emergency exit buat persoalan akademik si remaja

Sejak saya dengar suaranya di telpon saat saya masih di perjalanan sore tadi, saya tahu si sulung lagi bete. Dan itu terbukti dari raut wajahnya saat saya sampai rumah. Kayaknya bete banget. Hari-hari si remaja putri ini memang sangat fluktuatif emosinya. Adik-adiknya juga pada takut dan memilih menjaga jarak, takut kena semprot si kaka.

Kalau saya amati, emosinya memang lebih sering negatif. Kesel, marah. Dan menurut saya, itu wajar. Selain karena faktor keremajaannya, ia masih sedang masa adaptasi dengan sekolahnya. Adaptasi yang….kalau saya hayati, cukup berat juga. (1) Adaptasi rutinitas. Jam 6 pagi sudah dijemput, sampai rumah jam 6 sore. (2) Adaptasi tuntutan. Tuntutan dari dalam dan luar rumah terhadap anak SMP berbeda dengan tuntutan terhadap anak SD. (3) Adaptasi tuntutan akademis. Kalau ngintip buku-buku SMP, gileeee materinya kayaknya gak jauh beda sama materi jaman dulu kita belajar nyiapin untuk UMPTN. PLus metoda pembelajarannya yang banyak presentasi. (4) Adaptasi konteks sosial sekolah baru. Saya jadi ingat, dulu pernah diskusi sama seorang teman yang jadi psikolog sekolah. Azka kan masuk sebuah SMP IT yang ada SD-nya. 80% murid SMPnya, ya dari SD tsb. Jadi kebayang, sudah terbentuk dinamika sosial selama 6 tahun dari 80%teman-temannya. Dia dan teman-temannya dari SD “luar”, pastilah jadi “outsider” dan butuh proses untuk lebur. Memang proses sosial dalam konteks seperti ini menjadi lebih sulit adaptasinya, dibandingkan yang masuk SMP negeri misalnya, yang memang bener-bener bentuk kelompok baru.

Jadi, saya kebayang bertapa “berat” beban psikologis yang harus ditanggungnya. Saya coba kasih dia ruang. Kalau lagi bete gitu, saya kasih privasi. Adik-adiknya, udah tau kalau sebaiknya gak ganggu kaka. Biasanya, kalau dia udah siap cerita, dia akan datang ke saya dan cerita apa yang bikin dia sebel dan kesel. Kalau engga, pas saya sudah gak repot dengan adik2nya dan kondisi emosi saya pun oke, saya suka masuk ke kamarnya, ngajak dia ngobrol.

Ternyata malam ini, dia yang mendatangi saya. Dengan muka kusut, dia cerita kalau besok akan remedial ulangan IPS terpadu. Seangkatan diremedial, katanya. Dan dia gak ngerti materinya. Sudah sebulan terakhir ini memang saya mengalokasikan waktu khusus untuk nemenin dia belajar. Bukan nemenin deng…ngajarin dia materi pelajaran. Terutama matematika pastinya, yang dia rasa rumit banget. Memang kalau dilihat tingkat kesulitannya, seperti yang udah saya bilang….materinya teh asa materi jaman dulu ngulik pas mau persiapan UMPTN. Kalau dari segi potensi sih,  saya percaya Azka cukup mumpuni. Cuman masalah klasiknya di Indonesia kan….sistem pembelajaran kurang mendukung terbentuknya “pola pikir” dan “struktur berpikir” yang bertahap pada anak. Media pembelajaran kurang memfasilitasi pemaparan materi dalam cara yang dimengerti sesuai tahap perkembangan kognitif anak. Jadilah, saya guru matematika. Plus malam ini, guru IPS terpadu.

