Agar anak-anak kita tak jadi penonton dan komentator

Sebulan ini, saya menemani ayah saya berkonsultasi mengenai kondisi kesehatannya, sampai dilakukannya tindakan operasi dan pasca-nya. Tak kurang dari tiga dokter sub spesialis yang kami temui untuk berkonsultasi. Satu hal yang sangat saya syukuri adalah, saya punya lingkaran teman-teman yang bisa memberikan rekomendasi para dokter ahli yang sesuai dengan kondisi ayah saya. Tak hanya fisiknya, namun juga psikologisnya. Saya mencari dokter yang secara keilmuan dan pengalaman oke, juga “wise” dalam berkomunikasi dengan pasien. Maklum, untuk orangtua seusia ayah saya, kondisi psikologisnya yang harus lebih dijaga dibandingkan dengan kondisi aktual fisiknya.

Bertemu dengan tiga dokter super ahli yang menyampaikan diagnosa “berat” dengan cara yang empatik dan menenangkan itu, rejeki banget. Istilah lebaynya mah “mempesona” haha….perasaan yang sama ketika 6 tahun lalu saya bertemu dokter bedah anak yang bisa menjawab semua pertanyaan saya mengenai kondisi Umar.

Ada banyak orang yang membuat saya terpesona, dengan beragam peran dan kondisinya. Tapi para profesional yang begitu sungguh-sungguh mencintai pekerjaannya, sehingga seluruh potensi kebaikannya tercermin saat ia melakukan profesinya, selalu mendapat tempat spesial di hati saya. Jaman kualiah dulu, di diary saya, ada banyak tulisan : “saya ingin seperti ibu ini, saya ingin menjadi seperti ibu itu”. Ibu ini dan ibu itu yang saya tuliskan namanya, adalah mereka-mereka yang berkiprah dalam satu profesi tertentu. Saya jadi ingat awal tahun ini, salah seorang ibu yang saya tulis namanya di diary saya, yang diam-diam menjadi idola saya, menelpon saya untuk mengucapkan terima kasih atas kiriman buku BEB saya pada beliau. Saat itulah saya bilang. Bahwa 17 tahun lalu, saya menulis di diari saya, bahwa saya ingin menjadi seperti beliau hehe….

Ada banyak ajaran agama yang mengatakan bahwa menolong orang lain itu, adalah perbuatan super mulia. Kita yang meringankan kesulitan orang lain, akan Ia bantu saat kita mengalami kesulitan. Dan seorang profesional yang membantu orang lain saat dalam kondisi yang tak semua orang bisa menolongnya, itu adalah suatu kondisi yang sangat ….saya tak menemukan kata lain selian “mempesona”.

Saya pernah datang ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan atm saya, dan disana ada seorang ibu dengan wajah babak belur berdarah-darah, selesai melaporkan kejadian KDRT yang ia terima dari suaminya. Disana tak ada polwan. Polisi yang nenanyainya, bapak-bapak dengan wajah sangar. Tiba-tiba saya teringat para aktifis perempuan yang memperjuangkan Undang-Undang perlindungan bagi wanita, yang berupaya untuk meyakinkan pihak-pihak lain bahwa adanya polwan dan layanan khusus untuk wanita yang menjadi korban KDRT, yang diperkosa, dan mengalami hal buruk terkait dengan statusnya sebagai “wanita” itu, perlu.

Saya juga teringat senior saya yang mengabdikan dirinya untuk memabntu wanita-wanita korban kdrt dan pelecehan seksual. Saya pernah ikut beliau mendampingi seorang wanita di LP, yang akan diadili dengan dakwaan membunuh anaknya. Yang dilakukan ibu itu sebenarnya adalah, bunuh diri bersama anaknya. Anaknya meninggal, dia tidak. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ibu itu, dalam kondisi yang amat terpuruk, trauma karena melihat detik-detik wafatnya anaknya, merasa bersalah, takut menghadapi tuntutan pengadilan, berat menghadapi kondisi di penjara, merasa sendirian di dunia ini karena tak ada yang menjenguknya, blank mengenai kehiduannya setelah keluar penjara nanti…. saya ingat sekali, hal yang diminta ibu itu setiap kami datang adalah, ia minta izin untuk memeluk kami. Pelukan yang eraaaaaaat yang tak mau ia lepaskan. Dan senior saya itu, dengan seluruh keahliannya, bisa membangkitkan harapan ibu itu.

