Dayung, Dayung, Dayung ….

Minggu lalu, saya membaca sebuah ebook berjudul “How To Build a Happy Family”. Pengarangnya adalah Bo Sanchez, yang setelah saya googling ternyata penulis terkenal dari Filipina. Pantesan meskipun bukunya terdiri dari 148 halaman, saya bisa membacanya sampai tuntas kurang dari 2 jam. Ringan dan enakeun bacanya.

Saya terkesan dengan salah satu perumpamaan yang diungkapkan oleh penulis dalam salah satu chapter bukunya, Chapter 9 hal. 49: Why Our Hearts Move Apart.  Di chapter ini, beliau memperkenalkan istilah “relationship drift”. Kalau dibahasaindonesiakan artinya …. “hubungan yang hanyut” (??:). Beliau menyampaikan bahwa relationship drift ini adalah suatu penyakit seperti kanker, yang fatal akibatnya namun kita seringkali tak merasakannya. Jika kita biarkan, maka “relationship drift” ini akan berujung pada “relationship dead” begitu beliau menulis.

Beliau mengumpamakan kita, anggota keluarga adalah perahu-perahu yang tengah mengapung di lautan. Kalau kita diam, maka arus, secara alamiah, akan saling menjauhkan perahu-perahu itu. Ini yang namanya “relationship drift”. Saat kita, tak sadar sedang saling menjauh dari hubungan dengan anggota keluarga yang lain. Menurut beliau, susahnya, “penyakit” ini sulit dideteksi. Karena tak ada yang mencolok dalam prosesnya. Secara nyata di rumah kita, relationship drift ini tidak berbentuk pertengkaran. Tapi tenggelam dalam rutinitas masing-masing, hidup dalam “dunia psikologis” masing-masing, saya bayangkan adalah bentuk konkrit dari relationship drift ini.

Apa yang harus kita lakukan agar penyakit ini tak menggerogoti keluarga kita? kembali lagi ke perumpamaan perahu tadi. Penulis mengatakan dalam buku ini, yang harus kita lakukan adalah Paddle! If you don’t want to drift, you’ll have to go against the flow and paddle your way to each other. You’ll have to work hard, muscle your way, sweat like crazy and fight to be together (hal. 51).

Dayung…dayung….dayung !!! Kayuh…kayuh…kayuh…!!! Gagasan mengenai upaya secara “sadar” dan “sengaja” melawan arus rutinitas masing-masing anggota keluarga ini, buat saya pribadi selalu mempesona. Dalam salah satu tulisan saya (yang saya lupa lagi yang mana hehe…) rasanya saya pernah menulis mengenai seorang senior saya, yang dalam suatu perbincangan mengatakan pada saya bahwa ia sengaja hanya memiliki satu mobil yang dipakai oleh suami, dirinya dan anaknya yang telah bekerja. Melihat kesuksesan finansial senior saya tersebut, saya yakin itu bukan alasan dari ketidakmampuannya membeli mobil masing-masing. Meskipun konsekuensinya ia harus menunggu sampai sore untuk dijemput puterinya dan datang jauh lebih awal karena di drop oleh puterinya. Ia bersikukuh dengan cara itu. Saya masih ingat kata-kata beliau: “kalau engga gini, kapan lagi coba waktu kita untuk ngobrol dan ketawa-ketawa bareng?”.

Ya, ya….tanpa kita sadari, memang aktifitas dan rutinitas keseharian kita, bisa membuat kita hanyut dan tanpa sadar saling menjauh. Ayah yang kelelahan mencari nafkah, ibu yang ter-occupied dengan urusan dapur dan anak-anak atau urusan aktifitasnya di luar rumah, anak-anak yang tengelam dalan tugas-tugas sekolahnya, remaja yang tenggelam dan gadgetnya… Kata tak sadar penyakit mematikan mengintai kita. “Relationship dead”.

Maka, yang harus kita lakukan adalah…dayung, dayung, dayung. Bentuknya? setiap keluarag punya caranya masing-masing. Ada yang lewat ritual makan bersama di meja makan, ada yang mengusahakan lewat jadwal sholat bersama, atau seperti saya: selalu menghabiskan 2 hari weekend dengan full quality.