Tadi malam, karena masih riweuh dengan si bungsu dan si pangais bungsu yang masih aktif rebutan ngomong untuk cerita (padahal ya, tadi mereka sore berdua jemput saya ke jatinangor, lalu keliling-keliling cari baju buat manasik haji hari Jumat dan sepanjang perjalanan, ngomooooong terus. ceritaaaa terus. rebutan ceritaaaa terus. Tapi gak abis-abis tuh bahannya …hehe) saya tanya “kaka kan udah ibu ajarin bikin mind map”. “Iya tapi pusing banget, gak ngerti..”katanya setengah mau nangis

Akhirnya, saya ajak dia buat bikin mind map barengan. Materinya mengenai proses pembentukan permukaan bumi. Ah, kebetulan minggu depan saya akan ngajar mahasiswa gimana caranya baca buku, gimana caranya  nangkep struktur bacaan. Saya pun orat-oret…sambil nunjukin gimana caranya nangkep struktur bacaan. Tapi bentar…bentar…bentar….aduh…hiks…ini emang bukunya, bahan bacaannya, strukturnya gak bagus. Gak runtut. Mau bikin mindmap teh, susah banget. Harus baca bolak-balik untuk memahami gimana sih kerangkanya. Ya ampuuuun….pantesan aja 72 anak di sekolah Azka gak ngerti semua…gak cuman Azka yang pengen nangis. Saya juga ……Yah, ini adalah masalah klasik lagi. Banget. Menulis itu, tidak mudah. Menulis, kalau tujuannya membuat orang lain paham, tidak mudah. Apalagi menulis buku untuk anak. Kita harus bener-bener paham dan mau empati, pola pikir anak kayak gimana sih…..Kita harus berpikir keras,  struktur bacaan yang mudah dicerna anak. Pilihan katanya, lay outnya…..

Akhirnya, saya bilang ke Azka, tidur aja dulu. Saya nidurin adik-adiknya dulu. Nanti sebelum sahur akan saya bangunkan, untuk belajar. Saya bilang saya juga butuh waktu untuk paham materinya dan buatin dia mindmap. Saya menangkap raut tak percaya di wajahnya. Haha…memang sih, anak-anak saya tau kalau saya udah bilang “nanti”, itu mereka akan ingetin terus….apalagi kalau adik-adiknya masih bangun. Saya ngerti banget Azka setengah gak percaya. Mungkin di dalam hatinya bilang “yakin, ibu gak akan ketiduran bareng sama adik-adik?” kkkk…. Dan memang itu kejadian…saya ikut tertidur seiring tidurnya Azzam dan Hana….

DSC_0348Tapi jam setengah 2 tadi, saya bangun. Saya inget PR saya. Lalu saya pun mulai baca. Bolak-balik. Gileee materinya pedet banget…banyaaaak banget…Nama-nama batu, jenis-jenis gunung, sedimen, istilah-istilah ajaib seperti epirogenetik, hiposentrum, dll dll. Lalu saya lihat latihan soalnya. Hafalan mengenai istilah-istilah itu. Ah, pantes aja anak-anak di Indonesia pada umumnya benci IPS. Emang paparan materi dan soal-soalnya menyebalkan. Bener….apa sih tujuan pembelajarannya? padahal ya, materi intinya tuh menarik loh. Tentang gimana relief di muka bumi ini terbentuk. Dipengaruhi dua energi. Endogen dan eksogen. Endogen itu apa, gimana prosesnya, reliefnya jadi apa. Demikian juga eksogen.  Tapi kayaknya kalau dari paparan dan soal latihannya, bukan “big picture”nya itu yang dituntut dipahami, tapi detil-detil hafalan yang saya gak yakin akan dibutuhkan oleh anak-anak umur 12 tahun.  Itu, mindmap yang saya bikin itu, cuman big picturenya doang loh…detil hafalannya, masih banyak.

Setelah selesai, saya bangunkan Azka. Saya jelaskan, saya coba kasih ilustrasi dengan contoh-contoh pengalaman dia. Saya perhatikan, wajahnya awalnay sangat kusut, tapi saya coba yakinkan lagi, ceritakan lagi inti materi itu, bahwa ini bisa dipahami. Lalu kita bareng-bareng isi soal latihan.

