Sang Pewaris Hujan

sang pewaris hujan“Mengapa kita harus berdoa? Bukankah Allah maha tahu kebutuhan kita?”

“Agar manusia menjadi rendah hati. Tahu diri siapa hamba dan siapa tuhannya. Ketika engkau melakukannya, engkau mengusir sikap sombong, malas apalagi berharap kepada selain Allah”.

Itu adalah secuil percakapan Kashva/Elyas dengan tokoh Muhammad, salah seorang dari pasukan Amr Bin Ash yang membebaskan Alexandria. Perbincangan itu ada di halaman 351 buku ketiga dari seri novel Biografi Muhammad, karya “sang juru cerita” Tasaro.

Hehe… saya memang “jurig novel”. Si abah, meskipun sudah 14 tahun hidup bersama, masih sering tak percaya saat saya bisa menamatkan bacaan novel saya dalam waktu -yang menurut dia- sangat cepat. Padahal bacanya ya curi-curi waktu di sela-sela beragam kewajiban yang lain: “serius? selesai? gak dilompat-lompat bacanya?” gitu reaksi si abah setiap kali ia melihat saya selesai membaca buku. Padahal udah puluhan kali saya bilang, kalau “membaca buku yang keren itu, kayak kita makan makanan yang enak. Kita gak pengen cepet-cepet habisin. Kita akan mengunyahnya pelan-pelan, menyecap seluruh rasanya dengan semua indera kita…”. Dan buku Muhammad : Sang Pewaris Hujan, beserta dua buku sebelumnya: https://fitriariyanti.com/2016/06/14/lelaki-penggenggam-hujan/ dan https://fitriariyanti.com/2016/06/28/lelaki-pengeja-hujan/ absolutely masuk kategori buku super keren yang ingin saya nikmati setiap kata dan rangkaian kalimatnya.

Saya merasa, ada warna yang berbeda di buku ini dibandingkan dua buku sebelumnya. Salah satu ulasan mengenai buku ini yang saya dapat dari gugling-sebelum membaca buku ini- mengatakan bahwa buku ini akan memuaskan mereka yang mengidolakan Umar Bin Khatab. Saya mengidolakan Umar Bin Khatab. Sangat. Tapi saya sama sekali tak puas dengan buku yang memang mengisahkan 10 tahun kepemimpinan khalifah kedua ini. Tentunya ini bukan salah penulis. Lha wong ini buku “Biografi Muhammad”. Tentunya akan berbeda dengan buku “Biografi Umar Bin Khatab” yang sudah beberapa buku saya baca.

Di buku ini, yang diceritakan lebih banyak gambaran peristiwa, bukan gambaran tokoh. Jika di buku sebelumnya penulis secara detil menggambarkan tokoh-tokoh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya bahkan tokoh musuhnya secara personal sampai kita merasa siapa yang digambarkan hadir sendiri di hadapan kita, di buku ini, yang lebih banyak digambarkan adalah peristiwa. Penaklukan Persia dan Romawi.

Membaca buku ini, saya tak harus menjeda untuk mengusap air mata yang menggerimis (kkkk…nyontek kata-kata sang juru cerita). Tak terlalu banyak kisah dan peristiwa yang menyentuh dan mengaduk-aduk emosi. Kecuali pada saat penulis menggambarkan detik-detik wafatnya sang Khalifah, mata saya sempat berkaca-kaca.

Saya merasa, di buku ini penulis secara khusus mengerahkan energinya untuk menciptakan rangkaian percakapan yang radikal dan bermakna antara tokoh Kashva/Elyas dengan sahabat barunya yang muslim, Muhammad. Kognisi yang berusaha disentuh penulis, bukan emosi. Dan, saya harus katakan, sang penulis berhasil jika memang itu tujuannya.

