BEB : Bukan Buku Biasa

Akhirnya, brojol sudah buku Bukan Emak Biasa, diiringi pergulatan perasaan yang tak berhenti sejak sebulan lalu buku ini “diseriuskan” untuk dipublish. Sampai detik-detik terakhir, saya masih berpikir untuk batal mempublish buku ini.

Mengapa? karena saya takut niat saya melenceng. Tulisan-tulisan di blog saya, sesungguhnya adalah hal yang sangat personal buat saya. Saya tidak tahu apakah tepat  menjualnya dalam bentuk buku atau tidak.

Meskipun dishare di ruang publik, tapi tulisan-tulisan di blog itu, benar-benar “sesuatu ” buat saya. Aduuuhh…gak nemu rangkaian kata yang tepat niiih….hihi….

Tahukah temans, dalam bayangan saya, sebelum muncul gagasan menyusunnya menjadi sebuah buku, tulisan-tulisan saya di blog terkait anak-anak saya, akan saya buat buku sendiri. Akan saya kumpulkan sendiri, akan saya jilid sendiri, untuk saya berian satu demi satu pada empat anak saya, nanti….saat mereka menikah. Kenapa akan saya lakukan sendiri? karena saya ingin menikmati setiap titiknya.

Nah, saya tahu sekarang….saya ragu mempublish buku ini, karena tulisan-tulisan di dalamnya sangat istimewa buat saya.  Saya takut, rasanya menjadi tak istimewa lagi karena sudah tercoreng “komersialisme”.

Semalam, saya baca lagi buku itu. Mulai dari cover sampai belakang. Ada bagian-bagian yang membuat saya yakin, bahwa “kesakralan” tulisan-tulisan tersebut, tak akan “berkurang” rasanya.

Bagian mana? bagian sebelum Daftar Isi. Disana ada orang-orang, yang saya percayai untuk terlibat dalam penyusunan buku ini. Membaca nama demi nama di sana dan mengapa saya memilihnya,  saya menjadi yakin bahwa buku ini, tetaplah “istimewa”. Karena mereka yang membantu saya, adalah teman-teman saya. Bukan orang lain. Beberapa kali terpikirkan meminta orang-orang “terkenal” menulis endorsement, hati saya menolak. Saya bilang ke mas, meskipun tidak “komersial”, sata ingin semua yang terlibat dalam buku ini adalah orang-orang yang “dekat” dengan saya.

Penerbit buku ini, adalah Irfan. Ia adalah adik kelas saya waktu di Salman. Meskipun lebih muda dibandingkan saya, tapi ia sangat memahami gejolak perasaan saya. Dua tahun sejak pertemuan pertama kami membahas buku ini, saya lebih banyak curhat padanya. Sangat tidak menguntungkan kalau dilihat dari kacamata bisnis haha…. Kalau di bagian akhir buku Bukan Emak Biasa ada bagian “Ayah”, maka Irfan adalah sosok representatif ayah yang keren. Irfan dan Mika, istrinya adalah sosok pasangan yang “lugu dan lurus”. Karakter yang mewakili hampir semua teman saya di Salman, di Karisma.

Pidi Baiq. Saya tak mengenal beliau secara langsung. Saya mengenal beliau dari karya-karyanya, serial Drunken:  Drunken Monster, Drunken Mama, Drunken Molen dan Drunker Marmut. Juga dari  ilustrasinya di buku seri kisah hewan dalam AlQUr’an, salah satu buku favorit anak-anak saya. Saya sangat menikmati kebodorannya yang natural di buku-bukunya. Buku-buku itu, mampu membuat saya ketawa-ketawa sendiri saat membacanya. Terlebih lagi, saat saya membayangkan sosok “suribu” yang digambarkan di dalamnya, yang saya kenal. Mbak Rosi, istri mas Pidi Baiq adalah kakak kelas saya di Psikologi. Maka, saya merasa bagai melompat ke atas awan  saat beliau bersedia menuliskan endorsement untuk buku ini. Dalam waktu yang sangat cepat, beliau merangkai kata yang sederhana, tapi keyen menurut saya.