Ya, dengan apa yang kita bisa, kita bisa menolong orang lain. Tapi seorang profesional, dengan keahliannya, menolong orang dalam kondisi dimana ia sudah merasa tak ada harapan lagi untuknya, buat saya, amat mempesona. Orang-orang itu, adalah perwujudan sang Maha pemberi Rahmat yang hadir dalam bentuk nyata di dunia ini. Orang-orang seperti ini, menumbuhkan keyakinan bahwa Allah itu, dengan kemahakuasaaanya, benar-benar ada.

Saya percaya bahwa Salah satu keMaha-an Allah, adalah ia menciptakan manusia ini unik. dengan keunikan -kelebihan dan kelemahannya. Maka, saya memang bukan motivator. Saya tak akan mengatakan “kita semua bisa jadi apapun kalau kita mau”. Ya, bisa sih bisa. Tapi bahagia? optimal? mungkin tidak. Banyak orang yang bisa jadi dokter. Tapi dokter yang analisanya tajam? yang empatinya begitu menonjol sehingga pasien merasa dihargai dan dimanusiakan? Banyak orang bisa jadi guru. Tapi guru yang kreatif mencari cara serta yakin bahwa setiap muridnya punya potensi yang harus ia temukan, menghargai pencapaian muridnya meskipun tak sesuai harapannya? Banyak orang bisa jadi ekonom. Tapi ekonom yang bisa menemukan pendekatan yang paling pas untuk kondisi mikro suatu komunitas dan lalu membangun komunitas itu? Yang bisa jadi penulis banyak. Tapi penulis yang bisa membedah suatu persoaan secara jernih dan menggerakkan pembacanya ke arah kebaikan? tak semuanya bisa.

Mereka yang “bersinar”, yang tampil mempesona memancarkan seluruh kebaikan dari dirinya dalam kegiatannya, adalah mereka-mereka yang telah menemukan potensi apa yang Allah karuniakan kepadanya, menjalani jalan itu dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh rasa.

Dalam pembicaraan-pembicaraan dengan mas mengenai masa depan anak-anak, tema ini  yang selalu jadi isu. Bagaimana kami bisa menemukan potensi terbaik yang dimiliki masing-masing dari 4 anka kami, sehingga kami bisa mengarahkan ke arah yang benar. Ya, engga apa-apa sih, kuliahnya selama 4 tahun di bidang “x”, lalu berkaryanya di bidang “y”. Tapi secara personal, kami tak ingin itu terjadi. Sayang ilmu yang dipelajari selama 4 tahun itu mubadzir. Dan lagi, mungkin masuknya kita ke pendidikan “x” itu, jadi menghalangi orang lain yang akan menjadi sungguh-sungguh ketika ia masuk disana. Itu hal pertama.

Hal kedua, meskipun terlihat sangat “religius”, tapi kami tak ingin anak kami “hanya” menguasai ilmu agama. Bahkan kami tak setuju sebenarnya ada pemisahan ilmu agama dan non agama. Karena sudah jelas bahwa bagi muslim, setiap helaan nafasnya seharusnya adalah menjadi ibadah. Maka, bidang apapun yang ia pelajari dengan sungguh-sungguh, setelah melalui persyaratan sebagai amal yang baik -yaitu bermanfaat, baik dan benar, maka itu adalah ilmu agama. Yang bisa menyelamatkan di akhirat nanti. Kami berharap anak-anak kami bisa terjun ke masyarakat, sebagai ulil albab. Orang beragama yang berilmu.

Saat ini, saya sebenarnya sangat sedih sih melihat fenomena yang ada. Kalau anak-anak kita sering terpapar perbadingan seperti : “lebih baik mana, pemerhati lingkungan yang gak sholat atau ustadz yang gak peduli pada pelestarian lingkungan?” di masa depan, menurut penerawangan saya, perbandingan-perbandingan ini akan semakin banyak dalam beragam konteks.

Dan buat anak-anak kita, kalau kita mau meluruskannya, tak cukup dengan tulisan, atau argumentasi. Tapi harus dengan contoh konkrit. Dengan pengalaman. Mengajak anak diskusi tentang silogisme, tentang perbandingan apple to apple, mungkin tak lebih efektif dibandingkan kalau kita ajak anak menemui kenalan kita, dokter yang juga ahli tahajjud. Ustadz yang juga aktifis lingkungan. Insinyur mesin yang penghafal Qur’an. Akuntan yang membuat sekolah gratis untuk orang tak mampu. Aktifis perempuan berjilbab yang membuat daycare gratis bagi para buruh pabrik perempuan atau guru-guru sekolah Islam, sehingga saat guru-guru sekolah Islam terpadu itu mendidik murid-muridnya agar menjadi bertqwa, ia tak harus khawatir dengan kesejahteraan dan kualitas anak yang harus ia tinggalkan seharian.