Salah satu “arus” yang potensial menjauhkan hubungan pasangan adalah, ketika istri beraktifitas di luar rumah, atau kerennya menjadi “working mom”. Entah karena alsaan finansial, aktualisasi atau profesi, namun harus disadari bahwa adanya jalinan komitmen dengan “pihak lain” dalam bentuk aktifitas di luar rumah: dengan bos, dengan tupoksi, dengan tim kerja, potensial menjadi arus kuat yang menjauhkan.

13450802_10209661842643686_3097426860658458444_nMaka, dalam sebuah pernikahan, kesadaran mendayung untuk selalu menjadai agar hubungan tetap hidup, mengakar dan bertumbuh harus selalu ada. Pembaharuan perjanjian-perjanjian,  pembaharuan dukungan dan cinta harus selalu dilakukan.

Atas dasar inilah kegiatan di samping ini dilaksanakan.Kita tak hanya akan berbagi pengetahuan, tapi juga semoga bisa menyentuh penghayatan dan keterampilan kita untuk mengokohkan hubungan.

Ada yang mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan keluarga. Bagi yang membutuhkan, semoga keikusertaan dalam acara ini bisa kita niatkan dan tercatat sebagai upaya untuk mempertahankan sakinah mawaddah wa rohmah di keluarga kita tetap ada, tumbuh dan mengakar.

Insya Allah.

Mutiara agama yang memudar: Empati

Sudah lama saya tak membaca timeline facebook. Aplikasi itu saya uninstall dari handphone karena saya merasa cenderung impulsif posting ini itu yang tak bermanfaat kalau aplikasi itu bisa saya akses anytime everywhere.

Malam ini, saya iseng membaca timeline dan ada suatu hal yang membuat saya terhenyak. Foto seorang mahasiswa, ditambah berita tentangnya. Sebaris kalimat plus cuplikan seorang ahli parenting juga tertulis di situ. Dan postingan itu, sudah dishare sekian banyak orang. Tulisannya di bawah foto itu, begitu menusuk dan membuat saya ingin menangis.

“Nama anak ini … Baru saja meninggal karena bunuh diri. ……….. Anak ini tidak terbiasa dengan kegagalan”.

Tahukah perasaan saya? marah. Ketika memajang foto anak itu, mencuplik berita tentangnya, lalu menuliskan kalimat itu, lalu yang membaca dan mensharenya, …. apa yang ada di perasaan kita?

Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? Keluarganya? orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? keluarganya? Orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? Keluarganya? orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? keluarganya? Orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? Keluarganya? orang-orang yang mencintainya? Pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orangtuanya? keluarganya? Orang-orang yang mencintainya?

Saya ingin menuliskan kalimat-kalimat ini ratusan kali. Sambil berteriak. Kemarahan yang bergemuruh di dalam dada ini, adalah akumulasi. Akumulasi kekecewaan. Terutama terhadap saudara-saudara muslim/ah.

Seminggu lalu di bandara Soetta, turunlah ratusan jamaah umroh. Puluhan diantaranya mengantri ke kamar mandi. Banyak yang sepuh, yang terlihat tak kuat menahan pipis. Antrian panjang. Waktu itu sekitar jam 4. Memang sudah masuk waktu ashar. Petugas kebersihan, berpuluh kali mengingatkan: “ibu-ibu, mohon jangan wudhu disini ya…ini kamar mandi kering, jadi becek nantinya. Di musholla nanti bisa wudhu kok.” Dan you know apa yang terjadi??? Ibu-ibu itu, yang baru saja menangis tersedu-sedu saat thawaf dan saat berada di “taman syurga”Rasulullah, tetap saja berwudhu di kamar mandi. Kamar mandi jadi becek sehingga menambah pekerjaan petugas kebersihan? Orang-orang nunggu lama mengantri, para sepuh semakin tidak kuat menahan pipis? Tampaknya mereka tak peduli. Tampaknya mereka tak punya waktu untuk merasakan hal itu. Yang penting saya sudah wudhu untuk sholat.

Beberapa hari lalu di wa grup orangtua calon peserta sebuah sanlat, terjadi peristiwa yang menurut saya sangat memalukan. Dua kelompok orangtua saling berselisih. Hanya karena hal sepele. Suasana sangat panas. Beragam kalimat sindiran keluar. Diawali oleh postingan yang didasari oleh ketidakempatian terhadap kondisi yang berbeda darinya.

Saya tidak sedang bicara mengenai anak-anak, yang akal dan rasanya belum sepenuhnya matang. Saya bicara tentang perilaku orang dewasa. Orang-orang yang berpendidikan tinggi. Orang-orang yang beragama dan tunduk pada ritual agama. Orang-orang yang berkecukupan.

