Kisah Satu Jam Bersama Tim Hulk ;)

Siang itu, saya bersama seorang teman sedang di kampus Dago. Saya sedang semangat 45 mengerjakan tugas kuliah. Makan siang yang kami pesan sudah datang. Saat itu, kondisi saya gak seratus persen fit sih. Sejak Sabtu, badan saya anget semriwing-semriwing gitu. Plus tenggorokan sakit. Ah, mau ngedrop kali. Maka, hari Minggunya saya sengaja full istirahat di rumah.

Senin pagi ada kegiatan yang harus saya ikuti. Semriwing-semriwing udah mulai berkurang, tapi entah kenapa perut gak enak plus mual banget. Sampai-sampai akhirnya paginya saya beli obat maag. Gak pernah semual ini sih. Rahim juga agak kram. Biasa sih, kalau lagi nge drop, si IUD suka beraksi. Sebenernya setelah acara saya ingin langsung pulang. Kayaknya butuh istirahat lagi. Setelah istirahat, biasanya semua keluhan berkurang. Tapi ada rapat jam 15. Ya udah sambil munggu rapat, sambil saya kerjain PR.

Tiba-tiba…ada sakit yang menjalar dari perut bawah, ke atas, dan memuncak di sebelah kanan. Sakiiiit banget. Menyebar, lalu meningkat intensitasnya…cenut-cenut hebat di kanan atas….perut rasanya mau pecah. Kayak bukaan 10 melahirkan gituh. Waduh…langsung saya telpon sopir. Saya minta jemput saya pake mobil. 1,5 jam menunggu sopir, badan saya meriang, keringet dingin, pengen muntah…aduuuh….tiap 10 menit sekali telpon sopir saya. “Pak udah sampe mana? cepet ya….” .

Saya putuskan mampir di IGD Hermina. Jam 14 saat itu, saya masuk sendiri bawa ransel yang setia menemani hari-hari aktifitas saya (haha…lebay)

Saya telpon si abah, mengabarkan saya di IGD. Cek lab….Kadar leukosit menunjukkan ada infeksi akut. Sore, si abah datang. Dokter bedah datang. Dokter bedah? “Bu, kalau dari gejala dan hasil lab, sepertinya sih radang di usus buntu. Dan kalau radang di usus buntu, obatnya satu…operasi…kita operasi besok ya, jam 8” . Demikian kata si dokter.

Untuk memastikan, dilakukan serangkaian test lagi. Mengingat sakit di “daerah” itu, bisa usus buntu, bisa masalah kandung kemih, bisa masalah kehamilan. Jujur ya, yang paling degdegan waktu test kehamilan dong….Hiks…hamil, adalah kondisi yang sedang tidak saya harapkan saat ini. Alhamdulillah setelah di periksa sama dokter SpOG, si dokter ramah itu bilang “Ibu, kondisi rahim dan alat kontrasepsi ibu baik, tidak ada masalah dalam organ reproduksi, saya setuju dengan diagnosa sejawat saya, tampaknya masalah ibu di usus buntu”. 

Baiklah. Operasi. Besok. Di tengah-tengah semangat dan target aktifitas yang tengah dihadapi. Baiklah. Kita jalani saja episodenya. Sempet nangis? sempet dooong…biar sehat mental haha… nangis waktu ngontak anak-anak. Si gadis kecil yang mengangkat telpon bertanya: “Ibu kenapa udah sore ibu belum pulang? Kan kita mau belajar buat UTS”. Nangis lagi waktu si bujang kecil merebut telpon dan bertanya: “operasi? usus buntu? serius bu? “.

Karena anak-anak sedang UTS dan mamah dari Purwakarta baru bisa datang besok, maka malam itu, si abah saya minta pulang. Nemenin anak-anak belajar. “Tapi setengah tujuh harus udah disini ya bah…aku takut masuk ruang operasi”.

