Para Pengeja Hujan

muhammad-para-pengeja-hujanHiiii…ternyata saya gak tahan nunggu sampai syawal. Buku kedua novel Biografi Muhammad karya Tasaro : Para Pengeja Hujan saya tamatkan seminggu lalu. Seperi kata seorang teman saya: awas addicted ! kkkk…. makanya, dua buku selanjutnya, Sang Pewaris Hujan dan Generasi Penggema Hujan saya minta diumpetin sama si sulung hihi….

Buku kedua ini tentunya lanjutan dari buku pertama: https://fitriariyanti.com/2016/06/14/lelaki-penggenggam-hujan/. Di  buku kedua ini, dikisahkan kehidupan Rasulullah sejak futuh Mekah sampai dengan wafat, lalu masa kekhalifahan Abu Bakar sampai beliau wafat ditambah sedikit awal masa kekhalifahan Umar Bin Khatab. Gak linier gitu sih kalau dalam penyampaiannya, karena Tasaro juga membuat alurnya diselingin flashback mengenai kehidupan masa kecil Rasulullah dalam asuhan Halimah Sa’diyah.

Bagi teman-teman pecinta fiksi, di buku ini kita akan dimanjakan oleh kisah misterius mengenai tiga puteri Persia : Puran, Turan dan Azarmi serta seorang Jendral Athanatoi: Atusa.  Tentunya para tokoh wanita itu ada hubungannya dengan tokoh fiksi sentral yang telah dan  akan menjadi pelakon utama : Kashva.

Di buku kedua ini, kita akan mengenal pribadi sang Pedang Allah, Khalid Bin Walid. Kita akan dibawa seolah-olah melihat langsung kecerdasannya, ketajaman pedangnya, keteguhan hatinya. Kita juga akan mengenal Wahsyi dengan gejolak perasaannya. Ia yang membunuh paman kesayangan Rasulullah, sang Pahlawan Uhud Hamzah,  yang kemudian menebus kesalahannya dengan melemparkan tombak yang sama dengan tombak yang ia lemparkan pada Hamzah pada sang NAbi palsu.

Keseluruhan kisah di buku ini,  masih disampaikan dengan cara bertutur yang memikat. Kita akan terisak-isak saat membaca saat-saat Rasulullah dan Fatimah wafat, terkagum-kagum dengan strategi “jembatan bangkai” Khalid Bin Walid saat menghadapi parit Persia yang terkenal. Setelah membaca buku ini, jika kita berziarah ke tanah suci, kita akan menghayati setiap jengkal masjid dan kota Nabi dengan perasan yang berbeda, mungkin

Dan buat saya, hal “baru” yang saya temukan di buku kedua ini dibanding yang pertama adalah: pemahaman mengenai konteks situasi saat itu, yang bisa kita hayati dan menjadi “bekal” buat memandang konteks situasi saat ini.

Jujur aja ya, saat remaja dan dewasa sebelum membaca buku-buku siroh, bayangan saya tentang kehidupan Rasulullah dan sahabat adalah …. kehidupan spiritual yang … khusyuk gitu. Kehidupan yang kalau dalam buku ini, digambarkan seperti kehidupan para biksu di pegunungan Tibet. Waktu kecil, remaja dan sebelum membaca buku-buku siroh, bayangan saya mengenai sahabat-sahabat Rasul itu….they are perfect. Mereka adalah “malaikat”. Mungkin karena saat itu, cerita-cerita yang saya dengar memang mengesankan demikian. Tak ada gejolak rasa “manusiawi”, tidak ada kehidupan sosial. Kehidupan mereka bagaikan kehidupan “di atas langit”.

Namun kesan itu, sedikit demi sedikit terkikis ketika saya membaca buku-buku Siroh. Dan benar-benar terkelupas saat saya membaca buku ini. Para sahabat yang hebat, yang dijamin masuk syurga itu, tak sempurna. Mereka manusia biasa. Mereka marah, sedih, gundah. Mereka kesulitan, mereka harus menghadapi persoalan “manusiawi”. Sama seperti kita.