Ada sebuah mutiara yang memudar. Dan yang saya sedih sekali, dia memudar dalam perilaku saudara-saudara muslim/ah. Seorang teman mengatakan bahwa ketika ia umroh, ia sangat tidak suka ke Raudhah, karena tidak tahan menyaksikan pertengkaran dan perilaku muslimah yang begitu “sangar” dan “galak”. Sebuah disharmoni yang menusuk memang…menyaksikan esensi islam kini semakin menciut, tenggelam dalam lautan “jilbab syar’i dan modis”

Saya tuh sediiih, banget…bener-bener sedih melihat agama yang mulia ini tereduksi maknanya, semakin dangkal dilihat hanya sebagai bursa ekonomi pakaian. Seorang teman bercerita saat ia umroh, serasa menyaksikan pagelaran busana muslimah. Berbagai warna dan gaya. Menampilkan aurat? engga. Baju dan kerudungnya super panjang dan super lebar. Tapi ada yang memudar. Empati.

Mengapa mutiara ini bisa memudar? dalam konteks pengajaran agama, menurut saya mutiara ini memudar karena empati, tak diperkenalkan sebagai bagian penting dari ibadah. Kita kurang menghayati bahwa empati adalah inti sel nya ibadah.

Dalam agama, kita mengenal hablumminallah dan hablumminannas. Menjalin dan memperbaiki hubungan baik dengan ALlah, itu lebih mudah. Karena Alah maha pengasih, maha penyayang. Tapi menjalin dan mempertahankan hubungan baik dengan manusia, itu lebih sulit. Karena ada ke”ego”an kita yang seringkali harus kita tundukkan. Dan itu tidak mudah. Tapi itu adalah salah satu inti ibadah.

Ibadah haji, semua orang bilang berat. Coba lakukan sendiri. Thawaf sendiri, lempar jumroh sendiri, di Mina sendiri….ringan. Tantangannya adalah, ketika kita harus khusyuk menjalin hubungan dengan Allah, tanpa menghancurkan hubungan dengan orang lain di kiri-kanan-depan-belakang kita. Melakukan kesalahan pada ALlah, kita bisa bertaubat dan Allah Maha penerima taubat. Melakukan kesalahan pada manusia? tidak mudah bagi kita meminta maaf.

Maka, pudarnya empati sebagai inti sel ibadah ini, mungkin karena kita mereduksi pemahaman ibadah pada anak-anak kita, dengan mendefisinikan ibadah sebagai : sholat, menghafal Qur’an. Beberapa waktu lalu saya mengadakan survey mengenai tujuan pengasuhan pada beberapa komunitas orangtua. Dari 104 orangtua,menyatakan bahwa  tujuan pengasuhan mereka adalah “menjadikan anak sholeh/sholehah”. Saat diberikan pertanyaan “Apa yang dimaksud sholeh/sholehah?” Hampir seluruh jawabannya adalah : “shalat tepat waktu dan menjadi hafidz”. Tidak ada muncul kalimat: “berbagi pada sesama”, “peduli pada lingkungan”. Tidak ada. orientasinya adalah “kesholehan pribadi”.

Waktu rame-rame mengenai memilih pemimpin salah satu daerah di Indonesia, saya pernah membaca postingan seorang kenalan: “lebih baik memilih pemimpin muslim yang korupsi daripada memilih pemimpin non muslim yang bersih. Kalau kita memilih pemimpin yang non muslim, kita yang berdosa. Sedangkan kalau yang kita pilih muslim yang korupsi, pemimpin itu yang berdosa”.

Postingan itu, membuat saya terhenyak. Saya tidak mau membahas hukum memilih nonmuslim sebagai pemimpin. Itu bukan kapasitas saya. Mari kita ikuti saja hasil olah pikir para ahli di bidangnya untuk hal itu. Tapi sebagai orang yang mempelajari Psikologi “ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan proses-proses mental yang mendasarinya”, saya bertanya-tanya dalam hati….nilai apa, pemahaman seperti apa, perasaan seperti apa yang dimiliki oleh mereka yang berpendapat demikian? Dimensi yang menjadi pertimbangan hanya “saya selamat”. Bagaimana kondisi keselamatan orang lain? Keselamatan pemimpin muslim yang ia pilih? Keselamatan masyarakat yang hak-nya dikorupsi oleh pemimpin yang dipilihnya? pernahkah ia menyaksikan wajah-wajah orang miskin yang tak bisa makan karena uang raskinnya dikorupsi oleh pemimpinnya? pernahkah ia melihat wajah para pemuda cerdas yang terpaksa harus menjadi kuli karena uang beasiswa untuk mereka dikorupsi pimpinannya? Saya bertanya-tanya, proses belajar apa yang terjadi pada kehidupan  mereka, sehingga hanya dimensi “keselamatan diri” yang ada di memory mereka, yang menjadi dasar keputusan mereka?

