Attachment : Bagaimana perilakunya pada setiap perkembangan usia anak? (part two)

Ini adalah tulisan kedua mengenai attachment. Di tulisan pertama, https://fitriariyanti.wordpress.com/2015/08/29/attachment-akar-mengakar-yang-bisa-kita-bekalkan-pada-anak-part-one/ telah dijelaskan apakah attachment itu, dan apa fungsinya buat anak. Di tulisan ini akan dipaparkan bagaimana bentuk perilaku attachment anak pada setiap tahapan perkembangan usianya. Sumber utama yang saya gunakan masih sama dengan di tulisan pertama, namun saya tambahkan aplikasi di kehidupan nyata sesuai pengalaman yang saya ketahui.

secure-attachmentPerilaku attachment anak pada setiap tahapan perkembangan usia bisa jadi sangat berbeda. Namun kesemuanya didasari oleh satu fungsi utama attchment :  PERASAAN AMAN.

Perilaku attachment anak di usia 0-5 tahun

Bayi sampai dengan usia 1 dan 2 tahun menunjukkan bahwa ia memiliki kelekatan emosi dengan figur attachmentnya dengan cara “ingin selalu dekat” dan  “mencari”. Mereka akan menangis dan “rewel” saat berpisah dengan figur attachmentnya. Perilaku takut atau tidak mau berpisah ini, memuncak di usia 2 tahun. Bayi dan anak sampai usia 2 tahun, biasanya mau menjelajah lingkungan, dengan catatan figur attachmennya nerada dekat dengannya. Ia akan mencari jika figur attachmentnya “tidak terlihat”, atau mengajak figur attachmentnya untuk mendekat ke tempat yang tengah ia eksplorasi.

Aplikasinya, biasanya mulai usi 9-12 bulan, bayi sangat takut pada”orang asing”. Ini adalah tanda perkembangan attachment yang normal. Demikian pula bagi ibu-ibu yang beraktivitas di luar rumah dan harus meninggalkan anaknya, jangan khawatir bila setiap pagi anak “ngamuk” gak mau ditinggal. Itu tandanya, ia punya kelekatan emosional dengan ibunya. Itu adalah hal yang baik !

Anak usia 3 tahun, biasanya sudah mulai bisa mengatasi ketakutan berpisahnya. Ia sudah bisa menjelajah hal baru dengan dampingan figur “secondary attachment” (lihat penjelasan mengenai hirarki attachment di tulisan pertama) seperti kakak-kakaknya atau gurunya. Meskipun secara fisik sudah tidak “lengket” lagi, tapi sebenarnya hubungan emosinya terus berlanjut.

Anak usia 3 tahun ke atas biasanya sudah mulai masuk sekolah. Bagaimana caranya mengenalkan orang baru agar anak kita mau “percaya” pada orang baru tersebut, misalnya gurunya? kita harus bekerjasama dengan guru, agar guru bisa jadi figur yang tidak diientifikasi anak sebagai figur baru yang “mengancam”. ada 3 hal yang bisa kita lakukan menurut buku ini. (1) kita bisa membantu guru mendekati anak perlahan-lahan dengan hal-hal yang familiar dengannya. (2) Biarkan anak yang memegang “kontrol” dalam interaksinya dengan guru. Misalnya, kalau anak menjauh, guru pun jangan mendekat. Kalau anak mulai mendekat, maka guru pun mendekat. (3) Jika kita bersikap positif pada guru, maka anak pun akan bersikap positif. Ini namanya social referencing. 

Saya mempraktekkan tiga hal diatas saat sebulan pertama si bungsu, Azzam masuk playgroup. Nanti saya cerita pengalaman saya mendampingi si tiga tahun itu  dari mulai ngamuk dan muntah setiap hari, sampai sekarang pengen sekolah terus meskipun libur, di tulisan yang lain.

Perilaku attachment anak di usia 6-12 tahun

Di usia ini, toleransi anak terhadap keberpisahan fisik dengan figur attachment, semakin meningkat. Mereka tak lagi selalu membutuhkan kontak fisik. Kontak nonfisik; seperti ketika orangtua menelpon anaknya, akan membuat mereka merasakan “aman”. Anak di usia ini masih ingin dekat dengan orangtuanya, namun tidak dalam bentuk kontak fisik yang intensif. Misalnya, saat kita di dapur, si 6-12 tahun ada di dapur juga, tapi engga “nempel”.

