan” dari satu anak dengan anak lainnya berbeda. Kalau istilah saya, sebagai orangtua dari waktu ke waktu kita selalu punya “PR” dalam konteks pengasuhan pada anak. PR-nya, bisa jadi pada satu anak atau anak lain,  berubah dari waktu ke waktu.

Misalnya pada si sulung, PR kita adalah menumbuhkan kepercayaan diri, si tengah PR kita menguatkan kemampuan pengendalian emosi, pada si bungsu PR kita untuk mengasah keterampilan sosialnya. Tahun depannya, mungkin PR kita beda lagi.

Kalau saya sendiri, PR saya sekarang ini terutama pada si nomor 2. Umar si kelas 3. Si anak unik yang baru mau makan nasi di usia 4 tahun, satu-satunya anak yang harus “berpisah” di awal-awal kehidupannya karena harus di blue-light (ah, meskipun sudah 9 tahun lalu, masih teringat saat saya sujud syukur karena dapat berita dari RS kalau dia bisa dijemput pulang), si anak yang  beberapa kali tengah malam dibawa ke ugd untuk mengeluarkan feces dan pipisnya …. Si anak yang “terkenal” di TK nya karena “pemberani” dan selalu jadi pemeran utama di setiap pentas, si anak yang jarang belajar tapi  nilainya selalu bagus di kelasnya, si anak yang “lebay” kalau dapat masalah, si anak “pelupa” yang sering sekali  kehilangan jadwal, buku, pensil, penghapus, penyerut, tempat minum, sendal sampai seragam di sekolah. Si anak yang seringkali gak tau kalau besok waktunya ujian.

PR apa yang saya punya buat Umar? PR membangun “mentalnya”. Setiap kali dia menunjukkan nilai ujiannya yang selalu diatas 97 meskipun dengan belajar minim (tanya jawab sama saya sambil sarapan pagi) atau gak belajar sama sekali karena malemnya ketiduran, saya selalu curhat sama si abah, ya…saya senang..tapi rasanya belum tenang.

Menurut pengalaman saya, anak pinter tuh sekarang banyak banget. Gizi yang baik plus stimulasi yang mudah dilakukan pada anak kita sekarang ini, membuat anak yang pinter tuh jadi gak istimewa. Yang IQnya 130, 135, 145, sekarang tuh gak aneh lagi. Tapi, prestasi akademis itu cuman berarti sampai SMA doang. Atau sampai kuliah lah. Setelah itu? kemampuan akademis tak akan banyak bermakna. Ini bukan teori. Ini empirik. Kata temen-temen saya yang bergerak di bidang industri, perusahaan-perusahaan besar sekarang lebih mempersyaratkan “softskill” yang baik, kepribadian yang matang dibandingkan kemampuan kognitif. Apalagi eneterpreuneur.

Maka, saya khawatir banget Umar, yang akan menggantikan abahnya menjadi imam keluarga ini, tak punya “mental” yang matang. Tak punya pribadi yang kuat. Salah satunya yang paling saya takutkan adalah, ia tak punya inisiatif. Aspek ini banyak hilang dari remaja-remana  saat ini. Banyak  anak-anak SMA ber-IQ istimewa namun blank gak tau mau lanjutin ke mana. Jurusan yang dipilihnya adalah “disuruh orangtua”. Informasi yang didapat mengenai jurusan yang akan dimasukinya, “kata mama”/ “kata papa”. Sehari-hari pake gadget canggih, tapi sama sekali tak tergugah untuk mencari informasi.

Inisiatif, menurut penghayatan saya, menjadi amat mahal. Dan dua kejadian di atas, perilaku Umar menempel catatan biar dia gak lupa dan mencari buku untuk latihan menggambar, buat saya membanggakan karena, seperti  yang selalu saya bilang padanya:

“Tidak ada seorang pun anak  yang sempurna mas, pasti setiap anak  punya kekurangan. Anak yang hebat itu bukan anak  yang gak punya kekurangan. Tapi, anak  yang menyadari kekurangannya apa, menerimanya dan berusaha keras  untuk mengatasi kekurangannya. Ibu pengen mas Umar kayak gitu.”

 

Saat anak kita merasa takut …..

share Hari ahad lalu, di pantai batu karas Pangandaran, ada satu kejadian yang mengingatkan saya pada cerita seorang senior saya.

Suatu saat, dalam proses bimbingan mahasiswa yang akan bertesis-ria dengan topik intervensi  psikologis untuk anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena penyakit kronis, senior saya yang baru pulang dari Singapura mengantar kerabatnya berobat, bercerita bahwa beliau menyaksikan bagaimana pendekatan yang dilakukan oleh dokter di sana pada seorang anak berusia 6 tahunan yang akan dioperasi.

