2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 41,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 15 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Advertisements

BEB : Bukan Buku Biasa

Akhirnya, brojol sudah buku Bukan Emak Biasa, diiringi pergulatan perasaan yang tak berhenti sejak sebulan lalu buku ini “diseriuskan” untuk dipublish. Sampai detik-detik terakhir, saya masih berpikir untuk batal mempublish buku ini.

Mengapa? karena saya takut niat saya melenceng. Tulisan-tulisan di blog saya, sesungguhnya adalah hal yang sangat personal buat saya. Saya tidak tahu apakah tepat  menjualnya dalam bentuk buku atau tidak.

Meskipun dishare di ruang publik, tapi tulisan-tulisan di blog itu, benar-benar “sesuatu ” buat saya. Aduuuhh…gak nemu rangkaian kata yang tepat niiih….hihi….

Tahukah temans, dalam bayangan saya, sebelum muncul gagasan menyusunnya menjadi sebuah buku, tulisan-tulisan saya di blog terkait anak-anak saya, akan saya buat buku sendiri. Akan saya kumpulkan sendiri, akan saya jilid sendiri, untuk saya berian satu demi satu pada empat anak saya, nanti….saat mereka menikah. Kenapa akan saya lakukan sendiri? karena saya ingin menikmati setiap titiknya.

Nah, saya tahu sekarang….saya ragu mempublish buku ini, karena tulisan-tulisan di dalamnya sangat istimewa buat saya.  Saya takut, rasanya menjadi tak istimewa lagi karena sudah tercoreng “komersialisme”.

Semalam, saya baca lagi buku itu. Mulai dari cover sampai belakang. Ada bagian-bagian yang membuat saya yakin, bahwa “kesakralan” tulisan-tulisan tersebut, tak akan “berkurang” rasanya.

Bagian mana? bagian sebelum Daftar Isi. Disana ada orang-orang, yang saya percayai untuk terlibat dalam penyusunan buku ini. Membaca nama demi nama di sana dan mengapa saya memilihnya,  saya menjadi yakin bahwa buku ini, tetaplah “istimewa”. Karena mereka yang membantu saya, adalah teman-teman saya. Bukan orang lain. Beberapa kali terpikirkan meminta orang-orang “terkenal” menulis endorsement, hati saya menolak. Saya bilang ke mas, meskipun tidak “komersial”, sata ingin semua yang terlibat dalam buku ini adalah orang-orang yang “dekat” dengan saya.

Penerbit buku ini, adalah Irfan. Ia adalah adik kelas saya waktu di Salman. Meskipun lebih muda dibandingkan saya, tapi ia sangat memahami gejolak perasaan saya. Dua tahun sejak pertemuan pertama kami membahas buku ini, saya lebih banyak curhat padanya. Sangat tidak menguntungkan kalau dilihat dari kacamata bisnis haha…. Kalau di bagian akhir buku Bukan Emak Biasa ada bagian “Ayah”, maka Irfan adalah sosok representatif ayah yang keren. Irfan dan Mika, istrinya adalah sosok pasangan yang “lugu dan lurus”. Karakter yang mewakili hampir semua teman saya di Salman, di Karisma.

Pidi Baiq. Saya tak mengenal beliau secara langsung. Saya mengenal beliau dari karya-karyanya, serial Drunken:  Drunken Monster, Drunken Mama, Drunken Molen dan Drunker Marmut. Juga dari  ilustrasinya di buku seri kisah hewan dalam AlQUr’an, salah satu buku favorit anak-anak saya. Saya sangat menikmati kebodorannya yang natural di buku-bukunya. Buku-buku itu, mampu membuat saya ketawa-ketawa sendiri saat membacanya. Terlebih lagi, saat saya membayangkan sosok “suribu” yang digambarkan di dalamnya, yang saya kenal. Mbak Rosi, istri mas Pidi Baiq adalah kakak kelas saya di Psikologi. Maka, saya merasa bagai melompat ke atas awan  saat beliau bersedia menuliskan endorsement untuk buku ini. Dalam waktu yang sangat cepat, beliau merangkai kata yang sederhana, tapi keyen menurut saya.

Selanjutnya adalah mas Budi. Beliau adalah seorang yang saya dan mas pilih, untuk menyampaikan khutbah nikah saat kami menikah dulu. Tiga “irisan” saya dengan Mas Budi:  Salman, Purwakarta dan Psikologi. Sudah lama sebenarnya kami tak bertemu, dan pertemuan kami kembali terjadi 2 tahun lalu, saat kami berhaji. Ketika saya dan mas akan sholat Dhuha di rukun yamani, saya melihat sekelebat sosok. Mas Budi ! Pertemuan di tempat istimewa, pastilah pertanda sesuatu yang istimewa juga 😉 Sejujurnya, beliaulah yang “memaksa” saya mewujudkan buku ini, setelah prosesnya vakum lama karena gejolak perasaan saya tea. Komentar-komentar beliau di status saya: “mana buku?” dan beberapa kali wa, itulah yang membuat saya akhirnya “memaksa diri” mewujudkan rencana ini.

Lalu ada Mbak Tia. Meskipun beliau adalah dekan dan sebelumnya adalah pembimbing tesis saya, tapi buat saya beliau adalah sahabat. Minat kami yang sama pada bidang keluarga, membuat kami bersama sekumpulan teman  membentuk  PSPK, Pusat Studi dan Pengembangan Keluarga. Beliau adalah wanita yang super tangguh. Dengan gaya “easy going”nya, Beliau selalu punya cara untuk menghadapi kesulitan dan kerumitan.