Pertanyaan-pertanyaan lugu Kashva/Elyas dan jawaban-jawaban Muhammad, itulah yang membuat saya menjeda bacaan saya. Kalau di buku sebelumnya saya menjeda untuk mengusap air mata dan menenangkan emosi, di buku ini saya menjeda untuk mencerna. Buat kita yang terlahir sudah dengan status muslim/muslimah, mungkin tak semua pertanyaan kritis Kashva/Elyas pernah kita tanyakan pada diri sendiri maupun pada orang lain. Itulah saya duga tujuan sang penulis. Penulis mencoba menyampaikan “tausyiah”/nasihat … namun seperti gaya personalnya yang sangat terasa, dengan gaya yang unik.

“Kau tahu makna syahid?”/ “Kau yakin Allah akan mengabulkan doa kesyahidanmu?”/ “Apa yang engkau pahami ketika aku menolongmu dalam hujan batu itu? Allah menunda pengabulan doamu?”/”Allah memperkenalkan diriNya?”/”Bagaimana kau masih memikirkan Tuhan dalam keadaan serba tak menentu seperti sekarang?”/”Bagaimana engkau bisa menganggapNya ada sedang Dia tidak terlihat dan tidak terbayangkan wujudNya?”

Kalau kita seorang mulim/ah, cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan tokoh Kashva/Elyas tersebut. Menurut saya, itu adalah pertanyaan nurani kita. Dan melalui jawaban-jawaban tokoh Muhammad, penulis berhasil menyampaikan jawaban yang menguatkan tauhid kita. Dialog-dialog seperti ini, harusnya selalu kita hidupkan dalam nurani kita. Tak harus selalu kita tahu jawabannya. Justru kalau kita tak tahu, kita terus mencari tahu, itulah indikator nurani yang hidup.

Satu lagi perbedaan gaya buku ini dengan kedua buku sebelumnya, para tokoh fiksi dan tokoh sahabat alurnya blended, bercampur. Secara personal saya melihat ada “keberanian” penulis mempertemukan tokoh fiksi dengan tokoh-tokoh nyata. Saya sendiri, mencium adanya “resiko” dalam keputusan itu. Tapi itu penilaian personal saya. Jujur saja, kalau saya tidak akan berani melakukan itu. Misalnya ketika Penulis memperemukan Astu dengan Saad Bin Abi Waqash, Bahkan Astu dan Vakhsur dipertemukandengan Ubaidillah Bin Umar saat sang putra Khalifah itu “memburu” Persia-ers di Madinah selepas ayahnya di bunuh Fairuz. Tapi saya tetap menghargai keputusan penulis, pastinya penulis bukan tanpa pertimbangan matang mengambil langkah ini.

Di akhir buku ini, seperti di akhir buku kedua, digambarkan perpindahan kekhalifahan dari Umar kepada tim formatur yang berujung pada terpilihnya Utsman bin Affan. Waktu saya gugling mengenai penulis seri buku ini, ada satu tulisan yang mengatakan seri buku ini adalah buku Syiah. Argumennya adalah kisah di buku kedua yang menggambarkan kejadian di Tsaqifah. Kepemimpinan setelah Rasulullah wafat memang menjadi titik tajam antara sunni dan syiah. Dan penulis yang mengatakan buku ini buku syiah, menyampaikan bahwa sang penulis buku ini mengutip kisah “versi syiah”. Bagi mereka yang berpendapat demikian, mungkin akan mengangguk-angguk ketika membaca bagian akhir buku ketiga ini karena digambarkan juga “Utsman vs Ali” dalam proses musyawarah formatur itu. Apalagi kalau hanya membaca “bagian itu”. Tapi kalau kita membaca ketiga buku itu secara lengkap, saya menangkap bahwa yang disampaikan penulis adalah sesuatu yang proporsional dan objektif.

Proporsional? karena penulis menggambarkan keistimewaan Ali dan Fathimah, dengan porsi yang sama dengan saat penulis menggambarkan keistimewaan ABu Bakar, Umar, Utsman dan Aisyah. Sesuatu yang tak akan dilakukan oleh syiah-er yang berakhlak buruk (saya percaya ada syiah-er berakhlak baik dan syiah-er berakhlak buruk, seperti saya percaya ada muslim berakhlak baik dan muslim berakhlak buruk, kristen berakhlak baik dan kristen berakhlak buruk, orang sunda berakhlak baik dan orang sunda berakhlak buruk) Jadi meyimpulkan bahwa buku ini buku syiah, menurut saya pribadi kurang pas .

