Adakah “remaja” dalam Islam ?

Suatu sore, saya menyaksikan adegan yang membuat saya pengen ketawa guling-guling. Si gadis kecil 7 tahun yang sedang asyik membaca buku, tiba-tiba bangkit, memakai kacamata plastik hello kitty-nya, mengambil pulpen, dan mendekati si sulung 13 tahun  yang sedang asyik ber-hape ria. Dengan gaya reporter, si gadis kecil berkata:

Gadis kecil : “Kaka, apakah kaka mudah tersinggung?”

Si sulung : “Apaan sih kamu? ganggu aja…”

Gadis kecil : “Ya, betul. Barusan Kaka menunjukkan perilaku mudah tersinggung. Pertanyaan selanjutnya: apakah Kaka perasaannya mudah berubah-ubah dengan cepat?”

Si sulung: “Ih, kamu….gak ada kerjaan lain apa?” (dan dia pun beranjak ke kamarnya).

Lalu si gadis kecil pun mendekati saya, menunjukkan sejumlah poin dengan kolom checklist yang ada di buku “pubertas” yang sedang dibacanya. Lalu dia berkata: “Bu, Kaka positif remaja bu….bener kata ibu”.

Adegan itu, kepolosan si gadis kecil, lucuuu banget. Memang sejak dua tahun lalu, sejak si sulung yang baik hati, tidak sombong dan super ngemong itu berubah perilakunya menjadi jutek, saya menjelaskan pada adik-adiknya bahwa kakaknya, memasuki masa remaja. Apakah remaja itu? bla..bla..bla…pubertas…bla..bla..bla…hormon…bla..bla..bla..emosi…bla..bla..bla..

Ah, remaja. Pemikiran yang tidak islami. Tak ada remaja dalam Islam. Adanya istilah remaja itu hanya upaya pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim. Biar aqil-nya gak bareng sama baligh-nya.

Sudah sering saya dengar dan baca pendapat tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang berpendapat demikian, saya punya sudut pandang lain.

Bahwa dalam Islam periode perkembangan manusia itu hanya ada dua yaitu belum aqil baligh dan sudah aqil baligh, Yups. Absolutely. Ajaran agama, jika dituliskan dalam Al Qur’an dan sunnahnya, areanya iman. Percaya.

Istilah remaja itu adalah upaya-upaya pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim, agar kita sebagai orangtua mentolelir “kesalahan-kesalahan” dan memaklumi “proses pencarian jati diri” remaja? No comment. Wallahu alam. Saya tidak punya informasi yang bisa saya percaya untuk mengatakan itu betul atau salah.

Lalu, kenapa saya masih menghidupkan kata dan konsep “remaja” dalam kepala saya, padahal saya muslimah?

Biar saya ceritakan dulu asal-usul munculnya istilah “remaja” ini. Istilah “remaja” atau adolescence, berasal dari bahasa latin yang artinya “to grow into adulthood”. (Tuuuuh ka, dari latin, bukan dari Islam). Mengapa para ahli psikologi memunculkan “remaja” sebagai salah satu tahap perkembangan manusia ? tahap perkembangan manusia itu, dirumuskan berdasarkan karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikiran yang berdampak pada perilaku yang khas.

Mengapa periode anak dibedakan dengan periode dewasa? karena ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang berbeda secara signifikan pada anak dan pada dewasa. Mengapa individu usia 40 sampai 60 tahun dikelompokkan dalam kelompok yang sama? karena secara umum, karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikirannya tidak berbeda secara signifikan.

Jadi, adanya istilah REMAJA adalah berdasarkan pengamatan bahwa ada kekhasan perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran pada kelompok usia tertentu, antara usia anak dan usia dewasa. Usia berapa? nah, ini pertanyaan gampang yang susah jawabannya. Karena parameter yang digunakan juga  berbeda-beda. Namun intinya, masa ini pada hakikatnya adalah masa dimana anak mengalami perubahan dalam semua aspek perkembangannya  untuk menjadi dewasa. Makanya suka disebut masa transisi.

Mengapa transisi? karena tidak JRENG !!! begitu menginjak usia tertentu, atau begitu mengalami kejadian tertentu, perilaku anak langsung berubah menjadi perilaku yang dewasa. Ada proses. Proses itu terjadi bertahap. Dari segi biologis dalam tataran sel, fungsi otak, yang berdampak pada kemampuan berpikir, yang seterusnya berdampak pada perilaku.

