Mutiara agama yang memudar: Empati

Sudah lama saya tak membaca timeline facebook. Aplikasi itu saya uninstall dari handphone karena saya merasa cenderung impulsif posting ini itu yang tak bermanfaat kalau aplikasi itu bisa saya akses anytime everywhere.

Malam ini, saya iseng membaca timeline dan ada suatu hal yang membuat saya terhenyak. Foto seorang mahasiswa, ditambah berita tentangnya. Sebaris kalimat plus cuplikan seorang ahli parenting juga tertulis di situ. Dan postingan itu, sudah dishare sekian banyak orang. Tulisannya di bawah foto itu, begitu menusuk dan membuat saya ingin menangis.

“Nama anak ini … Baru saja meninggal karena bunuh diri. ……….. Anak ini tidak terbiasa dengan kegagalan”.

Tahukah perasaan saya? marah. Ketika memajang foto anak itu, mencuplik berita tentangnya, lalu menuliskan kalimat itu, lalu yang membaca dan mensharenya, …. apa yang ada di perasaan kita?

Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? Keluarganya? orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? keluarganya? Orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? Keluarganya? orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? keluarganya? Orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? Keluarganya? orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? keluarganya? Orang-orang yang mencintainya?

Saya ingin menuliskan kalimat-kalimat ini ratusan kali. Sambil berteriak. Kemarahan yang bergemuruh di dalam dada ini, adalah akumulasi. Akumulasi kekecewaan. Terutama terhadap saudara-saudara muslim/ah.

Seminggu lalu di bandara Soetta, turunlah ratusan jamaah umroh. Puluhan diantaranya mengantri ke kamar mandi. Banyak yang sepuh, yang terlihat tak kuat menahan pipis. Antrian panjang. Waktu itu sekitar jam 4. Memang sudah masuk waktu ashar. Petugas kebersihan, berpuluh kali mengingatkan: “ibu-ibu, mohon jangan wudhu disini ya…ini kamar mandi kering, jadi becek nantinya. Di musholla nanti bisa wudhu kok.” Dan you know apa yang terjadi??? Ibu-ibu itu, yang baru saja menangis tersedu-sedu saat thawaf dan saat berada di “taman syurga”Rasulullah, tetap saja berwudhu di kamar mandi. Kamar mandi jadi becek sehingga menambah pekerjaan petugas kebersihan? Orang-orang nunggu lama mengantri, para sepuh semakin tidak kuat menahan pipis? Tampaknya mereka tak peduli. Tampaknya mereka tak punya waktu untuk merasakan hal itu. Yang penting saya sudah wudhu untuk sholat.

Beberapa hari lalu di wa grup orangtua calon peserta sebuah sanlat, terjadi peristiwa yang menurut saya sangat memalukan. Dua kelompok orangtua saling berselisih. Hanya karena hal sepele. Suasana sangat panas. Beragam kalimat sindiran keluar. Diawali oleh postingan yang didasari oleh ketidakempatian terhadap kondisi yang berbeda darinya.

Saya tidak sedang bicara mengenai anak-anak, yang akal dan rasanya belum sepenuhnya matang. Saya bicara tentang perilaku orang dewasa. Orang-orang yang berpendidikan tinggi. Orang-orang yang beragama dan tunduk pada ritual agama. Orang-orang yang berkecukupan.

Ada sebuah mutiara yang memudar. Dan yang saya sedih sekali, dia memudar dalam perilaku saudara-saudara muslim/ah. Seorang teman mengatakan bahwa ketika ia umroh, ia sangat tidak suka ke Raudhah, karena tidak tahan menyaksikan pertengkaran dan perilaku muslimah yang begitu “sangar” dan “galak”. Sebuah disharmoni yang menusuk memang…menyaksikan esensi islam kini semakin menciut, tenggelam dalam lautan “jilbab syar’i dan modis”

Saya tuh sediiih, banget…bener-bener sedih melihat agama yang mulia ini tereduksi maknanya, semakin dangkal dilihat hanya sebagai bursa ekonomi pakaian. Seorang teman bercerita saat ia umroh, serasa menyaksikan pagelaran busana muslimah. Berbagai warna dan gaya. Menampilkan aurat? engga. Baju dan kerudungnya super panjang dan super lebar. Tapi ada yang memudar. Empati.

Mengapa mutiara ini bisa memudar? dalam konteks pengajaran agama, menurut saya mutiara ini memudar karena empati, tak diperkenalkan sebagai bagian penting dari ibadah. Kita kurang menghayati bahwa empati adalah inti sel nya ibadah.

Dalam agama, kita mengenal hablumminallah dan hablumminannas. Menjalin dan memperbaiki hubungan baik dengan ALlah, itu lebih mudah. Karena Alah maha pengasih, maha penyayang. Tapi menjalin dan mempertahankan hubungan baik dengan manusia, itu lebih sulit. Karena ada ke”ego”an kita yang seringkali harus kita tundukkan. Dan itu tidak mudah. Tapi itu adalah salah satu inti ibadah.

