Syahid, utopia-kah?

Apa kesan kita terhadap kata “syahid”? apa  yang terbayang dalam benak kita mendengar kata “syahid”?

Kalau saya, jujur saja kesan saya tentang kata “syahid” adalah: agung. mulia. sakral. suci. Sedangkan yang yang terbayang adalah perang. Tapi perang suci seperti zaman Rasulullah dulu. Yang dilakukan tanpa melanggar nilai-nilai kemanusiaan. (kkk…ini nanya sendiri, jawab sendiri).

Dengan bayangan saya tentang kata “syahid”, jujur saja wafat dalam keadaan syahid, terasa sebagai sebuah “utopia”. Sebuah harapan yang …. berupa konsep. Ada di langit. Tak tersentuh. Ideal, tapi apakah ia nyata? dan bisa kita raih?

Tampaknya cukup banyak yang memiliki perasaan seperti saya. Itu implisit tertangkap dari tausyiah ustadz Aam Amiruddin di Majelis Percikan Iman di 2 minggu berturut-turut awal ramadhan kemarin. Beliau membahas mengenai syahid, maknanya, dan yang paling penting adalah: apakah kita bisa mencapainya?

Beliau mengawali dengan mengutip sebuah hadits Bukhari-Muslim:  “Barangsiapa yang benar-benar minta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan menjadikannya mati syahid, sekalipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”.

Setelah itu, beliau menceritakan beberapa kenalannya yang wafat sesuai dengan doa yang mereka minta selama hidup. Ada kenalan beliau seorang muadzin, berkata: “aku mah pengen adzan sampai mati”, dikabulkan oleh Allah, wafat saat adzan. Ada lagi kenalan beliau yang wafat saat sholat dan seorang lagi wafat sambil memeluk Al Qur’an setelah membacanya, sesuai dengan harapan mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan kembali hadits tersebut dalam salah satu bacaan saya. “Barangsiapa yang benar-benar minta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan menjadikannya mati syahid, sekalipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”.

Apa yang disampaikan pak Aam dan hadits tersebut, mengubah pandangan saya selama ini mengenai syahid. Syahid itu bukan hanya bisa didapatkan di medan perang. Syahid itu, bukan hanya milik para sahabat yang hidup bersama Rasulullah.  Syahid itu bukan hanya ada di langit. Ia ada di bumi.  Syahid itu, bisa menjadi milik kita. Asal kita benar-benar minta dan sungguh-sungguh berjuang mendapatkannya.

Love_41Di bulan suci ini, dimana siang-siang dan malam-malam yang kita lalui, tanah-tanah yang kita jejak dihujani doa-doa ribuan malaikat, adalah momen yang tepat bagi kita, untuk menanamkan sebuah keinginan. Mati syahid.

Bahwa kita punya cita-cita sebelum wafat mencapai ini-itu, pergi kesana-sini, melakukan ini-itu, menyaksikan ini-itu, itu adalah baik, dan jadi nyala api kehidupan kita. Namun di lubuk hati kita yang terdalam,  kita simpan sebuah  permohonan agung yang mengakar…. pengharapan  agar kita diwafatkanNya dalam keadaan syahid. Sedang sujud, sedang sholat, sedang dzikir, sedang mengaji, sedang membaca tafsir, sedang memperjuangkan kebaikan, sedang membela yang lemah, sedang melakukan hal-hal yang dicintaiNya.

Konon katanya, sesuatu yang tak kita inginkan dan tak bisa kita bayangkan, akan sulit kita wujudkan. Maka, menginginkan dan membayangkan akhir hidup kita dalam keadaan syahid, semoga menjadi nyala api lain yang membuat kita bersunguh-sungguh mengupayakannya.

Jika zaman Rasulullah media untuk mendapatkan syahid adalah dengan wafat dalam perang tauhid, maka di zaman ini, godaan terkuat adalah menyembunyikan amal dan kebaikan kita. Adalah aa Gym, yang memperkenalkan konsep “amalan rahasia”. Syahid, adalah keinginan yang kita simpan dalam lubuk hati terdalam kita. Dan melakukan “amalan rahasia”, bisa jadi salah satu jalannya. Karena syahid itu adalah hubungan one on one dengan sang Maha.

Seperti zaman Rasulullah, ada seorang yang wafat dalam medan pertempuran, bukan karena hatinya berjanji pada Sang Maha, namun karena ia ingin membuktikan bahwa ia pemberani. Rasulullah berkata: “Kita perlakukan orang ini di dunia sebagai seorang syahid, namun Allah maha tahu bahwa ia bukan”.

Dan visi ini, ada baiknya kita kenalkan pada anak-anak kita. Agar disamping cita-citanya: ingin jadi pemadam kebakaran, dokter, presiden, kuliah di harvard, jadi hafidz/hafidzah, di lubuk hatinya terpelihara satu cita-cita lain: mati syahid.

“Barangsiapa yang benar-benar minta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan menjadikannya mati syahid, sekalipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”.

sumber gambar: https://id.pinterest.com/pinme333/love/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s