Sehari sebelum operasi dilaksanakan, sang dokter yang akan mengoperasi mengunjungi anak tersebut, menggendongnya  dan mengajak si anak “jalan-jalan” ke ruang operasi. Di sana, si anak diperkenalkan rangkaian prosedur yang akan ia jalani. Secara umum dan menggunakan bahasa anak tentunya. Saat si anak mengatakan takut dan menangis, si dokter pun menjelaskan bahwa ia akan dibius sehingga tidak merasa sakit. Lalu dokter pun mengajak si anak membaca namanya. Ia menjelaskan serentet gelar yang ada di belakang namanya dan meyakinkan si anak bahwa ia sudah ahli menangani operasi. Ia juga menunjuk si suster yang akan menemani anak, dan bertanya apa yang akan bisa mengurangi rasa takut anak. Saat si anak bilang bonekanya, si dokter mengatakan bahwa si anak bisa mengajak bonekanya masuk ruang operasi besok. Kesimpulannya, senior sayamelihat bahwa ada upaya sungguh-sungguh dari pihak rumah sakit dan si dokter untuk memberikan RASA AMAN pada si anak.

Secara garis besar, saya bisa menarik kesimpulan mengenai cara yang dilakukan si dokter : ia menjelaskan situasinya secara objektif, memahami perasaan anak, dan berusaha membantu anak untuk mencari resource apa yang dimiliki anak, baik dari dalam dirinya maupun dari lingkungan, yang bisa mengatasi perasaan negatifnya, dalam hal ini rasa takut yang sangat.

Cara ini, khas sekali ditemukan dalam film atau buku cerita di “barat sonoh”. Saya tidak tahu bagaimana dalam kehidupan nyata masyarakat mereka. Tapi jujur saja, saya sukaaaaa banget formula ini, dibandingkan dengan cara yang “secara otomatis” mungkin lebih sering kita lakukan: “engga sakit kok….kakak kan kuat, hebat. Jangan takut, harus jadi pemberani….adik kan pinter …masa gitu aja takut….”

Peristiwa apa yang membuat saya teringat cerita yang saya paparkan di atas? si bungsu 3 tahun Azzam, begitu kami keluar hotel dan menuju pantai, langsung menangis histeris. Sementara kakak-kakaknya berlarian kegirangan menerjang ombak, dia menangis ketakutan dan berteriak ingin kembali ke hotel. “takut ombak”. Itu yang ia teriakkan. Saya ingat terakhir kami ke pantai adalah tahun baru lalu, ke Parangtritis. Di sana, ada payung-payung dan tikar yang kami sewa. Sampai 5 kali, air pantai naik dan mencapai tikar dan payung kami. Reaksi kami saat itu, tentu “panik” memindakan barang-barang yang menjadi basah. “Kepanikan” kami itu, tampaknya ia rekam dan ia asosiasikan dengan ombak. Ombak jadi ia persepsikan mengancam.

Saat kita siap bersenang-senang dan si anak malah histeris ketakutan, gimana perasaan kita? kesal bukan? saya pun merasakannya. Dan hampir saja secara otomatis, saya akan bersikap 2 hal : 1. “memotivasi” : “ayo, dede kan anak hebat, pemberani…masa sama ombak aja takut”. 2. “kesal dan mengancam”: “ya udah kalau dede gak mau, ibu tinggalin ya”. …. Hampir saja. Alhamdulillah saya ingat kisah senior saya di atas. Sisi rasio saya mengatakan bahwa ini adalah momen untuk menumbuhkan kemampuannya mengatasi perasaan takut.

BUAT AZZAM MERASA AMAN. OMBAKNYA TETAP ADA, RASA TAKUTNYA MASIH TETAP TERASA, TAPI BANTU IA MENUMBUHKAN KEKUATAN UNTUK MENGATASI RASA TAKUTNYA. SEDIKIT DEMI SEDIKIT.

Baiklah. Itu goalnya. Mari kita jalani prosesnya. Saya pun menghampirinya, memeluknya. Dia nangis yang histeris banget. Saya bilang: “kita lihat ombaknya disini aja, ibu temenin dede, ombaknya gak akan kena dede”. 10 menit, 15 menit, 30 menit, dia di pelukan saya, histerisnya gak berkurang. Tapi saya bertahan tak mau menyerah kembali ke hotel. 45 menit….rasanya kesabaran saya mulai berkurang, muncul kebimbangan apakah saya akan berhasil? syukurlah si abah membantu. Ada gunanya juga menceritakan beragam macam teori dan praktek psikologi sama si abah. Gak kebayang kalau dalam situasi sulit begini, si abah berbeda pendapat. Oke…gantian saya mulai refreshing jalan-jalan, si abah yang peluk. Sejam. akhirnya nangisnya berhenti, tapi masih takut.