Jadi, kalau yang saya tangkap, literatur psikologi yang menyebutkan ada tahap yang namanya remaja dengan karakteristik perubahan biologis begini, perubahan fungsi otaknya begitu, perubahan emosinya begono, dll… itu bicara tentang fakta empiris. Kenyataan di lapangan. Tinggal kita berpikir kritis: di lapangan yang mana? amerika? negara barat? timur? indonesia? timur tengah? …. apakah di semua tempat ditemukan perilaku  pada usia tertentu yang khas, berbeda dengan perilaku anak-anak dan perilaku orang dewasa di daerah tersebut? Mangga pertanyaan itu dicari jawabannya sendiri.

Saya sendiri, sependek pengalaman saya, melihat bahwa perilaku khas itu -perilaku khas yang bukan perilaku anak-anak namun bukan perilaku dewasa- ada di rumah saya, nyata di lingkungan sekitar saya. Maka, saya sendiri percaya bahwa ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang terjadi pada anak yang akan berproses menjadi dewasa. Mau dinamakan REMAJA, mau dinamakan pemuda, mau gak dikasih nama juga, bukan itu hakikatnya. What in a name…. tapi bahwa secara lapangan kenyataan itu ada, ya.

Lalu, bagaimana dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa setelah baligh anak dituntut dengan kewajiban yang sama seperti orang dewasa? mmmhhh….saya sendiri tidak melihat dua hal ini sebagai suatu pertentangan, versus.

Bahwa remaja putri itu kalau lagi PMS emosinya naik turun, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi tersebut ia tetap wajib sholat, YA. Itu adalah aturan agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Bahwa anak remaja putra usia 13 tahun itu lagi suka-sukanya sama lawan jenis, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi demikian ia tetap tidak boleh berzina dan tidak boleh mendekati zina, YA. Itu adalah aturan  agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka yang berpendapat bahwa ilmu yang boleh kita dengar, pelajari dan amalkan itu hanya ilmu yang berasa dari dunia islam dan ilmuwan islam, saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya menghargai mereka yang berpendapat bahwa Psikologi itu ilmu sekuler. Haram untuk kita pelajari dan amalkan. Ya, ada sebagian teori Psikologi yang didasari oleh pemahaman  hakikat  manusia yang berbeda dengan pemahaman hakikat  manusia menurut agama Islam. Tapi sebagian lainnya, yang tak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, adalah ilmu alat yang bisa membantu kita memahami sistem keMahaannya. Wallahu alam.

Jadi, kesimpulannya, karena saya sendiri melihat bahwa fenomena di lapangan perilaku khas remaja itu ada, maka saya memutuskan untuk mempelajari mengenai remaja ini. Untuk apa? untuk menanamkan nilai-nialai agama padanya.

Saya gak bisa tutup mata dalam menanamkan nilai-nilai. Resikonya terlalu besar. Gak percaya? coba bilang sama anak 7 tahun. “Ayo sholat. Kalau gak sholat, nanti gak ibu ajak jalan-jalan”. Mungkin si 7 tahun akan menurut. Coba katakan hal yang sama pada anak umur 13 tahun. Dia akan nurut?

Ada yang berubah dalam diri si anak. Maka, cara kita mengajarkan nilai agama pun harus berubah. Yang tidak boleh berubah adalah satu, Nilai-nilai agama yang ingin kita tanamkan pada anak.

Kita mau tutup mata tak mau melihat perubahan dalam diri anak? tetap memakai cara yang sama seperti cara yang biasa kita lakukan ? silahkan. Saya tak mau ambil resiko itu.

Beberapa hari lalu saya membaca secara lebih detil mengenai perubahan struktur dan fungsi otak pada remaja. Ini adalah topik yang relatif baru, dan sedang ngehits di dunia psikologi, yang memandang manusia sebagai entitas yang lengkap: bio-psiko-sosial. Tau gak…saya pengen nangis loh…membaca perubahan yang terjadi pada otak “remaja”, yang … amazing banget. Saat itu, hati saya merasa …“Ya Allah, Engkau teh Maha Sempurna banget. Detiiiiiil dan sempurnaaaa sekali engkau menyiapkan tahap demi tahap perkembangan manusia”. Insyaalah kalau ada usia dan kesempatan saya akan berbagi mengenai hal ini.