Selanjutnya adalah mas Budi. Beliau adalah seorang yang saya dan mas pilih, untuk menyampaikan khutbah nikah saat kami menikah dulu. Tiga “irisan” saya dengan Mas Budi:  Salman, Purwakarta dan Psikologi. Sudah lama sebenarnya kami tak bertemu, dan pertemuan kami kembali terjadi 2 tahun lalu, saat kami berhaji. Ketika saya dan mas akan sholat Dhuha di rukun yamani, saya melihat sekelebat sosok. Mas Budi ! Pertemuan di tempat istimewa, pastilah pertanda sesuatu yang istimewa juga 😉 Sejujurnya, beliaulah yang “memaksa” saya mewujudkan buku ini, setelah prosesnya vakum lama karena gejolak perasaan saya tea. Komentar-komentar beliau di status saya: “mana buku?” dan beberapa kali wa, itulah yang membuat saya akhirnya “memaksa diri” mewujudkan rencana ini.

Lalu ada Mbak Tia. Meskipun beliau adalah dekan dan sebelumnya adalah pembimbing tesis saya, tapi buat saya beliau adalah sahabat. Minat kami yang sama pada bidang keluarga, membuat kami bersama sekumpulan teman  membentuk  PSPK, Pusat Studi dan Pengembangan Keluarga. Beliau adalah wanita yang super tangguh. Dengan gaya “easy going”nya, Beliau selalu punya cara untuk menghadapi kesulitan dan kerumitan.

Teh Ninih. Beliau pastinya public figur. Tapi bukan karena itu beliau saya pilih. Putri bungsunya, adalah teman sekelas Azka. Saya tidak terlalu mengetahui bagaimana cara beliau mendidik putra-putrinya dengan berbagai kesibukannya. Namun melihat putrinya; yang juara umum akademik, masuk tim paduan suara karena suaranya yang merdu, masuk tim menari dan hobi memasak, membuat saya bisa melihat bahwa beliau punya kekuatan yang hebat sebagai ibu.

Tari. Saya minta ia menuliskan endorsement sebagai perwakilan “ibu bekerja”. Waktu ia menjadi kakak kelas saya di S1 dulu, tak terbayang kalau kami akan “dekat”. Dia sosok wanita “sempurna”. Di usia yang hanya terpaut satu tahun dengan saya, ia telah mencapai semua cita-cita saya dalam bidang akademik dan profesi.  Seperti yang saya baca di koran yang memberitakannya saat ia selesai sidang terbuka doktornya beberapa tahun lalu. “Cantik, baik, cerdas, dan …hmmm…kaya ;)”. Setelah saya mengenalnya, saling curhat saat kami bersama menuju dan pulang dari kampus, berusaha menjawab pertanyaan :”bisa gak ya, kita berprestasi di dalam dan di luar rumah?” hei ! dia tak sempurna ternyata…tapi apakah itu mengurangi rasa “kagum” saya terhadapnya? anehnya tidak. Saya malah semakin kagum. Bagaimana ia punya energi yang tak terhingga untuk mengatur semua urusannya, termasuk urusan emosi yang menyertainya.

Teh Nia. Beliau adalah ketua BIPSIS saat saya disana. Lebih dari itu, ia adalah gambaran sempurna yang menunjukkan bahwa kelembutan dan ketangguhan itu, bisa dimiliki seorang wanita pada saat yang sama. Penampakan beliau lembut sekali. Namun sebagai seorang single mother sejak ditinggal wafat suaminya beberapa tahun yang lalu, saya selalu takzim pada kemampuannya untuk bisa tetap berdiri tegak menghadapi kesulitan. Kekuatan spiritual. Itu yang beliau miliki.

Novita dan Lulu. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa saya. Dulu, di awal menjadi dosen, saya memandang mahasiswa saya sebagai “makhluk akademik”. Tapi beberapa tahun terakhir ini, saya menikmati berinteraksi dengan mereka sebagai seorang “makhluk psikologis”. Apa bedanya? kalau dulu, saya hanya memberi perhatian pada konten. Jawaban ujian, kualitas presentasi, ketepatan logika. Sekarang, saya menikmati semuanya. Dinamika emosi mereka, tema-tema kehiduan mereka, keunikan mereka…Mengingatkan saya bahwa masa kuliah, adalah masa teristimewa dalam hidup saya. Lulu, adalah orang yang pertama kali mencetuskan ide penyusunan buku, lewat komentarnya terhadap salah satu tulisan saya.