Teh Ninih. Beliau pastinya public figur. Tapi bukan karena itu beliau saya pilih. Putri bungsunya, adalah teman sekelas Azka. Saya tidak terlalu mengetahui bagaimana cara beliau mendidik putra-putrinya dengan berbagai kesibukannya. Namun melihat putrinya; yang juara umum akademik, masuk tim paduan suara karena suaranya yang merdu, masuk tim menari dan hobi memasak, membuat saya bisa melihat bahwa beliau punya kekuatan yang hebat sebagai ibu.

Tari. Saya minta ia menuliskan endorsement sebagai perwakilan “ibu bekerja”. Waktu ia menjadi kakak kelas saya di S1 dulu, tak terbayang kalau kami akan “dekat”. Dia sosok wanita “sempurna”. Di usia yang hanya terpaut satu tahun dengan saya, ia telah mencapai semua cita-cita saya dalam bidang akademik dan profesi.  Seperti yang saya baca di koran yang memberitakannya saat ia selesai sidang terbuka doktornya beberapa tahun lalu. “Cantik, baik, cerdas, dan …hmmm…kaya ;)”. Setelah saya mengenalnya, saling curhat saat kami bersama menuju dan pulang dari kampus, berusaha menjawab pertanyaan :”bisa gak ya, kita berprestasi di dalam dan di luar rumah?” hei ! dia tak sempurna ternyata…tapi apakah itu mengurangi rasa “kagum” saya terhadapnya? anehnya tidak. Saya malah semakin kagum. Bagaimana ia punya energi yang tak terhingga untuk mengatur semua urusannya, termasuk urusan emosi yang menyertainya.

Teh Nia. Beliau adalah ketua BIPSIS saat saya disana. Lebih dari itu, ia adalah gambaran sempurna yang menunjukkan bahwa kelembutan dan ketangguhan itu, bisa dimiliki seorang wanita pada saat yang sama. Penampakan beliau lembut sekali. Namun sebagai seorang single mother sejak ditinggal wafat suaminya beberapa tahun yang lalu, saya selalu takzim pada kemampuannya untuk bisa tetap berdiri tegak menghadapi kesulitan. Kekuatan spiritual. Itu yang beliau miliki.

Novita dan Lulu. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa saya. Dulu, di awal menjadi dosen, saya memandang mahasiswa saya sebagai “makhluk akademik”. Tapi beberapa tahun terakhir ini, saya menikmati berinteraksi dengan mereka sebagai seorang “makhluk psikologis”. Apa bedanya? kalau dulu, saya hanya memberi perhatian pada konten. Jawaban ujian, kualitas presentasi, ketepatan logika. Sekarang, saya menikmati semuanya. Dinamika emosi mereka, tema-tema kehiduan mereka, keunikan mereka…Mengingatkan saya bahwa masa kuliah, adalah masa teristimewa dalam hidup saya. Lulu, adalah orang yang pertama kali mencetuskan ide penyusunan buku, lewat komentarnya terhadap salah satu tulisan saya.

Wita. Ia adalah mahasiswa saya ketika pertama kali saya berdiri di kelas sebagai dosen. Sampai saat ini, ia masih mahasiswa. S2 tentunya. Mahasiswa berprestasi, pastinya. Lha wong ia menorehkan sejarah dengan menjadi mahasiswa berprestasi 2 kali, waktu S1 dan S2. Bukan juga karena kehebatannya sebagai konduktor angklung. Coba ketik “Psymphonia” di yutub. Aksinya akan terlihat, baik dalam pergelaran di kampus, di Indonesia maupun di luar negeri. Dia kini menjadi salah satu sahabat saya. Berbeda dengan tampilannya yang selalu “taft”, ia pun pernah menghadapi masa yang amat sulit. Masa yang bisa membuat semua “kehebatannya” luluh menjadi tak berarti. Tapi bagaimana ia menghadapi kondisi yang membuatnya berada di titik terendah itulah yang membuatnya istimewa. Keberaniannya untuk “merendahkan diri” dibalik kehebatannya, tak semua orang bisa melakukannya.

Teh Rena. Meskipun pertemuan face to face kami bisa dihitung dengan jari, namun obrolan via wa, sangat intensif hehe… Ia adalah sosok ibu rumah tangga sejati. Yang sehari-harinya dihabiskan dengan beragam urusan “remeh temeh” domestik, dengan segala permasalahannya. Dan istimewanya IRT satu ini, kepelikan permasalahan yang ia hadapi, ia jadikan bahan bakar yang membuatnya melompat tinggi. Lihat aja hasil karya bukunya : Bahagia ketika Ikhlas, pernah jadi best seller. Juga produktifitas menulisnya.

Teh Wita, juga adalah kakak kelas saya. Dekat ketika beliau tengah menyusun tesis S2nya. Saat itu, ia menghadapi ujian yang kalau saya, kayaknya akan sulit untuk melewatinya. Tabah. Itulah gambaran saya untuknya. Dan di tengah-tengah kesulitan itu, ia malah menghasilkan buku! Panduan Perjalanan Haji Untuk Perempuan.

Fajar dan Telie istrinya, adalah teman seangkatan saya di Psikopad 97. Meskipun 4 tahun masa menjadi mahasiswa saya habiskan di Salman, namun kebersamaan bersama teman-teman 97 menjadi warna tersendiri dalam hidup saya. Saya dan Fajar, tak pernah berada dalam “sudut” yang sama. Dia punya “dunia dan pilihan” yang jauh berbeda dari saya. Tapi perbedaan itu tak membuat saya menjadi merasa tak harus menghargai dia. Itulah mengapa saya minta ia menulis endorsement sebagai perwakilan ayah.

