ibu : memilih sepenuh hati, memilih dengan rendah hati

Hari ini, karena sesuatu hal, saya tidak beraktivitas. Memang aktifitas kampus baru mulai tgl. 15 nanti, sehingga bisa dikatakan saat ini masih “libur”, meskipun justru karena sedang “libur”, maka banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan saat perkuliahan berjalan, diagendakan di saat “libur” ini.

Tapi hari ini, saya memang mengangendakan di rumah. Pagi tadi, yang terakhir sekolah adalah Azzam si anak PG, berangkat jam 8.  Hana, yang hari libur karena kemarin fieldtrip, bilang pengen ikut sekolah sama de Azzam. Setelah saya wa bu guru Azzam menanyakan apakah Hana boleh ikutan masuk kelas dan ibu guru mengizinkan, berangkatlah dua anak itu. Tinggal saya sendirian. Beberes? engga. Ada teh Rini yang bantu mencuci dan beberes rumah. Masak dikit, lalu saya mengerjakan beberapa hal ringan.

Jam 11, dua anak itu datang dari sekolah. Saya siapin makan, lalu main…saya agak ngantuk….lalu saya pun berniat bobo siang hihi…rasanya udah berpuluh-puluh tahun gak bobo siang. Tapi, pas mau tidur banget, Azzam teriak pengen bab, naik ke wc nya masih harus dibantu. Beres itu, dia minta dibikinin susu. Hana sih anteng baca. Tapi Azzam bolak balik minta saya nemenin dia. Minta dicariin gambar untuk diwarnai, minta main lempar tangkap bola seperti semalam, minta main lompat tali seperti kemarin malam, lalu pengen mandi, dan saya agak kesal menanggapinya. Selama 5 jam bersama di rumah, entah berapa kali nada suara saya naik. Apalagi pas mandi, Azzam sengaja pipis di gelas buat kumur-kumur….haduuuh…Kini dia udah anteng main berdua Hana, main jadi Bananas in Pijamas, Hana jadi B1 dan Azzam jadi B2.

Beberapa menit lalu, saya jadi merenung. Kenapa ya, kok saya gak sesemangat kemarin dan  kemarinnya lagi menemani anak-anak main? Mmmhh….satu hal yang saya rasakan adalah, ketika saya keluar rumah seharian setiap hari, saat pulang saya berkomitmen untuk memberikan “quality time” pada anak-anak saya sebagai “balasan”. Maka, selepas memasak makan malam dan menyuapi, saya akan menemani mereka bermain apapun yang mereka inginkan. Tanpa menolak. Paling saya izin mandi dulu biar segar. Maka, 2-3 jam yang saya punya setiap hari dengan anak-anak, sepenuh hati saya dedikasikan seutuhnya. Semalam, main lempar tangkap bola sampai jam 9 dengan Azzam dan Hana. Dengan berbagai gaya, membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal dan mengeluarkan kata-kata yang menandakan mereka enjoy; “lagi bu….lagi bu…”. Malam sebelumnya, kita menggambar tangan pake cat. Malam sebelumnya, karena mereka saya beliin produk finger print drawing, kita pun asyik membuat beragam gambar menggunakan cap jari. Malam sebelumnya lagi, seru-seruan main puzzle, yang sedang digandrungi Azzam.

Saya jadi membayangkan teman-teman saya yang memilih menjadi IRT. Saya tahu, mereka banyak yang tidak punya ART. Membereskan rumah, mencuci, menyetrika, sambil mengasuh satu, dua atau lebih balita. Mmmhhh….kalau melakukan seperti yang mereka lakukan, rasanya saya tak akan punya energi lagi untuk tersenyum, tertawa, menikmati, bermain, apalagi menstimulasi anak-anak. Eh tapi itu mah saya deng…

Oh ya…..saya jadi mengerti….itu yang dimaksudkan pahala ibu yang tinggal di rumah itu tak terhingga. Saat tubuh lelah dan merasa “berhak beristirahat” dengan nonton film atau medsos-an, atau sekedar memejamkan mata sebentar, bukan tak mungkin si kecil justru tak mau kompromi. Seperti kelakuan Azzam tadi. Dan saat itu, sang ibu pun harus mau melayani si kecil.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca buku tentang “mothering”. Di buku itu disampaikan bahwa salah satu faktor yang bisa jadi stressor buat ibu adalah, tuntutan sosial. Terkait pilihan menjadi IRT, saya menghayati banyaknya “jargon” yang memuliakan pilihan menjadi IRT, satu sisi lainnya justru bisa jadi sumber stress.