Wita. Ia adalah mahasiswa saya ketika pertama kali saya berdiri di kelas sebagai dosen. Sampai saat ini, ia masih mahasiswa. S2 tentunya. Mahasiswa berprestasi, pastinya. Lha wong ia menorehkan sejarah dengan menjadi mahasiswa berprestasi 2 kali, waktu S1 dan S2. Bukan juga karena kehebatannya sebagai konduktor angklung. Coba ketik “Psymphonia” di yutub. Aksinya akan terlihat, baik dalam pergelaran di kampus, di Indonesia maupun di luar negeri. Dia kini menjadi salah satu sahabat saya. Berbeda dengan tampilannya yang selalu “taft”, ia pun pernah menghadapi masa yang amat sulit. Masa yang bisa membuat semua “kehebatannya” luluh menjadi tak berarti. Tapi bagaimana ia menghadapi kondisi yang membuatnya berada di titik terendah itulah yang membuatnya istimewa. Keberaniannya untuk “merendahkan diri” dibalik kehebatannya, tak semua orang bisa melakukannya.

Teh Rena. Meskipun pertemuan face to face kami bisa dihitung dengan jari, namun obrolan via wa, sangat intensif hehe… Ia adalah sosok ibu rumah tangga sejati. Yang sehari-harinya dihabiskan dengan beragam urusan “remeh temeh” domestik, dengan segala permasalahannya. Dan istimewanya IRT satu ini, kepelikan permasalahan yang ia hadapi, ia jadikan bahan bakar yang membuatnya melompat tinggi. Lihat aja hasil karya bukunya : Bahagia ketika Ikhlas, pernah jadi best seller. Juga produktifitas menulisnya.

Teh Wita, juga adalah kakak kelas saya. Dekat ketika beliau tengah menyusun tesis S2nya. Saat itu, ia menghadapi ujian yang kalau saya, kayaknya akan sulit untuk melewatinya. Tabah. Itulah gambaran saya untuknya. Dan di tengah-tengah kesulitan itu, ia malah menghasilkan buku! Panduan Perjalanan Haji Untuk Perempuan.

Fajar dan Telie istrinya, adalah teman seangkatan saya di Psikopad 97. Meskipun 4 tahun masa menjadi mahasiswa saya habiskan di Salman, namun kebersamaan bersama teman-teman 97 menjadi warna tersendiri dalam hidup saya. Saya dan Fajar, tak pernah berada dalam “sudut” yang sama. Dia punya “dunia dan pilihan” yang jauh berbeda dari saya. Tapi perbedaan itu tak membuat saya menjadi merasa tak harus menghargai dia. Itulah mengapa saya minta ia menulis endorsement sebagai perwakilan ayah.

Sue. adalah teman saya waktu kuliah S2. Bersamanya, kami menyelesaikan projek statistik yang sangat menantang waktu itu. Berada seorang diri di “negeri orang”, tak membuat ia patah semangat. Semangatnya, adalah hal yang saya kagumi. Walaupun jauh di mata, namun ada banyak hal terutama sebagai seorang ibu dan muslimah, dimana frekuensi kami sama.

Terakhir, ada Lai. Terakhir karena memang ia yang saya hubungi terakhir untuk projek ini. Dia adalah “the real emak”. Karena putera 3 tahunnya, Lentera, memang memanggilnya “emak”. Dia adik kelas saya, kolega saya di kampus. Saya mengenalnya pertama kali saat kami ditugaskan bersama untuk menyiapkan pameran pendidikan menyambut SBY. Saat itu, ia masih mahasiswa, yang terkenal punya sense of visual art yang keren. Ya, art memang melekat dengannya. Bisa dilihat dari video saat ia bermain biola di hari pernikahannya, diiringi permainan gitar suaminya, Alam. Ia adalah designer andalan kampus setiap dies. Designnya sederhana tapi elegan. Dan semua kehebatannya sebagai seorang Lai, all out ia persembahkan buat keluarganya. Coba liat foto-foto di facebooknya. Bento kreatif buatannya, worksheet-worksheet untuk Tera yang ia gambar sendiri, petualangan serunya tiap akhir pekan bersama keluarga….bikin “ngiler”. Maka, saya bahagia banget saat Irfan bilang Oke ketika saya mengajukan Lai yang mengerjakan desain cover buku saya. Ssst….saya tahu satu rahasia tentang Lai. Dia itu pencemas dan gak pedean loh… saya masih terbayang ekspresi wajahnya saat pertama kali akan memperlihatkan hasil gambarnya ke saya…gak pede banget katanya …hehe…

Suatu saat, saya pengen mengajak teman-teman yang udah gabung di komunitas “Bukan Emak Biasa” untuk kopi darat. Kita saling sharing, dengan cara yang antimainstrem. Saya bisa mengajak senior saya ahli konseling untuk  bikin “worldview”, atau nanti saya ajak teman art psychoterapist saya buat kita bikin visual art bareng, atau kita nyanyi bareng diiringin biola dan jembe-nya Lai…atau main angklung bareng diajarin Wita. Atau, kita ngobrol-ngobrol cantik aja mengenai hari-hari seru dan melelahkan bersama anak-anak kita. Hari-hari yang akan kita kenang dan kita rindukan, sepuluh tahun dari sekarang.