Si abah bawa tiker. Jarakya 7 meteran dari pantai. 15 menit …. nemenin ini-itu ngobrol di tiker….saya cerita gimana waktu kecil saya juga takut ombak, saya cerita bahwa semua kakaknya juga, ketika umur 3 tahun takut sama ombak. Dia mulai mau ngobrol, lalu mulai mau  bergerak. Kebetulan saya menemukan bola. Si abah ngajak dia main bola, bola ditendang agak deket ke pantai, dia masih histeris. Oke, gapapa…saya gantian nemenin dia main. Perlahan-lahan, saya geser tikernya lebih dekat. 6 meter. 5 meter. Kita puja puji dia, kita tunjukkan tempat duduk awal dan garis tempat tiker awal tadi, kita bilang : “wah, de Azzam  udah berani lebih deket sama ombak…..”. Eh…dia mundur lagi….15 menit lagi ….

Lalu tanpa kami arahkan, dia mengambil pasir,ia lemparkan ke arah ombak. Awalnya saya pikir main aja. Tapi lama kelamaan dia lempar, saya lihat wajahnya, ada emosi tertentu, terdengar ia berkata “pergi kamu ombak” …”dasar ombak jahat” …… begitu teruuuuuus berulang-ulang…hampir 20 menit. Saya gak ganggu dia….Katanya, pada anak kecil, perilaku repetitif itu membuat nyaman. Itu sebabnya dalam tahap perkembangan bermain pun, ada tahap bermain yang repetitif. Perhatikan anak umur 2-3 tahun: bisa ketawa terus-menerus dan mengulang-ulang satu gerakan atau permainan sederhana.

Setelah terlihat puas, abahnya ngajak dia duduk di pasir tanpa tikar. Membuat bendungan katanya. Dan air pantai pun, lama kelamaan naik dan mengenai badannya. Awalnya dia takut, tapi kakak-kakaknya membuat lingkaran di sekitarnya dan bilang : “tenang de, nanti mas Umar lindungi dede”. Kena kakinya aja, lalu kena pantatnya, kena sepinggang, sampai akhirnya basahlah semua badannya. Dia mulai teryawa….dan sambil tertawa, dia bilang “hebat kan bu, de Azzam gak takut lagi sama ombak”….Ketika dia lihat ombaknya besar, sengaja saya peluk dia sambil bilang “de, ibu takut banget ombaknya besar….kita pelukan yuk, biar gak takut sama ombaknya”. dan kami pun beberapa kali “terseret” ombak sampai keminum air lautnya, dia memeluk saya erat, tapi ketika kami godain ajak pulang, dia bilang gak mau.

Dari pengalaman itu, saya menghayati betul bagaimana formula yang diajarkan di buku-buku psikologi seperti yang dilihat oleh senior saya di atas, benar adanya. Kalau bisa saya simpulkan, saat anak mengalami ketakutan….mulai dari yang konkrit seperti takut gelap, takut ombak, takut ke kamar mandi, takut disuntik atau imajinasi seperti takut monster…itu adalah momen yang bisa kita manfaatkan untuk :

(1) Membantunya mengenali perasaannya. Dalam kajian kecerdasan emosi, mengenali emosi diri selalu menjadi dasar untuk mengembangkan keterampilan mengelola emosi. Pun beragam macam intervensi psikologis, hampir selalu ditujukan untuk membuat seseorang mengenali emosi yang dirasakannya. Sata pernah bertanya-tanya dalam hati. Kenapa sih, mengenali emosi ini tampak begitu penting dan sentral? Akhirnya puzzle-puzzle pengalaman membuat saya bisa menghayati bahwa : sesuatu yang tidak kita kenali, tidak akan bisa kita kendalikan. Kalau kita tidak tahu bahwa kita merasa benci pada suami kita, kita akan merasa “aneh” kenapa sulit sekali bagi kita untuk berbuat baik pada suami. Kalau kita gak tau apa yang membuat kita benci pada suami, sulit bagi kita untuk melakukan upaya mengatsinya. Perubahan perilaku apapun, harus diawali dengan penghayatan, apa yang sebenarnya kita rasakan.

(2) Menerima perasaannya. Jujur saja, ini tidak mudah. Karena kita punya harapan yang bisa jadi 180 derajat sama perasaan anak kita. Ya kayak saya, harapannya kan kita bergembira ria bersama-sama….eeehh….1,5 jam nemenin Azzam mengatasi rasa takutnya itu … tidak mudah. Menyatakan bahwa perasaan yang dirasakan anak adalah wajar, itu menjadi penting pada tahap ini. Sebaliknya, jika kita membandingkan (misal: liat tuh, adek kecil aja berani …masa kamu engga) … itu dampaknya tak akan positif. Saya menghayati, dibandingkan memang selalu tak menyenangkan rasanya, semulia apapun tujuannya. Misalnya suami kita membandingkan kita ama istri tetangga. Meskipun niatnya untuk memotivasi, bagaimana perasaan kita ibu-ibu ?????