Saya setuju dengan pendapat HAMKA. Tulisan harus ditanggapi dengan  tulisan. Karya, ditanggapi dengan karya. Kepedulian ditangapi  dengan kepedulian. Argumentasi ilmiah, harus ditanggapi dengan argumentasi ilmiah. Penelitian harus ditanggapi dengan penelitian. Profesionalisme, harus ditanggapi dengan profesionalisme. Itu namanya mengkomunikasikan kebaikan. Dengan “bahasa” yang sama. Mengkomunikasikan bahwa islam ini rahmatan lil alamin. Bahwa kesilaman seseorang itu, adalah nyala api yang membuatnya bersungguh-sungguh dalam bidang apapun yang ia tekuni.

Kita sudah lihat bagaimana hasilnya kalau karya ditanggapi dengan status facebook. Kepedulian ditangapi dengan ocehan di twitter. Argumentasi ilmiah ditanggapi dengan share gambar hoax. Kita sudah lihat bagaimana hasilnya bagaimana semangat saja tak cukup. Semangat itu, dalam psikologi adalah impuls. Semangat saja, tak membedakan kita dengan makhluk Allah yang lain. Kita adalah karyaNya yang paling mulia. Kita punya fungsi luhur. Kemampuan analisa. Kemampuan problem solving. Decision making.Yang bisa menjadi tajam kalau kita latih.

Berbekal semangat saja bahwa bahan tertentu yang disebutkan RAsulullah itu bisa mengobati segala macam penyakit sehingga tak perlu mengembangkan penelitian di bidang farmasi, itu tak cukup. Berbekal semangat saja dengan mengatakan bahwa jika jaman dahulu remaja yang sudah baligh itu sudah matang secara psikologis sehingga sekarang juga bisa, tanpa mau belajar mengenai apa itu kematangan psikologis, faktor-faktor apa yang mempengaruhinya, apa perbedaan jaman rasulullah dengan jaman sekarang, itu tak cukup. Berbekal semangat saja bahwa penghafal al qur an itu bisa memberikan mahkota pada orangtuanya di akhirat nanti tanpa punya ilmu dan tak mau bersungguh-sungguh mencari metoda menghafal yang sesuai dengan cara kerja otak anak, itu tak cukup.

Islam itu sungguh sudah sangat sempurna. Ia tak perlu dibela dengan kata-kata tajam, share-an status, apalagi lemparan batu dan teriakan Allah Maha Besar Tugas kita bukan membela Islam. Tapi mengejawantahkan kesempurnaan Islam dalam kehdiupan kita secara membumi. Dengan kesungguhan dan kerendahan hati. Sehingga siapapun dia, ia bisa melihat bahwa Islam itu menyempurnakan akhlak. Akhlak siapa? ya akhlak muslim. Bahwa Islam itu POWERFULL untuk memecahkan masalah nyata, seperti dulu Rasulullah menyelesaikan masalah-masalah sosial di Mekah dan Madinah.

Jangan salahkan orang-orang yang kemudian mengasiosiasikan islam dengan kebodohan, ke-reaktif-an, ke-impulsif-an, emosionalitas.  Jangan salahkan kalau anak-anak kita kemudian menyimpulkan bahwa tak sholat tapi berkonsribusi pada masyarakat  itu, jauh lebih baik dibanding sholat namun tak berbuat apa-apa untuk masyarakat.

Mungkin itu karena kita mengajari mereka untuk hanya jadi penonton. Untuk hanya jadi komentator. Tanpa berbuat apa-apa. Karena kita malas untuk menemukan potensi terbaik apa yang Allah titipkan buat kita, yang bisa kita asah dengan sungguh-sungguh, yang bisa mendorong kita berbuat kebaikan, yang bisa mempesona orang lain, yang membuat orang lain melihat Rahmat Allah di bumi ini.

Wallahu alam.

 

 

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. niswiyana
    Mar 28, 2016 @ 14:35:48

    Mba Fitri, salam kenal.
    Terima kasih, tulisannya sangat menginspirasi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s