mantra ajaib dari seorang remaja untuk ibunya

Minggu lalu, setelah beraktivitas seharian di hari senin, tiba-tiba malamnya tubuh saya menggigil. Ternyata, itu awal dari demam selama dua hari, lemes dan gemeter plus vertigo empat hari setelahnya. Maka, praktis seminggu kemarin saya tak bisa beraktivitas. Hanya jempol yang bisa beraktivitas. Beberapa diskusi dengan mahasiswa tak bisa ditunda. Demikian pula beberapa koordinasi pekerjaan tak bisa menunggu.

Setiap kali sakit, saya selalu merasa “stress”. Kenapa? karena itu berarti anak-anak akan terlantar. Dalam arti yang sebenarnya. Gak ada yang masakin. Gak ada yang ngurus. Stres semakin meningkat saat pagi hari. Azka si sulung, tak bisa bantu karena jam 6 jemputannya sudah datang. Semandiri-mandirinya Hana, anak kelas 1 SD itu tetap saja belum bisa diandalkan mandiri sepenuhnya. Nyiapin sarapan, turun tangga dalam kondisi vertigo plus lemes itu…tak mudah. Apalagi si abah sedang full di luar kota.

Hari Senin kemarin, meskipun belum fit betul, saya sudah buat janji bimbingan dengan 7 mahasiswa saya. Mereka sedang semangat mengejar lulus bulan depan. Tak tega kalau target mereka mundur karena saya. Pagi-pagi, dapat kabar bahwa ibu teh Rini, istri pak Ayi sopir kami yang bantu membereskan rumah plus menjaga Azzam si bungsu selama saya beraktivitas, jatuh di kamar mandi. Memang kondisinya belum sepenuhnya pulih dari stroke. Pak Sopir pun izin absen karena harus bawa mertuanya tersebut ke rumah sakit. Mmmmhhh….padahal sudah berharaaaaap banget nanti pulang, rumah dalam kondisi kinclong. Maklum, di weekend, justru ketika anak-anak full beraktivitas di rumah dengan segala “kreativitas”nya, saya belum kuat juga untuk beberes. Meskipun berbagi tugas dengan Azka, namun kecepatan beberes kami tak sanggup menandingi “kreativitas” dan “eksplorasi” si bungsu dan pangais bungsu yang membuat rumah seperti kapal pecah.

Baiklah. Jadi, di pagi senin “terpaksa” saya harus membawa si bungsu ke kampus. Membawa si bungsu yang super cerewet dan super aktif serta belum bisa menunggu lama, untuk bimbingan 7 mahasiswa? Segera saya sampaikan pada si 3,5 tahun itu : “dede, dede ikut ibu ke kampus ya. Tapi disana nanti, dede tidak rewel ya, ibu akan beliin mainan dan makanan. Nanti ibu ngobrol sama mahasiswa ibu, dede main dan makan ya, tidak mengganggu. Kalau dede mau menunggu dan engga rewel, nanti dede boleh main playground di borma”. Dan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, dalam perjalanan ke kampus pake ojek, saya pun mampir ke Yens. Beli beberapa set playdough bersama alat-alatnya. Lalu mampir Yomart. Beliin segala macem cemilan. Sambil terus berdoa, semoga si bungsu sholeh, mau kooperatif sampai jam 13 nanti….

Alhamdulillah….selesai juga bimbingan 7 mahasiswa. Tentunya, mahasiswa yang menunggu, ada yang jadi “pengasuh” Azzam karena ….seperti yang saya prediksi, dia baru bisa “menunggu” dua jam-an. Itu juga udah “amazing” banget ….Setelah dua jam, di apun tak lagi tertarik dengan playdough, buku stiker maupun beragam cemilan kesukaannya. Minta ditemenin main. Minta  jalan-jalan.  Jam 13, harus meluncur ke Cimahi jemput Hana. Jam 11 tadi saya dapat kabar bahwa mertu pak Sopir wafat. Baiklah, jemput Hana pake ojek.