Sue. adalah teman saya waktu kuliah S2. Bersamanya, kami menyelesaikan projek statistik yang sangat menantang waktu itu. Berada seorang diri di “negeri orang”, tak membuat ia patah semangat. Semangatnya, adalah hal yang saya kagumi. Walaupun jauh di mata, namun ada banyak hal terutama sebagai seorang ibu dan muslimah, dimana frekuensi kami sama.

Terakhir, ada Lai. Terakhir karena memang ia yang saya hubungi terakhir untuk projek ini. Dia adalah “the real emak”. Karena putera 3 tahunnya, Lentera, memang memanggilnya “emak”. Dia adik kelas saya, kolega saya di kampus. Saya mengenalnya pertama kali saat kami ditugaskan bersama untuk menyiapkan pameran pendidikan menyambut SBY. Saat itu, ia masih mahasiswa, yang terkenal punya sense of visual art yang keren. Ya, art memang melekat dengannya. Bisa dilihat dari video saat ia bermain biola di hari pernikahannya, diiringi permainan gitar suaminya, Alam. Ia adalah designer andalan kampus setiap dies. Designnya sederhana tapi elegan. Dan semua kehebatannya sebagai seorang Lai, all out ia persembahkan buat keluarganya. Coba liat foto-foto di facebooknya. Bento kreatif buatannya, worksheet-worksheet untuk Tera yang ia gambar sendiri, petualangan serunya tiap akhir pekan bersama keluarga….bikin “ngiler”. Maka, saya bahagia banget saat Irfan bilang Oke ketika saya mengajukan Lai yang mengerjakan desain cover buku saya. Ssst….saya tahu satu rahasia tentang Lai. Dia itu pencemas dan gak pedean loh… saya masih terbayang ekspresi wajahnya saat pertama kali akan memperlihatkan hasil gambarnya ke saya…gak pede banget katanya …hehe…

Suatu saat, saya pengen mengajak teman-teman yang udah gabung di komunitas “Bukan Emak Biasa” untuk kopi darat. Kita saling sharing, dengan cara yang antimainstrem. Saya bisa mengajak senior saya ahli konseling untuk  bikin “worldview”, atau nanti saya ajak teman art psychoterapist saya buat kita bikin visual art bareng, atau kita nyanyi bareng diiringin biola dan jembe-nya Lai…atau main angklung bareng diajarin Wita. Atau, kita ngobrol-ngobrol cantik aja mengenai hari-hari seru dan melelahkan bersama anak-anak kita. Hari-hari yang akan kita kenang dan kita rindukan, sepuluh tahun dari sekarang.

Buat saya, gambaran ibu yang istimewa itu, tak dibatasi dimensi-dimensi “kasat mata”- bekerja atau tidak bekerja, homeschooling atau tidak, berhati lembut atau tidak, atau hal-hal lain yang sering digambarkan sebagai ibu ideal. Buat saya, yang paling mempesona dari seorang ibu adalah, saat ia menjadi “dirinya sendiri”. Dengan gayanya, keunikannya, keresahannya, tapi terus bergerak. Ia menangis, tapi tak menyerah. Maka, siapapun bisa jadi ibu yang istimewa. Buat saya, semua ibu adalah istimewa.

_20151224_055620Kalau saya ditanya, tulisan mana yang paling favorit di buku ini, halaman di samping ini adalah jawabannya.

Saya ingat, saya mengagendakan waktu khusus untuk menulisnya. Suatu dini hari saya bangun untuk menulisnya. Meskipun hanya beberapa kalimat, tapi saya butuh waktu lama. Karena saat menulisnya, saya tak bisa menahan banjir memori dan emosi yang  saya rasa.

Saat saya menulis “untuk mamah dan papah”, rasanya saya kembali ke masa lampau. Lidah saya tiba-tiba kembali merasakan nikmatnya cireng nasi buatan mamah sambil menatap hujan bersama adik saya di ruang tamu rumah kami, merasakan kembali enaknya pisang goreng buatan mamah, juga sayur kacang merah yang selalu saya rindukan kala sakit-sampai sekarang pun. Terasa kembali serunya dikejar kerbau saat menemani papah nyari belalang ke hutan untuk makanan burung peliharaannya, teringat setiap ramadhan diajak ngabuburit menatap matahari tenggelam, dianter vespa putih papah sekolah, diajarin main bulutangkis….terasa lagi juga membuncahnya rasa saya ketika melihat papah menuntun sepeda BMX sebagai hadiah saat saya jadi peraih NEM tertinggi di SD…. semua kenangan itu, membuat saya tak bisa menahan tangis, setiap kali membaca halaman ini, sampai sekarang.

Lalu 4 anak saya, yang selalu saya hadirkan wajahnya saat saya mengucap “robbi habli minassholihin”, empat kali, untuk masing-masing anak sehabis sholat…yang hari-hari bersama mereka, bisa menjadi ribuan buku tertulis di hati.

Dan mas….ia adalah seorang suami. Tapi sampai saat ini, di tahun ke-13 pernikahan kami, saya tetap menghayati ia adalah sahabat buat saya. Tempat saya menceritakan semuaaaaa pikiran, perasaan, kegalauan, ketakutan, kecemasan, harapan, mimpi, bahkan kebodohan-kebodohan saya, dengan sepuasnya, dengan nyaman. Meskipun baru 13 tahun bersama, tapi selain Allah, dia adalah orang yang paling mengenal saya. Dia yang selalu ada di samping, depan dan belakang  saat saya membutuhkan. Membutuhkan apapun. Mulai dari pulsa, settingan internet, dukungan, dorongan, pelukan, apapun bisa saya dapat dari dia. I love you.