Misalnya bahwa IRT itu menjalankan peran sebagai madrasah yang pertama dan utama, bahwa IRT berpendidikan tinggi itu mendedikasikan pendidikan tingginya untuk membangun kualitas anaknya, bahwa IRT itu 24 jam bersama anaknya, sehingga anaknya menjadi full terstimulasi, terdampingi dan terjaga kualitasnya.

Buat saya, justru beberapa “jargon” yang selama ini “mendiskreditkan” ibu yang memilih bekerja, di satu sisi membuat saya bisa menjalankan peran sebagai ibu dengan lebih “rileks”. Misalnya kalau anak saya main ipad terus, sekolah telat, malas-malasan, rasanya lingkungan sudah memaklumi dengan berkata “ibunya kerja sih”. Sedangkan kalau saya memilih menjadi IRT, kalau anak-anak saya kurang berkualitas, lingkungan biasanya bilang “padahal ibunya di rumah loh” .

Nah, makanya……saya sangat tak setuju dengan apapun yang berbau “membandingkan”. Saya lebih setuju menghayati bahwa….perjuangan ibu itu, apapun pilihannya, sama menantangnya. Cuman bentuknya yang berbeda. Oleh karena itu, pada setiap ibu apapun pilihannya, saya lebih memilih “menemani”.

Menghayati kesulitan-kesulitan yang muncul sebagai konsekuensi dari pilihannya.Tak ada pilihan di dunia ini yang 100% menyenangkan. Kebosanan dan perasaan “tak berkembang” yang dirasakan ibu yang memilih menjadi IRT, atau kepenatan pikiran karena tuntutan pekerjaan dan kebingungan saat ada acara keluarga penting yang bentrok dengan tanggung jawab di pekerjaan yang dirasakan oleh ibu yang memilih bekerja, itu nyata adanya.

Lalu saling berbagi, bagaimana dengan pilihan apapun, kita bisa optimal. Ibu bekerja yang cuma punya 3 jam setiap hari dengan anak-anaknya, bagaimana mengoptimalkan 3 jam itu menjadi waktu yang sangat berkualitas, yang mampu “mengcover” waktu 8 jam saat si ibu berperan sebagai “karyawan” di luar rumah. Ibu yang memilih tinggal di rumah, kita sharing bagaimana caranya mengelola emosi, agar tak terjebak pada pemikiran “saya 24 jam bersama anak-anak”, padahal 24 jam itu berlalu tanpa interaksi yang berarti karena ibu melakukan ini itu lalu merasa lelah.

Dan yang terakhir, jangan lupa kita saling mengingatkan untuk bersyukur. Bersyukur itu, kata pak Ustadz adalah memanfaatkan apa yang kita punya agar menjadi bermakna. Ibu yang memilih menjadi IRT, selalu bersama dengan anak. Maka, jangan biarkan belasan jam itu berlalu begitu saja. Ibu yang memilih bekerja, punya kesempatan mengembangkan wawasan dalam bidang dan profesinya seluas-luasnya, bertemu banyak orang yang menginspirasinya, maka tularkan energi yang didapat dari luar rumah itu untuk anak-anaknya.

il_fullxfull.566212618_l7pm

Jangan ikut-ikutan membandingkan. Baik membandingkan dalam hati, saat ngobrol di tukang sayur atau di kantor, apalagi di waG dan medsos. Nanti terjebak pada “pepesan kosong”. Apapun pilihan kita, lakukan dengan sepenuh hati dan rendah hati. Syukuri, lalu berbagi. Lebih seru mulia bersama-sama daripada mulia sendirian.

 

 

 

sumber gambar : http://jillcampadesigns.com/products/a-mother-is-like-a-flower-each-one-beautiful-and-unique-handcrafted-pendant-necklace-gift-for-mom-gift-for-step-mom-mom-jewelry?variant=854228583

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s