Apakah itu salah? tidak. Namun nyatanya, seperti ibu-ibu yang wudhu di kamar mandi kering tanpa peduli para sepuh yang mengantri panjang itu, atau orang-orang yang berdzikir panjang di musholla sementara yang lain antri tidak bisa masuk, atau bahkan orang-orang yang memeluk rukun yamani ka’bah tanpa mau melepaskannya dan memberikan kesempatan pada orang lain,   kesholehan pribadi tanpa rasa peduli pada orang lain, muncul menjadi perilaku yang sangat menyebalkan. Kalau perilaku kita sudah dirasa menyebalkan oleh orang lain, bagaimana orang lain bisa merasakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, yang “rahmatan lil alamin?”

Lalu bagaimana caranya mengajarkan empati pada anak setelah kita menghayati bahwa empati adalah inti sel dari ibadah?

Tiga tahun lalu, saya pernah berada di sebuah negara. Seorang ustadz asal Indonesia yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana, memberika tausyiah hampir setiap hari. Waktu itu, tema yang sedang dibahas adalah keutamaan berhaji. Ada salah satu jamaah dari Indonesia yang bertanya: “kalau kita punya uang untuk berhaji untuk yang kedua kali, apakah lebih baik kita berhaji atau menyedekahkan/mewakafkan uang kita?” dengan tegas ustadz tersebut menjawab: “Lebih baik berhaji lagi. Soal kesejahteraan masyarakat, itu tanggung jawab pemerintah”. Waktu itu, saya mengangguk setuju. Karena saya sedang merasakan nikmatnya ibadah individu.

Lalu saya kembali ke Indonesia. Menyaksikan ada banyak situasi yang membutuhkan bantuan finansial. Ada banyak anak cerdas tak mampu yang butuh biaya sekolah. Ada banyak anak jalanan yang terlantar dan sangat rentan terhadap berbagai keburukan. Ada banyak pemuda tanggung yang tak punya skill untuk bekerja. Lalu saya mulai mempertanyakan jawaban pak ustadz tadi.

Apakah jawaban pak Ustadz Salah? tidak. Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Dan kemudian, setelah saya sampaikan kegalauan saya pada mas, mas memberikan jawabannnya. “Ustadz itu tidak salah. Hanya, kita harus lihat. Ia hidup bertahun-tahun di negara yang begitu makmur. Negara kaya, yang kesejahteraan rakyatnya terjamin, Pengangguran aja dibayar. Disana, memang benar pemerintah yang mengurus dan menyelesaikan seluruh masalah masyarakat. Sehingga, sangat wajar jika disana, secara alamiah, kita jadi fokus untuk meningkatkan kualitas diri. Dalam konteks agama, adalah kualitas ibadah individual”.

Ya, ya…kini saya tahu apa yang mengganjal. Konteks situasi yang berbeda. Di Indonesia, di negeri yang sedang berkembang dan belum sepenuhnya stabil ini, sumbangsih kita sebagai bagian dari masyarakat, untuk berkontribusi pada persoalan-persoalan masyarakat dalam bentuk materi dan pemikiran, masih sangat dibutuhkan. Maka, amal strategis kita bisa jadi berbeda dengan amal strategis pak Ustadz. Pasti bukan kebetulan Allah sang Maha Sempurna mentakdirkan kita lahir, tumbuh dan berkembang di negara ini.

Penghayatan terhadap “here and now” ini, menurut saya adalah salah satu kunci untuk bisa menghidupkan rasa empati. Memandang ke sekeliling dimana kita berada dengan khusyuk.  Jika ibu-ibu yang wudhu tadi menyempatkan untuk memandangi wajah para sepuh yang antri, meluangkan waktu menyaksikan gesture para ibu yang tak kuat menahan pipis… Ketika ia menghayati dirinya “here and now”, sedikit banyak mungkin akan mempengaruhi motivasinya untuk “segera dalam keadaan suci”.