Maka, buku BUKAN EMAK BIASA bagi saya, bukanlah buku biasa. Buku ini buat saya, adalah gambaran nyata betapa hari-hari yang biasa kita lalui, orang-orang yang biasa kita temui, sesungguhnya adalah perwujudan Rahman-Rahimnya Allah.

Tak ada orang yang biasa. Tak Ada Emak yang biasa. Kita semua adalah istimewa. Kesulitan, kecemasan, ketakutan, air mata, kesedihan, kelemahan, ketidaktahuan, ke”biasa-biasa saja” an kita,  tak sedikit pun mengurangi keistimawaan kita sebagai Mahakarya sempurna dari sang Maha.

Mari kita nikmati hidup ini. Tertawakan kebodohan kita dengan riang. Nikmati kesulitan kita dengan tangisan. Senyumi semua yang membuat kita bahagia.

Semangat !!!!

 

 

 

 

Mengasuh, Seperti Menari

Kalau dulu saya pernah kesengsem dengan kata “wisdom”, kini saya tengah kesengsem pada kata “menghayati”. Mahasiswa bimbingan saya, udah bosen kali mendengar kata “menghayati” saya ucapkan berkali-kali dalam satu sesi bimbingan. Tak hanya pada bimbingan kasuistik di program magister yang memang mengharuskan mahasiswa “menghayati” setiap perilaku dan “pernyataan” non verbal klien maupun respons terhadap beragam alat asesmen psikologi untuk bisa menggambarkan kepribadian klien. Tapi juga saat bimbingan skripsi atau tesis yang notabene kerjaan “otak”.

Ya, itu karena saya lagi kesengsem banget sama kata itu, menghayati. Kata dasarnya “hayat”. Hidup. Terdengar romantis gitu haha…. dan filosofis. Akal yang hidup, rasa yang hidup, hati yang hidup. Dengan akal, rasa dan hati yang hidup-lah kita selalu sadar berada di koordinat manakah kita, dibandingkan dengan koordinat tujuan kita.

Dalam dunia pengasuhan, setiap kali membaca literatur mengenai anak dan pengasuhan, saya selalu mencoba menghayati …. apa ya, akarnya.Itulah sebabnya pula, di buku “Bukan Emak Biasa”, saya menempatkan tulisan bertema penghayatan di bagian pertama. Karena itulah akarnya menurut saya.

Beberapa minggu lalu, saya meminta bantuan seorang senior untuk mengisi materi parenting di program Pengabdian Pada Masyarakat yang saya buat untuk orangtua di suatu desa. Senior saya itu, membawakan 8 prinsip pengasuhan. Salah satu prinsip itu adalah “Irama”.

Dan beberapa hari terakhir ini, pengalaman dengan 4 anak saya, memunculkan wara-wiri di pikiran saya. Gimana sebenarnya aplikasi formula parenting dalam kehidupan sehari-hari kita pada anak? Nanti saya ceritakan apa yang memicu pertanyaan ini. Saya akan sampaikan dulu jawabannya.

Beberapa hari terakhir ini, saya merasa….mengasuh itu, seperti menari. Apakah pengetahuan dan prinsip parenting itu perlu? pastinya. Kita tentu harus tau gerakan tarian kita bukan? mana enak dipandang kalau kita menari tanpa gerakan yang jelas dan terarah. Namun kapan satu gerakan pas untuk kita lakukan, berapa lama melakukannya, bagaimana variasinya, kapan kita harus ganti gerakan, kapan kiat harus menari dengan lembut dalam tempo yang lambat, kapan kita harus bergerak dinamis dalam tempo yang cepat, itu tergantung dari irama yang kita dengar pada saat “pentas”. Dan kita sungguh tidak tau kombinasi musik seperti aap yang akan kita jalani.

Semakin hari, saya semakin takjub oleh satu karunia Allah yang namanya “tumbuh kembang manusia”. Sungguh dalam diri makhluk yang menjadi mahakaryaNya, Dia yang Maha benar-benar menunjukkan kesempurnaanNya. Saya belum menemukan rangkaian kata yang pas untuk menggambarkan apa yang rasa secara utuh.

Tapi sederhananya, coba kita amati anak-anak kita. Atau diri kita sendiri. Pada diri satu anak, kita bisa melihat adanya perubahan yang berubah seiring waktu. Satu anak, dalam berbagai situasi, bisa berbeda perilakunya. Perubahan perilaku  yang kadang mengagetkan kita. Anak yang berasal dari orangtua yang sama, dengan perlakuan yang sama, bisa tumbuh menjadi amat sangat berbeda, membutuhkan pendekatan yang amat berbeda.

Perilaku dan kondisi anak-anak kita, itulah irama yang harus kita dengarkan dengan baik, dan menjadi dasar gerakan dan tempo tarian kita. Untuk menemani anak-anak kita  dengan “pas”, yang kita butuhkan sesungguhnya adalah telinga yang mau mendengar, mata yang mau menatap, dan hati yang mau menghayati. Itulah bekal parenting yang hakiki menurut saya.

Dan uniknya dari menari adalah, bahwa beragam variasi gerakan, beragam variasi tempo itu, tetap bisa dinikmati dan bisa menampilkan keindahannya tersendiri. Ah, saya bukan ahli menari. Menari saja saya gak bisa. Tapi saya sering merasakan sedang menari sambil menyanyikan lagu “ballerina”nya Sherina. “berputar berputar berputar gemulai…berlari berlari melayang kau terbang …lalalalallalalla….”

Oh iya…. tadi saya janji mau cerita apa yang membuat pertanyaan yang berujung pada jawaban “menari” itu ….