Saya jadi inget, 4 hari lalu, di kampus kami mengadakan acara mempersiapkan Ramadhan. Dua orang pembicara keren kami undang. Satu mas Budi Prayitno. Kami minta beliau berbicara mengenai fiqih shaum ramadhan. Karena latar belakang beliau psikologi, beliau memaparkan juga mengenai happines kaitannya dengan puasa ramadhan. Pembicara lainnya adalah Ustadz Tauhid Nur Azhar, doktor yang menguasai bidang neurologi. Beliau kami minta berbicara mengenai puasa dalam perspektif neurosains.

37 tahun umur saya, baru kali ini saya faham mengapa dalam puasa ini, Allah mengatur yang ditahan adalah hawa nafsu “makan, minum dan seksual”. Tiga hal itu.  Dengan fasih beliau menjelaskan dari sudut pandang neuro sains. Yang terkait dengan tulisan ini adalah, saat beliau menjelaskan keteraturan yang terjadi dalam tubuh manusia, yang beliau jelaskan sudah bukan di tataran sel lagi, tapi jauh…jauh..jauh lebih kecil dari sel. Beliau menjelaskan kompleksitas otak, sel-sel syaraf, mekanisme enzim-enzim….saya tidak sepenuhnya mengerti, tapi yang berkesan buat saya adalah, dengan penuh penghayatan beliau berkata: “Keren banget Allah tuh…indah banget sistem otak itu…”.

Saya, dengan penghayatan yang sama, bisa mengatakan hal yang sama: “Keren banget ALlah itu. Ya, manusia  itu makhluk yang paling sempurna, mahakaryaNya. Sungguh-sungguh sekali Ia menciptakan manusia tuh”. Kalimat itu keluar dari hati saya setelah saya mempelajari suatu topik Psikologi secara detil.  Terutama bagian-bagian ilmu yang menjelaskan hal-hal yang sifatnya basic. Seperti perubahan yang terjadi dalam diri manusia sepanjang hidup manusia. Atau tentang bagaimana manusia berpikir. Proses transduksi dalam sensasi-persepsi. Proses memory, proses learning. Amazing. Speechless. Allahu Akbar. Memahami proses yang Ia ciptakan, selalu memunculkan kekaguman pada keagunganNya.

Kesimpulannya adalah, ada banyak cara menuju kebaikan. Kebaikan yang ingin kita capai adalah, anak-anak kita tumbuh menjadi individu dewasa, yang aqil baligh, yang mencintai Allah, yang selamat menjalani kehidupan ini.

Bagaimana cara mencapai itu, berbeda-beda. Ada yang berpendapat anak harus disterilkan. Jauhkan dengan berbagai potensi godaan. Pisahkan dengan lawan jenisnya, tutup aksesnya terhadap dunia luar. Salah? tidak.          Ada yang berendapat berbeda. Memberikan anak akses terhadap potensi godaan, dengan batasan-batasan dan umpan balik tertentu. Salah? tidak.

Ada yang berpendapat bahwa ajaran agama harus diajarkan tanpa pertanyaan. “Allah sudah menetapkan aturan itu, pasti itu aturan yang sempurna. Ikuti saja”. Salah? tidak. Ada juga yang berpendapat untuk menanamkan pemahaman agama yang mengakar, perlu adanya dialog. Membuka ruang saat anak bertanya “kenapa sih aku harus pake jilbab? kenapa sih harus sholat?”. Salah? tidak.

Yang salah adalah kalau kita tak peduli dan tak sungguh-sungguh mendidik. Yang salah adalah ketika kita melihat cara kita tak berhasil, kita diam saja, bersikeras bahwa cara ini yang paling benar. Yang salah adalah saat kita tak mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Pesan saya, cara apapun yang kita putuskan sebagai orangtua, pelajari cara itu dengan sungguh-sungguh. Dari A sampai Z. Jangan hanya berhenti di tataran konsep. Berpikir kritis. Jangan ragu bertanya pada ahlinya. Tentang remaja dan aqil baligh ini, bagi yang percaya bahwa masa transisi itu ada, tanyakan pada ahlinya….jadi harus bagaimana dalam praktek pengasuhannya? apa batasan-batasan boleh dan tidak boleh yang bisa kita sampaikan pada si remaja? tekniknya gimana? gimana kalau respons si remaja begini, begitu? apa yang kita khawatirkan?