Ibadah haji, semua orang bilang berat. Coba lakukan sendiri. Thawaf sendiri, lempar jumroh sendiri, di Mina sendiri….ringan. Tantangannya adalah, ketika kita harus khusyuk menjalin hubungan dengan Allah, tanpa menghancurkan hubungan dengan orang lain di kiri-kanan-depan-belakang kita. Melakukan kesalahan pada ALlah, kita bisa bertaubat dan Allah Maha penerima taubat. Melakukan kesalahan pada manusia? tidak mudah bagi kita meminta maaf.

Maka, pudarnya empati sebagai inti sel ibadah ini, mungkin karena kita mereduksi pemahaman ibadah pada anak-anak kita, dengan mendefisinikan ibadah sebagai : sholat, menghafal Qur’an. Beberapa waktu lalu saya mengadakan survey mengenai tujuan pengasuhan pada beberapa komunitas orangtua. Dari 104 orangtua,menyatakan bahwa  tujuan pengasuhan mereka adalah “menjadikan anak sholeh/sholehah”. Saat diberikan pertanyaan “Apa yang dimaksud sholeh/sholehah?” Hampir seluruh jawabannya adalah : “shalat tepat waktu dan menjadi hafidz”. Tidak ada muncul kalimat: “berbagi pada sesama”, “peduli pada lingkungan”. Tidak ada. orientasinya adalah “kesholehan pribadi”.

Waktu rame-rame mengenai memilih pemimpin salah satu daerah di Indonesia, saya pernah membaca postingan seorang kenalan: “lebih baik memilih pemimpin muslim yang korupsi daripada memilih pemimpin non muslim yang bersih. Kalau kita memilih pemimpin yang non muslim, kita yang berdosa. Sedangkan kalau yang kita pilih muslim yang korupsi, pemimpin itu yang berdosa”.

Postingan itu, membuat saya terhenyak. Saya tidak mau membahas hukum memilih nonmuslim sebagai pemimpin. Itu bukan kapasitas saya. Mari kita ikuti saja hasil olah pikir para ahli di bidangnya untuk hal itu. Tapi sebagai orang yang mempelajari Psikologi “ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan proses-proses mental yang mendasarinya”, saya bertanya-tanya dalam hati….nilai apa, pemahaman seperti apa, perasaan seperti apa yang dimiliki oleh mereka yang berpendapat demikian? Dimensi yang menjadi pertimbangan hanya “saya selamat”. Bagaimana kondisi keselamatan orang lain? Keselamatan pemimpin muslim yang ia pilih? Keselamatan masyarakat yang hak-nya dikorupsi oleh pemimpin yang dipilihnya? pernahkah ia menyaksikan wajah-wajah orang miskin yang tak bisa makan karena uang raskinnya dikorupsi oleh pemimpinnya? pernahkah ia melihat wajah para pemuda cerdas yang terpaksa harus menjadi kuli karena uang beasiswa untuk mereka dikorupsi pimpinannya? Saya bertanya-tanya, proses belajar apa yang terjadi pada kehidupan  mereka, sehingga hanya dimensi “keselamatan diri” yang ada di memory mereka, yang menjadi dasar keputusan mereka?

Apakah itu salah? tidak. Namun nyatanya, seperti ibu-ibu yang wudhu di kamar mandi kering tanpa peduli para sepuh yang mengantri panjang itu, atau orang-orang yang berdzikir panjang di musholla sementara yang lain antri tidak bisa masuk, atau bahkan orang-orang yang memeluk rukun yamani ka’bah tanpa mau melepaskannya dan memberikan kesempatan pada orang lain,   kesholehan pribadi tanpa rasa peduli pada orang lain, muncul menjadi perilaku yang sangat menyebalkan. Kalau perilaku kita sudah dirasa menyebalkan oleh orang lain, bagaimana orang lain bisa merasakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, yang “rahmatan lil alamin?”

Lalu bagaimana caranya mengajarkan empati pada anak setelah kita menghayati bahwa empati adalah inti sel dari ibadah?

Tiga tahun lalu, saya pernah berada di sebuah negara. Seorang ustadz asal Indonesia yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana, memberika tausyiah hampir setiap hari. Waktu itu, tema yang sedang dibahas adalah keutamaan berhaji. Ada salah satu jamaah dari Indonesia yang bertanya: “kalau kita punya uang untuk berhaji untuk yang kedua kali, apakah lebih baik kita berhaji atau menyedekahkan/mewakafkan uang kita?” dengan tegas ustadz tersebut menjawab: “Lebih baik berhaji lagi. Soal kesejahteraan masyarakat, itu tanggung jawab pemerintah”. Waktu itu, saya mengangguk setuju. Karena saya sedang merasakan nikmatnya ibadah individu.

Lalu saya kembali ke Indonesia. Menyaksikan ada banyak situasi yang membutuhkan bantuan finansial. Ada banyak anak cerdas tak mampu yang butuh biaya sekolah. Ada banyak anak jalanan yang terlantar dan sangat rentan terhadap berbagai keburukan. Ada banyak pemuda tanggung yang tak punya skill untuk bekerja. Lalu saya mulai mempertanyakan jawaban pak ustadz tadi.