(3) Menumbuhkan rasa mampu.  Seorang senior saya, mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa berjalan dan harus pakai kursi roda dalam jangka waktu ynag cukup lama. Ketika ia mulai belajar berjalan lagi dan didampingi oleh fisioterapisnya, beliau bercerita : “Ternyata ya, kalau dimotivasi dengan cara “disemangati” : ayo, kamu pasti bisa…..itu rasanya malah menjadi beban. Saya merasakan banget….saat saya takut lalu orang bilang “ayo, pasti bisa lah…” itu malah membebani. Tapi bukan itu yang dilakukan terapis saya. Terapis saya bilang: “kemarin ibu jalan satu meter, sekarang dua meter loh bu…” Itu ternyata lebih membangkitkan perasaan “aku bisa”. Rasa mampu ini, bisa kita tumbuhkan dengan sumber yang berasal dari dalam dirinya seperti yang dilakukan si terapi tersebut, dilengkapi dengan meyakinkan bahwa ada sumberdaya lingkungan yang bisa dia manfaatkan. Ada keluarga yang menyayanginya, ada ahli yang akan membantunya…..implisitnya: you are not alone, i’m here for you, you are worthed.

(4) Memberi waktu baginya untuk menghayati dan mengatasi perasaannya, setahap demi setahap; dengan tetap mendampinginya. Setiap anak punya cara sendiri untuk menghayati dan mengatasi perasaannya. Menangis adalah cara bagi anak usia dini. Berikan waktu bagi mereka untuk menumbuhkan keberanian sedikit demi sedikit, dengan tetap mendampinginya. Tidak membiarkannya berjuang sendirian, atau malah me”reject”nya : “Ibu gak mau, punya anak penakut kayak kamu….udah tinggalin aja nih…” . Mendampingi anak dalam keadaan yang “buruk”, akan menumbuhkan keyakinan pada anak bahwa ia dicintai tanpa syarat. Unconditional love. Tahu gak…sikap “sederhana” ini, akan menjadi bahan bakar baginya untuk tetap punya HARAPAN. Sesuatu yang amat berharga. Itulah sebabnya dalam Islam, bunuh diri tak mendapat ampunan. Mengapa? karena orang yang bunuh diri, tak punya harapan. Ia putus asa. Ia merasa tak ada yang mencintainya di seluruh dunia ini. oleh karena itu, lebih baik mati baginya.

No Gain Without Pain. Itu adalah prinsip dasar pengasuhan menurut saya. Yups, akan jauuuuuh lebih mudah memang menghindarkan anak dari sumber ketakutannya. Misalnya anak takut tidur sendiri, ya udah tidur sama ibu aja. Sangat mudah juga “menenangkan” anak dengan mengatakan: “engga sakit kok”….”enggak nakutin kok”…. mudah juga baik kita mengatakan “ayo, masa gitu aja takut….dede kan pemberani” ..Tapi mungkin kita perlu bertanya lebih dalam pada diri kita, untuk kepentingan siapa sebenarnya hal tersebut kita lakukan.Untuk kepentingan kita, atau kepentingan anak?

Membuat situasi yang menakutkan bagi anak menjadi media untuk menumbuhkan penghayatan  akan perasaanya, mengembangkan kemampuannya mengatasi masalah, memberikan pengalaman bahwa ia dipahami serta dilindungi…..akan memberikan jejak mendalam dalam kepribadian anak. Pengalaman menghadapi rasa takut pada hal yang konkrit, akan menjadi bekal bagia naka untuk mengatasi ketakutan ynag lebih abstrak: takut gagal, takut ditolak, takut kalah, dan 1001 takut lainnya.

Dan percayalah, semua “pengorbanan” kita akan terbalas setiap kali kita mendengar si anak dengan bangganya bercerita pada orang-orang yang ia temui : “dede kan takut sama ombak, terus dede teh lempar aja ombaknya pake pasir….jadi gak takut deeeh…. terus ada ombak besar….dede teh sampe hanyut….untung dede pelukan sama ibu…jadi gak takut lagi…”

Kau tak akan pernah terbebas dari ketakutan di hari-harimu ke depannya nak, tapi kau punya pengalaman bahwa kau mampu mengatasi rasa takut itu. Rasa takut itu, tak perlu dihilangkan, tak bisa dihindari. Tapi saat menghadapinya, kau tidak sendirian. Ada orang-orang yang mencintaimu yang akan menemanimu menghadapi rasa takutmu. Kelak kalau kau sudah paham, dengan dasar rasa percaya yang besar, Kau juga akan mudah menumbuhkan rasa percaya pada sang Maha.