Ketika si gadis kecil ingin menjadi petani

Kemarin, ketika saya sampai di rumah, di pintu depan saya disambut oleh si gadis kecil 7 tahun  yang memeluk saya dengan mata berkaca-kaca. Setelah saya peluk 5 menitan, dia bertanya:

“emang jadi petani itu memalukan ya bu?” Saya peluk lebih erat, saya tahu dia gak perlu jawaban.

Lalu mengalirlah ceritanya. “Tadi di sekolah kan Bu Guru tanya, cita-citanya apa. Pas teteh bilang pengen jadi petani, semua temen teteh ngetawain teteh”. Lalu dia terisak lagi. Masih saya peluk. “Teman-teman teteh pada cita-citanya jadi polisi, dokter, tentara, astronot, pilot. Terus kata Bu Guru, petani itu penting. Kalau gak ada petani, yang lainnya….dokter, tentara, polisi, astronot, semua temen-temen teteh gak akan bisa makan. Tapi tetep temen-temen teteh ngetawain”. Dan ia mengulang lagi pertanyaannya; “Emang jadi petani itu pekerjaan yang memalukan gitu?” 

Saya peluk lagi lebih erat. Saya pikir dia gak butuh jawaban. Dia hanya butuh mengungkapkan perasaannya dan mendapatkan dukungan.  Setelah tangisnya reda, dia pun kembali ke aktivitas favoritnya: menggambar komik “sekolah kucing” sambil bersenandung.

Sudah 2 tahun ini, setelah cita-citanya berubah dari jadi dokter hewan ke petani, ia konsisten. Setiap kali ia jemput saya ke Jatinangor dan saya tunjukkan fakultas-fakultas “keren”: kedokteran, FKG, farmasi, dia tanya dimana Fakultas Pertanian. Setelah saya kasih tau dimana, ia harus selalu lewat situ. Abahnya udah ngajak suatu saat  jalan-jalan ke IPB. Si gadis kecil selalu membayangkan bagaimana nanti dia memelihara hewan-hewan ternak, menanam dan merawat berbagai tanaman, dll dll. Setiap mudik ke Kediri, riangnya bukan main menikmati suasana, mengamati bahkan membantu para petani.

Saya sendiri, mendukungnya. Jujur saja ya, beberapa tahun lalu, dukungan saya mungkin palsu. Hanya di bibir dan di wajah, namun tak di hati. Namun beberapa tahun terakhir ini, dukungan saya juga dari hati. Seiring usia bertambah, saya semakin banyak melihat. Dan salah satu yang saya buktikan adalah, menjadi apapun seseorang, yang akan menjadi kunci kesuksesannya adalah kesungguhan.

Tapi ternyata, dalam konteks kehidupan, sukses dalam bekerja hanya menjadi salah satu bagian dalam perjalanan panjang kehidupan kita. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah kita sukses, apakah kita merasa bahagia? apakah harus sukses dulu baru kita bahagia? atau kebahagiaan yang membawa kesuksesan? mengapa banyak yang sudah sukses namun tak merasa bahagia? 

happy-career-buku-foto-kecilSebulan lalu, saya menerima buku dari kakak kelas saya, Mbak Elvi Fianita. Beliau menulis buku berjudul Happy Career. Buku ringan berisi 9 prinsip mengejar keberhasilan dengan lebih dahulu mengejar kebahagiaan. Isinya, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di atas. 9 prinsip yang saya baca sambil mengangguk-angguk.

Dari 9 prinsip yang diungkap dalam buku ini, prinsip ke-4 yang paling berkesan buat saya. Menemukan “panggilan hidup” dalam pekerjaan kita.

Setelah 19 tahun meninggalkan bangku SMA, 15 tahun melihat teman-teman saya selulus kuliah berkembang dengan jalannya masing-masing, maka saya melihat…mereka yang hepi, adalah mereka yang memilih pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.

Dan kehepian itu, selalu diikuti oleh kesungguhan, menjadi paduan yang sangat mempesona. Apapun bentuk pekerjaannya.

Teman-teman saya yang senang menjelajah, bekerja di bidang wisata. Capek dan kadang ruwet, namun mata mereka terlihat berbinar dalam foto-foto amazing di berbagai tempat. Teman saya yang menjadi dokter bedah, pekerjaannya sangat beresiko, waktunya sangat padat, namun binar mata saat ia bercerita tentang pekerjaannya, selalu mempesona. Teman saya yang senang menjadi penulis, meskipun hidupnya pas-pasan, tak sebanding dengan inspirasi dalam buku-buku karyanya, namun kebahagiaan jiwanya tergambar dengan gamblang. Teman-teman dosen, teman-teman psikolog…meskipun wajah lelah, pikiran penuh, namun saat kami saling bercerita, binar-binar  di mata kami tak bisa disembunyikan. Menjadi guru, perupa, helper, manager, peneliti, bidan di pelosok desa, penyuluh kesehatan…..

Maka, saya kemudian menyimpulkan….bukan “menjadi apa” yang penting buat anak-anak kita. Namun, seberapa dalam makna yang ia hayati dalam pekerjaannya. Seberapa besar nyala api yang mendorongnya untuk mengabdi dan berkarya di sana.

Maka, dalam konteks kita sebagai emak, yang penting bukanlah menyiapkan anak untuk masuk sekolah ini itu, atau jurusan ini itu. Namun menemukan apa yang menjadi “panggilan hidup”nya. Sesuai kepribadiannya. Karena Sang Maha, akan memudahkan seseorang sesuai dengan untuk apa ia menciptakannya.

Meskipun bukuHappy Career ini kurang dari 100 halaman, namun isinya sangat sarat dengan fakta-fakta yang akan membuat kita semakin meyakini bahwa bekerja, adalah hanya bagian kecil dari sajadah panjang kehidupan kita. Maka, jangan salah arah. Sukses itu harusnya bukan tujuan. Sukses itu gak usah dipikirin. Itu mah bonus. Mudah didapat  kalau kita menemukan pekerjaan yang membuat kita hepi dan merasa bermakna untuk terus menjalaninya

 

 

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Sekar
    Sep 11, 2016 @ 20:30:52

    maa syaa Allah… saya terharu bacanya mbak. anaknya luarr biasa kereeen! salut banget salut salut! siapa namanya? salam ya mbak :”D aku anak pertanian, tapi malu sama si adik ini krn aku yg berkesempatan kuliah di bidang pertanian, malah sama sekali nggak passion. Meski aku tetap bangga 😀

  2. fitriariyanti
    Sep 12, 2016 @ 10:27:39

    Salam dari Hana kak Sekar 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s