senjata-senjata kecil untuk menghadapi pertempuran yang (bisa jadi) besar

Lusa, liburan usai. “Warna” status-status di medsos mulai berubah dari keriaan liburan, ke arah persiapan “kembali ke realitas”. Meski sebagian sudah mulai masuk kerja di minggu ini, tapi tampaknya “gong” bahwa libur tlah benar-benar selesai, adalah lusa, senin tgl 27. Di dunia nyata, lebih terasa lagi. Terutama di tempat-tempat yang menjual baju seragam, sepatu dan alat tulis. Penuh. Saya tau karena sejak siang sampai menjelang maghrib tadi, puter-puter melengkapi peralatan 4 anak yang hari senin akan mulai sekolah.

Empat. Yups, empat-empatnya, dari si sulung sampai si bungsu masuk sekolah tahun ini. Perubahan besar terjadi karena si sulung masuk SMP, si pangais bungsu masuk SD, dan si bungsu yang sebelumnya “sekolah” di rumah, kini mulai masuk PlayGrup. Alhamdulillahnya, emaknya gak ikutan sekolah juga hehe… Buat emak-emak seperti saya, yang harus berangkat kerja plus tanpa pembantu nginep dan suami lebih sering di luar kota, situasi perubahan ini salah satu dampaknya adalah….pagi hari akan semakin hectic! Hana yang biasanya masuk jam 8 dan masih bebas merdeka kalau telat (dan seringnya telat hehe….), kini harus berangkat setengah 7. Azzam, yang seringkali saya tinggalkan dalam kondisi belum mandi karena rewel atau kurang kooperatif, sekarang harus siap berangkat sekolah juga maksimal jam setengah 8. Arah sekolah yang berbeda-beda juga jadi “tantangan” tersendiri. Azka ke Dago, Umar-Hana ke Cimahi, Azzam ke Gerlong, dan saya ke Jatinangor. Kalau pas si abah gak lagi di luar kota (tapi sangat jarang hiks…) alhamdulillah ada Plan B yang membuat bisa bernafas karena ada bala bantuan. Tapi defaultnya without si abah…

Sebenarnya kalau saya bisa nyetir motor atau mobil sih mungkin masalah berkurang ya…cuman ya itu…karena saya tidak (mau) bisa, jadilah tumpuan harapan mobilitas tertumpu pada Pak Ayi, sopir kami. Alhamdulillahnya kini dibantu Pak Nden, kakaknya pak Ayi yang akan khusus jadi sopir pribadi ojek Azka bolak-balik Dago-Sariwangi. Tapi kalau kondisi tahun lalu aja saya sering keteteran, gimana tahun ini ya……hiks hiks….

Dari tadi siang saya mulai mereka-reka rencana dan strategi persiapan pagi. Maklum, waktu 2-2,5 jam menyiapkan anak-anak itu; serasa cuman 2,5 menit pas jreng-nya. Apalagi sekarang…harus mengarahkan si bungsu bersiap juga…plus nyiapin sarapan 4 anak, tambah lagi nyiapin bekal makanan sehat si bungsu …. kalau dibayangin, bikin stress sendiri. Plus lagi, semester ini saya jadwal ngajar  pagi, berarti setengah 9 harus ada di Jatinangor, maksimal setengah 8 dari sekolah Azzam, berarti Hana dan Umar harus berangkat jam 6. Dududududu….

planTadi sore sampai malem, Azka dan Umar sudah dibriefing ulang. Tentang jadwal mandi. Kaka dan Mas Umar di kamar mandi bawah, masing-masing maksimal 15 menit. Mandi langsung setelah sholat subuh. Paling telat jam setengah 6 sampai jam 6. Jam 6 harus udah mulai sarapan, biar sarapannya banyak sampai jam setengah 7. Kaka Azka, bertanggung jawab ngecek dan masak nasi malemnya. Cek galon juga, pesen galon jadi tanggung jawab kaka Azka. Umar, tanggungjawabnya adalah urus diri sendiri on time.

Minggu sebelum mudik saya sudah inspeksi alat tulis, seragam, kaos kaki, sepatu…. Meja belajar, pin board  dan lemari baju udah punya masing-masing….teh Rini yang bantu setrika udah dibriefing seragam masing-masing harus digantung dimana….terakhir, yang suka jadi masalah adalah…kaos kaki. Kalau dalam situasi hectic, adaaa aja godaannya. Salah satunya adalah, lama milih kaos kaki. Akhirnya, tadi malam saya siapin 6 kotak sepatu bekas, lalu saya kasih nama masing-masing 6 anggota keluarga, dan anak-anak diminta nyortir kaos kaki masing-masing.