Pengalaman saya dengan anak-anak saat umur segini adalah, mereka masih pengen dipeluk, tapi saat-saat tertentu aja, misalnya pas mau tidur.

Perilaku attachment usia remaja (13-19 tahun)

Kita sering mendengar atau mungkin mengalami bahwa anak remaja, justru “malu” dengan kehadiran orangtuanya. Pengalaman saya sendiri, di usia SD kelas 1- 6 awal, biasanya anak-anak pada pengen ibunya datang ke sekolah, misal untuk pengajian. Pas jamnya, bisanya anak-anak nongol, melambai, atau bahkan mendekat. Tapi di usia kelas 6 akhir, saya ingat si sulung Azka bilang “ibugak usah ke sekolah ya”…. apalagi udah SMP, waktu kami mengantar ke sekolah untuk ekskul, Azka bilang: “nanti ibu dan abah parkir di atas aja ya, kaka jalan aja ke kelasnya”.

Apakah anak yang “menghindar” dari orangtuanya berarti mereka tidak “terikat secara emosional” dengan orangtuanya? Kata buku ini, justru sebaliknya. Justru perilaku tersebut adalah hasil dari rasa aman yang diperoleh anak, atau istilahnya adalah “secure attachment”. Mereka, sudah merasa bahwa “ibu dan ayah akan ada untuk aku”, meskipun secara fisik, ia tak melihatnya. Pada saat  mengalami permasalahan, remaja yang memiliki kelekatan emosi dengan orangtuanya, akan “kembali” pada orangtuanya.

Bagi yang punya anak remaja, mungkin memiliki pengalaman yang sama dengan saya. Azka, si sulung kelas 1 SMP yang begitu terbuka menceritakan segala macam pada saya, sekarang tidak seterbuka itu. Diarynya terkunci rapat. Laptop yang berisi cerpen-cerpen hasil karyanya, dikasih password. Apalagi hapenya. Tadinya saya khawatir akan “kehilangan” dia. Tapi sepertinya saya tak perlu khawatir. Ia masih cerita. Saat ia mau cerita. Baik hal-hal yang menyenangkan ataupun  mengesalkan. Yang pasti, kalau  ada kesulitan ia pasti akan “curhat” pada ibunya.

……………

Sudah hampir tengah malam. Tulisan selanjutnya insya allah besok.

 

Advertisements

Attachment; akar-mengakar yang bisa kita bekalkan pada anak (part one)

Sebagai penikmat facebook, saya sangat senang dengan banyak informasi positif yang didapat dari medsos ini. Salah satunya adalah, sekarang banyak sekali infografik dengan visualisasi yang amat menarik mengenai topik agama maupun topik psikologi, khususnya parenting. Salah satu infografik parenting yang banyak dishare beberapa waktu yang lalu adalah infografik mengenai “cara bijak menyikapi anak yang melawan dan ngomong balik”.

Di salah satu grup wa yang saya ikuti, yaitu grup wa Psikopad 97, berisi teman-teman semasa kuliah S1 dulu di attachmentPsikologi UNPAD, terjadi perbincangan seru mengenai infografik ini. Terutama mengenai poin kedua disamping ini. Teman-teman Psikopad 97 yang tak semuanya menjadi psikolog dan tak semuanya terjun ke dunia profesi yang langsung berhubungan dengan psikologi, membuat diskusi-diskusi mengenai topik psikologi di grup ini selalu kritis dan menarik.

Seorang teman dengan kritis bertanya, apa sebenarnya attachment itu. Apa kaitan attachment dengan anak yang melawan. Lalu apa kaitan: (1)  anak yang lahir tanpa direncanakan dan (2) hak menyusui yang tercukup dengan attachment? . Lalu ada juga pertanyaan, apakah attachment itu tetap atau bisa ditumbuhkan? pertanyaan terakhir yang saya ingat adalah, apakah anak yang terlalu lengket artinya attachmentnya sangat baik?

Saya pikir,  infografik yang visualisasinya keren-keren itu, memang lebih baik diposisikan sebagai “stimulus”, bukan sepenuhnya sumber informasi. Infografis yang biasanya isinya adalah poin-poin itu, adalah rangsangan  buat kita cari informasi yang lebih lengkap. Seperti yang dilakukan oleh teman-teman saya. Tanpa pencarian informasi, pemahaman kita akan sangat terbatas, bahkan rentan interpretasi yang semakin menjauh dari kebenaran.