Kirain si bungsu lupa janji ke borma. Eeeh…nagih. Baiklah. Plus Hana juga nagih minta eskrim karena jumat lalu mau diimunisasi di sekolahnya, tanpa menangis. Biasanya saya gak sanggup bawa dua anak itu ke swalayan sendiri. Kenapa? ibu-ibu yang punya anak balita, tau gimana repotnya bawa balita ke swalayan.  Tapi gimana lagi. Saya udah janji. Jadilah dengan sisa tubuh yang masih meriang-meriang dikit plus laper, harus nemenin dulu main di Borma. Syukurnya Azzam udah bisa dikasih “jatah” koin dan udah ngerti ketika koin habis harus pulang. Jam stgh 3, pulang dari Borma naik ojek dengan dua anak, bawa balon hadiah, dengan pantat setengah nempel di motor dan setengah lagi gak muat….setengah pusing karena belum sempet makan siang. Mau pake taksi? gak dapet-dapet hiks…

Kebayangna sampai rumah…pengen rebahan… o ow….lupa…tadi kan ninggalin rumah dalam kondisi berantakan bekas ekeplorasi anak-anak di weekend. Pas buka pintu rumah, rasanya setengah pengen nangis setengah pengen pingsan. Apalagi baca pesan teh Rini kemudian kalau beliau izin gak masuk samapi tujuh harian wafat ibunya. Sedangkan minggu ini, jadwal sudah disusun padat untuk “bayar” seminggu kemarin.

……….

Setiap membuka mata di pagi hari, sejak tidak ada yang bantu, saya selalu menaik nafas panjaaaaaang….diiringi doa agar hari ini, diberi kekuatan. Jujur saja, tidak mudah mengatur aktifitas  kegiatan di luar rumah yang kian padat disaat yang sama dengan mengelola anak-anak, fisik dan psikologisnya. Plus spiritualnya juga kali ya….dengan support yang saya punya. Tapi ya…gimana lagi…..berkali-kali, selama beberapa tahun ini cari pembantu nginep, belum jodoh aja. Ada yang cuman setengah hari lah, ada yang seminggu lalu pergi tak kembali dengan membawa beberapa barang berharga, ada yang pas dijemput tiba-tiba berubah pikiran. Intinya, kesimpulan saya, belum rejeki kami.

Berhenti bekerja? saya dan mas sudah sepakat tak memilih itu. I Love My Job. I Love My Family too, of course. Maka, mari kita jalani saja konsekuensinya. Badan letih, pikiran penuh, emosi bergejolak nano-nano, sudah biasa. Apalagi ditambah kurikulum 2013 yang dijalanin Umar dan Hana. Kurikulum yang menuntut keterlibatan dan kreativitas ortu itu, terus terang membuat saya kewalahan juga. Saya cuman minta satu ke Allah. Agar saya jangan cengeng. Nangis, itu salah satu kekuatan saya. Tapi nangis beda sama cengeng.

Hari Senin itu, saya pun merasakan kelelahan luar biasa. Tapi ada satu mantra yang selalu terngiang selama saya menjalani hari Senin itu. Mantra yang entah bagaimana, memberikan kekuatan super buat saya. Mantra itu, bergaung dari awan putih yang berarak saat saya menatap langit sambil berdoa agar si bungsu “kooperatif” pagi hari saat saya akan membawanya ke kampus. Mantra itu, menggema dari  pohon-pohon yang saya lewati dalam perjalanan membawa dua anak di siang hari terik di ojek, dalam kondisi pening dan lelah. Mantra itu, memantul dari dinding-dinding  saat saya melihat berantakannya rumah. Mantra itu, bergema saat saya membaca sms bahwa teh Rini izin tidak masuk sampai tujuh hari ke depan.

Mantra itu, adalah kalimat yang saya baca sebulan lalu.

Malam itu, saya mengintip tugas Azka. Ada mata pelajaran “leadership” di sekolahnya. Sampai jam setengah 12 malam, ia menyelesaikan tugas mata pelajaran itu. Tugasnya adalah, membuat tulisan tentang dirinya di karton manila. Tentang diri, dan orang-orang yang paling berpengaruh dalam dirinya.  Saya baca bagaimana ia menggambarkan dirinya, keinginannya, cita-citanya. Ada gambar saya dan abahnya, ia tempel di bagian “orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku”.

Saya baca tulisannya tentang ayahnya. Rangkaian kalimatnya, membuat saya berkaca-kaca. Lalu saya beralih pada tulisannya tentang ibu.  “Ibuku adalah harta terbesarku karena ia mengandung, melahirkan dan merawat serta mendidikku…..bla..bla..bla..”. Hmmmm…kalimat yang normatif. Kalimat terakhir yang menarik perhatian saya. “Dari ibu aku mengerti hidup itu apa. Bahwa hidup tak selalu senang. Aku jadi tau bahwa hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan.”