Anak SMP, dibikinin mindmap? dijelasin? mana kemandirian belajarnya? saya menyebut apa yang saya lakukan sebagai “emergency exit”. Pintu keluar emergency. Kenapa? karena telah terjadi “kebakaran” dalam diri Azka. “Kebakaran psikologis” yang bisa berdampak fatal dan jangka panjang. Apa itu? (1) Hilangnya motivasi belajar. (2) Gak tau gimana menyelesaikan masalah. Helpless. Dua hal yang sangat gawat kalau sampai terjadi.

Saya berharap yang saya lakukan, bisa membantu dia terhindar dari dua dampak di atas. Meskipun saya menjanjikan “ice skating” kalau dia bisa mencapai KKM, tapi bukan itu tujuan utama saya. Saya berusaha agar ia tak apatis, kehilangan motivasi dan perasan tertantang. Konon katanya, motivasi berprestasi itu tumbuh jika tingkat kesulitan yang kita hadapi adalah moderat. Artinya, menantang tapi mungkin untuk kita tundukkan. Nah, kalau 72 anak diremedial, berarti tantangannya tak moderat. Faktor media buku dan metoda pengajaran berarti tak membantu. Nah, kalau anak mengalami kesulitan dan ia merasa tak ada yang membantu, bisa frustrasi dia. Dampaknya, bisa merasa “tak berdaya”. Ini sikap mental yang bahaya banget. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa masalah ini bisa diselesaikan. Bahwa I’m here with you.

Mmmmhhh….pada dasarnya, setiap hari-hari  yang anak-anak kita jalani, adalah ujian kehidupan ya…Pikiran dan perasaan yang mereka alami sehari-hari, akan tersedimentasi menjadi “relief” kepribadian mereka. Saat dunia “tak ramah”, kurikulum “tak ramah”, buku pelajaran “tak ramah”, metode pelajaran “tak ramah”,  maka ya…. tinggal kita orangtuanya ya, yang harus jadi “jangkar pelindung psikologis” mereka. Dan kita pasti bisa….kita punya energi endogen  dan eksogen yang berlimpah …. Rahman dan Rahim Nya, yang ia titipkan pada kita.

Advertisements

mantra ajaib dari seorang remaja untuk ibunya

Minggu lalu, setelah beraktivitas seharian di hari senin, tiba-tiba malamnya tubuh saya menggigil. Ternyata, itu awal dari demam selama dua hari, lemes dan gemeter plus vertigo empat hari setelahnya. Maka, praktis seminggu kemarin saya tak bisa beraktivitas. Hanya jempol yang bisa beraktivitas. Beberapa diskusi dengan mahasiswa tak bisa ditunda. Demikian pula beberapa koordinasi pekerjaan tak bisa menunggu.

Setiap kali sakit, saya selalu merasa “stress”. Kenapa? karena itu berarti anak-anak akan terlantar. Dalam arti yang sebenarnya. Gak ada yang masakin. Gak ada yang ngurus. Stres semakin meningkat saat pagi hari. Azka si sulung, tak bisa bantu karena jam 6 jemputannya sudah datang. Semandiri-mandirinya Hana, anak kelas 1 SD itu tetap saja belum bisa diandalkan mandiri sepenuhnya. Nyiapin sarapan, turun tangga dalam kondisi vertigo plus lemes itu…tak mudah. Apalagi si abah sedang full di luar kota.

Hari Senin kemarin, meskipun belum fit betul, saya sudah buat janji bimbingan dengan 7 mahasiswa saya. Mereka sedang semangat mengejar lulus bulan depan. Tak tega kalau target mereka mundur karena saya. Pagi-pagi, dapat kabar bahwa ibu teh Rini, istri pak Ayi sopir kami yang bantu membereskan rumah plus menjaga Azzam si bungsu selama saya beraktivitas, jatuh di kamar mandi. Memang kondisinya belum sepenuhnya pulih dari stroke. Pak Sopir pun izin absen karena harus bawa mertuanya tersebut ke rumah sakit. Mmmmhhh….padahal sudah berharaaaaap banget nanti pulang, rumah dalam kondisi kinclong. Maklum, di weekend, justru ketika anak-anak full beraktivitas di rumah dengan segala “kreativitas”nya, saya belum kuat juga untuk beberes. Meskipun berbagi tugas dengan Azka, namun kecepatan beberes kami tak sanggup menandingi “kreativitas” dan “eksplorasi” si bungsu dan pangais bungsu yang membuat rumah seperti kapal pecah.

