Emak-Emak Millenials

Beberapa hari yang lalu, saya membaca buku karya Yoris Sebastian, Dilla Amran dan Youth Lab. Judulnya “Generasi Langgas ; Millenials Indonesia”. Buku gress yang baru keluar di tahun 2016 ini, meskipun paparannya ringan namun berdasarkan “riset” dari Youth Lab di 5 kota besar Indonesia.

Buku ini bercerita mengenai temuan penulis melalui aktifitasnya, mengenai karakteristik generasi langgas (aka generasi y/ generasi millenials) di Indonesia. Menurut penulis buku ini, meskipun sudah banyak tulisan mengenai karakteristik gen y; namun ada karakteristik khas generasi millenials di Indonesia, yang bisa berbeda dari karakteristik di luar negeri.

Setelah bagian intro, dalam buku ini terdiri dari 8 bagian. Kalau saya perhatikan, 8 bagian ini pada intinya bisa diekstrak lagi menjadi 3 hal: (1) kondisi perubahan lingkungan yang terjadi di Indonesia (poleksosbud), (2) Dampak perubahan tersebut pada “tema hidup” generasi yang hidup di jaman itu, yang oleh penulis disebut generasi langgas (3) Aplikasi karakter generasi langgas dalan kehidupan bekerja.

Siapakah yang disebut millenials/generasi langgas itu? adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1980-2000. Demikian yang penulis tulis di halaman 4 bukunya.

Nah, sesuai dengan judul tulisan ini plus identitas saya sebagai emak-emak, dalam tulisan ini saya ingin sharing mengenai apa yang saya amati dari para ibu millenials dalam pengasuhannya pada anak. Karena “karakteristik millenials” ini mempengaruhi individu, yang pastinya mempengaruhi juga perilakunya dalam konteks-konteks yang spesifik. Maka, kalau Yoris Sebastian mengungkapkan aplikasi karakteristik millenial ini dalam dunia kerja, saya ingin sharing mengenai aplikasi karakteristik millenial dalam dunia pengasuhan anak.

Oh ya…satu lagi…saya suka buku ini karena pandangannya sangat positif. Saya jadi ingat perbincangan saya dengan guru saya, hari Jumat lalu, saat kita membicarakan mengenai esensi “Psikologi Positif”.

Begini kurang lebih paparan guru saya: “Perubahan di dunia, perkembangan zaman, adalah suatu keniscayaan. Ada orang-orang yang melihat perubahan sebagai threat, ancaman; ada orang yang melihat perubahan sebagai challenge, tantangan”

Orang-orang yang melihat perubahan sebagai threat/ancaman, akan cenderung  berorientasi pada masa lalu dan melakukan upaya untuk menolak perubahan. Misalnya: “dulu mah gak ada internet, jadi anak-anak gak terpapar yang jelek-jelek. Internet itu merusak. So, anak-anak saya gak boleh akses internet”. Salah? engga lah…itu kan persepsi.

Orang-orang yang melihat perubahan sebagai challenge/tantangan, akan berorientasi pada masa depan dan melakukan upaya untuk mengetahui perubahan apa yang terjadi, apa dampaknya, dan bagaimana antisipasinya. Misalnya: “dulu gak ada internet, sekarang ada internet. apa sih manfaatnya internet? apa jeleknya internet? oh, dari internet itu, anak-anak akan dapet banyak pengetahuan yang tak bisa kita sediakan sebagai orangtua. Tapi, bisa juga anak-anak dapet banyak contoh negatif. Apa yang bisa membuat anak menyerap hal positif dari internet, tapi punya “teknologi” dalam dirinya untuk memfilter yang jeleknya? owh…monitoring dari ortu dan kontrol diri. Oke, anak-anak saya boleh akses internet, dan saya akan melakukan ini, ini, ini untuk meminimalisir dampak negatif internet”. 

Saya, merasa lebih pas dengan pandangan kedua. Alasannya, secara filosofis, manusia itu diberikan akal untuk memilih. Perubahan zaman saat ini, tak akan terjadi tanpa kehendakNya. Artinya, saya yakin bahwa jika kita mau belajar dan bekerja keras, perubahan dunia ini tak akan mencelakakan kita, tak akan mencelakakan anak-anak kita. Tapi kuncinya adalah: bergerak. Mencari tahu. Menghayati. Memahami. Sehingga manfaat baiknya kita dapat, buruknya tak terserap. Anak-anak kita pun punya comparative quality di jamannya nanti.