Saya baca berkali-kali kalimat itu. Saya berusaha keras mengingat, kapan ya saya mengajarkan kata-kata itu. Saya memang banyak sekali “memberi pesan”. Semua hal yang saya hayati dan saya anggap penting, saya sampaikan pada anak-anak. Tapi rangkaian kalimat itu….rasanya saya tak pernah sampaikan.

Sampai berhari-hari kemudian, saya masih tak ingat kapan saya menyampaikan kalimat itu padanya. Sampai akhirnya saya menyerah….saya tak ingat. Mungkin itu bukanlah apa yang ia dengar, namun  apa yang ia hayati dari pengalamannya berinteraksi dengan saya. Apakah itu hal yang bagus? saya tak tahu.

Tapi entahlah… sejak hari itu, setiap kali saya merasa “lelah” dan rasanya “tak sanggup” menghadapi tanggung jawab saya di dalam dan di luar rumah,  kalimat itu terngiang-ngiang selalu. Setiap kali saya merasa “putus asa” karena tak punya waktu untuk finishing touch naskah buku yang tergolek di meja saya sejak beberapa bulan lalu, kalimat itu terdengar. Saat saya terpaksa harus menutup laptop padahal sedang seru baca jurnal karena Azzam rewel, terngiang kalimat itu. Saat saya merasa “putus asa” membayangkan kapan saya bisa sekolah lagi, saat saya harus melerai pertengkaran si bungsu dan si pangais bungsu, saat saya harus menahan kesal karena untuk kesekian kalinya lembaran penting Umar terselip entah dimana… saat si bungsu  membuka mata saya dengan paksa ketika saya tertidur di tengah membacakan cerita untuknya, ketika tubuh terasa amat lelah tapi tak bisa istirahat ….kalimat itu selalu terdengar.

Hidup itu tak selalu senang. Hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan.

Kalimat itu, entah mengapa menjelma menjadi kekuatan. Kekuatan yang membuat saya merasa bisa menghadapi seluruh kondisi  itu dengan kepala tegak.

mantraYa Ka, betul. Hidup itu tak selalu senang. Hidup itu punya masa-masa sulit yang harus diselesaikan. Dan Allah, sudah mengukur dengan sempurna bahwa kesulitan itu, bisa kita hadapi. Bisa kita selesaikan.

Terima kasih, sudah menemani ibu menghadapi setiap hari sulit yang harus ibu hadapi. Sulitnya hari-hari yang akan ibu jalani, tak lagi penting. Tapi dengan siapa ibu akan menghadapinya, itu yang tak membuat ibu khawatir.

Proud and Love you …

sumber gambar : https://www.etsy.com/listing/99041856/mother-and-daughter-art-print

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. tia
    Sep 16, 2015 @ 10:03:02

    Hidup adalah anugrah, bersyukur sudah menjadi ibu dan inspirator yang baik bagi anak dan lingkungan. Terus berkarya dan selalu mohon petunjuk dan LindunganNYA. InShaaAllah kita akan menghadapi kehidupan dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan. Mudah2an akan banyak ibu2 lain yang terinspirasi dengan uraian yang sangat menyentuh dan membangkitka semangat kita untuk berkarya bagi keluarga dan sesama. Tks Fit untuk menjadi Guru kehidupan bagi saya

  2. memerumaysa
    Apr 12, 2016 @ 14:06:02

    Keren sekali Kakak Azka bisa menulis seperti itu. Jadi inget dulu saya jaman kelas 1 SMP kayaknya belum bisa menulis apa-apa, hehe. Terima kasih Mbak Fitri, it’s soooo inspiring.

  3. Dessy azrianti
    Nov 29, 2016 @ 10:34:59

    Hidup seperti inilah yg sedang sy jalani….. Satu yg sy yakini….. Allah sdh buat skenario terbaik buat sy.. Suami yg bekerja diluar kota.. Pas weekend aja pulang…. Dan 3 anak…. Terutama si adek 2.5 tahun…dan sy dgn rutinitas kantor yg kerja nya nggak ada habis2 nya….. Kami pasti kuat dan sanggup menjalani…. Karna ini adalah hidup terbaik……. Dari maha pencipta untuk kami jalani….. Supaya kami jd manusia yg tangguh dan kuat….. Dan yg trrpenting….. Tetap di jalur kehidupan islami yg kami yakini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s