Baiklah. Jadi, di pagi senin “terpaksa” saya harus membawa si bungsu ke kampus. Membawa si bungsu yang super cerewet dan super aktif serta belum bisa menunggu lama, untuk bimbingan 7 mahasiswa? Segera saya sampaikan pada si 3,5 tahun itu : “dede, dede ikut ibu ke kampus ya. Tapi disana nanti, dede tidak rewel ya, ibu akan beliin mainan dan makanan. Nanti ibu ngobrol sama mahasiswa ibu, dede main dan makan ya, tidak mengganggu. Kalau dede mau menunggu dan engga rewel, nanti dede boleh main playground di borma”. Dan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, dalam perjalanan ke kampus pake ojek, saya pun mampir ke Yens. Beli beberapa set playdough bersama alat-alatnya. Lalu mampir Yomart. Beliin segala macem cemilan. Sambil terus berdoa, semoga si bungsu sholeh, mau kooperatif sampai jam 13 nanti….

Alhamdulillah….selesai juga bimbingan 7 mahasiswa. Tentunya, mahasiswa yang menunggu, ada yang jadi “pengasuh” Azzam karena ….seperti yang saya prediksi, dia baru bisa “menunggu” dua jam-an. Itu juga udah “amazing” banget ….Setelah dua jam, di apun tak lagi tertarik dengan playdough, buku stiker maupun beragam cemilan kesukaannya. Minta ditemenin main. Minta  jalan-jalan.  Jam 13, harus meluncur ke Cimahi jemput Hana. Jam 11 tadi saya dapat kabar bahwa mertu pak Sopir wafat. Baiklah, jemput Hana pake ojek.

Kirain si bungsu lupa janji ke borma. Eeeh…nagih. Baiklah. Plus Hana juga nagih minta eskrim karena jumat lalu mau diimunisasi di sekolahnya, tanpa menangis. Biasanya saya gak sanggup bawa dua anak itu ke swalayan sendiri. Kenapa? ibu-ibu yang punya anak balita, tau gimana repotnya bawa balita ke swalayan.  Tapi gimana lagi. Saya udah janji. Jadilah dengan sisa tubuh yang masih meriang-meriang dikit plus laper, harus nemenin dulu main di Borma. Syukurnya Azzam udah bisa dikasih “jatah” koin dan udah ngerti ketika koin habis harus pulang. Jam stgh 3, pulang dari Borma naik ojek dengan dua anak, bawa balon hadiah, dengan pantat setengah nempel di motor dan setengah lagi gak muat….setengah pusing karena belum sempet makan siang. Mau pake taksi? gak dapet-dapet hiks…

Kebayangna sampai rumah…pengen rebahan… o ow….lupa…tadi kan ninggalin rumah dalam kondisi berantakan bekas ekeplorasi anak-anak di weekend. Pas buka pintu rumah, rasanya setengah pengen nangis setengah pengen pingsan. Apalagi baca pesan teh Rini kemudian kalau beliau izin gak masuk samapi tujuh harian wafat ibunya. Sedangkan minggu ini, jadwal sudah disusun padat untuk “bayar” seminggu kemarin.

……….

Setiap membuka mata di pagi hari, sejak tidak ada yang bantu, saya selalu menaik nafas panjaaaaaang….diiringi doa agar hari ini, diberi kekuatan. Jujur saja, tidak mudah mengatur aktifitas  kegiatan di luar rumah yang kian padat disaat yang sama dengan mengelola anak-anak, fisik dan psikologisnya. Plus spiritualnya juga kali ya….dengan support yang saya punya. Tapi ya…gimana lagi…..berkali-kali, selama beberapa tahun ini cari pembantu nginep, belum jodoh aja. Ada yang cuman setengah hari lah, ada yang seminggu lalu pergi tak kembali dengan membawa beberapa barang berharga, ada yang pas dijemput tiba-tiba berubah pikiran. Intinya, kesimpulan saya, belum rejeki kami.