Sekitar sebulan lalu, saat menjemputnya di sekolah sepulang dari Jatinangor, Umar si kelas 4 “melaporkan” nilai-nilai Ulangan Hariannya. Dengan kurtilas, dia ulangan tiap minggu. Nilai-nilainya 100-100. Meskipun sangat malas belajar, namun keberaniannya mengungkapkan pendapat dan memanfaatkan pengetahuan di luar konteks akademik, sangat terfasilitasi dengan kurtilas ini. Saat mau menunjukkan lembar matematikanya, ia terlihat agak ragu. Akhirnya dia menunjukkannya. nilainya 90. “Pasti ibu gak seneng” katanya. “Soalnya mas Umar salahnya karena ceroboh”, katanya lagi. Yayaya….memang demikianlah dia. Khas sekali. Kesalahannya pada hal yang sangat sederhana. Seperti ketika itu, dia malah melakukan instruksi no.4 untuk soal no.3.

Bla..bla..bla… mulailah saya “menasehatinya”. Bahwa saya menentukan standar tinggi untuk dia, justru karena dia pintar. Sayang kalau kemampuan mas Umar engga maksimal hanya karena kebiasaan tidak teliti  yang tidak diperhatikan. Bla bla bla itu saya ucapkan di mobil dalam perjalanan ke rumah. Dia duduk di depan, saya di belakang dengan Hana dan Azzam. Jadi saya tidak melihat wajahnya.

Sesampainya di rumah, setelah memasak makan malam dan memanggilnya untuk makan, ujug-ujug terdengar dia berteriak “ga enak jadi anak pinter teh !” katanya. Pas saya liat, dia mengatakan itu sambil terisak. Saya sama sekali baru ngeuh, dan gak ngerti apa maksudnya. Saya tanya, jawabannya membuat saya terpaku. “Iya, gak enak jadi anak pinter teh. Nilai 90 aja dibilang jelek, padahal temen-temen mas Umar banyak yang diremedial, di kelas teh mas Umar paling bagus” katanya sambil terus terisak. Saya kaget karena dua hal. Satu, biasanya dia cuek. Bahkan dia biasa mentertawakan kesalahannya. Omelan saya, biasanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Jadi saya kaget mengapa dia sekarang jadi “sensitif”. Dua, tentu mendengar kontennya.

Jurus jitu saya saat menghadapi situasi itu, saya memeluknya. Tapi tetep, sambil bilang “iya, maksud ibu, mas Umar bisa lebih baik dari itu”. “Iya, makanya gak enak jadi anak pinter teh!” katanya lagi. Ah, saya salah. Shut up ! kata saya pada diri saya sendiri. Akhirnya sambil memeluknya lama, sambil menuggu tangisnya reda, saya coba menghayati perasaan Umar. Ya, saya tak salah. Apa salahnya memberi umpan balik padanya? apa salahnya memberikan tuntutan yang sesuai dengan kemampuan anak? saya berani mempertanggungjawabkan prinsip itu. Tapi, apakah Umar salah? tidak. Bahwa dia merasa apa yang ia capai sebagai peraih nilai tertinggi di kelas namun tak dihargai sedikit pun, tentu sangat melukainya. Saya peluk dia makin erat. Lalu minta maaf. Dari lubuk hati paling dalam.

Saat itulah pertama kalinya saya merasakan bahwa mengasuh itu, seperti menari. Dan saat itu, saya menarikan gerakan yang salah. Tak harmonis dengan iramanya. Sejak saat itu, dua nilai Ulangan Harian dan nilai UASnya, saya coba untuk bersikap sesuai irama yang Umar tunjukkan. Prinsip memberikan standar tetap. Namun porsi menghargai yang saya lupakan di kasus sore itu, menjadikan saya semakin aware terhadap tanggapan saya.

Penghayatan bahwa mengasuh itu seperti menari, sangat membantu buat saya. Rabu kemarin, saat libur pilkada serentak, cuman satu agenda yang tertulis di catatan saya: “nemenin Azka belajar matematika”. Dua hari sebelumnya walikelasnya membagikan daftar remedial. Dan untuk ulangan persamaan& pertidaksamaan linear, nilai Azka 56. Remedial pastinya. Memang saya berkontribusi terhadap hal ini. Kepadatan aktivitas saya plus kerepotan mengurus tiga adiknya, membuat saya menomor-akhirkan permintaannya mengajarkan materi pelajaran yang tidak dimengerti si sulung ini. Saya pun sepakat dengannya untuk tak menambah aktivitas akademiknya dengan les, seperti yang dilakukan beberapa temannya. Setiap kali pulang sekolah, sebelum ganti baju ia menulis berlembar-lembar tulisan di diarynya, adalah kegiatan yang sangat saya restui. Lebih baik untuk kesehatan mentalnya dibandingkan harus langsung les lagi setelah seharian sekolah.

Meskipun dari segi potensi kecerdasan Azka dan Umar sama, tapi faktor kepribadian yang berbeda, membuat kecepatan penguasaan materi pelajaran menjadi berbeda. Maka, materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel itu, menjadi sangat alot untuk Azka pahami. Setelah 5 jam, barulah senyum mengembang di wajahnya. Jangan tanya perjuangan saya menahan diri dan emosi untuk tak bilang “aduuuuh…kaka, masa gini aja gak ngerti….” . Sejam pertama beraaaaat banget. Dan lalu, saya menghayati bahwa proses ini seperti menari. Menari tarian jawa yang temponya harus sangat lambat. Engga….engga…gerakan saman, meskipun sistematis dan harmonis, namun temponya tak cocok untuk kondisi Azka. Dengan penghayatan itu, alhamdulillah…kami berdua lebih “menikmati”. Dan sore tadi, saat saya menelpon menanyakan bagaimana remedialnya, dia menjawab dengan dua kata : “gampang banget !”

