Radar hidayah, persepsi dan atensi (inspired by Bencana Lisan)

Gara-gara si bujang kecil dan si gadis kecil hobi banget baca komik, maka saya pun jadi  terpapar oleh komik. Dan “bertemu” lah saya dengan “VBI_Djenggoten”, sang penulis komik-komik  yang berupaya untuk “membumikan” ajaran Islam dengan bahasa komik. Sesungguhnya, meskipun dibeli untuk anak-anak, saya melihat komiknya bukan komik untuk anak-anak. Buktinya, meskipun si gadis kecil kelas dua SD itu seneng banget baca buku-bukunya, namun setiap kali baca, setiap menit dia tanya: “bu, upeti itu apa? liberal itu apa? kejayaan itu apa? menyuap itu apa? …..” . Tapi karena gaya gambar dan gaya tulisannya, membuat si gadis kecil bilang gini: “Teteh Hana sebenernya gak ngerti isi buku ini, tapi seru bacanya” katanya  kkkkk….akhirnya jadilah saya dan si abah menjelaskan apa maksud dan contoh yang lebih konkrit dalam kehidupan sehari-harinya.

Bukunya “Bencana Lisan”, kalau ada orang yang tanya pendapat saya, saya akan bilang “Super duper keren. Jleb”. Di buku ini, selain jelas teknik menggambarnya bagus dan “enak diliat” dengan gaya khas tanpa leher, yang berkesan buat saya adalah :

WhatsApp-Image-20160720 (1)(1) Topiknya kekinian dan menggejala

(2) Struktur materinya  sangat sistematis. Kita jadi terbayang “mindmapnya”.

(3) Penjabaran materinya sederhana, namun clear. Jelas dan mudah dipahami definisi-definisinya.

(4) Definisi itu, lalu ia konkritkan dengan  menggambarkan contoh super duper lucu namun begitu  nyata dan membumi, yang membuat kita-kita para pembacanya, tersenyum tapi tersindir abissss. Seolah-olah buku itu spesial dibuat untuk kita(haha…..geer mode:on)

(5) Referensi dicantumkan. Ini etika penulisan yang sangat saya hargai

Tak ada gading yang tak retak. Buku ini tak sempurna. Kekurangannya adalah ………ga ada daftar isi kkkkk (atau kalau komik emang gak ada daftar isinya ya? hehe…maklum new reader 😉

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang teman saya. Ternyata, dia juga sangat terkesan denWhatsApp-Image-20160720gan buku ini. Dia menunjukkan satu halaman buku ini, lalu ia berkata: “Saya udah sering baca buku, hadits, tafsir, dengerin ceramah ustadz tentang ini. Saya tau, negreti, tapi saya belum bisa mengubah perilaku saya. Tapi jujur, ketika saya membaca ini  jleb banget dan kekuatan jleb-nya, cukup membuat saya punya energi untuk berubah. Menahan diri”.

Di samping ini halaman yang ia maksud. Halaman mengenai “batasan bicara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat”. Beberapa contoh perilaku yang dipaparkan dalam buku ini, jelas banget dan membuat kita bisa memahami sekaligus tersindir dan ternasehati.

Tapi bukan itu yang sebenarnya menarik perhatian saya. Tapi kata-kata teman saya yang mengatakan “komik ini membuat saya punya energi yang cukup besar untuk merubah perilaku saya”.

Mengubah perilaku. Selama belajar psikologi, saya berkutat dengan perilaku dan “mengubah perilaku”. Semakin kesini, semakin dalam, semakin jelas jika perilaku manusia itu amat sangat kompleks. Maka, mengubah perilaku pun tak kalah kompleksnya. Kita ambil contoh: mengubah perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya. Ada berapa ratus skripsi-tesis-disertasi-artikel jurnal yang membahas satu perilaku itu? Dan ada berapa ratus metoda intervensi yang coba disusun? berapa banyak yang berhasil? berhasil di kelompok ini apakah berhasil juga di kelompok lain? berhasil di tempat ini apakah berhasil juga di tempat lain? berhasil di saat ini apakah berhasil juga di saat yang lain?