Kenapa? karena emosi itu, akar katanya sama dengan motivasi. Movere. Menggerakkan. Kalau kita bisa merasakan perasaan orang lain, maka kita akan tergerak untuk melakukan sesuatu untuk orang lain itu.

Kalau saya orang yang berkuasa dalam bidang pendidikan di tanah air ini, saya merasa perlu mengerahkan pikiran untuk menumbuhkan empati pada anak-anak bangsa ini. Namun karena saya hanya seorang ibu, maka yang akan saya lakukan adalah:

red-hearts-love-tree-wallpaper-768x480(1) Memahamkan pada anak-anak saya, bahwa ibadah itu tak hanya sholat dan menghafal Al Quran. Al Qur’an itu mukjizat. Jika kita mengamalkannya, PASTI akan mengantarkan kita menjadi orang yang mempesona di dunia dan selamat di akhirat. Menurut salah seorang ahli tafsir, dalam Al Qur’an kata “KAMI” lebih banyak ditemukan dibanding kata “AKU”. Ihdinassirootol mustakiim. Antarkanlah KAMI ke jalan yang lurus. Bukan antarkanlah SAYA. Maknanya apa? kepedulian, kebersamaan. Selamat bersama. Sejahtera bersama. Bahagia bersama. Saya ingin menanamkan pada anak-anak saya bahwa…Sholat itu ibadah. Puasa ibadah. Menghafal Al Qur’an ibadah. Memberikan jatah antrian kita pada orang yang kita lihat lebih membutuhkan, ibadah. Meminjamkan alat tulis pada teman, itu ibadah. Bersungguh-sungguh belajar, itu ibadah. Seluruh detik yang Allah berikan pada kita, adalah kesempatan untuk beribadah.

(2) Menghidupkan rasa, dengan mengamati sekitar. Cara yang paling sederhana adalah, pandanglah wajah para mustad’afin. Demikian guru saya waktu di Salman mewasiatkan. Wajah kumal anak-anak jalanan, wajah keriput kakek nenek yang menengadahkan tangannya di pasar. Memperhatikan baju mereka yang compang-camping. Mengunjungi rumah mereka yang renta. Saya ingin mengajak anak-anak saya  menatap wajah mereka dengan lekat. Itu cara paling sederhana menghidupkan rasa. Rasa kita, mungkin akan cenderung  mengeras saat kita terlalu banyak melihat wajah cantik, dengan pakaian syar’i yang indah,atau tempat-tempat yang menawan di berbagai medsos.

Wallahu alam. Semoga kita dikarunia kelembutan rasa, dan membuat kita menjadi lebih teguh menebarkan kebaikan.

sumber gambar : http://www.wallpaperhd.pk/red-hearts-love-tree-wallpaper/

 

 

 

 

 

Adakah “remaja” dalam Islam ?

Suatu sore, saya menyaksikan adegan yang membuat saya pengen ketawa guling-guling. Si gadis kecil 7 tahun yang sedang asyik membaca buku, tiba-tiba bangkit, memakai kacamata plastik hello kitty-nya, mengambil pulpen, dan mendekati si sulung 13 tahun  yang sedang asyik ber-hape ria. Dengan gaya reporter, si gadis kecil berkata:

Gadis kecil : “Kaka, apakah kaka mudah tersinggung?”

Si sulung : “Apaan sih kamu? ganggu aja…”

Gadis kecil : “Ya, betul. Barusan Kaka menunjukkan perilaku mudah tersinggung. Pertanyaan selanjutnya: apakah Kaka perasaannya mudah berubah-ubah dengan cepat?”

Si sulung: “Ih, kamu….gak ada kerjaan lain apa?” (dan dia pun beranjak ke kamarnya).

Lalu si gadis kecil pun mendekati saya, menunjukkan sejumlah poin dengan kolom checklist yang ada di buku “pubertas” yang sedang dibacanya. Lalu dia berkata: “Bu, Kaka positif remaja bu….bener kata ibu”.

Adegan itu, kepolosan si gadis kecil, lucuuu banget. Memang sejak dua tahun lalu, sejak si sulung yang baik hati, tidak sombong dan super ngemong itu berubah perilakunya menjadi jutek, saya menjelaskan pada adik-adiknya bahwa kakaknya, memasuki masa remaja. Apakah remaja itu? bla..bla..bla…pubertas…bla..bla..bla…hormon…bla..bla..bla..emosi…bla..bla..bla..

