GA 37 BEB: (4) Ibu: Memilih Sepenuh Hati, Memilih dengan Rendah Hati.

Assalaamu’alaikum mba Fitri.

Nama saya Dewi Muthia. Jadi pengen ikutan curhat nih berkaitan dgn tulisan mba Fitri di blog: Ibu: Memilih Sepenuh Hati, Memilih dengan Rendah Hati.

Saya menikah di usia 32 tahun. Usia yang sering dianggap “telat” buat nikah. Apa boleh buat, jodohnya baru ketemu di umur segitu hehehe. Sampai umur segitu baru nikah, saya tergolong cukup kenyang dengan yang judulnya sekolah(alhamdulillah sampai tamat S2 walau lulus dgn nilai pas pasan) dan kerja (baca:cari duit).

Euforia menikah diiringi tekad untuk di rumah saja mengurus suami dan anak (saat itu belum punya anak). Persiapan pernikahanpun dilengkapi dengan aksi pengunduran diri dari tempat kerja (kantoran)

1 minggu awal pernikahan, saya merasa pilihan untuk tetap di rumah adalah yang paling tepat. Minggu-minggu selanjutnya saya merasa bosan sekali walau saat itu kami masih tinggal di rumah orang tua. Tinggal di rumah orang tua sendiri setelah menikah tidak membuat ketrampilan rumah tangga saya bertambah terutama ketrampilan perdapuran alias masak. Suami dipaksa puas dengan hasil masakan ibu saya hehehe.

Kembali ke bahasan bosan setelah bulan madu usai, Tiba-tiba seorang teman menawarkan saya mengajar TOEFL untuk para pegawai di salah satu instansi pemerintah. Jadwal mengajarnya hanya 2 hari per minggu dengan fee yang lumayan. Dengan pasang muka melas ke suami, alhamdulillah jadilah saya guru part time.

Beberapa bulan kemudian ketika proyek mengajar toefl berakhir, seorang teman mengajak saya “ngantor” lagi. Aiii saya tergoda lagi. Saya bilang ke suami, dari pada saya bengong di rumah apa lagi saat itu kami belum punya anak.

Jadilah saya jadi orang kantoran lagi. Baru mulai bekerja, tanda-tanda kehamilan muncul. Setelah melahirkan, saya resign (lagi) agar fokus membesarkan anak.

Pada awalnya, menjadi ibu terasa sangatlah mudah apalagi ada banyak orang yang membantu saya di rumah. Tantangan baru muncul ketika suami saya mengajak hidup mandiri dengan mengontrak rumah.

Menjadi ibu rumah tangga itu tidak mudah bo. Apa lagi dengan adanya balita yang awalnya hanya satu, kemudian jadi dua 😉

Saya merasa di awal terlalu fokus dengan apa yang bisa dimakan suami dan anak-anak saya hingga kurang bermain dengan anak-anak saya. Menu masakan yang bisa dihidangkan masih sangat terbatas hingga masakan saya ya itu-itu saja. Pekerjaan rumah tangga lain tidak setiap hari bisa beres semua. Jika merasa sudah jenuh tingkat tinggi, saya ngungsi ke rumah orang tua saya. Hehehe cemen banget ya.

Suami saya pun mengerti terkadang istrinya butuh “liburan” agar tetap “waras”. Saya masih harus terus belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Blog mba Fitri ini menjadi salah satu referensi saya.

Keep on writing mba 😉 

Advertisements

GA 37 BEB: (3)Nama adalah doa, tapi..

Menurut saya bagian yang paling saya sukai adalah “Nama Adalah Doa, Tapi ….” membaca judulnya saja membuat saya tertarik. Saya memang belum menikah tapi membaca bagian ini memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya di kemudian hari. Semoga. Aamiin..

Ada kerja keras dibalik misi yang disematkan melalui pemberian nama. Inti dari bagian ini menegur saya yang bekerja sebagai guru SD. Banyak nama indah yang saya temui di deretan absen kelas murid saya namun terlepas dari apa arti nama mereka saya percaya begitu dalam harapan baik dari para orang tua terhadap anaknya. Dan saya pun bertugas untuk ikut serta membantu orang tua mencerdaskan anak-anak dan membimbingnya ke jalan yang benar. Memberi contoh yang baik sungguh tidak mudah. Namun selalu ada kerja keras dan doa untuk mewujudkan arti dari nama-nama mereka.
Terima kasih atas pencerahannya, Mbak Fitri. 🙂

Dari : Annisa Nuraida