Berhenti bekerja? saya dan mas sudah sepakat tak memilih itu. I Love My Job. I Love My Family too, of course. Maka, mari kita jalani saja konsekuensinya. Badan letih, pikiran penuh, emosi bergejolak nano-nano, sudah biasa. Apalagi ditambah kurikulum 2013 yang dijalanin Umar dan Hana. Kurikulum yang menuntut keterlibatan dan kreativitas ortu itu, terus terang membuat saya kewalahan juga. Saya cuman minta satu ke Allah. Agar saya jangan cengeng. Nangis, itu salah satu kekuatan saya. Tapi nangis beda sama cengeng.

Hari Senin itu, saya pun merasakan kelelahan luar biasa. Tapi ada satu mantra yang selalu terngiang selama saya menjalani hari Senin itu. Mantra yang entah bagaimana, memberikan kekuatan super buat saya. Mantra itu, bergaung dari awan putih yang berarak saat saya menatap langit sambil berdoa agar si bungsu “kooperatif” pagi hari saat saya akan membawanya ke kampus. Mantra itu, menggema dari  pohon-pohon yang saya lewati dalam perjalanan membawa dua anak di siang hari terik di ojek, dalam kondisi pening dan lelah. Mantra itu, memantul dari dinding-dinding  saat saya melihat berantakannya rumah. Mantra itu, bergema saat saya membaca sms bahwa teh Rini izin tidak masuk sampai tujuh hari ke depan.

Mantra itu, adalah kalimat yang saya baca sebulan lalu.

Malam itu, saya mengintip tugas Azka. Ada mata pelajaran “leadership” di sekolahnya. Sampai jam setengah 12 malam, ia menyelesaikan tugas mata pelajaran itu. Tugasnya adalah, membuat tulisan tentang dirinya di karton manila. Tentang diri, dan orang-orang yang paling berpengaruh dalam dirinya.  Saya baca bagaimana ia menggambarkan dirinya, keinginannya, cita-citanya. Ada gambar saya dan abahnya, ia tempel di bagian “orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku”.

Saya baca tulisannya tentang ayahnya. Rangkaian kalimatnya, membuat saya berkaca-kaca. Lalu saya beralih pada tulisannya tentang ibu.  “Ibuku adalah harta terbesarku karena ia mengandung, melahirkan dan merawat serta mendidikku…..bla..bla..bla..”. Hmmmm…kalimat yang normatif. Kalimat terakhir yang menarik perhatian saya. “Dari ibu aku mengerti hidup itu apa. Bahwa hidup tak selalu senang. Aku jadi tau bahwa hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan.”

Saya baca berkali-kali kalimat itu. Saya berusaha keras mengingat, kapan ya saya mengajarkan kata-kata itu. Saya memang banyak sekali “memberi pesan”. Semua hal yang saya hayati dan saya anggap penting, saya sampaikan pada anak-anak. Tapi rangkaian kalimat itu….rasanya saya tak pernah sampaikan.

Sampai berhari-hari kemudian, saya masih tak ingat kapan saya menyampaikan kalimat itu padanya. Sampai akhirnya saya menyerah….saya tak ingat. Mungkin itu bukanlah apa yang ia dengar, namun  apa yang ia hayati dari pengalamannya berinteraksi dengan saya. Apakah itu hal yang bagus? saya tak tahu.

Tapi entahlah… sejak hari itu, setiap kali saya merasa “lelah” dan rasanya “tak sanggup” menghadapi tanggung jawab saya di dalam dan di luar rumah,  kalimat itu terngiang-ngiang selalu. Setiap kali saya merasa “putus asa” karena tak punya waktu untuk finishing touch naskah buku yang tergolek di meja saya sejak beberapa bulan lalu, kalimat itu terdengar. Saat saya terpaksa harus menutup laptop padahal sedang seru baca jurnal karena Azzam rewel, terngiang kalimat itu. Saat saya merasa “putus asa” membayangkan kapan saya bisa sekolah lagi, saat saya harus melerai pertengkaran si bungsu dan si pangais bungsu, saat saya harus menahan kesal karena untuk kesekian kalinya lembaran penting Umar terselip entah dimana… saat si bungsu  membuka mata saya dengan paksa ketika saya tertidur di tengah membacakan cerita untuknya, ketika tubuh terasa amat lelah tapi tak bisa istirahat ….kalimat itu selalu terdengar.