Nah, semangat memaknai perubahan menjadi sebuah “challenge” ini lah yang saya dapat dari buku ini. Ada beberapa tulisan yang saya tangkap menjudge “buruk” generasi millenials ini. Generasi instan. Generasi tidak peka. Itu sering kita dengar. Namun dalam buku ini, penulis menghadirkan contoh-contoh nyata para millenials yang memiliki karakteristik millenials, namun diiringi dengan penghayatan, justru bisa berkembang dengan baik.

Di buku Yoris, beliau mengungkapkan ada 9  ciri generasi langgas, yaitu :

(1) instan generation;  (2) efficient; (3) too many choices; (4) love learning; (5) information overload; (6) tech-savvy multitasker (7) (massive) peer affirmation rules (8) challenge speaker (9) endless opportunity.

whatsapp-image-2016-10-17-at-8-53-40-amNah, ke-9 ciri di atas, menurut penerawangan saya, sering terlihat nampak pada perilaku pengasuhan para emak yang usianya saat ini mendekati 40an sampai dengan para mahmud usia 20an. Nah, di bawah ini saya akan singgung satu persatu dengan contoh perilaku yang positif  menurut saya dan “jebakan” yang harus kita hayati, biar kita tidak “terjebak” seperti gambaran meme di samping ini hehe…

Etapi ini bukan didasari oleh riset ilmiah ya, ini mah berdasarkan pengamatan random aja.

(1) instan generation;  (2) too many chioces; (5) information overload;

Sebenernya saya lebih seneng kalau Yoris nulisnya “fast generation”.  Yups…jaman dulu, informasi didapat hanya dari orangtua kita. Atau kalaupun dari ahli, kita harus cari bukunya. Minimal harus “jalan” ke toko buku. Emak-emak millenials? apapun tinggal ketik di om Gugel, jreeeeng kluar segalanya.

Generasi instan, jadi emak-emak instan, itu jebakannya. Saat kita telan mentah-mentah semua informasi tanpa melakukan penyaringan. Kata pakar parenting ini anak harus digituin, kata pakar parenting itu anak harus diginiin… kalau instan, ujung-ujungnya bingung.

Kalau kritis, kita akan liat dulu…siapa yang bicara. “pakar”…apa yang disebut pakar? apa latar belakang pengalaman dan keilmuan yang bersangkutan? berdasarkan apa “teori-teori” yang dipaparkan? berdasarkan pengalaman mengasuh anak-anaknya saja? boleh kita ikutin. Tapi ingat…kalau anak-anak kita dan atau kita tidak seperti beliau situasinya, berarti kurang pas kalau diterapkan.

Berdasarkan common sense? idealisme ? bahaya kalau tanpa daya kritis. Karena ilmu itu, beda sama pengetahuan. Ilmu itu, pengetahuan yang sistematis. Ada akarnya, ada batang, ranting, bunga dan buahnya. Jadi kalau narasumber kita berilmu, saat mengatakan bahwa “tidak semua keinginan anak harus kita penuhi”, bisa menjelaskan dari mulai filosofi, kenapa, yang mana yang tidak boleh dipenuhi, yang mana yang harus dipenuhi,  apa yang terjadi pada diri si anak, proses apa yang terjadi,apa saja kemungkinan2 dinamika dampak yang terjadi. Kalau common sense? bahaya banget. Misalnya narasumber bilang: “ibu harus dekat dengan anaknya”. Ya, betul. “oleh karena itu, ibu harus selalu bersama dengan anak “. Common sense yang keliru. Apa definisi “dekat” ? bagaimana bentuk “dekat” itu? kapan kita harus “dekat”? kapan harus memberi ruang bagi anak? Apa dampaknya kalau anak tak diberi ruang sendiri?

Idealisme, misalnya narasumber yang bilang: “Ibu yang sholeh itu pasti sabar. Kalau ibu sabar, anak juga pasti akan jadi anak yang penurut”. Kalau anak kita bilang : “aku gak mau les bahasa inggris, aku capek. pengen main aja di rumah”. lalu kita menyimpulkan anak kita tak penurut, berarti kita tidak sabar dan bukan ibu yang sholehah…gubrak…

(2) efficient; emak-emak millenials memiliki ciri eficient. Positifnya, kalau dimanage dengan baik, itu yang membuat saya suka geleng-geleng kepala. Emak-emak millenials itu bisa ya…tanpa ART, ngurus beberapa anak, masih bisa ngerjain ini itu, berkarya ini itu….eh, ternyata karena wawasannya pake aplikasi ini itu, memanfaatkan jasa outsource ini itu…. two tumbs up.