Ah, remaja. Pemikiran yang tidak islami. Tak ada remaja dalam Islam. Adanya istilah remaja itu hanya upaya pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim. Biar aqil-nya gak bareng sama baligh-nya.

Sudah sering saya dengar dan baca pendapat tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang berpendapat demikian, saya punya sudut pandang lain.

Bahwa dalam Islam periode perkembangan manusia itu hanya ada dua yaitu belum aqil baligh dan sudah aqil baligh, Yups. Absolutely. Ajaran agama, jika dituliskan dalam Al Qur’an dan sunnahnya, areanya iman. Percaya.

Istilah remaja itu adalah upaya-upaya pihak tertentu untuk menghancurkan generasi muslim, agar kita sebagai orangtua mentolelir “kesalahan-kesalahan” dan memaklumi “proses pencarian jati diri” remaja? No comment. Wallahu alam. Saya tidak punya informasi yang bisa saya percaya untuk mengatakan itu betul atau salah.

Lalu, kenapa saya masih menghidupkan kata dan konsep “remaja” dalam kepala saya, padahal saya muslimah?

Biar saya ceritakan dulu asal-usul munculnya istilah “remaja” ini. Istilah “remaja” atau adolescence, berasal dari bahasa latin yang artinya “to grow into adulthood”. (Tuuuuh ka, dari latin, bukan dari Islam). Mengapa para ahli psikologi memunculkan “remaja” sebagai salah satu tahap perkembangan manusia ? tahap perkembangan manusia itu, dirumuskan berdasarkan karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikiran yang berdampak pada perilaku yang khas.

Mengapa periode anak dibedakan dengan periode dewasa? karena ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang berbeda secara signifikan pada anak dan pada dewasa. Mengapa individu usia 40 sampai 60 tahun dikelompokkan dalam kelompok yang sama? karena secara umum, karakteristik segi biologis/fisik dan  kognitif/pemikirannya tidak berbeda secara signifikan.

Jadi, adanya istilah REMAJA adalah berdasarkan pengamatan bahwa ada kekhasan perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran pada kelompok usia tertentu, antara usia anak dan usia dewasa. Usia berapa? nah, ini pertanyaan gampang yang susah jawabannya. Karena parameter yang digunakan juga  berbeda-beda. Namun intinya, masa ini pada hakikatnya adalah masa dimana anak mengalami perubahan dalam semua aspek perkembangannya  untuk menjadi dewasa. Makanya suka disebut masa transisi.

Mengapa transisi? karena tidak JRENG !!! begitu menginjak usia tertentu, atau begitu mengalami kejadian tertentu, perilaku anak langsung berubah menjadi perilaku yang dewasa. Ada proses. Proses itu terjadi bertahap. Dari segi biologis dalam tataran sel, fungsi otak, yang berdampak pada kemampuan berpikir, yang seterusnya berdampak pada perilaku.

Jadi, kalau yang saya tangkap, literatur psikologi yang menyebutkan ada tahap yang namanya remaja dengan karakteristik perubahan biologis begini, perubahan fungsi otaknya begitu, perubahan emosinya begono, dll… itu bicara tentang fakta empiris. Kenyataan di lapangan. Tinggal kita berpikir kritis: di lapangan yang mana? amerika? negara barat? timur? indonesia? timur tengah? …. apakah di semua tempat ditemukan perilaku  pada usia tertentu yang khas, berbeda dengan perilaku anak-anak dan perilaku orang dewasa di daerah tersebut? Mangga pertanyaan itu dicari jawabannya sendiri.

Saya sendiri, sependek pengalaman saya, melihat bahwa perilaku khas itu -perilaku khas yang bukan perilaku anak-anak namun bukan perilaku dewasa- ada di rumah saya, nyata di lingkungan sekitar saya. Maka, saya sendiri percaya bahwa ada perubahan biologis/fisik dan kognitif/pemikiran yang terjadi pada anak yang akan berproses menjadi dewasa. Mau dinamakan REMAJA, mau dinamakan pemuda, mau gak dikasih nama juga, bukan itu hakikatnya. What in a name…. tapi bahwa secara lapangan kenyataan itu ada, ya.

Lalu, bagaimana dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa setelah baligh anak dituntut dengan kewajiban yang sama seperti orang dewasa? mmmhhh….saya sendiri tidak melihat dua hal ini sebagai suatu pertentangan, versus.