Apakah jawaban pak Ustadz Salah? tidak. Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Dan kemudian, setelah saya sampaikan kegalauan saya pada mas, mas memberikan jawabannnya. “Ustadz itu tidak salah. Hanya, kita harus lihat. Ia hidup bertahun-tahun di negara yang begitu makmur. Negara kaya, yang kesejahteraan rakyatnya terjamin, Pengangguran aja dibayar. Disana, memang benar pemerintah yang mengurus dan menyelesaikan seluruh masalah masyarakat. Sehingga, sangat wajar jika disana, secara alamiah, kita jadi fokus untuk meningkatkan kualitas diri. Dalam konteks agama, adalah kualitas ibadah individual”.

Ya, ya…kini saya tahu apa yang mengganjal. Konteks situasi yang berbeda. Di Indonesia, di negeri yang sedang berkembang dan belum sepenuhnya stabil ini, sumbangsih kita sebagai bagian dari masyarakat, untuk berkontribusi pada persoalan-persoalan masyarakat dalam bentuk materi dan pemikiran, masih sangat dibutuhkan. Maka, amal strategis kita bisa jadi berbeda dengan amal strategis pak Ustadz. Pasti bukan kebetulan Allah sang Maha Sempurna mentakdirkan kita lahir, tumbuh dan berkembang di negara ini.

Penghayatan terhadap “here and now” ini, menurut saya adalah salah satu kunci untuk bisa menghidupkan rasa empati. Memandang ke sekeliling dimana kita berada dengan khusyuk.  Jika ibu-ibu yang wudhu tadi menyempatkan untuk memandangi wajah para sepuh yang antri, meluangkan waktu menyaksikan gesture para ibu yang tak kuat menahan pipis… Ketika ia menghayati dirinya “here and now”, sedikit banyak mungkin akan mempengaruhi motivasinya untuk “segera dalam keadaan suci”.

Kenapa? karena emosi itu, akar katanya sama dengan motivasi. Movere. Menggerakkan. Kalau kita bisa merasakan perasaan orang lain, maka kita akan tergerak untuk melakukan sesuatu untuk orang lain itu.

Kalau saya orang yang berkuasa dalam bidang pendidikan di tanah air ini, saya merasa perlu mengerahkan pikiran untuk menumbuhkan empati pada anak-anak bangsa ini. Namun karena saya hanya seorang ibu, maka yang akan saya lakukan adalah:

red-hearts-love-tree-wallpaper-768x480(1) Memahamkan pada anak-anak saya, bahwa ibadah itu tak hanya sholat dan menghafal Al Quran. Al Qur’an itu mukjizat. Jika kita mengamalkannya, PASTI akan mengantarkan kita menjadi orang yang mempesona di dunia dan selamat di akhirat. Menurut salah seorang ahli tafsir, dalam Al Qur’an kata “KAMI” lebih banyak ditemukan dibanding kata “AKU”. Ihdinassirootol mustakiim. Antarkanlah KAMI ke jalan yang lurus. Bukan antarkanlah SAYA. Maknanya apa? kepedulian, kebersamaan. Selamat bersama. Sejahtera bersama. Bahagia bersama. Saya ingin menanamkan pada anak-anak saya bahwa…Sholat itu ibadah. Puasa ibadah. Menghafal Al Qur’an ibadah. Memberikan jatah antrian kita pada orang yang kita lihat lebih membutuhkan, ibadah. Meminjamkan alat tulis pada teman, itu ibadah. Bersungguh-sungguh belajar, itu ibadah. Seluruh detik yang Allah berikan pada kita, adalah kesempatan untuk beribadah.

(2) Menghidupkan rasa, dengan mengamati sekitar. Cara yang paling sederhana adalah, pandanglah wajah para mustad’afin. Demikian guru saya waktu di Salman mewasiatkan. Wajah kumal anak-anak jalanan, wajah keriput kakek nenek yang menengadahkan tangannya di pasar. Memperhatikan baju mereka yang compang-camping. Mengunjungi rumah mereka yang renta. Saya ingin mengajak anak-anak saya  menatap wajah mereka dengan lekat. Itu cara paling sederhana menghidupkan rasa. Rasa kita, mungkin akan cenderung  mengeras saat kita terlalu banyak melihat wajah cantik, dengan pakaian syar’i yang indah,atau tempat-tempat yang menawan di berbagai medsos.

Wallahu alam. Semoga kita dikarunia kelembutan rasa, dan membuat kita menjadi lebih teguh menebarkan kebaikan.

sumber gambar : http://www.wallpaperhd.pk/red-hearts-love-tree-wallpaper/

 

 

 

 

 

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Hmarputri
    Jun 11, 2016 @ 10:20:25

    Ijin share ya mbak… Well said, thank you

  2. Nurul Fadhilah
    Jun 13, 2016 @ 21:31:08

    Semua tulisan nya, ada nilainya. Saya suka. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s