Attachment adalah salah satu topik favorit saya. Dan karena waktu diskusi di wa itu saya sedang super riweuh, maka dalam tulisan ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya. Mengenai kaitan attachment dengan anak yang melawan, saya tak berhak menjawabnya. Bagi yang ingin tahu jawabannya bisa bertanya langsung pada narasumber infografik tersebut.

Yang akan saya uraikan dalam tulisan ini adalah, (1) apakah attachment itu,  (2) bagaimana perkembangan attachment, (3) beragam jenis attachment, (4) stabilitas attachment, (5) dampak attachment, (6) faktor-faktor yang berpengaruh pada attachment. Mmmh…banyak juga ya….wallahu alam bisa beres dalam satu tulisan atau engga. Kemungkinan besar akan bersambung 😉 Referensi yang saya gunakan dalam tulisan ini adalah buku “Child and Adolescent Development in Your Classroom” (Bergin & Bergin, 2012). Buku ini adalah salah satu buku favorit saya, hadiah dari seorang teman 3 tahun lalu.

Apakah attachment itu?

Attachment is a deep, enduring emotional bond between people (Ainshwort, 1973). Attachment adalah ikatan emosional yang dalam dan bertahan lama antara dua orang.  Saya merasa lebih “pas” menerjemahkan attachment menjadi KELEKATAN, bukan kelengketan. Rasa bahasanya berbeda, bahkan kata “kelengketan” maknanya bisa menjadi salah. Ini akan kita pahami dalam bahasan selanjutnya. Dan dalam tulisan ini, akan digunakan istilah kelekatan.  Powerfull attachment children have are with their parents kata buku ini.

Penelitian mengenai attachment muncul di awal tahun 1900an. Saat itu, tingkat kematian anak-anak yatim piatu sangat tinggi. Lalu ada fakta bahwa di panti asuhan, pengasuhnya berganti-ganti dengan cepat. Memang hal ini dimaksudkan agar anak tidak memiliki ikatan emosional dengan salah satu pengasuh, yang bisa mengakibatkan trauma saat harus berpisah dengan pengasuh. Fenomena ini menggugah seorang psikolog untuk melakukan penelitian. Dilakukanlah penelitian mengenai hal ini. Peneliti membandingkan anak-anak yang berad di dua institusi. Satu institusi berisi anak-anak yang ibunya dipenjara, namun mereka bisa berinteraksi dengan ibunya. Institusi kedua berisi anak-anak yang ibunya sangat miskin dan tidak bisa mengasuh mereka. Pad aanak-anak ini, sentuhan jarang mereka dapatkan, demikian juga interaksi sosial. Anak-anak di institusi pertama, ternyata tumbuh dengan normal. Tidak demikian dengan anak-anak yang tumbuh di institusi kedua. Penelitian inilah ynag mengawali penelitian-penelitian selanjutnya mengenai attachment.

Hirarki attachment

Sebagian besar anak bisa lekat dengan lebih dari satu orang, namun orang-orang tersebut biasanya sedikit, dan  sangat selektif. Anak akan membangun “hirarki attachment”, dengan orang yang paling lekat, berada di urutan pertama. Biasanya, yang ada di urutan pertama adalah ibu. Biasanya ya, tidak selalu. Orang-orang yang terbangun kelekatannya dengan anak disebut “attachmnet figure”.  Kita bisa mengidentifikasi siapa figur attachment anak dengan mengamati, siapa orang yang dipilih  oleh anak. Pada siapa anak datang saat ia marah, siapa orang yang dengannya anak sulit untuk berpisah, pada siapa anak datang saat ia lapar, lelah, ngantuk, dll.

Jadi, kalau anak prasekolah kita punya satu orang yang ia ingin selalu lekat, kita harus bersyukur. Justru kalau anak tidak punya “seseorang” atau “beberapa orang” yang ia pilih saat ia merasa tidak nyaman, kita harus bertanya. Kenapa? karena attachment ini memiliki dua fungsi yang sangat penting untuk perkembangan selama hidup anak.

Fungsi attachment

Kelekatan emosi anak dengan seseorang atau beberapa orang, memiliki fungsi:

(1) menyediakan save haven (tempat berlindung) yang aman dari bahaya, dengan adanya figur yang ia rasa bisa melindunginya.