Mengubah perilaku itu kompleks. Tidak mudah. Teman saya sendiri sudah mengatakan bahwa ia sudah menerima banyak informasi dari berbagai channel, namun “hidayah”Nya, turun lewat komik ini. Dan saya melihat bahwa yang ia katakan benar. Teman saya ini, sesungguhnya bukan tipe yang “berisik” yang suka komentar ini itu. Namun beberapa waktu belakangan ini, memang ia tampak irit berkomentar atau menulis. Waktu lagi rame-rame orang berkomentar mengenai es doger versus ulen, saya tahu bahwa ia punya pendapat sesuatu. Pendapat yang biasanya bisa menganalisa tajam dan mengembalikan kesadaran orang-orang yang sedang “memperdebatkan kulit” menjadi memahami esensi yang mereka perdebatan. Tapi ia tidak melakukannya. Ia bilang: “Dengan menulis itu, saya tak akan mengubah apa-apa. Mengingatkan orang? di medsos? Saya gak yakin efektifitasnya. Tulisan saya tak akan mengubah keadaan. Malah tambah bikin berisik aja.  Saya jadi paham mengapa waktu mendengarkan khutbah jumat, kita tak boleh bicara meskipun tujuannya mengingatkan. Niat meningatkan seringkali membuat kita terjerumus menjadi larut dalam keberisikan yang awalnya ingin kita ingatkan”. Begitu katanya.  Di wa grup yang kami ikuti, ia juga semakin jarang berkomentar. Beberapa kali saya lihat ia “typing”, tapi tak jadi. Waktu saya tanya, dia bilang….” iya, aku mau nulis hore-hore…tapi kayaknya aku nulis atau gak nulis gak ada bedanya kan?” iya sih….dalam banyak topik pembicaraan di grup wa, memang demikian kondisinya

Temuan penelitian kolega dan kakak kelas saya mengenai diri religius mengungkapkan bahwa “gen Tuhan” itu ada. Di akhir presentasi, beliau mengatakan bahwa untuk menjelaskan perilaku buruk manusia, pertanyaannya bukan “faktor apa yang membuat ia berlaku buruk?” namun “apa yang menghalanginya dari berbuat baik”? karena kebaikan itu sudah ada dalam diri kita, namun belum teraktifasi. Bahasa agamanya, “fitrah baik” itu melekat dalam diri kita, namun perlu diaktivasi untuk menjadi amal sholeh.

Lalu saya ingat materi kuliah saya mengenai persepsi dan atensi. Dalam salah satu proses yang mengawali persepsi,  kita mengindera sesuatu. Kita tak akan pernah bisa “mengolah” informasi yang tak kita terima melalui indera. Nah…dari materi ini, kita tahu bahwa apa yang bisa kita ketahui melalui indera kita, adalah sangat sedikit dibandingkan realitas yang ada di dunia ini. Ada yang namanya ambang sensasi. Gelombang cahaya dan gelombang suara yang bisa kita indera, jauuuuuuuuh lebih sedikit dibandingkan dengan gelombang cahaya dan gelombang suara yang sebenarnya diciptakan oleh Dia sang Maha. Kita tak bisa mendengar suara yang “terlalu” pelan, “terlalu” keras, kita tak bisa melihat sesuatu yang “terlalu” jauh. Demikian pula dengan rasa, sentuhan, sakit, dll.

Nah…dari sejumlah kecil realitas yang bisa kita indera, realitas yang bisa kita berikan perhatian, menjadi lebih terbatas lagi. Mengacu pada defisini atensi menurut Atkinson (2009), kemampuan kita memperhatikan sangat terbatas. Ya, kita punya kemampuan divided attention. Namun mayoritas penelitian menunjukkan bahwa “divided attention decreased performance”. Kalau kita mengasuh anak sambil goreng ikan dan sambil dengerin puteran cucian di mesin cucui udah berenti atau belum, maka kualitas perhatian kita pada masing-maisng kegiatan itu akan berkurang dibandingkan jika kita memilih untuk memusatkan perhatian pada satu kegiatan.

Hiiiii…..jadi, apa kesimpulannya? kesimpulan saya adalah: hanya hidayah yang bisa membuat perilaku (dan kepribadian) seseorang berubah. Hidayah itu kita dapat dari mana? dari seluruh yang Allah ciptakan dan terjadi-kan. Dari orang-orang yang bertemu dengan kita, dari ucapan para ustadz, dari nasihat orangtua, dari sindiran teman, dari kejadian yang dialami orang lain, perilaku menyebalkan orang lain……Kalau demikian ,maka kita harus membaka selebar-lebarnya radar hidayah itu. Dan kita juga perlu memberi perhatian pada banyak channel hidayah. Dengan cara itulah kita memastikan bahwa kita menyingkirkan penghalang yang bisa menghalangi diri kita dari proses aktifasi gen kebaikan yang ada dalam diri kita.