Moga-moga hal-hal “kecil” kayak gini, membantu pas “jreng”nya mulai lusa. Bukan apa-apa….menurut pengalaman, seringkali hal-hal “kecil” dan “teknis” kayak semacam gini, kalau gak kita “aware”in, bisa jadi sumber stress besar buat emak-emak. Yang paling sederhana adalah, kalau gak disiapin dan hectic banget, nada suara si emak bisa naik beberapa oktaf. Kalau anaknya lagi sensi, respons terhadap nada suara tinggi ini biasanya adalah ….tangisan. Hwa…hiks….kalau situasi udah begini….runyam deh….lalu anak-anak sarapannya dikit….lalu muncullah perasaan itu…perasaan “i’m not a good mother”.

Ternyata dari pengalaman saya dengan beberapa ibu yang merasakan perasaan itu, buat emak-emak …perasaan “i’m not a good mother” itu…..sebuah perasaan negatif yang dampaknya bisa “besar” loh…gabungan dari perasaan sedih, merasa bersalah, kecewa pada diri sendiri, merasa gagal….intinya gabungan perasaan negatif lah… dan perasaan-perasaan itu bisa jadi percik pertama p stress. Yang kalau tak segera diantisipasi, bisa merembet terus…terus dan teruuuuus….Ibu-ibu yang lagi “stress”, mana bisa menemani belajar anak dengan sabar. Ibu-ibu yang lagi “tegang”, mana bisa rileks enjoy ngajak anak main…Ibu-ibu yang merasa “tak sukses”, mana bisa lapang hati menerima masukan suami. Ibu-ibu yang dikuasai perasaan negatif mengenai dirinya, “sumbu”nya akan menjadi “lebih pendek”….

Makanya, dunia ibu-ibu mah memang dunia “hal-hal kecil”. Ngecek misting makanan anak, ngecek tempat minum, ngecek pensil, ngecek serutan, ngecek penghapus, ngecek buku, ngecek galon, ngecek gas, isi kulkas….atau memanage anak ngecek ini-ngecek itu. Coba aja cek “to do list” harian ibu-ibu….baik yang imajiner, yang hi tech maupun yang tradisional tertulis di agendanya….pasti hal-hal “remeh-temeh” seperti di atas. Tapi kalau itu gak dilakukan….dampaknya akan besaaaar….bayangin anak kita nangis pagi-pagi gak mau sekolah karena penghapusnya ilang…atau si balita rewel terus karena mainan kesayangannya gak ketemu….atau kita bingung ternyata telor di kulkas abis…atau galon buat bikin susu ternyata abis…..

Tak ada pertempuran kecil buat ibu-ibu….upaya kecilnya, bisa selalu bermakna besar buat anak-anaknya….

Semangat ibu-ibu !!!!

sumber gambar : http://cliparts.co/planning-clip-art

Advertisements

“Ayah”

C360_2015-07-11-12-57-37-365~2Ternyata, buku yang direncanakan untuk dibaca Syawal, yang saya beli tadi siang jam 13 di Toga Mas, sejam lalu sudah saya tamatkan. Tadinya iseng buka, baca-baca dalam perjalanan tadi sore ke Purwakarta. Lalu iseng dilanjutkan sambil mengawasi Hana dan Azzam riang bermain dengan sepupu-sepupunya di rumah neneknya ini. Lalu diselang ngelonin Azzam, tau-tau tak bisa berhenti.

Buku ini, “gizi”nya sekaliber Laskar Pelangi. Namun dalam novel ini, saya begitu merasa bahwa Andre Hirata, penulisnya, lebih “centil”. Kalau saya analogikan makanan, kandungan gizinya sama dengan Laskar Pelangi, tapi bumbu-bumbunya terasa lebih berlimpah, dan penulisnya memberi perhatian khusus pada penyajiannya, sehingga makanan ini tak hanya nikmat di lidah, tapi sedap juga dipandang. Kalau dianalogikan dengan penyanyi, maka kali ini penulis tak hanya mengandalkan kekuatan vokalnya, tapi sedemikian rupa juga membuat koreografi tampilan yang memikat. Hal ini membuat kita tak mau melepaskan pandangan ke arah panggung, sambil menikmati merdunya suara sang penyanyi.

