“Dunia Baru” Si Emak Remaja

2 hari lalu, Azka si sulung genap berusia 12 tahun. Seperti biasa, kami mengadakan “perayaan kecil”. Membangunkannya saat sahur, menyiapkan kue tart kecil dan kado istimewa, lalu berdoa bersama. Tahun ini kami menghadiahinya laptop. Sebenarnya gak kaci sih, soalnya laptop ini hadiah yang kami janjikan juga kalau dia lulus test SMPIT 3 bulan lalu. Tapi dia juga gak protes, jadi two ini one ajah haha…

Kata Duvall & Miller (1985), saat ini keluarga kami sudah “berubah status”, dari family with school children menjadi family with teenager. Sekilas info, Duvall & Miller adalah seorang ahli yang meneliti mengenai keluarga. Beliau membedah perkembangan keluarga melalui 8 tahap perkembangan, mulai sejak pasangan menikah sampai dengan wafat. Ke-8 tahap itu adalah : (1) Marriage Couple, (2) Childbearing family, (3) Family with preschool children, (4) Family with school children, (5) Family with teenager, (6) Family launching young adult, (7) Middle Age, (8) Aging. Tahap perkembangan keluarga tersebut didasarkan pada usia anak pertama. Pentahapan tersebut adalah hasil riset beliau, yang merupakan dinamika dari perubahan psikologis masing-masing individu di dalam keluarga tersebut. Kata teman saya yang mengajar mata kuliah Perkembangan Kehidupan Keluarga, sampai sekarang belum ditemukan ahli yang mengeluarkan teori se-komprehensif Duvall mengenai kehidupan keluarga.

Saya sendiri, merasakan bahwa hasil Penelitian Duvall ini, bener loh. Sebagai seorang ibu bagian dari sebuah keluarga, sejak Azka baligh, terasa sekali memasuki “dunia baru” yang relatif berbeda dengan sebelumnya. Yang paling jelas adalah, perubahan fisik dan psikologis Azka, yang mewarnai perubahan dinamika di keluarga kami.

Misalnya, kalau dulu dia yang suka kesel nunggu adiknya, Umar setiap mau berangkat sekolah, sejak semester terakhir ini sebaliknya. Kenapa? karena si kakak, mandinya lamaaaaaa, dandannya lamaaaaa……Lalu super sensitifnya, adik-adiknya udah tau kalau wajah kakaknya lagi jutek, harus jaga jangan sampai melewati batas radius satu meter haha…. Dan “kebluk”nya itu loh….tiduuuuur terus. Konflik-konflik sama adiknya, meningkat tajam. Misalnya karena kelenjar keringat yang lagi aktif, badan si remaja ini mudah bau, meskipun udah dikasih deodoran. Hana yang suka “polos”, kalau dekat kakaknya pasti bilang “kaka teh udah mandi belum sih?” sampai dia punya julukan “si Nyonya Bau” buat kakaknya. Ampuuuun deh.

Terpaksalah saya bikin konferensi pers buat adik-adiknya, kalau kakak sekarang udah remaja. Remaja itu artinya, mau berubah dari anak-anak jadi dewasa. Ciri-cirinya ….bla..bla..bla…saya memanggil kembali memory saat menyusun materi kesehatan reproduksi remaja…15 tahun lalu. Kematangan  seksual, primer… sekunder…. bla..bla.. Dengan diselingin beragam interupsi dari si 9 tahun dan 6 tahun itu, mengerti-lah sekarang mereka apa yang terjadi pada kakaknya.

TEENAGERSaya baru menghayati betul  sekarang, apa yang dikatakan si literatur-literatur mengenai remaja itu. Perubahan fisik, hormonal yang begitu melonjak di masa remaja, itu perubahan besar bagi si remaja itu sendiri, yang berdampak pada berbagai aspek kehidupannya. Yang kalau kita gak ngerti, bukan hanya adik-adiknya saja, tapi emaknya pun, bisa  berantem tiap hari sama si gadis.

Pendekatan, cara ngingetin, maupun konten obrolan pun sekarang berubah. bener-bener perlu ilmu baru memang. Konten obrolan yang lagi ngehits sama Azka sekarang adalah, tentang “berat badan”. Minimal satu hari satu kali, dia bilang gini sama saya : “Bu, kok Kaka gendut banget ya, sebel banget ih”… atau ..“Ibu waktu seumur Kaka beratnya berapa kilo?” …atau … “Kok ibu waktu belum nikah kurus banget sih..”.

Di umurnya sekarang ini, saya juga mulai merasa perlu menyampaikan sex education tahap 2. Kalau tahap 1 kan untuk mengenalkan bagian tubuh mana yang boleh terlihat-tak boleh terlihat, yang boleh disentuh-tak boleh disentuh; siapa yang boleh melihat siapa yang boleh menyentuh. Pada Azka, saya mulai jelaskan juga soal pacaran. Bahwa value agama yang kami yakini, tidak memperbolehkan pacaran. Kenapa. Saya tambahkan juga info hasil penelitian teman saya tentang KDP, kekerasan dalam pacaran, terutama kekerasan psikologis yang rentan dialami anak-anak remaja putri. Suka-sukaan itu wajar, boleh. Tapi mengekespresikannya yang harus tau cara dan batasannya.