Bahwa remaja putri itu kalau lagi PMS emosinya naik turun, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi tersebut ia tetap wajib sholat, YA. Itu adalah aturan agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Bahwa anak remaja putra usia 13 tahun itu lagi suka-sukanya sama lawan jenis, YA. Faktanya demikian. Bahwa dengan kondisi demikian ia tetap tidak boleh berzina dan tidak boleh mendekati zina, YA. Itu adalah aturan  agama yang tak bisa diganggu gugat. Dimana pertentangannya?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka yang berpendapat bahwa ilmu yang boleh kita dengar, pelajari dan amalkan itu hanya ilmu yang berasa dari dunia islam dan ilmuwan islam, saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya menghargai mereka yang berpendapat bahwa Psikologi itu ilmu sekuler. Haram untuk kita pelajari dan amalkan. Ya, ada sebagian teori Psikologi yang didasari oleh pemahaman  hakikat  manusia yang berbeda dengan pemahaman hakikat  manusia menurut agama Islam. Tapi sebagian lainnya, yang tak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, adalah ilmu alat yang bisa membantu kita memahami sistem keMahaannya. Wallahu alam.

Jadi, kesimpulannya, karena saya sendiri melihat bahwa fenomena di lapangan perilaku khas remaja itu ada, maka saya memutuskan untuk mempelajari mengenai remaja ini. Untuk apa? untuk menanamkan nilai-nialai agama padanya.

Saya gak bisa tutup mata dalam menanamkan nilai-nilai. Resikonya terlalu besar. Gak percaya? coba bilang sama anak 7 tahun. “Ayo sholat. Kalau gak sholat, nanti gak ibu ajak jalan-jalan”. Mungkin si 7 tahun akan menurut. Coba katakan hal yang sama pada anak umur 13 tahun. Dia akan nurut?

Ada yang berubah dalam diri si anak. Maka, cara kita mengajarkan nilai agama pun harus berubah. Yang tidak boleh berubah adalah satu, Nilai-nilai agama yang ingin kita tanamkan pada anak.

Kita mau tutup mata tak mau melihat perubahan dalam diri anak? tetap memakai cara yang sama seperti cara yang biasa kita lakukan ? silahkan. Saya tak mau ambil resiko itu.

Beberapa hari lalu saya membaca secara lebih detil mengenai perubahan struktur dan fungsi otak pada remaja. Ini adalah topik yang relatif baru, dan sedang ngehits di dunia psikologi, yang memandang manusia sebagai entitas yang lengkap: bio-psiko-sosial. Tau gak…saya pengen nangis loh…membaca perubahan yang terjadi pada otak “remaja”, yang … amazing banget. Saat itu, hati saya merasa …“Ya Allah, Engkau teh Maha Sempurna banget. Detiiiiiil dan sempurnaaaa sekali engkau menyiapkan tahap demi tahap perkembangan manusia”. Insyaalah kalau ada usia dan kesempatan saya akan berbagi mengenai hal ini.

Saya jadi inget, 4 hari lalu, di kampus kami mengadakan acara mempersiapkan Ramadhan. Dua orang pembicara keren kami undang. Satu mas Budi Prayitno. Kami minta beliau berbicara mengenai fiqih shaum ramadhan. Karena latar belakang beliau psikologi, beliau memaparkan juga mengenai happines kaitannya dengan puasa ramadhan. Pembicara lainnya adalah Ustadz Tauhid Nur Azhar, doktor yang menguasai bidang neurologi. Beliau kami minta berbicara mengenai puasa dalam perspektif neurosains.

37 tahun umur saya, baru kali ini saya faham mengapa dalam puasa ini, Allah mengatur yang ditahan adalah hawa nafsu “makan, minum dan seksual”. Tiga hal itu.  Dengan fasih beliau menjelaskan dari sudut pandang neuro sains. Yang terkait dengan tulisan ini adalah, saat beliau menjelaskan keteraturan yang terjadi dalam tubuh manusia, yang beliau jelaskan sudah bukan di tataran sel lagi, tapi jauh…jauh..jauh lebih kecil dari sel. Beliau menjelaskan kompleksitas otak, sel-sel syaraf, mekanisme enzim-enzim….saya tidak sepenuhnya mengerti, tapi yang berkesan buat saya adalah, dengan penuh penghayatan beliau berkata: “Keren banget Allah tuh…indah banget sistem otak itu…”.