Meskipun teman saya yang dokter bedah menjelaskan panjang lebar di wa bahwa operasi usus buntu itu sudah “biasa”, resikonya kecil, tenang aja, dll….tapi pada akhirnya kita sepakat bahwa siapapun yang akan masuk ruang operasi, pasti merasa takut. Apalagi sebulan lalu, ada rekan saya yang wafat pasca operasi, karena tekanan darah yang naik. Konon ia stress banget menjelang masuk ruang operasi. Hhhmmm…tak ada alternatif lain selain TRUST pada para dokter dan perawat, YAKIN dan PASRAH pada skenarioNya. Bahwa mungkin saya tak hidup lagi setelah keluar ruang operasi…terpikir doong. Makanya malam itu, sambil memandang kerlip cahaya lampu kota dari jendela kamar saya, sambil beristighfar dan bersyahadat, saya berusaha mengevaluasi kehidupan saya. Tenangkah meninggalkan mas, anak-anak? ada yang dikhawatirkan kah? Gimana kewajiban-kewajiban lain ? a

Paginya…serangkaian prosedur lagi….lalu dilepas si abah masuk ruang operasi. Owh….ngalamin juga berada di ruang operasi. Ruang yang sama dengan ruang saat si bujang kecil dioperasi fimosis-sunat 6 tahun lalu. Ada 6 orang pasukan Hulk-pasukan berseragam hijau. Si dokter bedah ramah yang humoris dan easy going, sudah ada di sana. Saya liat jam. 8.20. Terbersit itu adalah hal terakhir yang bisa saya lihat di dunia ini, saat dokter anestesi yang sigap berkata pada saya: “kita mulai ya bu”, lalu memberikan masker bius. Saya pikir saya akan tidur perlahan. Ternyata tidak. Seluruh tubuh saya merasakan anestesinya bekerja. Saya bersyahadat dan…

Saat saya membuka mata, saya jam menunjukkan 9.40. Operasinya pasti sudah selesai. Saya didorong ke ruang pemulihan. Si abah sudah menunggu di sana. Di ruang pemulihan, saya sampai jam setengah 2. Dua orang yang bersama saya, adalah para ibu yang habis melahirkan sesar.

Saya sudah tau dari beberapa teman yang sesar, bahwa “musuh”nya abis operasi itu adalah batuk dan ketawa. Nah…di ruang pemulihan itu, ada satu kejadian yang bikin saya ketawa lalu meringis karena lukanya jadi kerasa. Ada seorang ibu yang melahirkan sesar, suaminya yang bule baru datang. Begitu melihat bayinya, si bule itu terkaget-kaget dan berseru: “wow bule bangget euy” haha… Tapi itu tak seberapa. Yang paling bikin sakit adalah saat kemarin, saya sudah dinyatakan boleh pulang, infus udah dibuka, saat saya mau ke kamar mandi, si abah memapah saya sambil…..bawa2 tiang infus yang tak terhubung apa-apa lagi dengan saya…haha…bodor banget. Tiap inget itu masih pengen ketawa ….

Sampai seminggu ke depan, dokter meminta saya tidak beraktifitas ke luar rumah dulu untuk memulihkan luka fisik. Banyak kegiatan yang ter-cancel. Ada beberapa keinginan yang tak bisa terpenuhi. Ada beberapa target yang tak mungkin tercapai jadinya.

Saya jadi ingat…paper yang sedang saya baca ketika tiba-tiba sakit hebat menyerang perut adalah paper tentang happiness vs meaningfulness. Senada dan menguatkan konsep hedonic well being vs eudaimonic well being di tulisan saya sebelumnya  https://fitriariyanti.com/2016/09/14/merenungi-makna-kehidupan-yang-baik-catatan-kecil-tentang-well-being/

Di usia 37 tahun ini, saya semakin banyak melihat bahwa … menetapkan keinginan, lalu mengevaluasi apakah tercapai atau tidak-sebagai acuan menilai kebahagiaan hidup kita, bukanlah cara yang tepat. Dulu saya selalu kagum pada orang-orang yang berhasil mencapai keinginannya. Tapi kini, saya jauh lebih terpesona, pada orang-orang yang bisa bangkit kembali, setelah menghadapi situasi yang tak sesuai harapannya. Ibu yang ditinggal wafat anak kesayangannya, pebisnis yang ditipu kliennya, suami yang disakiti istrinya, mahasiswa yang gagal kuliahnya, atlit yang mengalami kecelakaan, namun mereka bisa bangkit lagi berdiri.

