Boys don’t cry ! (apakah hidup manusia linier?)

Pagi ini, seorang teman nun jauh disana mengirimkan sebuah link video melalui wa. Saya buka, saat sedang menyimaknya saya teringat diskusi di  whatsapp group psikopad 97, yang juga pernah membahas hal ini meskipun dengan konteks yang berbeda. Saat saya iseng membuka facebook di siang ini, saya baru tau ternyata video itu lumayan ngehits sepertinya, banyak yang share.

Ini linknya… http://sfglobe.com/?id=16715&src=share_fb_new_16715

This short video was made by Vinil Mathew for #VogueEmpower.  For his whole life, this little boy was constantly told that boys don’t cry.  Eventually, he does stop crying, but at what cost? The message at the end? “We have taught our boys not to cry. It’s time we teach them not to make girls cry. It starts with the boys.”

Dalam tulisan ini saya ingin menanggapi isi video tersebut, dan bagaimana sebaiknya kita memahaminya.

Menurut saya, video ini sebaiknya tidak dipahami sebagai kalimat matematis “jika …., maka….”. Jika anak laki-laki dilarang menangis, maka ia akan jadi pelaku kdrt. Jangan. jangan pahami seperti itu.

Mengapa? karena paham deterministik, bahwa kehidupan manusia itu “sudah ditentukan” oleh masa kecilnya, adalah paham yang diungkapkan oleh madzhab Psikoanalisa, lebih dari 100 tahun yang lalu. Paham-paham Psikologi selanjutnya, menepis pandangan deterministik tersebut.

Psikologi mengenai satu kata “ajaib” yang membuat kehidupan manusia tak akan pernah linier, “jika x maka y”. Yaitu: LEARNING. BELAJAR. Salah satu kemuliaan yang telah diberikan yang Kuasa pada manusia adalah, bahwa ia memiliki kemampuan untuk belajar. Ada banyaaaaaak faktor yang berperan dalam kehidupan seorang anak sehingga menjadi dewasa. Faktor dari dalam diri dia sendiri, kepribadian yang berbeda, orang-orang lain yang hadir dalam kehidupannya,  akan membuat anak yang berbeda, menghayati satu peristiwa dengan makna yang berbeda”

Itulah sebabnya mungkin kita sering mendengar ada orangtua berkata : “dulu orangtua saya suka mukul  sih, jadi saya juga gak bisa nahan untuk gak mukul anak saya”. Di sisi lain, kita juga mungkin mendengar ada juga orangtua yang berkata: “dulu orangtua saya suka mukul, itu sebabnya saya gak akan pernah mukul anak saya”. Peristiwanya sama, dipukul orangtua. Tapi dampaknya bisa berbeda. Kenapa? karena proses dalam diri individunya berbeda. Proses belajar yang terjadi berbeda.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita memaknakan video tersebut? menurut saya, kita bisa posisikan video tersebut dalam konteks emotional intelligence. Kesan pertama saya saat melihat video tersebut, ini adalah mengenai emotional intelligence. Bahwa kita perlu memberikan pengalaman pada anak laki-laki kita untuk merasakan dan mengekespresikan ragam emosi, termasuk menangis. Entah itu karena sedih, bahagia, takut, atau apapun. Apabila anak kita dihambat untuk tidak boleh merasakan emosi yang beragam, tidak boleh mengekspresikan emosi tertentu padahal ekspresi emosi itu tidak merusak diri sendiri maupun orang lain, maka ia jadi tidak bisa meregulasi emosinya dengan baik. Ia jadi tidak tau emosi ini apa namanya, kenapa saya merasakan ini, bagaimana seharusnya saya mengekspresikannya.

Saya tidak boleh nangis saat saya sedih. Berarti saya tidak boleh sedih. Saya gak punya pengalaman menghayati rasa sedih. Saat saya merasa sedih terkait istri saya, saya tidak tahu harus bagaimana. Jadilah saya melakukan reaksi yang paling primitif. Agresi. Itu kira-kira dinamika yang saya hayati dari rangkaian cerita di video tersebut.

Nah, bukankah itu berarti ajaran “laki-laki tidak boleh menangis itu menyebabkan laki-laki jadi pelaku kdrt?”. Tidak. Saya tetap yakin kehidupan manusia itu tidak linear. Akan lebih pas jika kita memandangnya dari sudut pandang “risk and protective factor”. Dalam psikologi, dan juga dalam kesehatan…juga dalam masyarakat sih….kita kenal ada istilah “faktor pelindung dan faktor resiko”. Ketidakmampuan si anak laki-laki untuk menghayati perasaannya, meregulasi perasaannya dan mengekspresikan perasaannya dengan cara yang tak menyakiti orang lain, adalah “faktor resiko”. Salah satu faktor resiko. Dari sekian banyak faktor resiko lainnya untuk menjadi seorang pelaku KDRT. Artinya, ada faktor-faktor lain yang berperan, baik itu memperkuat maupun memperlemah “potensi faktor resiko” tersebut.