Hidup itu tak selalu senang. Hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan.

Kalimat itu, entah mengapa menjelma menjadi kekuatan. Kekuatan yang membuat saya merasa bisa menghadapi seluruh kondisi  itu dengan kepala tegak.

mantraYa Ka, betul. Hidup itu tak selalu senang. Hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan. Dan Allah, sudah mengukur dengan sempurna bahwa kesulitan itu, bisa kita hadapi. Bisa kita selesaikan.

Terima kasih, sudah menemani ibu menghadapi setiap hari sulit yang harus ibu hadapi. Sulitnya hari-hari yang akan ibu jalani, tak lagi penting. Tapi dengan siapa ibu akan menghadapinya, itu yang tak membuat ibu khawatir.

Proud and Love you …

sumber gambar : https://www.etsy.com/listing/99041856/mother-and-daughter-art-print

Tulisan seorang remaja tentang ayahnya

Seorang ibu membaca tulisan anak remajanya  tentang ayahnya.

Si remaja menulis  : “……Aku belajar tentang Al Quran darinya. Darinya aku mengerti bahwa Islam ini sangat berharga dan benar-benar agama yang layak untuk dipilih. …. Ia juga yang mengajariku untuk menjadi orang yang bermanfaat. Cita-cita bersama abahku saat besar adalah membuka rumah sakit gratis bagi orang yang tidak mampu …..”

Rangkaian kalimat itu, membuat si ibu berkaca-kaca. Terutama rangkaian kalimat: “Bahwa Islam adalah benar-benar agama yang layak untuk dipilih”. Itu bukan kalimat normatif yang sering ditemui. Semoga itu kalimat yang keluar dari lubuk hati terdalam si remaja.

Si ibu juga berkaca-kaca menghayati dalamnya ikatan antara si remaja dengan ayahnya. Kata-kata “cita-cita bersama abahku” itu, begitu menyentuh. Sebuah cita-cita yang tak ia ketahui selama ini.

…………

Baru seminggu lalu si ibu mengikuti satu presentasi. Presentasi dari seorang peneliti, yang meneliti tentang TRUST, atau kepercayaan. Dilakukan di konteks Indonesia. Saat ditanyakan “siapa orang yang paling anda percayai?” Jawaban responden setelah direkap, menempatkan IBU di urutan pertama dan AYAH di urutan kedua.

Saat digali faktor-faktor apa yang berkontribusi terhadap KEPERCAYAAN anak terhadap ibu dan ayah, ada satu temuan menarik. Seorang anak, PERCAYA pada IBUNYA, karena faktor relasional. KARENA DIA IBU SAYA. Sedangkan KEPERCAYAAN seorang anak pada AYAHNYA, adalah karena faktor kompetensi. BAHWA IA PUNYA KUALITAS untuk saya percaya.

father daughterMaka, jauh lebih mudah menjadi seorang Ibu. Seorang ibu, seburuk apapun ia, si anak akan mengatakan DIA ADALAH IBU SAYA. Namun seorang ayah, ia harus berusaha untuk menunjukkan kualitas agar ia menjadi sosok yang berharga dan bermakna pada diri anak. Seorang ibu, tanpa ia mau pun, Allah telah “memaksa”nya untuk punya ikatan tak terpisahkan dengan anaknya selama 9 bulan. Tapi seorang ayah, dia bisa memilih untuk “tidak mau” membangun ikatan dengan anaknya

Karena itulah si ibu berkaca-kaca. Ia menghayati, salah satu bakti yang bisa ia berikan pada suaminya adalah, memberi ruang dan waktu agar suaminya, menjadi ayah yang bermakna untuk anak-anaknya.

sumber gambar : http://everydaylife.globalpost.com/suggestions-fatherdaughter-outing-18491.html