Ada banyak, sangat banyak ketidaksesuaian yang Allah terjadi-kan dalam kehiduan kita. Karena faktanya, Dia Sang Maha, bukanlah Dzat yang memanja-kan kita dengan memberikan semua yang kita mau. Ia, adalah Sang Maha Pemelihara. Ya, ia menciptakan kesedihan, kesakitan, kekecewaan, kepedihan… Namun seiring dengan itu, Ia pun menciptakan rasa dan pikir yang membuat kita selalu  bisa melihat kebaikan di balik episode kehidupa yang tak sesuai harapan kita.

bungaKesungguhan dan profesionalitas para dokter bedah, dokter SpOG, dokter penyakit dalam, dokter anestesi yang begitu menenangkan saya, keramahan para perawat, binar mata para ibu dengan luka di perut itu saat menggendong bayi mereka, rasa syukur karena ada mama dan papa yang selalu sigap datang kapanpun saya membutuhkan, “kedewasaan” si bujang kecil membuatkan soal-soal matematika buat latihan belajar si gadis kecil, suapan lembut si sulung kala menyuapi saya, 100 persen rasa aman dan nyaman yang saya dapatkan dari si abah, ketelatenan dan kesabaran si abah menemani saya, bantuan tulus dari sopir saya, adik-adik saya, doa dan perhatian dari teman-teman…. hal itu menciptakan gelombang kebahagiaan yang sifatnya lebih ….deep impact. 

Saat ini, memang hidup saya tidak “hepi”. Keinginan saya sehat wal afiat tidak tercapai. Tapi episode ini memberikan makna dalam hidup saya. Bahwa ada suatu masa dimana saya merasa takut, merasa tak berdaya, dan ada banyak kebaikan dan ketulusan yang Sang Maha tunjukkan.

Episode-episode kehidupan seperti ini, jauh lebih bermakna dibandingkan sebuah momen ketercapaian keinginan dan harapan. Momen-moment seperti ini, adalah moment-moment yang menguatkan. Moment-moment yang kalau ditranformasi dalam bentuk suara, ia akan menjelma menjadi sebuah bisikan: “sesakit apapun episode yang harus kau lalui, you’ll be oke. Menangislah. Merasa perih lah. But. you’ll be ok”. 

Episode-episode kehidupan seperti ini, mudah-mudahan akan membuat kita siap menghadapi ketercapaian harapan kita dengan sepenuh rasa bahagia, namun di sisi lain, tak membuat kita cengeng, membuat kita menjadi tak takut lagi, saat kenyataan tak sesuai dengan harapan.

Semangat !!!!

 

 

 

 

 

Advertisements

In Memoriam Bang Leo: Kebaikan yang menembus ruang dan waktu

“Fbang-leoitri, boleh gak saya minta tolong?” suara nge-bass nya selalu terasa hangat.

“Minta tolong apa Bang?” tanya saya.

“Ini kan makanan dan buah banyak banget bawaan yang nengok. Tapi saya kan engga mungkin makan. Boleh gak Fitri bawa pulang aja, buat anak-anak. Pasti anak-anak seneng”

Percakapan itu, beberapa bulan lalu. di salah satu ruang rawat inap di RS Advent. Saya bersama dua teman angkatan 97 menjenguk beliau, Bang Leo.

Tentu beragam kue dan buah itu tidak saya bawa pulang. Bersama beberapa teman beliau yang juga sedang menengok, kami memberikan kue-kue dan buah itu pada para perawat dan satpam, sambil menitipkan beliau pada mereka.

Peristiwa itu terbayang jelas hari selasa lalu, kurang lebih jam 11. Saat itu saya baru sejam-an keluar dari ruang operasi, masih di ruang pemulihan. Si abah yang pegang hape saya, rupanya membaca kabar duka wafatnya Bang Leo.

Seharian itu, saat saya sesekali baca facebook, beragam ucapan kehilangan beliau, diungkap oleh orang-orang yang mengenal beliau. Beragam cara dan beragam kalimat, namun semuanya menyuarakan satu hal. Semuanya merasakan betapa baiknya beliau.

Saya juga sedih, saya pernah  berjanji pada diri saya….kalau saatnya tiba beliau dipanggil sang Maha, saya ingin mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Namun takdir berkata lain. Di saat yang sama, saya juga tengah terbaring tak berdaya.