Saya, dengan penghayatan yang sama, bisa mengatakan hal yang sama: “Keren banget ALlah itu. Ya, manusia  itu makhluk yang paling sempurna, mahakaryaNya. Sungguh-sungguh sekali Ia menciptakan manusia tuh”. Kalimat itu keluar dari hati saya setelah saya mempelajari suatu topik Psikologi secara detil.  Terutama bagian-bagian ilmu yang menjelaskan hal-hal yang sifatnya basic. Seperti perubahan yang terjadi dalam diri manusia sepanjang hidup manusia. Atau tentang bagaimana manusia berpikir. Proses transduksi dalam sensasi-persepsi. Proses memory, proses learning. Amazing. Speechless. Allahu Akbar. Memahami proses yang Ia ciptakan, selalu memunculkan kekaguman pada keagunganNya.

Kesimpulannya adalah, ada banyak cara menuju kebaikan. Kebaikan yang ingin kita capai adalah, anak-anak kita tumbuh menjadi individu dewasa, yang aqil baligh, yang mencintai Allah, yang selamat menjalani kehidupan ini.

Bagaimana cara mencapai itu, berbeda-beda. Ada yang berpendapat anak harus disterilkan. Jauhkan dengan berbagai potensi godaan. Pisahkan dengan lawan jenisnya, tutup aksesnya terhadap dunia luar. Salah? tidak.          Ada yang berendapat berbeda. Memberikan anak akses terhadap potensi godaan, dengan batasan-batasan dan umpan balik tertentu. Salah? tidak.

Ada yang berpendapat bahwa ajaran agama harus diajarkan tanpa pertanyaan. “Allah sudah menetapkan aturan itu, pasti itu aturan yang sempurna. Ikuti saja”. Salah? tidak. Ada juga yang berpendapat untuk menanamkan pemahaman agama yang mengakar, perlu adanya dialog. Membuka ruang saat anak bertanya “kenapa sih aku harus pake jilbab? kenapa sih harus sholat?”. Salah? tidak.

Yang salah adalah kalau kita tak peduli dan tak sungguh-sungguh mendidik. Yang salah adalah ketika kita melihat cara kita tak berhasil, kita diam saja, bersikeras bahwa cara ini yang paling benar. Yang salah adalah saat kita tak mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Pesan saya, cara apapun yang kita putuskan sebagai orangtua, pelajari cara itu dengan sungguh-sungguh. Dari A sampai Z. Jangan hanya berhenti di tataran konsep. Berpikir kritis. Jangan ragu bertanya pada ahlinya. Tentang remaja dan aqil baligh ini, bagi yang percaya bahwa masa transisi itu ada, tanyakan pada ahlinya….jadi harus bagaimana dalam praktek pengasuhannya? apa batasan-batasan boleh dan tidak boleh yang bisa kita sampaikan pada si remaja? tekniknya gimana? gimana kalau respons si remaja begini, begitu? apa yang kita khawatirkan?

Bagi yang percaya bahwa tidak ada fase remaja, juga tanyakan pada ahlinya…berpikir kritis. Apakah sama kadar dewasa remaja putri berusia 13 tahun yang sudah baligh dengan pada waita usia 30 tahun? misalnya. JIka sama gimana, kalau beda gimana? Tanya…dari A sampai Z.Karena setiap kerangka pikir, ada jalurnya masing-masing. Kalau dicampur, nanti bingung sendiri. Intinya mah, jika akan mempelajari satu hal, pelajari sungguh-sungguh, tak boleh hanya berhenti sebagai wawawsan dan ilmu, tapi pahami sumbernya, dasarnya, kejar sampai tataran aplikatif.

Tulisan di atas, semoga bermanfaat.

41B+rV6mZ2L-e1415201455240Yang jelas, pandangan bahwa munculnya istilah remaja itu adalah untuk melemahkan generasi muda, secara pribadi kurang saya percayai.

Kalau ada yang mengatakan hal itu dan memandang remaja adalah masa untuk kita mentolelir keburukan, saya melihat trend psikologi tidak ke sana.

Salah satunya adalah dengan munculnya buku dari salah satu ahli yang sudah lebih dari 40 tahun mempelajari mengenai remaja di samping ini.

Wallahu alam. Semoga kita dikaruniai kesungguhan dan kerendahan hati untuk mencari ilmu, serta kekuatan untuk mengamalkan ilmu. Aamiin…

#Ramadhan 1437 _ day one

Next Newer Entries