Buat saya, gambaran ibu yang istimewa itu, tak dibatasi dimensi-dimensi “kasat mata”- bekerja atau tidak bekerja, homeschooling atau tidak, berhati lembut atau tidak, atau hal-hal lain yang sering digambarkan sebagai ibu ideal. Buat saya, yang paling mempesona dari seorang ibu adalah, saat ia menjadi “dirinya sendiri”. Dengan gayanya, keunikannya, keresahannya, tapi terus bergerak. Ia menangis, tapi tak menyerah. Maka, siapapun bisa jadi ibu yang istimewa. Buat saya, semua ibu adalah istimewa.

_20151224_055620Kalau saya ditanya, tulisan mana yang paling favorit di buku ini, halaman di samping ini adalah jawabannya.

Saya ingat, saya mengagendakan waktu khusus untuk menulisnya. Suatu dini hari saya bangun untuk menulisnya. Meskipun hanya beberapa kalimat, tapi saya butuh waktu lama. Karena saat menulisnya, saya tak bisa menahan banjir memori dan emosi yang  saya rasa.

Saat saya menulis “untuk mamah dan papah”, rasanya saya kembali ke masa lampau. Lidah saya tiba-tiba kembali merasakan nikmatnya cireng nasi buatan mamah sambil menatap hujan bersama adik saya di ruang tamu rumah kami, merasakan kembali enaknya pisang goreng buatan mamah, juga sayur kacang merah yang selalu saya rindukan kala sakit-sampai sekarang pun. Terasa kembali serunya dikejar kerbau saat menemani papah nyari belalang ke hutan untuk makanan burung peliharaannya, teringat setiap ramadhan diajak ngabuburit menatap matahari tenggelam, dianter vespa putih papah sekolah, diajarin main bulutangkis….terasa lagi juga membuncahnya rasa saya ketika melihat papah menuntun sepeda BMX sebagai hadiah saat saya jadi peraih NEM tertinggi di SD…. semua kenangan itu, membuat saya tak bisa menahan tangis, setiap kali membaca halaman ini, sampai sekarang.

Lalu 4 anak saya, yang selalu saya hadirkan wajahnya saat saya mengucap “robbi habli minassholihin”, empat kali, untuk masing-masing anak sehabis sholat…yang hari-hari bersama mereka, bisa menjadi ribuan buku tertulis di hati.

Dan mas….ia adalah seorang suami. Tapi sampai saat ini, di tahun ke-13 pernikahan kami, saya tetap menghayati ia adalah sahabat buat saya. Tempat saya menceritakan semuaaaaa pikiran, perasaan, kegalauan, ketakutan, kecemasan, harapan, mimpi, bahkan kebodohan-kebodohan saya, dengan sepuasnya, dengan nyaman. Meskipun baru 13 tahun bersama, tapi selain Allah, dia adalah orang yang paling mengenal saya. Dia yang selalu ada di samping, depan dan belakang  saat saya membutuhkan. Membutuhkan apapun. Mulai dari pulsa, settingan internet, dukungan, dorongan, pelukan, apapun bisa saya dapat dari dia. I love you.

Maka, buku BUKAN EMAK BIASA bagi saya, bukanlah buku biasa. Buku ini buat saya, adalah gambaran nyata betapa hari-hari yang biasa kita lalui, orang-orang yang biasa kita temui, sesungguhnya adalah perwujudan Rahman-Rahimnya Allah.

Tak ada orang yang biasa. Tak Ada Emak yang biasa. Kita semua adalah istimewa. Kesulitan, kecemasan, ketakutan, air mata, kesedihan, kelemahan, ketidaktahuan, ke”biasa-biasa saja” an kita,  tak sedikit pun mengurangi keistimawaan kita sebagai Mahakarya sempurna dari sang Maha.

Mari kita nikmati hidup ini. Tertawakan kebodohan kita dengan riang. Nikmati kesulitan kita dengan tangisan. Senyumi semua yang membuat kita bahagia.

Semangat !!!!

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s