Ah, menjadi orangtua itu, tak diragukan lagi…sangat chalenging. Maka, kita butuh ribuan jurus untuk menjalaninya. Dan salah satu jurus yang cukup membantparenting-quote-3u buat saya adalah, jurus “menari”.

Pelajari prinsip-prinsip gerakannya dengan baik.  Lalu saat pertunjukan tiba, fokuskan perhatian kita untuk mendengarkan irama yang disajikan oleh sang Maha; melalui pikiran, perasaan dan perilaku anak-anak kita.

Semoga upaya ini dicatat malaikat sebagai ikhtiar kita untuk melatih kesabaran dalam mengemban amanahNya. Aamiin…

sumber gambar: https://quotesgram.com/parenting-mistakes-quotes/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ortu Remaja; don’t worry be happy …

Dua minggu lalu, 28 November 2015.

C360_2015-12-09-00-42-34-652Setengah delapan pagi sampai dengan setengah sepuluh, kami sekeluarga berada di tengah-tengah tiga puluhan anak remaja tanggung. Anak-anak tanggung yang canggung, berusia 12 sampai 14 tahun. Mereka adalah siswa/siswa yang mengikuti kegiatan panahan dari beberapa sekolah, yang “terpilih” untuk mengikuti pembinaan. Sehingga ketika ada perlombaan nanti, mereka diharapkan sudah “matang”. Si sulung Azka ada diantara mereka.

Jujur saja saya sangat menikmati mengamati perilaku para remaja tanggung yang canggung itu. Oh, inilah masa transisi itu. Perilaku yang serba “kagok”. Lirik-lirikan malu antara remaja putri dan putra, obrolan-obrolan patah-patah dengan teman baru, volume suara dan sikap yang terlihat “bingung”. Saya kagum banget sama si kakak atlet panahan yang bisa luwes mendekati remaja yang sikapnya, terkadang “mengesalkan” itu. Misalnya diminta pemanasan, malah bergerombol. Diminta ini itu, gak langsung nurut gituh 😉

Saya juga menikmati saat simulasi pertandingan dilakukan. Satu demi satu remaja tanggung itu merentang busur panah. Dengan penuh konsentrasi yang diwarnai kecemasan, melepaskan anak panah, dan bersiap akan hasilnya. Entah itu memuaskan kena tepat ke sasaran, atau melenceng jauh.

………………………….

Dua jam kemudian, setengah 12. Saya sudah berada di Jatinangor. Si abah dan anak-anak setia mengantar 😉 Sebagai dosen pembimbing, saya harus menutup kegiatan Pengabdian Masyarakat Mahasiswa. Program ini bernama Peri Psikologi. Meskipun tak selalu mendampingi selama 2 bulan mereka mengajar di salah satu SD di Jatinangor, tapi saya benar-benar bangga sama 38 mahasiswa Peri Psikologi. Bangga dengan semangat, keceriaan, kerja keras, kesungguhan dan ketulusan mereka. Serunya kegiatan Peri Psikologi bisa dilihat di blog https://beyondiary.wordpress.com/2015/11/02/peri-psikologi-2015/.

Siang itu, acara penutupan. Sejak jam 6 pagi, sebenarnya acara sudah mulai. Mereka membawa para “Adik” yang mereka ajar selama ini ke kampus. Dikemas dalam bentuk edutainment, adik-adik kelas satu dan dua itu diajak “berpetualang” melalui games dan kunjungan ke kandang satwa, yang bekerjasama dengan mahasiswa pertanian.

C360_2015-12-09-00-25-38-290Ada mata yang berkaca-kaca dalam acara itu. Bahkan ada isak tangis. Mata berkaca-kaca dan isak tangis itu, milik para mahasiswa dan juga para adik. Ada seorang adik yang menangis tersedu-sedu sulit untuk dihentikan, sedih karena tak akan “bertemu” kakaknya lagi. Si kakak dengan beragam gaya “remaja akhir”, tampak begitu lekat dengan adik-adik itu. Saya, juga berkaca-kaca. Terharu. Apalagi saat melihat salah seorang mahasiswa laki-laki (ya iyalah…kalau perempuan namanya mahasiswi hehe..) yang “digandulin” empat adiknya: satu diatas pundak, satu di punggung, dua di kaki. Proud of you, my students….

…………………………

Kurang lebih tiga minggu lalu, seorang teman meminta saya mengisi pembekalan pada para kader BKR (Bina Keluarga Remaja) se-Jawa Barat. Diselenggarakan oleh BKKBN dan PKK Jabar. Materinya…Psikologi Remaja.

Koreh-koreh ppt mengenai psikologi remaja di laptop, belum ada ternyata. Memang biasanya saya menolak kalau diminta bicara tentang remaja. Karena merasa kurang menghayati. Tapi sekarang saya oke-kan, karena sudah menghayati dengan si sulung yang sudah remaja.

Akhirnya, untuk bisa bikin materinya, saya pun membaca buku “Adolescence” yang ditulis oleh Laurence Steinberg. Buku itu edisi ke-10, terbitan tahun 2014. Tahun lalu saya beli khusus ketika saya terkaget-kaget melihat perubahan perilaku si sulung yang berubah saat masuk fase remaja.

Waktu saya cari gambar mengenai remaja Indonesia di mbah Gugel, ternyata saya tidak menemukan gambaran remaja yang “positif”.Gambar-gambar yang muncul ketika saya ketika kata kunci “remaja” berkisar seputar gambaran remaja yang corat-coret baju setelah lulus, genk motor, seks bebas, narkoba. Gak ada yang positif.