Leonardus F. Polhaupessy. Bang Leo, demikian kami, warga Psikologi UNPAD mengenalnya. Saya pernah sangat intensif berinteraksi dengan beliau selama satu semester , saat beliau menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Waktu saya mendapat kabar bahwa beliau menjadi pembimbing saya, sempet deg-degan juga. Ya, di kelas, kami senang diajar Bang Leo. Waktu itu beliau mengajar kami kuliah Kecerdasan dan Psikoterapi Anak dan Dewasa. Kisah-kisah beliau dalam men”terapi” klien-klien beliau, suara nge bas beliau saat mempraktekkan relaksasi, sangat menarik untuk kami.

Tapi…skripsi itu berbeda. Zaman itu, setiap dosen senior Psikologi UNPAD diakui punya “keunikan” tersendiri. “Keunikan” ynag harus bisa kita pahami. Saya dan Bang Leo…berbeda segalanya. Usia….terpaut puluhan tahun. Suku bangsa, agama, semuanya beda. Apalagi ilmu beliau….haduuuh…ilmu psikodiagnostika-nya, ketajamannya menganalisa respons subjek pada alat test kecerdasan terutama yang kualitatif….membuat kita tak henti tertakjub-takjub.

Namun pertama kali bertemu beliau, semua perasaan cemas saya hilang. Ternyata beliau memiliki kesan positif terhadap saya di mata kuliah kecerdasan. Dan 1 semester bimbingan, selalu diisi dengan diskusi hangat yang diiringi humor dan suara tawa “ha..ha..ha..” beliau. Yang saya sangat ingat adalah, naskah skripsi saya, tak pernah tercorat-coret. Tak ada yang salah? tak mungkin….tapi beliau, mengoreksi naskah saya dengan mencoret rapi kalimat-kalimat saya, lalu menuliskan apa yang “benar”nya di bagian atas, dengan tulisan tegak bersambung yang rapiii….

Setelah menjadi kolega, setiap kali ketemu mahasiswa, Bang Leo selalu cerita: “Fitri ini mahasiswa bimbingan skripsi saya. Lulus satu semester loh, soalnya saya boongin. Waktu itu saya bilang…ayo harus beres satu bulan soalnya saya mau ke Belanda. Padahal saya gak jadi ke Belandanya ha..ha..ha..” . Tak lupa kemudian ia selalu menitipkan salam untuk anak-anak saya.

Beberapa tahun lalu beliau pensiun, beliau mulai sakit-sakitan. Tubuh kurusnya semakin ringkih terlihat beberapa kali kami bertemu di kampus. Senyum dan tawanya mulai jarang terlihat.

Di acara Dies Natalis Fakultas persis tahun lalu, di tengah keramaian, beliau memanggil saya. “Fit, kayaknya Fitri  senang dengan warna ini ya” katanya sambil memegang kerudung saya. Saya nyengir aja. “Saya punya sesuatu yang akan pas banget”. Lalu Beliau  mengeluarkan dua cincin bermata orange tua dari jari-jarinya. “Dua-duanya buat Fitri. Pas banget sama baju ini”. Katanya. Saya kaget dan tak menyangka. Dan saya tahu tak mungkin saya tolak. Setelah saya pake, beliau berkata: “Tuh, keren kan…” sambil mengedipkan sebelah matanya. Khas gaya beliau.

Sebulan kemudian, saya bertemu di kampus. Waktu saya menyalami beliau, beliau lagi-lagi mengeluarkan cincin yang tengah dipakainya Kali ini bermata biru tua. “Buat Fitri”, katanya.

Bang Leo. Saya yakin semua yang mengenalnya, punya cerita masing-masing denga Bang Leo. Cerita yang sebagian besarnya, pastilah cerita tentang kekaguman kami terhadap sosoknya yang sangat sederhana, rendah hati, ramah dan baik.

Konon, kita memandang dan menilai dunia berdasarkan pengalaman kita “bersentuhan” dengan dunia. Dan “bersentuhan” dengan Bang Leo, membuat saya, memandang bahwa di dunia ini … begitu berlimpah kebaikan yang kita miliki. Kebaikan yang bisa kita berikan pada siapa saja, dalam bentuk apa saja, kapan saja, bahkan sampai maut hampir merenggut nyawa kita.

Selamat jalan Bang Leo, Rest In Peace.