Dan konteks sosial pada saat itu, kalau dianalogikan….kita bisa menemukan bentuk yang sama meskipun perwujudannya berbeda, pada saat ini. Saat Rasulullah wafat, kemurtadan menggelombang. Saat Umar diangkat Abu Bakar sebagai Khalifah saat beliau telah payah karena sakitnya, kepemimpinannya diragukan. Bahkan kita tahu satu peristiwa yang menunjukkan kecerdasan istri Rasulullah Ummu Salamah, saat Rasulullah merasa sedih ketika para sahabat tak mau mengikuti perintahnya menyembelih hewan Qurban karena kecewa dengan perjanjian Hudaibiyah.

Peristiwa itulah yang melatarbelakangi perkataan Rasulullah: “Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul habis.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar memendekkan?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul habis.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar memendekkan?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul habis.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar memendekkan?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Mengapa? karena yang menggundul, secara psikologis, tak ada keraguan dalam hatinya. Buku ini menguatkan pemahaman kita bahwa agama ini, bukan suatu hal yang terlepas dari kehidupan kita. Agama langit ini “hidup” dan “memberi arah”, memberikan “tanggapan aktif” dalam sendi-sendi kehidupan di bumi.

Apakah kesan yang berubah itu mengurangi rasa kagum dan hormat pada Rasulullah dan sahabat-sahabatnya? anehnya, tidak. Bahwa mereka manusia biasa, bahwa kontkes kehiduan yang mereka jalani saat itu tidak “steril” namun mereka selamat karena tetap memegang teguh keyakinan akan kebenaran dan kebaikan, menelurkan dua hal:

(1) Keyakinan akan kemuliaan akhlak mereka. Bahwa mereka manusia. Sama seperti kita. Dalam batin mereka, ada pergulatan. Pergulatan yang dimenangkan oleh kebenaran akan keyakinan. Mengapa keyakinan akan kebenaran yang menang? itu yang harus kita pelajari. Itu yang harus kita ceritakan pada anak-anak kita. Kita tak akan biisa menjadikan anak-anak kita lebih mengidolakan Hamzah dibanding Ultraman, lebih kagum pada Ali dibanding Captain Amerika, Nusaibah dibandingkan Mulan, kalau kita tak membuat mereka menghayati bahwa tokoh-tokoh itu, adalah “manusia biasa”.

(2) Bahwa kita, tak harus “menunggu” konteks kehidupan kita menjadi “steril” untuk bersikap baik, berperilaku benar. Kehiduan yang “seluruh orangnya baik”, itu adalah utopia. Terjawab sudah pertanyaan saya selama bertahun-tahun, dimulai saat kuliah dulu ketika ada sebagian teman yang meyakini bahwa jika pemerintahan ada di tangan kelompok mereka, maka kehidupan akan menjadi “sempurna”. Situasi akan sangat khusyuk. Tak ada keburukan. Saat ini, hanya ada keburukan saat pemerintahan tak di tangan kelompok mereka. Tidak. Kita tak perlu menunggu saat itu tiba. Sekarang. Disini. Dalam kondisi ini. Diantara hiruk pikuk ini, kita harus bisa tetap memegang teguh kebaikan dan  kebenaran dengan hati yang khusyuk.

Sumber: https://rumaysho.com/8180-hukum-gundul.html

 

Advertisements

Syahid, utopia-kah?

Apa kesan kita terhadap kata “syahid”? apa  yang terbayang dalam benak kita mendengar kata “syahid”?

Kalau saya, jujur saja kesan saya tentang kata “syahid” adalah: agung. mulia. sakral. suci. Sedangkan yang yang terbayang adalah perang. Tapi perang suci seperti zaman Rasulullah dulu. Yang dilakukan tanpa melanggar nilai-nilai kemanusiaan. (kkk…ini nanya sendiri, jawab sendiri).

Dengan bayangan saya tentang kata “syahid”, jujur saja wafat dalam keadaan syahid, terasa sebagai sebuah “utopia”. Sebuah harapan yang …. berupa konsep. Ada di langit. Tak tersentuh. Ideal, tapi apakah ia nyata? dan bisa kita raih?