Yups, sejak kelas 5, tema perbincangan Azka via wa maupun via line dengan temna-temannya, tak lain dan tak bukan adalah….suka-sukaan. Si ini suka sama si itu, Si anu kesengsem sama si ono…sejak setahun lalu saya sudah benar-benar menghargai privacy Azka, gak pernah cek hapenya. Tapi saya minta dia gak mengunci hapenya, dengan janji saya tak akan membuka hapenya. Saya cukup seneng dia terbuka sama adiknya, Umar. Mereka berdua saling terbuka siapa yang mereka suka, dan mereka saling jaga rahasia. Meskipun kayaknya siapa yang disukain Umar berubah-ubah tiap minggu haha…Dan kalau lagi berantem, mereka suka “ancam-ancaman” buka rahasia, tapi saya suka ngingetin kalau kepercayaan masing-masing harus dijaga.

Tentang pacaran, saya dan mas agak strict. Menurut diskusi dengan teman-teman yang udah punya anak remaja, katanya memang tantangan mengasuh anak remaja adalah menanamkan value keluarga. Dan kalau udah terlanggar, susah banget menegakkannya kembali. Apalagi anak-anak jaman sekarang….. bahasanya udah dahsyat, gombal-gombal…..suatu hari pernah Hana bawa selembar kertas…dia yang lagi belajar baca, tanya  tulisan ini isinya apa. Rupanya, itu kertas yang tercecer dari meja belajar Azka. Isinya gini : “Azka, tolong pergi jauh… aduh, saya mulai deg-degan…apa Azka berantem sama temennya…tapi pas baca lanjutannya, saya pengen ketawa banget …. ” biarkan rasa ini hilang seiring waktu” hahaha….

Lalu saya jelaskan juga kalau sekarang ini Kaka udah bisa hamil. jadi pergaulan harus dijaga betul.  Yang terakhir ini, kembali jadi bahan ledekan Hana buat kakaknya. “haha…kakak udah bisa hamil…haha..” katanya …buat dia, hal ini lucu banget kayaknya …mungkin dia bayangin kakaknya tiba-tiba perutnya membesar gituh kkk….

Gambaran di atas, adalah sedikit perubahan yang “visible” dengan perubahan status menjadi ibu dari remaja. Setiap hal, mulai dari masalah hape sampai pilihan sanlat, kalau gak luwes, pokoknya bisa bikin “meledak”. Baik emaknya maupun si remajanya kkkk…NAh ada satu lagi perubahan yang “invisible”.

Beberapa wkatu yang lalu, ada satu kejadian yang membuat saya “menasehati” Umar begini: “mas, nanti kalau kamu cari istri, harus hati-hati loh…gak bisa liat dari luarnya aja. Misalnya terlihat baik, berjilbab, sopan, gak bisa. Harus tau bener nilai-nilai yang dia pegang, apa yang menurut dia baik dan buruk, apa yang menurut dia boleh dan tidak boleh, itu harus kita tau betul. Banyak penampilan yang menipu sekarang mas” …kkkk…gak tau anak umur 9 tahun itu ngerti gak..ini mah emang  emaknya setengah curhat ….. yang pasti, si Kakak langsung nyamber: “dan yang terpenting bu, perempuannya itu, mau gak sama si Umar…haha…”

Tapi bener loh…. saya sekarang mulai kepikiran soal jodoh anak-anak, terutama tentnya Azka haha… Pernah ngobrol sama seorang senior yang ketiga putera-puterinya sudah berkeluarga, dia setuju dengan “nasehat” yang saya sampaikan pada Umar. “Itu sebabnya, ketiga anak saya itu saya arahkan untuk berkenalan dengan anak dari sahabat-sahabat dan teman-teman, yang saya tahu betul, value keluarganya seperti apa Fit” katanya….

Bener ya….mungkin ini alasannya para orangtua dulu suka mengadakan perjodohan … Sekarang, sebagai orangtua, jujur aja…saya mulai bisa menghayati…kayaknya perjodohan dengan seseorang yang menurut kita “baik” itu rasanya lebih aman kkk….Tapi kan ….kalau tanpa cinta…kehidupan pernikahan anak kita bisa hampa….ya..ya…baiklah…tapi usaha boleh kan? “makanya kita harus terus jaga silaturahim sama teman-teman kita yang kita tahu value-nya sama dengan kita” kata si abah….dan suatu hari, saya dan si abah  pernah iseng mengingat-ingat anaknya siapa-anaknya siapa yang “potensial” untuk jadi calon mantu haha….. engga…engga sampai dicatet kok…kalau 10 tahun lagi, mungkin mulai dicatet kkk 😉

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Nia Yulianti
    Jun 30, 2015 @ 23:10:57

    Duh mbak…. lagi lagi tulisan mbak menjawab pertanyaan saya. I feel soooo me. Anak tunggal saya laki laki saat ini berusia 13 thn. Secara fisik tentu saja dia sangat banyak berubah. Dan saya tahu saya juga hrs mulai mengubah cara berkomunikasi dengannya mbak. Tetapi krn saya tak punya ilmu spt yg mbak punyai, saya terpaksa hanya percaya berdasarkan naluri saja bagaimana menghadapi anak remaja. Mmmm rasanya ingin tahu lebih banyak lagi ttg anak remaja mbak… Tulis lebih banyak lagi dong mbak… hehehe… Makasih ya mbak… buat tulisannya diatas dan yg akan datang (ngarep… 😉 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s