(2) menyediakan secure base (pegangan yang aman) untuk “keluar” mengeksplorasi dunia.

Seperti dua fungsi yang bertolak belakang ya? Sebenarnya tidak. Anak ingin merasa aman. Jika hanya keamanan ini fungsi attachment, maka anak akan selamanya “ngintil” dengan orang tua. Ia akan selamanya “lengket” dengan orangtua/figur attachmennya (inilah sebabnya saya kurang setuju dengan kata “kelengketan”). Justru di satu sisi, anak juga punya rasa ingin tahu dan ingin mengeksplorasi dunia. Menjelajah adalah hal yang memiliki potensial bahaya buat anak. Maka, untuk menyeimbangkan antara kekhawatiran dan rasa ingin tahu yang mereka rasakan, anak menggunakan figur attachmentnya sebagai “secure base” untuk merasa aman saat mereka merasa terancam. Hehe ….abstrak ya….nanti akan lebih jelas di ulasan mengenai perkembangan attachmnet di setiap tahap usia.

Tampaknya tulisan pertama harus berakhir disini. Bertugas ngelonin si bungsu dan si pangais bungsu dulu… moga-moga tak ikut terlelap saat mereka terlelap 😉

To be continued….

 

 

semangat menghukum vs semangat mendidik #wisdom1

Wisdom. Entah kenapa saya lagi kesengsem sama kata itu. Kalau saya diminta memvisualisasikan kata “wisdom”, maka saya membayangkan hal-hal berikut : pohon besar yang kokoh, kuat dan meneduhkan, lautan air yang menyejukkan, pelukan dan usapan di kepala yang lembut.

Buat kita-kita yang udah berkepala 3 (umurnya), kita bisa merasakan bahwa … penambahan usia setiap tahun, tak selalu diringi dengan perubahan “penghayatan” akan usia. Perubahan “penghayatan” itu, mungkin tidak terjadi setiap tahun. Bisa 5 tahun sekali, atau random. Saya mengalami hal demikian. Sampai umur 35, “penghayatan” saya tak berubah, tetap serasa 25 tahun. Tapi di tahun belakang ini, penghayatan saya berubah. Gak tau ya, susah jelasinnya. Tapi yang jelas, sekarang ini saya sangat “concern” pada bagaimana akhir hidup saya nanti. Itu yang amat saya hayati saat ini. Saya juga merasa…. rasanya dari segi pengetahuan, tak banyak lagi “pengetahuan baru” yang saya dapat. Sehingga saya menghayati, mungkin di usia ini memang bukan saatnya mencari pengetahuan baru. Tapi ini saatnya “menata” ilmu-ilmu yang sudah dimiliki selama ini, dalam pikiran dan hati kita.

Oleh karena itu, gak tau kenapa juga saya sekarang lagi seneng banget “bergaul” sama orang-orang yang lebih tua, atau yang memang sudah “tua” secara objektif. Saya tak lagi terlalu “terpesona” dengan dinamis dan konstruktifnya anak muda. Saya lagi kesengsem sama satu hal yang tak bisa diperoleh dari buku, dari workshop, dari pelatihan secanggih apapun. Hal itu, hanya saya dapatkan dari berinteraksi dengan orang-orang yang sudah menjalani kehidupan ini, lebih lama dari saya. Hal itu, saya sebut “wisdom”. Apa ya, bahasa Indonesianya? “arif”. “kearifan”.

Salah satu wisdom yang saya pelajari dari para senior saya adalah, semangat yang kita miliki saat kita melihat hal yang “tidak baik”. Saya memperhatikan, orang-orang yang belum punya “wisdom”, cenderung menghukum. Sebaliknya orang-orang yang sudah punya “wisdom”, benar-benar mendidik. Abstrak. Contoh konkritnya, begini:

Di awal-awal menjadi dosen, saya pernah “mengusir” seorang mahasiswa keluar dari kelas saya. Karena mahasiswa itu melakukan sesuatu yang menurut saya sangat tidak pantas. Beberapa tahun setelahnya, saya mengajar dengan seorang senior. Di salah satu kelas yang kami ajar, ada seorang mahasiswa yang beberapa kali pertemuan kami mengajar, jelas-jelas tidak memperhatikan. Dia malah membaca novel, dengan sangat demonstratif. Maksudnya demonstratif itu, dia tidak berusaha membacanya dengan sembunyi-sembunyi. Tapi novel yang ia baca itu ia letakkan di atas kursi, sehingga kami dosennya bisa melihat dengan jelas. Saya jengkel sekali. Saya lalu bilang ke dosen senior bahwa mahasiswa itu harus diberi konsekuensi.