Ke”berlimpahan” bumbu dalam novel ini, sangat terasa dalam bumbu humornya. Meskipun saat membaca Laskar Pelangi kita pun akan “nyengir-nyengir sendiri”, namun frekuensi dan intensitas “nyengir” kita akan meningkat saat membaca novel ini. Kerasa banget bahwa penulisnya “iseng” banget dan menikmati sekali humor-humor yang ia sajikan dalam novel ini.

Ke”centilan” penulis di novel ini, tampak dari alurnya yang dibuat tak biasa. Dari awal-awal saya sudah menduga bahwa alur-alur yang tak nyambung di bab-bab awal, adalah skenario cermat dari penulis. Tapi penulis berhasil membuat saya menjadi begitu “curious” dengan hal ini. Apalagi di tengah, mulailah alur-alur di awal bab dipertemukan, meskipun hebatnya, tetap….. ujungnya tak terduga. Saya seperti sedang membaca karya-karya detektifnya Agatha Christie….

Di luar  ke “berlimpahan” bumbu humor dan ke”centilan” penyajian alurnya, saya menemukan kesamaan antara isi novel ini dengan Laskar Pelangi dan seri 4 anak mamak-nya Tere Liye.

Nilai-nilai kebaikan yang diungkapkan dengan sangat kuat melalui ketulusan dan keluguan tokoh-tokohnya. Keteguhan untuk menjaga ketulusan itu. Balutan pilihan kata yang begitu kaya, dicampur keluwesan sastra yang indah melalui puisi-puisi yang banyak bertebaran di novel ini, begitu menyenangkan untuk dinikmati. Kalau kembali dianalogikan dengan makanan, kita tak akan rela mengunyahnya hanya 32 kali. Kita akan menguyahnya dalam waktu yang lamaaa….kita nikmati setiap titik rasanya sebelum kita telan.

Salah satu kepiawaian Andrea Hirata yang sangat saya kagumi adalah, bahwa ia, melalui buku-bukunya mampu “menyihir” kemiskinan, kesederhanaan, kegagalan, keterbatasan, dan ke-tiada-an, menjadi begitu romantis. Ia mampu menjalin rangkaian rasa dan peristiwa dari para tokohnya; yang membuat kemiskinan, kesederhanaan, kegagalan, keterbatasan, dan ke-tiada-an itu, menjadi sesuatu yang tidak melemahkan. Efek ajaibnya, setelah membaca novel-novelnya, kita menjadi merasa bahwa menjadi miskin, menjadi buruk rupa, menjadi gagal, menjadi terbatas, itu bukan hal yang memalukan atau menyedihkan. Tapi sesuatu yang bisa kita nikmati. Sesuatu yang amat mahal sekarang ini.

Kemampuannya mengaduk perasaan, membangkitkan emosi yang dalam dalam diri kita, jelas adalah kepiawayan Andrea Hirata yang lain. Cermat sekali ia mengatur alur ceritanya. Mudah sekali baginya memilih rangkaian kata. Tiga bab terakhir, membuat mata berkaca-kaca. Dua bab terakhir, kaca-kaca itu mengalir menjadi air mata. Bab terakhir, saya sudah tak sanggup untuk tak terisak. Dan setengah jam setelahnya, saya masih terisak. Penulis mampu membangkitkan perasaan terdalam tentang makna cinta. Kerja keras. Ketulusan. Kebaikan. Kebaikan. Kebaikan. Kebaikan yang begitu lugu, tulus dan sederhana.

Waktu 6 tahun yang dihabiskan Andrea Hirata untuk menyiapkan novel ini, tak sia-sia. Entah pesan apa yang ingin ia sampaikan melalui novel ini. Tapi pada saya, novel ini berhasil menguatkan keterpesonaan saya terhadap kebaikan, terhadap keluguan, terhadap kesederhanaan, terhadap ketulusan. Novel ini membuat saya meyakini bahwa di tengah dunia yang tampaknya penuh dengan beragam “hiasan”; kebaikan yang lugu itu, ketulusan itu, kasih sayang yang sederhana itu, tetap ada.

Buku ini, dan nilai- nilai yang ada di dalamnya, akan saya wariskan pada anak cucu saya.

Sekarang, mari kita kembali pada Khittah 10 hari terakhir Ramadhan. “Allahumma innafa afuwwun. Tuhibbul afwa fa’fuanni” 😉