Bagi yang percaya bahwa tidak ada fase remaja, juga tanyakan pada ahlinya…berpikir kritis. Apakah sama kadar dewasa remaja putri berusia 13 tahun yang sudah baligh dengan pada waita usia 30 tahun? misalnya. JIka sama gimana, kalau beda gimana? Tanya…dari A sampai Z.Karena setiap kerangka pikir, ada jalurnya masing-masing. Kalau dicampur, nanti bingung sendiri. Intinya mah, jika akan mempelajari satu hal, pelajari sungguh-sungguh, tak boleh hanya berhenti sebagai wawawsan dan ilmu, tapi pahami sumbernya, dasarnya, kejar sampai tataran aplikatif.

Tulisan di atas, semoga bermanfaat.

41B+rV6mZ2L-e1415201455240Yang jelas, pandangan bahwa munculnya istilah remaja itu adalah untuk melemahkan generasi muda, secara pribadi kurang saya percayai.

Kalau ada yang mengatakan hal itu dan memandang remaja adalah masa untuk kita mentolelir keburukan, saya melihat trend psikologi tidak ke sana.

Salah satunya adalah dengan munculnya buku dari salah satu ahli yang sudah lebih dari 40 tahun mempelajari mengenai remaja di samping ini.

Wallahu alam. Semoga kita dikaruniai kesungguhan dan kerendahan hati untuk mencari ilmu, serta kekuatan untuk mengamalkan ilmu. Aamiin…

#Ramadhan 1437 _ day one

Advertisements

5 Comments (+add yours?)

  1. tiwi
    Jun 06, 2016 @ 08:11:35

    Mba Fitri..luar biasa! sy juga sering mendapatkan tatapan sebelah mata dr orang2 yg (mengaku) religius dan menganggap psikologi itu sekuler hanya krn founding fathernya orang yahudi.
    Bapak sy sdg mendalami tasawuf dan sering mengajak sy berdiskusi membandingkan psikologi dgn islam. dan…subhanallah..banyak sekali kesamaan islam dgn psikologi.
    dr situ sy percaya bahwa ilmu itu sesungguhnya berasal dr Allah SWT hanya saja media perantara penyampai ilmunya berbeda2.
    jd orang mau mengunder estimate psikologi juga saya senyum saja. wong sy banyak skali merasakan manfaatnya sekaligus berobat jalan wkwkw

  2. Muthia Hael
    Jun 06, 2016 @ 14:12:59

    Teh Fitri, buku untuk memahami remaja yang bagus apakah teh? buat bekal, Biar ga salah bersikap nantinya;)

    Sama Bapak yang cerita tentang neurosains nerbitin buku ga teh? Sebenernya ingin baca-baca tentang neurosains yang kaitannya dengan perkembangan manusia. Selama ini baru tahu sepotong sepotong.

    Nuhun teh.

  3. Sekar
    Jun 06, 2016 @ 16:15:20

    kalau tidak salah, ada 3 tahap usia perkembangan anak; 7 tahun pertama (raja), 7 tahun kedua (tawanan perang), dan 7 tahun ketiga (sahabat). Barangkali orang-orang menamai 7 tahun kedua itu dengan istilah remaja. Kalau untuk muslim, mungkin bisa diganti dengan tahap perkembangan kedua. Jadi agak panjang ya sebutannya hehe. Tapi saya setuju sekali dengan paparannya. Tanpa disadari, sebenarnya ilmu-ilmu sekuler sudah mendarah daging di masyarakat muslim. Seandainya mereka tahu betapa lengkap dan sempurnanya ilmu-ilmu dalam Islam, niscaya mereka akan berbondong-bondong mempelajarinya. Semoga tulisannya berkah mbak 🙂

  4. Muthia Hael
    Jun 15, 2016 @ 08:37:33

    sundul…hehe

  5. Trackback: Jadi ortu remaja: jangan baper. Kenapa? | Fitri Ariyanti's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s