Di luar dugaan saya, senior saya tidak menyetujui. Beliau berkata begini: “mungkin dia anak “aksel”. Mungkin kuliah ini terlalu mudah buat dia sehingga ia tidak merasa tertantang. Mungkin cara kita menyampaikan juga kurang menarik buat dia”. Tadinya saya bertanya-tanya apa alasan dari dugaan itu. Tapi ketika senior saya bertanya novel apa yang sedang dibaca oleh mahasiswa itu dan saya jawab novel berbahasa Inggris, saya jadi manggut-manggut sendiri.  Dan pelajaran berharga itu saya dapatkan saat minggu depannya, senior saya mengajak mahasiswa tersebut “ngobrol”. NGOBROL dalam artian sesungguhnya. Tak ada nada “superior”. Yang beliau sampaikan fakta, dan sangat terasa beliau “menyetarakan diri” dan “mendengarkan”.

“Kami melihat anda selama beberapa pertemuan ini tidak memperhatikan kuliah, anda sepertinya sangat asik membaca novel. Boleh kami tau, itu novel tentang apa?” si mahasiswa pun mengeluarkan novel tebal berbahasa Inggris dengan tata bahasa “advance” itu, lalu dengan semangat ia menceritakan isinya. Senior saya benar-benar mendengarkan dan menanggapi dengan antusias. Lalu senior saya menyampaikan kekagumannya pada mahasiswa itu, bagaimana kemampuan bahasa inggris mahasiswa itu begitu baik. Oh, ternyata memang anak ini sering mewakili sekolahnya untuk pidayo sampai debat ke luar negeri, dengan tentu saja menggunakan bahasa Inggris. Lalu mulailah senior saya bertanya, bagaimana pendapat si mahasiswa mengenai kuliah kami, masukan apa yang bisa ia berikan untuk kuliah kami, apa yang ia butuhkan dalam kuliah ini, apa konsekuensi buat dia kalau ia terus berperilaku seperti itu… diskusi gimana caranya mengubah perilaku itu menjadi lebih baik….

Ajaibnya, minggu depannya, si mahasiswa tsb terlibat sangat aktif dalam diskusi kelas. Senior saya benar. ia mahasiswa yang cerdas, sangat kritis. Rajin membaca materi yang akan didiskusikan, mengaitkan dengan situasi nyata dan bisa mengelaborasikan materi kuliah yang satu dengan materi kulaih lainnya.

“Semangat” saya untuk memberikan “konsekuensi” pada mahasiswa ini, adalah “semangat menghukum”. Apakah saya benar? benar. Apakah saya berhak? saya berhak. Namun “semangat” senior saya pada mahasiswa ini, adalah “semangat mendidik”. Ia “menyelamatkan”, bukan “memvonis”. Ia “peduli”, bukan “menuntut”.

Ada beberapa peristiwa lain yang semakin mengajarkan saya bedanya semangat mendidik dan semangat menghukum. Saat menghadapi mahasiswa yang selalu tertidur di kelas, menghadapi mahasiswa yang selalu terlambat masuk kelas, saat menghadapi mahasiswa yang “menghilang” di tengah semester….

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, menurut penghayatan saya, agar kita memiliki “semangat mendidik” dan bukan “semangat menghukum”, maka yang harus kita miliki adalah :