Maka, kalau kita memutuskan_sadar atau tidak- hanya mau mengindera  dan memberi atensi pada konteks terbatas; hanya mau mendengarkan nasihat ustadz kelompok ini, hanya mau nonton TV channel ini, hanya mau mendengarkan kata-kata dari teteh yang bajunya begitu, hanya mau berteman dengan kelompok ynag memilih presiden ini, hanya mau baca buku karangan kelompok ini… jangan-jangan…kita sedang mempersempit radar hidayah kita.

Maka, sejauh ini, saya akan mengajarkan pada anak-anak saya, untuk mengindera seluruh channel kebaikan. Dari siapapun kata-kata itu berasal, dengan cara apapun kebaikan itu disampaikan- buku, gambar, musik, karya seni, kegiatan alam-, biar banyak kebaikan yang terindera, dan banyak yang menarik perhatian, agar membuka lebih banyak peluang untuk mengaktifasi gen kebaikan dan keshalehan dalam diri kita.

Kebaikan jika tak dikaitkan dengan Allah, hanyalah amal kebaikan. Kebaikan yang dikaitkan dengan Allah, akan menjadi amal sholeh. Amal kebaikan adalah kunci kebahagiaan di dunia, amal sholeh adalah kunci kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat.

 

 

 

 

Advertisements

Who are your idol(s)?

decoration_13Saya selalu membayangkan diri saya bagaikan mozaik kaca. Mozaik itu terdiri dari potongan-potongan yang berbeda-beda. Potongan-potongan itu, adalah kepribadian dari orang-orang yang menjadi “idola” saya. Bagian terbaik dari diri mereka. Masing-masing potongan itu lalu membentuk diri saya secara unik.

…………………………….

Awal minggu ini, saya menjadi “panitia” dan menghadiri sidang promosi doktor dari seorang kolega dan  “kakak kelas” saya. Tapi buat saya, sosok beliau bukan hanya sekedar kolega dan “kaka kelas”. Ia adalah salah seorang “idola” saya. Ia seorang ibu dari 3 anak, salah satunya berkebutuhan khusus. Ia pernah menjadi “pejabat” di tempat kami bekerja. Dan dengan semuanya itu, ia menjalani program doktor, dengan hasil cum laude ! Isi disertasinya, caranya memaparkan dan menjawab pertanyaan, membuat semua orang kagum dan bangga.

Di ruangan itu, saya tak bisa menahan air mata saya. Alasan “mengapa kita harus beragama” dituturkan melalui penghayatan filosofi yang dalam dan dibuktikan dengan cara-cara yang ilmiah. Dan meskipun “penampakan” beliau super cuek, tapi hari itu, saya merasa banyak cinta  dihadirkan oleh orang-orang yang mengenalnya. Disampaikan padanya dalam bentuk karangan dan buket bunga, pelukan hangat, doa-doa tulus… sungguh, hari itu, saya sangat iri padanya.

Di hari perhitungan nanti, saya akan bersaksi bahwa ia, adalah pengejawantahan dari kata-kata: sungguh-sungguh, tegar, kuat. Dan tiga hal itulah yang membuatnya menjadi begitu mempesona dan menginspirasi. Apakah ia sempurna? tidak. Ia tidak sempurna. Ada situasi-situasi tertentu yang ia tidak akan “fit”.

Tapi kala saya merasa waktu saya begitu terbatas untuk menunjukkan karya terbaik, saya membayangkan dia. Dia yang sangat produktif. Dia yang bisa sambil mengobrol, sambil mengetik pekerjaannya yang penting. Tak ada waktu yang terbuang percuma, tapi tetap menyenangkan dalam relasinya. Saat saya lebay dan merasa riweuh ngurus anak-anak saya dan ingin menjadikan mereka excuse untuk tak berprestasi, bayangan  dia saya hadirkan. Bagaimana kondisi anaknya yang berkebutuhan khusus dan sangat membutuhkan perhatian. Saat saya merasa tak bisa menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga, saya membayangkan dia yang bisa mendidik anak-anaknya, sehingga anak laki-laki remajanya yang jadi idola para wanita,  nampak begitu sayaaaaaang dan peduli pada si bungsu yang berkebutuhan khusus, sama sekali tak canggung menujukkan rasa sayangnya di depan umum. Saat saya merasa frustrasi dengan kondisi anak-anak yang tiba-tiba membutuhkan saya disamping mereka, saya ingat ia yang tak hanya sekali-namun beberapa kali membatalkan atau mengurungkan keinginan dan rencana besarnya tanpa rasa menyesal, karena memilih mendampingi anak-anaknya yang  sakit.