Mmmhhh….Jujur saja, memang sangat wajar kalau para ortu remaja merasa “cemas”. Bombardir informasi negatif mengenai remaja, berasal dari segala penjuru. 3 dari 5 remaja kecanduan pornografi. 9 dari 10 remaja sudah tak perawan. 7 dari 10 remaja pernah mengkonsumsi narkoba…..5 dari 6 remaja terlibat tawuran. Siapa yang tidak panik dan khawatir?

Salah satu yang menjadi tantangan “berat” buat ortu jaman sekarang adalah, jaman digital. Internet. Salah satu karakteristiknya adalah; bahwa informasi “menyerbu” kita. Beragam informasi. Baik yang baik, yang buruk, yang akurat, yang fakta, yang mitos, yang opini, semua tercampur baur. Kalau tak punya pegangan, maka kita akan megap-megap dan ikut arus tak jelas tujuan. Panik.

Tapi kan beragam informasi mengenai remaja itu membuat ortu jadi waspada? Waspada bagus. Panik dan cemas  jangan. Apa bedanya waspada dan panik/cemas? ini dia yang akan dibahas dalam tulisan ini. Tulisan ini akan diakhiri dengan tips gimana biar sebagai ortu remaja, kita gak panik/cemas.

Temans, hasil intipan saya thdp kbbi, waspada artinya berhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga. Cemas artinya tidak tenteram hati (karena khawatir, takut); gelisah. Nah, kalau Panik artinya  bingung, gugup, atau takut dengan mendadak (sehingga tidak dapat berpikir dengan tenang).

Kalau kita waspada, maka saat mendengar informasi tentang “bobroknya pergaulan remaja”, atau membaca hasil survey misalnya”9 dari 10 remaja sudah tidak perawan”, kita akan “memfilter” itu terlebih dahulu. Bentar-bentar….ini remaja di mana ya? 9 dari 10 remaja…. dimana ini? remaja mana yang dijadikan sampel penelitian? berapa banyak? remaja yang jadi sampel mewakili beragam kalangan remaja gak? apakah hasilnya bisa berlaku pada seluruh remaja di Indonesia? Gimana cara ngukurnya? ….Kalau kita mendengar “ada remaja umur 15 tahun yang meninggal karena OD”. “remaja umur 17 tahun bunuh diri karena kebanyakan PR”. Oke, gimana dinamika kehidupan si remaja tersebut ? apakah semua remaja yang kebanyakan PR akan bunuh diri?

Kalau kita “waspada”, kita akan “mengolah” informasi yang kita terima, mana yang “boleh” masuk ke “hati”, mana yang bisa kita abaikan. Kalau “panik”, sesuai dengan definisi dari kbbi di atas, setiap kali kita dapat informasi buruk tentang remaja, kita akan resah dan gelisah. Dampaknya apa? kalau waspada, kita akan tetap “berpikir jernih” menghadapi si remaja.

Si remaja pake laptop, browsing sana sini, kita gak akan panik. Yups, kita minta si remaja untuk gak mempassword laptopnya sehingga kita bisa cek historynya, tapi gak melarang si remaja bereksplorasi mencari informasi karena khawatir. Kalau kita waspada, saat si remaja minta izin untuk kerja kelompok di rumah teman atau kafe tertentu, kita akan siapkan keamanan berangkat dan pulangnya. Kita akan tanya ngerjainnya sama siapa, no hapenya berapa, berapa lama ngerjainnya. Kalau cemas dan panik, mungkin kita gak akan mengizinkan si remaja pergi. Kalau kita waspada, saat anak terlihat bete dan kesal, waktu udah tenang kita bisa ajak ngobrol apa yang membuat ia kesal. Kalau panik, kita akan nyuri-nyuri baca diarynya, kepo-in chattingan di hapenya.

Apa dampaknya kalau kita cemas dan panik?

(1) Rasanya gak enak. Tidak baik untuk kesehatan mental. Dan kesehatan mental, itu kaitannya erat dengan kesehatan fisik. Come on ! jadi ortu dan emak kan harus selalu prima ….lahir batin ;).

(2) Pola kecemasan dan kepanikan kita bisa menular sama anak.

(3) Membuat “hak” anak remaja tak tertunaikan. Apa sih, “hak” anak remaja? “dilepas” sedikit demi sedikit. Kenapa? karena, tahap remaja adalah tahap persiapan untuk menjadi dewasa. Saat ia dewasa, ia harus menjadi individu yang sepenuhnya mandiri. Kalau saat remaja ia “tak diatih untuk dilepas” sama ortu, bagaimana ia bisa berkembang menjadi individu yang mandiri? mandiri di sini mandiri psikologis ya…karena saya bicara dalam setting psikologis. Kan katanya sekarang lagi nge-hits istilah “peter pan syndrom” (meskipun saya mah gak terlalu setuju  sama istilah sindrom-sindroman…;) .

Yah…memang tugas menjadi ortu itu “subhanallah” ya…. kita harus lekat, tapi tak beoleh membuat anak tergantung. Saat kecil kita harus jadi “sandaran” bagi mereka, mulai dari mereka 100% persen tergantung sama kita (tentu sama Allah juga lah ya…) . Eeeh…udah lekat, kitanya udah seneng anak “membutuhkan” kita…lalu pada saat mereka remaja…kita harus “berbesar hati” mempercayai mereka, melepas mereka sedikit demi sedikit. Orangtua, adalah representasi dari satu perbuatan. Ikhlas.

Nah, sampailah kita di bagian akhir tulisan ini. Bagaimana caranya biar kita sebagai ortu remaja, waspada tapi gak panik/cemas.Tentu kita tak bisa meminta para penyedia informasi tentang remaja untuk tak hanya memberitakan yang buruk tentang remaja. Buat para penyebar berita…bad news is a good news ! Kita juga tak bisa meminta para penyebar informasi mengenai berbagai survey untuk menjelaskan secara lengkap “metodologi penelitian” mereka. Tapi kita bisa mengubah diri kita. Hei hei….inga…inga…. kita bukan korban ! kita “berdaya” !