  • Cakrawala pengetahuan yang luas. Dalam contoh diatas, kalau senior saya tak tahu dan tak memahami karakteristik anak “cerdas istimewa”, maka akan lain ceritanya sikap terhadap mahasiswa tersebut. Kalau kita tak tahu bahwa ada 4 alternatif untuk menjadi baik, maka kita hanya akan “mengukur” kebaikan itu dengan satu penggaris yang kita tau.
  • Kesediaan untuk mendengarkan. Ah, MENDENGARKAN ini, klasik banget tapi…..susah banget. Secara filosofis, mari kita renungi.  Kita hanya  mau mendengarkan jika seusatu itu kita rasa “berguna” bukan? berarti, kalau kita gak mau mendengarkan, kiat sudah men-judge bahwa yang akan ia katakan tidak berguna. Lebih parah lagi, kita mungkin menilai bahwa orang tsb “tidak berguna”. Nah, untuk mau mau “merendahkan diri” dan menilai bahwa apa yang akan dikatakan orang lain bisa jadi berguna, bisa jadi mengandung kebaikan, bisa jadi mengandung kebenaran, itu perlu seseorang dengan “hati seluas samudera”. Itu wisdom.
  • Percaya bahwa dalam diri setiap orang, ada kebaikan dan setiap orang itu ingin menjadi baik.  Kalau senior saya tidak percaya pada mahasiswa yang mengatakan bahwa ia terlambat karena ia “insomnia”, maka tak akan mungkin mahasiswa itu kemudian mau diarahkan ke TPBK untuk mendapatkan layanan konseling, lalu terkuak masalahnya yang cukup kompleks, dan kemudian ia bisa dibantu untuk menyelesaikannya.

Bener kan, hal-hal diatas gak akan bisa kita dapet dari hal-hal lain selain melalui pengalaman yang kita hayati? Bahasa agamanya “hikmah”. Dengan penghayatan di atas, saya jadi paham betul…. bahwa saat kita menjadi ibu, saat kita menjadi “dai” yang mengajak orang lain agar selamat dunia akhirat, semangat “mendidik” itu yang harus kita miliki.

Mengatakan kwisdomebenaran, mengajak kebaikan, mengatakan ini salah itu keliru…. siapapun bisa melakukannya.Tapi mengatakan kebenaran tanpa meremehkan, mengajak kebaikan tanpa menyalahkan, mengatakan ini salah itu keliru tanpa mempermalukan,  tak semuanya bisa melakukannya. Hanya orang-orang yang punya “wisdom” yang bisa melakukannya.

Semoga Allah mengkaruniai kita kemampuan untuk belajar menjadi “arif”.

 

sumber gambar : http://www.lifehack.org/articles/communication/what-are-the-differences-between-knowledge-wisdom-and-insight.html

Cita-cita Remaja Zaman Sekarang

Beberapa waktu lalu, saat Azka lulus dari SDnya, bersama dengan foto wisuda, ia pun mendapatkan buku angkatan. Yang excited liat buku angkatannya, gak cuman dia. Tapi adik-adik dan emaknya juga hehe… Bukunya bagus, di dalamnya ada foto-foto ke-71 teman seangkatan Azka yang sebagian besar sudah saya kenal. Selain nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan pesan untuk teman-temannya, mereka juga mengungkap cita-cita mereka.

Cita-cita yang mereka ungkap, itu yang menarik perhatian saya. Jaman kita dulu, cita-cita yang kita ungkapkan tak begitu beragam; paling-paling …dokter, insinyur, pilot, polisi, tentara, astronot, presiden. Jaman saya remaja, gak ada temen yang bercita-cita jadi psikolog hehe… lha wong saya sendiri engga kok kkk…

Tapi udah beda banget dengan cita-cita anak sekarang, saya senyum-senyum sendiri bacanya. Secar umum, cita-cita anak jaman sekarang dibandingkan cita-cita anak jaman dulu lebih beragam dan lebih spesifik. Ada yang mau jadi psikolog, profesor fisika, ahli kimia, chef, fotografer, desainer handphone, atlet basket, dan Azka sendiri ternyata menuliskan cita-citanya: penulis novel hehe….Yang bikin saya terharu, ada beberapa diantara teman-teman Azka, yang menuliskan cita-citanya adalah : “kuliah di Standford University”, kuliah di “Harvard Medical School”. Gak tau ya, saya sampai berkaca-kaca bacanya.

Apa makna dari cita-cita yang mereka ungkap? bahwa wawasan pengetahuan anak-anak jaman sekarang, jauuuuh lebih luas dibanding kita dulu. Spesifikasi yang mereka ungkapkan, bisa jadi indikasi minat mereka.