Objektif? saya pernah membaca buku biografi Utsman Bin Affan berbahasa Inggris, yang dituli Dr Alli Muhammad Al-Sallabi. Di sana beliau mengambarkan peristiwa berakhirnya kekhalifahan Utsman. Sebagai pengantar, di bagian itu beliau menyebutkan bahwa akhir kekhalifahan Utsman dan peristiwa terbunuhnya Utsman, seringkali “dihindari” untuk dibicarakan. Sama dengan peristiwa bani Tsaqifah. Seolah-olah kalau kita membicarakannya dan mengupasnya, kita pasti akan sampai pada kesimpulan yang “buruk” dan membuat kita merasa menodai agama ini. Ali Sallabi memiliki pandangan yang berbeda. Ia mengatakan bahwa secara objektif, melalui metodologi penelusuran kisah yang akurat, kita tak perlu menghindari pembahasannya. Kita tetap harus mengetahuinya, menganalisanya dan menjadikannya pelajaran. Kita akan mengetahui ada sisi-sisi “manusiawi” dari para sahabat mulia itu. Sisi “tak sempurna” itu, yang membuat kita tetap menjejak di bumi dalammemahami ajaran agama. Yang membuat kita memiliki nyala api untuk menjadikan mereka sebagai diola. Karena kita bisa menghayati bahwa mereka manusia, bukan malaikat.

Secara pribadi, “efek samping” setelah membaca buku ini adalah, saya jadi pengen banget memaca buku-buku biografi yang bisa menceritakan lebih detil mengenai kehidupan para sahabat: Amr bin Ash, Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, dan tokoh-tokoh yang digambarkan di buku sebelumnya: Khalid Bin Walid, dan sahabat-sahabat mulia lainnya. Selain itu, saya juga ingin membaca buku-buku ynag menggambarkan perjalanan sejarah setelah khulafaurrasyidin, para dinasti setelahnya, hingga sampai saat ini. Sebenarnya saya tahu sih kisah kronologisnya. Si abah yang memang  tertarik pada sejarah sudah puluhan kali menceritakan perjalanan kehidupan umat Islam sampai saat ini. Bahkan, ada beberapa buku tentang itu di lemari buku kami. Tapi sampai saat ini, hanya setelah membaca buku ini, saya begitu ingin menghayatinya. Dan ini efek samping luar biasa buat saya yang gak suka sejarah hehe….

Saya ingin menutup tulisan ini dengan percakapan lain antara tokoh Muhammad dengan tokoh Kashva/Elyas:

“Bagaimana caranya mengetahui tujuan takdir?”

“Bagaimana? tentu saja dengan menjalaninya. Allah sudah menakdirkan akhir perjalanan hidup kita, sedangkan kita tak akan pernah mengetahuinya, kecuali dengan menjalaninya, Kawan. Lalu, Allah memberi bimbingan bagaimana caranya menjalani proses itu”.

…..”jika engkau percaya tidak ada kebetulan di muka bumi, hilangnya sebagian besar ingatanmu pun memiliki sebuah tujuan. …..kelak, jika engkau tak menemukan jawaban atas pertanyaanmu tentang masa lalu, semoga Allah menggantinya dengan jawaban perihal untuk apa engkau mengalami semua ini”.

Yups, pertanyaan yang lebih tepat untuk episode yang Allah berikan pada kehidupan kita bukanlah “mengapa”. Tapi “untuk apa”.

Wallahu alam.

 

 

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Himada
    May 14, 2017 @ 20:06:19

    Yup. Pertama kali mbaca buku serial Niografi Muhammad ini mbuat saya terkesima. Rangkaian kata dan khusus mampu membawa kita mbaca sirah nabawiyah dg asyik… sayapun menyangkal ini buku syiah…namun setelah membaca buku ke4 -generasi penggenggam hujan- maka terang benderanglah semuanya penulis yg saya kagumi ternyata mengajak alur pikiran kita u/ membenci sahabat2 rasul dan mcintai Ali lebih dari khalifah2 sbelumnya. Wallahualam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s