Menurut saya, 3 hal ini yang bisa kita lakukan:

(1) Mengolah dan menyaring informasi. Sudah saya jelaskan di atas ya….

(2) Baca sumber yang komprehensif.

Terkait poin kedua ini, saya mau cerita sesuatu. Suatu saat saya pernah seperjalanan ke Jatinangor dengan seorang senior saya. Usianya dengan saya…terpaut 20 tahun lah. Beliau produktif sekali menulis, meneliti, dan berkarya Beliau mengajak ngobrol saya. Beliau “mengeluhkan” waktunya yang ter”occupied” oleh obrolan di Wa Grup. Lalu beliau menunjukkan salah satu obrolan di Wa Grupnya, yang saat itu sedang aktif-aktifnya. Wow! pas saya liat nama-nama di Wa Grup tsb, widiiiih….itu nama-nama yang sering saya baca di berita dan suka nampil di TV…. sedang membiacarakan tentang “bangsa dan negara”…. beda kelas lah ama saya mah. Lalu beliau bercerita mengenai betapa mudahnya informasi tersebar. Lalu kita bla..bla..bla..ngobrol tentang dampak positif dan negatifnya…dan ada satu kalimat beliau yang saya ingat sampai sekarang; “yang saya sedih, dengan adanya wa ini, dan mudahnya mendapatkan informasi, saya jadi kurang waktu untuk membaca buku”.

Tah, eta….. temans….informasi yang beragam apalagi di sosmed, itu bukanlah informasi yang terstruktur. Kalau kita gak punya kerangka berpikir, dijamin pusing dan akhirnya resah dan gelisah. Golput vs milih pilkada langsung hari ini, imunisasi vs non imunisasi, jaket warsito vs kemoterapi, parenting nabawiyah vs parenting sekuler, disiplin vs kreatif, masa remaja vs masa akil baligh…dijamin lieur….

Kalau kita pengen punya alur kerangka pikir yang baik, baca buku atau tanya ahli. Misal soal remaja ini. Benarkah remaja itu merupakan masa “storm and stress?” kalau baca buku tahun 2014, istilah itu sudah tak dikenal lagi. Perubahan hormonal pada remaja tak otomatis membuat remaja “jadi monster”. Apakah remaja itu akan mudah terkena pornografi, seks bebas dan narkoba? apakah “generation gap” itu ada? kalau baca buku Sternberg 2014, disitu dinyatakan bahwa kebanyakan permasalahan “perbedaan dan pertengkaran remaja dan ortu”, itu bukan pada NILAI YANG MENDASAR. Tapi biasanya pada gaya. Cara ngomong. Selera musik. Warna dan gaya baju. Gak akan ujug-ujug amak laki-laki kita yang rajin ke mesjid tiba-tiba menghamili anak orang. Gak akan ujug-ujug remaja putri kita yang tilawahnya one day one juz tiba-tiba kabur sama orang yang baru dikenal di facebook. Mencari informasi yang komprehensif itu, menenangkan. menentramkan.

(3) Banyak-banyaklah “menyetok” pengalaman yang positif dengan si remaja. Dua kisah yang saya tulis di awal adalah salah satunya….eh, salah duanya 😉 Mereka adalah dua kelompok remaja. Satu remaja awal, satu remaja akhir. Yang katanya paling bergejolak. Saat memandang para remaja awal yang merentang busur panah itu, tenaaaang rasanya. Bahwa ada loh, sekelompok anak remaja yang gak menghabiskan waktu luangnya dengan main online games atau nonton video porno. Saat memandang wajah-wajah ke-38 mahasiswa saya, mengajari anak-anak kelas dua yang belum hafal huruf dengan sabar; menghembuskan harapan, bahwa gak semua remaja gak peduli seperti kasus “bunga amarylis” yang sempet ngehits kemaren 😉

Saya seneng banget kalau Azka udah cerita kakak-kakak kelasnya. Ada yang fokus dengan hobinya masing-masing; fotografi, film, memasak, dll. Saya juga seneng saat Azka menghabiskan waktunya memikirkan proposal yang harus ia buat untuk “melamar” jadi pengurus OSIS, lalu ia cerita bahwa kakak-kakaknya lagi buat proposal dana dan merancang acara baksos. Hei….masih ada loh, remaja yang “baik”….

Sepuluh hari ramadhan, saat itikaf, saya selalu menyengaja menatap wajah-wajah para remaja, yang khusyuk membaca Qur’an, khusyuk sholat dan berdoa. Di kampus, beberapa bulan terakhir ini saya punya kebiasaan baru. Di ruang kerja saya di lantai 3, saya sering berdiri depan jendela kaca yang besar. Dari sana, saya bisa melihat aktifitas mahasiswa-mahasiswa saya di halaman dan teras gedung-gedung kampus. Ada yang sedang latihan menari, terdengar suara latihan angklung atau paduan suara, kelompok-kelompok yang serius dengan laptop-laptop mereka, ada yang latihan untuk pentas sosiodrama, BEM, mentoring, dll. Dalam perkuliahan, saya juga sekarang sangat menikmati poster-poster kreatif yang mereka buat, tampilan ppt kreatif yang mereka sajikan….saya berusaha membangun keyakinan yang besar dalam diri saya….tak semua remaja seusia mereka sibuk dengan kenarsisan, drug ataupun pornografi.

So, ortu remaja, dont worry be happy. Waspada, tapi jangan panik dan cemas. Semangat !