Minat. suatu kata sederhana yang… ternyata akan sangat “merepotkan” dan “merugikan” kalau tak dimiliki sampai dewasa. Berapa banyak mahasiswa yang DO kuliahnya, bukan karena mereka tidak pintar. Tapi karena mereka merasa “gak minat”, namun saat ditanya “jadi minat kamu apa?” menggeleng. Berapa banyak dewasa yang membutuhkan pemeriksan psikologi untuk  “bimbingan karir”, karena merasa “gak menemukan pekerjaan yang disukai”, lalu saat ditanya “apa pekerjaan yang kamu sukai?” bingung.

i-have-a-dream-520x336Minat: menghayati apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, adalah cikal bakal yang terus harus dipupuk pada anak-anak dan remaja kita. Punya makanan kesukaan, punya film kesukaan, punya pelajaran favorit, punya guru favorit, punya kegiatan yang disukai….. itu adalah penghayatan yang penting. Konon katanya remaja adalah masa “pencarian jatidiri”. Jangan sampai ketika mereka telah selesai melalui masa remaja mereka, mereka masih belum “kenal” siapa diri mereka, mereka belum menghayati apa yang menjadi minat mereka, apa cita-cita mereka.

Karena perasaan itu, makna katanya sama dengan motivasi. “Menggerakkan”

sumber gambar : https://windamaki.wordpress.com/deklarasi-2014-_9/

menyelami dunia remaja : dari siapa kita berguru?

Pada beberapa tulisan sebelumnya saya sudah sampaikan, bahwa tahun-tahun ini, keluarga kami masuk ke tahap perkembangan baru. Family with teenager. Hal ini “resmi” setelah si sulung Azka menjadi remaja.Ternyata benar, “perubahan hormon” itu nyata adanya. Perubahan emosi dan perilaku itu, nyata adanya. Perubahan bentuk tubuh itu, sangat nyata.

Namanya juga hal yang baru, pasti bikin kaget. Baik kaget yang menyenangkan maupun kaget yang mengesalkan. Tak hanya untuk anaknya, tapi juga buat emaknya. Status sebagai ibu seorang remaja, dengan tantangan baru….. menjanjikan banyak pembelajaran yang sangat menarik. Dan….sebagai “new comer”, saya mencoba menyiapkan diri dengan baca buku, sampe beli khusus buku Adolescence karya Sterberg 2014 (yang baru saya baca sampai bab tentang perubahan fisik, lalu gak sempet tersentuh lagi selama dua bulan sampai sekarang), lalu sering-sering ngobrol sama ibu-ibu yang udah duluan punya anak remaja untuk tau pengalamannya, dan…. last but not least, saya belajar dari aktor utamanya langsung: si remaja itu sendiri, Azka dan teman-temannya. Beberapa kali saya menyatakan pada Azka, bahwa “ibu harus belajar nih dari Kaka tentang remaja…ibu gak tau remaja sekarang tuh kayak gimana”. Beberapa kali saya minta izin baca percakapan di grup line nya Azka.

Banyak hal-hal yang membuat saya angguk-angguk saat menyaksikan, mengobrol, membaca postingan di facebook atau membaca obrolan di line group Azka dan teman-teman. Cucok dengan yang ada di buku. Tapi tak jarang saya terkaget-kaget juga….banyak hal di luar dugaan saya.

teenagers_quotes_about_parents_6310548Oleh karena itu, saya juga ingin mengajak ibu-ibu lain, hayu kita belajar tentang remaja dari si remaja itu sendiri. Mengamati, mendengarkan….. porsinya haruuuuus lebih banyak daripada berbicara. Yups, mereka butuh arahan. Mereka sangat butuh nasehat. Tapi mereka akan membanting pintu kamar dan pintu hati mereka kalau kita tak mendasarkan apa yang kita arahkan dan apa yang kita nasehatkan, pada apa yang mereka pikir, rasa dan hayati.

Saya ingat beberapa waktu yang lalu, seorang senior yang concern ke masalah remaja mengajak saya buat booklet-booklet populer mengenai bagaimana sebaiknya orangtua “mendekati, menyikapi” remaja. Waktu itu, saya tak tertarik. Sekarang, waktu saya ketemu beliau, saya bilang….bener!!!! ilmu itu diperlukan banget sama ortu remaja !!! Pendekatan pada anak remaja itu harus beda banget !!! something new banget !!! Kita harus luwes banget “mengolah peran” sebagai sahabat yang mendengarkan dan memahami dan  sebagai orangtua yang memberi batasan, memberi arahan yang bertanggung jawab.

Di tulisan-tulisan selanjutnya, khusus dalam folder remaja,  saya akan berbagi pengalaman bagaimana saya belajar jadi ibu dari seorang remaja putri.

Semoga bermanfaat.

sumber gambar : http://www.relatemnk.co.uk/spage-services-parenting_troubled_teenagers_.html