Tampaknya cukup banyak yang memiliki perasaan seperti saya. Itu implisit tertangkap dari tausyiah ustadz Aam Amiruddin di Majelis Percikan Iman di 2 minggu berturut-turut awal ramadhan kemarin. Beliau membahas mengenai syahid, maknanya, dan yang paling penting adalah: apakah kita bisa mencapainya?

Beliau mengawali dengan mengutip sebuah hadits Bukhari-Muslim:  “Barangsiapa yang benar-benar minta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan menjadikannya mati syahid, sekalipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”.

Setelah itu, beliau menceritakan beberapa kenalannya yang wafat sesuai dengan doa yang mereka minta selama hidup. Ada kenalan beliau seorang muadzin, berkata: “aku mah pengen adzan sampai mati”, dikabulkan oleh Allah, wafat saat adzan. Ada lagi kenalan beliau yang wafat saat sholat dan seorang lagi wafat sambil memeluk Al Qur’an setelah membacanya, sesuai dengan harapan mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan kembali hadits tersebut dalam salah satu bacaan saya. “Barangsiapa yang benar-benar minta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan menjadikannya mati syahid, sekalipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”.

Apa yang disampaikan pak Aam dan hadits tersebut, mengubah pandangan saya selama ini mengenai syahid. Syahid itu bukan hanya bisa didapatkan di medan perang. Syahid itu, bukan hanya milik para sahabat yang hidup bersama Rasulullah.  Syahid itu bukan hanya ada di langit. Ia ada di bumi.  Syahid itu, bisa menjadi milik kita. Asal kita benar-benar minta dan sungguh-sungguh berjuang mendapatkannya.

Love_41Di bulan suci ini, dimana siang-siang dan malam-malam yang kita lalui, tanah-tanah yang kita jejak dihujani doa-doa ribuan malaikat, adalah momen yang tepat bagi kita, untuk menanamkan sebuah keinginan. Mati syahid.

Bahwa kita punya cita-cita sebelum wafat mencapai ini-itu, pergi kesana-sini, melakukan ini-itu, menyaksikan ini-itu, itu adalah baik, dan jadi nyala api kehidupan kita. Namun di lubuk hati kita yang terdalam,  kita simpan sebuah  permohonan agung yang mengakar…. pengharapan  agar kita diwafatkanNya dalam keadaan syahid. Sedang sujud, sedang sholat, sedang dzikir, sedang mengaji, sedang membaca tafsir, sedang memperjuangkan kebaikan, sedang membela yang lemah, sedang melakukan hal-hal yang dicintaiNya.

Konon katanya, sesuatu yang tak kita inginkan dan tak bisa kita bayangkan, akan sulit kita wujudkan. Maka, menginginkan dan membayangkan akhir hidup kita dalam keadaan syahid, semoga menjadi nyala api lain yang membuat kita bersunguh-sungguh mengupayakannya.

Jika zaman Rasulullah media untuk mendapatkan syahid adalah dengan wafat dalam perang tauhid, maka di zaman ini, godaan terkuat adalah menyembunyikan amal dan kebaikan kita. Adalah aa Gym, yang memperkenalkan konsep “amalan rahasia”. Syahid, adalah keinginan yang kita simpan dalam lubuk hati terdalam kita. Dan melakukan “amalan rahasia”, bisa jadi salah satu jalannya. Karena syahid itu adalah hubungan one on one dengan sang Maha.

Seperti zaman Rasulullah, ada seorang yang wafat dalam medan pertempuran, bukan karena hatinya berjanji pada Sang Maha, namun karena ia ingin membuktikan bahwa ia pemberani. Rasulullah berkata: “Kita perlakukan orang ini di dunia sebagai seorang syahid, namun Allah maha tahu bahwa ia bukan”.

Dan visi ini, ada baiknya kita kenalkan pada anak-anak kita. Agar disamping cita-citanya: ingin jadi pemadam kebakaran, dokter, presiden, kuliah di harvard, jadi hafidz/hafidzah, di lubuk hatinya terpelihara satu cita-cita lain: mati syahid.

“Barangsiapa yang benar-benar minta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan menjadikannya mati syahid, sekalipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”.

sumber gambar: https://id.pinterest.com/pinme333/love/