Merenungi makna kehidupan yang baik; catatan kecil tentang well being

Temans, kalau kita bertemu seseorang, sangat lazim kita bertanya atau ditanya: “Apa kabar?” dan kita mendapatkan jawaban atau menjawab “baik”.

note_2933Nah temans, pernahkah kita merenungi, apa makna “baik” itu? apakah kehidupan yang kita jalani benar kita rasakan “baik”? kapan kita merasa hidup kita “baik-baik saja” ? kapan kita merasa hidup kita “tidak baik-baik saja”? Lalu, apa makna kehidupan yang baik itu?

Konon katanya, kalau kita sudah tua, kita akan mengevaluasi hidup kita dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Nah, gapapa kita belum tua juga bertanya tentang itu yuks…biar gak telat hehe…

Tulisan di bawah ini mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.  Etapi, sebelum baca tulisan ini, coba masing-masing renungkan pertanyaan di atas, dan coba buat jawabannya masing-masing. Engga apa-apa sih, kalau gak melakukan proses itu juga. Tapiii…dijamin kurang seru nanti baca tulisan di bawah ini …ciyus….jadi gak ada unsur refleksinya gitu hehe…”.

“Good life”; atau kehidupan yang baik, telah menjadi bahan pemikiran sejak ribuan tahun lalu. Adalah Om Aristippus (haha…panggil Om…sok kenal ), seorang filsuf Yunani dari abad ke 4 sebelum masehi, mencoba merumuskan apa yang menjadi tujuan kehidupan. Menurut beliau, tujuan kehidupan ini adalah mengalami kesenangan yang semaksimal mungkin (kemal; bukan kepo maksimal. Tapi kesenangan maksimal kkk). Maka, saat semua keinginan kita terpenuhi, saat itulah kita mengalami kehidupan yang baik. Saat kita terhindar dari ketidaknyamanan, saat itulah kita bahagia. Pandangan Om Aristippus ini menjadi falsafah bagi penelitian-penelitian well being (kesejahteraan) yang sifatnya subjektif atau dikenal dengan SWB, subjective well being. Tokoh yang paling moncer dalam SWB ini adalah Diener, yang merumuskan kesejahteraan = kebahagiaan = perasaan puas terhadap kehidupan + dirasakannya mood positif + tidak adanya mood negatif. Aliran ini disebut aliran “hedonis” . Tapi kata “hedonis” ini beda banget loh ya…sama kata “hedonis” atau “hedon” yang kita kenal dan rasa bahasanya negatif. Tokoh lain menamakan teori-teori kesejahteraan psikologis dalam kelompok ini sebagai teori mental state.

Nah, sampai sini ….cung dulu yang masuk kelompok Om Aristippus… yang merasa bahagia kalau keinginan kita terpenuhi. Ingin punya pasangan yang romantis, terkabul. Bahagia. Ingin punya anak yang gak rewelan, tercapai…bahagia. Pengen pesbukan tapi batre hape drop, merasa gak bahagia? …

Om Plato, pada kenal doooong….rupanya tidak sependapat dengan om Aristippus. Ia memiliki pandangan yang berbeda mengenai makna “good life”. Menurut beliau, sejahtera,  tak hanya perasaan bahagia. Namun lebih dari itu. “Good life” tak hanya apabila keinginan kita terpenuhi. Namun lebih dari itu, yaitu saat kita menemukan “true daimon” kita, saat kita menemukan “nilai-nilai yang mendasar dalam diri kita”. Oleh karena itu, “madzhab” ini disebut madzhab eudaimonic. Penelitian yang berlandaskan falsafah ini dimotori oleh om Ryff & Singer, yang dikenal dengan istilah PWB atau Psychological Well Being. Tokoh lain menamakan teori-teori kesejahteraan psikologis dalam kelompok ini sebagai teori desired based.

Nah, mana yang benar? ah, tulisan ini tak bermaksud menganalisa mana yang benar mana yang salah. Tulisan ini lebih ditujukan bagi kita untuk berefleksi.

Buat kita para emak, refleksi ini bisa dilanjutkan dengan merenungi: “good life” seperti apa yang kita inginkan dijalani oleh anak kita? apakah good life versi hedonic? atau good life versi eudaimonic? atau gabungan keduanya? atau bukan keduanya? pertanyaan ini harus kita jawab dulu, sebelum kemudian kita bertanya pada diri kita; sikap dan perilaku pengasuhan seperti apa yang perlu kita jalankan agar anak-anak kita bisa menjalani “good life” dalam kehidupannya. Kalau kita tak merenungi dulu hal ini, jangan-jangan selama ini kita berjalan tak tahu arah.

Selamat merenung, semoga bermanfaat 😉

Sumber bacaan:

Raghavan, R., & Alexandrova, A. (2014). Towards a Theory of Child Wellbeing. Social Indicators Research, 121 887-902

R. M. Ryan and E. D. Deci, ‘On Happiness and Human Potentials: A Review of Research on Hedonic and Eudaimonic Well-being’, Annual Review of Psychology, 2001, 52, 141–66.

 

Sumber gambar:

http://www.visualreads.com/post/latest.cfm?category=0&page=294

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: Kisah Satu Jam Bersama Tim Hulk ;) | Fitri Ariyanti's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s