Pertanyaan aplikatifnya: bagaimana jika kita menemukan ada anak laki-laki yang sudah mengalami ajaran “tak boleh menangis” tersebut?

Dalam setiap kultur, memang ada konstruksi sosial tentang maskulinitas dan feminimitas. Ada “kode-kode” tertentu yang disematkan pada jenis kelamin tertentu, yang menjadi standar kualitas gendernya. Dan perasaan sedih, itu sering diasosiasikan dengan lemah, tak berdaya. Dengan demikian, ekspresi sedih yaitu menangis pun, menjadi lekat sebagai simbol kelemahan dan ketidakberdayaan. Cengeng. Padahal kalau kita hayati lebih jauh, tentu tak demikian. Menangis tak berarti lemah. Menangis tak berarti lebay dan cengeng. Tapi, ya itulah….

Nah, kode-kode itulah yang menjadi standar bagi kita menilai bahwa laki-laki yang harusnya menjadi pemimpin, tegas, berdaya, tangguh itu…menjadi “memalukan” bila menangis. Yaah…jujur aja deh…kita juga akan ilfil kali kalau liat suami kita sering nangis 😉 atau anak laki-laki kita yang udah kuliah gitu, sering nangis ;).

cryYang jadi masalah sebenarnya bukan nangis atau engganya, tapi penghayatan emosinya. Dalam bahasa emosi, dikenal istilah “miskin emosi”. Menurut “penerawangan” saya, laki-laki di kultur kita, cenderung “miskin emosi”. Saat istri menangis dan ingin dipeluk tapi suami malah memberikan nasihat rasional, bukan..bukan dia “jahat”, tapi mungkin dia tidak tahu rasa apa yang ia hayati, dan apa ekspresi yang harus ia tunjukkan. Kenapa? karena ia tidak terpapar oleh pengalaman menghayati emosi itu.

Nah, saat itu terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Ingat clue-nya: LEARNING. Percayalah… anak laki-laki, remaja laki-laki, laki-laki dewasa, punya kapasitas untuk belajar, Termasuk belajar emosi. Belajar menghayati emosi. Mengenal nama emosi, belajar mengekspresikan emosi sesuai cara yang diharapkan lingkungan. Paling kan situasi yang menuntut itu cuman di keluarga…karena kalau di tempat kerjaannya mah kan pastinya dunia maskulin. Nah, berarti peran kita…sebagai ibu atau istri, untuk menyediakan pembelajaran itu.

Biarkan anak laki-laki kita mengalami dan menghayati beragam macam rasa. Sedih, kecewa, bosan, marah, senang, penasaran, jijik. Beri tahu namanya. Perasaan itu oke. Yang penting, bagaimana kita mengelola dan mengeskpresikannya dengan baik.

“Dede lagi kesel, kesel itu boleh. Tapi mukul gak boleh”. Itu bisa kita katakan pada si 4 tahun.

“Kamu lagi marah. lebih baik kamu masuk kamar. Kalau di luar, kamu jadi kesal sama adik-adik kamu dan kamu jadi bentak-bentak adik kamu”. Itu, bisa kita katakan pada anak laki-laki remaja kita.

“Ayah lagi kecewa sama partner ayah. Jangan ambil keputusan apapun sekarang. Biarkan pikiran ayah jernih dulu”. Itu bisa kita katakan pada suami kita.

Apakah mereka akan berubah? mungkin tidak 180 derajat. Apalagi kalau sudah dewasa. Kepribadiannya sudah terbentuk. Tapi kepribadian berbeda dengan perilaku. Gapapa suami kita tetap “lempeng” di kantor. Kalau romantis kan malah bahaya 😉 . Tapi di rumah, saat kita perlu, kita bisa minta suami kita berperilaku romatis. Biarin aja seumur hidup suami kita gak pernah meluk orang. Tapi kita bisa minta suami kita memeluk kita saat kita membutuhkannya.

Hiiii…jadi gak nyambung ya…haha… intinya mah….hidup manusia gak pernah linier. Teori belajar, menurut saya, adalah pengejawantahan dari apa yang dalam agama, kita sebut “rahmat Allah”. Dan, sampai detik kapanpun, kita tak boleh berputus asa dari rahmat Allah bukan? itu artinya, there’s always HOPE. Whatever your condition….

Mencermati perkembangan sekarang ini, dimana ada pihak-pihak yang saking semangatnya mengajak menghindari sesuatu yang buruk menyatakan bahwa “kalau ini maka pasti itu”, ssssttt….jangan sepenuhnya percaya. Selalu ada ruang dan waktu untuk “menyelamatkan” orang-orang yang memiliki faktor resiko akan sesuatu. Udah banyak buktinya. Cari ilmunya untuk bisa menghadirkan “faktor pelindung” yang lebih kuat dari faktor resikonya.

Hidup itu, tidak deterministik dan linier. Selalu ada HARAPAN.

sumber gambar : http://www.kartoen.be/wp/2006/07/12/boys-dont-cry/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s