15 tahun lalu, saya pernah menulis di diary saya: ” saya ingin menjadi secerdas teteh x, se-rendah hati teteh y, seramah teteh z, setangguh teteh a, seanggun teteh b, secantik teteh c”  (kkkk….dua yang terakhir tampak tidak mungkin ya). Tulisan lugu itu, selalu saya ingat. Dulu, saya pikir itu adalah gambaran kegalauan dalam proses pencarian jatidiri. Namun kemudian, saya menyimpulkan itu adalah proses pembentukan jatidiri.

Saya selalu membayangkan diri saya bagaikan terdiri dari mozaik kaca (yang semoga indah). Mozaik itu terdiri dari potongan-potongan yang berbeda-beda. Potongan-potongan itu, adalah kepribadian dari orang-orang yang menjadi “idola” saya. Bagian terbaik dari diri mereka. Masing-masing potongan itu lalu membentuk diri saya secara unik.Dan proses penambahan potongan mozaik itu terus berlanjut sampai sekarang dan seterusnya.

Saya punya banyak “idola”. Masing-masing dari mereka,  saya hadirkan secara mental, saya internalisasikan sosoknya dalam diri, saat saya menghadapi situasi-situasi tertentu. Mereka menjadi semacam sekumpulan “senjata” yang selalu saya bawa kemana-mana, dan saya keluarkan sesuai dengan medan pertempurannya.

Saat saya berada di ruang konseling, bukan kolega dan kakak kelas tadi yang saya hadirkan. Tapi seseorang yang lain. Saat saya sakit, seorang yang lain lagi yang saya hadirkan. Saat saya memiliki banyak rejeki finansial, sosok lain yang saya hadirkan. Saat saya sedang malas, sedang nyinyir, sedang lebay, sedang sotoy, sosok lain lagi yang saya hadirkan. Saat saya sedang menulis, sosok lainnya lagi. Saat saya sedang memimpin, saat sedang mengalami kekesalan pada pasangan, saat merasa didzalimi, sosok lain lagi……..

Maka, bagi saya, dipertemukan olehNya dengan seseorang yang bisa kita “serap”  energi kebaikannya menjadi potongan mozaik kepribadian saya, adalah rejeki dan karunia yang tak terhingga.

Idola bagi saya,  tak harus seseorang yang “hebat”, yang “ternama”. Salah seorang office boy di tempat saya beraktifitas, adalah salah satu potongan mozaik kepribadian saya. Pekerjaannya sederhana. Salah satunya adalah, membuatkan/memberikan minuman pada kita para dosen. Namun ia, melakukannya dengan 100% kesungguhan. Tak hanya dari gesture dan senyum tulus saat berinteraksi dengan kami. Namun yang “mempesona” adalah, ia hafal betul minuman kesukaan masing-masing kami. Kopi susu merk x untuk saya, merk yang lain untuk teman saya, air putih untuk ibu ini, air putih hangat untuk bapak itu, kopi tanpa gula untuk ibu ini, teh manis dengan setengah sendok gula untuk bang ini, kopi dengan dua sendok gula untuk mas itu, teh tawar untuk mbak ini…. Pekerjaan remeh temeh tak berharga yang dilakukan dengan kesungguhan, ternyata bisa membuat kita terpesona.

Yang jelas buat saya, mereka adalah perpanjangan tangan Allah untuk menjaga diri kita tetap berada dalam kebaikan. Mereka adalah jawaban dari doa “ihdinassirootol mustaqiim” – karuniakanlah kami jalan yang lurus, jalan kehidupan yang baik, yang produktif, yang bermanfaat, yang membawa keberkahan. Mereka adalah pengejawantahan dari konsep-konsep kebaikan. Kita jadi yakin bahwa kebaikan itu ada, dankita jadi  tergerak untuk mewujudkannya baik dalam diri maupun dalam lingkungan. Mereka membuat “ketidakmungkinan” yang kita rasakan menjadi mungkin.

Apakah itu berarti bahwa saya selalu bisa “meniru” kebaikan mereka? Yaaaa namanya juga manusia. Bukan malaikat. Tentu tak selalu. Baik dalam frekuensi ataupun kadar. Namun tanpa potongan-potongan mozaik itu, saya meyakini “I will not survive” dalam memaksa diri berada di dalam koridor kebaikan.

Untuk para “idola” saya, di hari akhir nanti saya akan bersaksi dihadapan sang Maha, inspirasi dan kebaikan apa yang telah saya lihat dari mereka dan menjadi bagian dari kebaikan dalam diri saya.

sumber gambar: http://www.sigalitart.net/en/mosaic/mosaic-gallery/special-work/