(4) love learning; meskipun tak selalu bisa memenuhi karena alasan waktu maupun alasan keterbatasan pengetahuan saya, namun sering saya diminta mengisi webinar, kulwap, dan sejenisnya. Isinya? emak-emak millenials dari berbagai tempat….jarak tak menjadi penghalang sekarang. Bukan saja seantero Indonesia, tapi juga senatero dunia… ada yang dari Chicago, bisa sharing sharing sama yang dari Ciamis, yang di Aussie, di Jepang, di Rusia, di Balanda, di Inggris, temanya juga macem-macem banget, menunjukkan keluasan wawasan dan semangat belajar yang tinggi.

Nah, tapi hati-hati….jebakannya adalah, kita jadi “merasa banyak tahu”, melebihi ahlinya. Saya jadi inget ya, seorang teman saya, dokter anak, pernah cerita gini ” gw kesel banget sama pasien-pasien gue. Dijelasin gini, gitu, belom beres gue jelasin, udah bilang …tapi kalau saya guggling gini dok…kata dokter yang di internet gitu dok…Padahal udah gue jelasin bahwa kondisinya berbeda. Gak ada kondisi medis yang sama persis dari satu pasien dengan pasien lainnya. Buat apa ada pemeriksaan ini itu…. suatu waktu gue lagi PMS, gue bilang aja sama ibu yang keukeuh gak mau denger saran gue: Kalau begitu silahkan ibu datang saja ke pakar di internet itu”  

Hehe…saya juga sering sih, dapet klien yang cenderung “lebih percaya” sama beberapa pakar beken di internet yang kurang saya setujui pendapatnya. Tapi ya…kalau psikolog mah punya strategi lain kalau lagi PMS haha….

 (6) tech-savvy multitasker; emak-emak, terkenal dengan kemampuan multi taskingnya. di sisi lain, generasi millenials pun terkenal dengan multi taskingnya. emak-emak millenials? double. Yes….kemampuan ini membuat emak-emak millenials jadi bisa efisien ngerjain banyak hal. Tapi awas jebakannya… kualitas relasi….itu tak bisa dilakukan sambil multi tasking. Ya, nemenin anak ngerjain PR selesai, sambil kita masak, sambil nyuci, sambil nyetrika. Tapi kualitas relasi dengan anak saat ngerjain PR tersebut? gak akan kekejar. Nanti lain waktu saya cerita gimana menyiasati 24 jam, anak lebih dari 2, tapi tetep dapet “mindfull experiences” dengan si kecil.

(7) (massive) peer affirmation rules; kata penulis buku ini, generasi millenial sangat percaya dengan suara teman-temannya. Misalnya film apa yang bagus untuk anak-anak, kegiatan apa yang keren, seminar parenting mana yang seru…. ini sangat amat membantu. tapi ingat…jebakannya sama dengan poin “information overload”. 

(8) challenge seeker; waktu saya ikutan beberaap kali kemping bersama Komunitas Kemah Keluarga Indonesia, terkaget-kaget liat bayi-bayi merah pada udah ikutan kemping. Waktu si gadis kecil ikutan eco cubs beberapa waktu lalu, anak 7 tahun kemping sendiri, mandayung perahu, di tempat yang ortu nya gak boleh ikut….. waktu itu inget kata mamah saya: “teh, ga apa-apa itu? gak bahaya?” … tapi saya sebagai emak millenials (haha…) mungkin masuk kategori challenge seeker. Malah si bujang kecil mau diikutin kegiatan serupa, outbond di luar pulau.

(9) endless opportunity; nah, poin ini nih yang paling saya suka. Suka takjub sama beragam kreatifitas emak-emak millenials memanfaatkan kemajuan zaman plus talenta nya untuk mengambil kesempatan untuk tetap berkontribusi pada dunia meskipun di tengah ke rempongan ngurus anak-anak.

Jebakannya? jangan lupa prioritas. Prioritas utama adalah kualitas relasi dengan anak-anak. Zaman sekarang ini, jebakannya adalah …kita cenderung pengen “vicible”. “terlihat”. minimal di status lah, di komentar wa grup lah… kalau untuk visible itu kita jadi mengorbankan kualitas waktu dan relasi dengan anak-anak…don’t try at  home….

Waduh, panjang juga yah….semoga bermanfaat ah….

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Twindya
    Oct 20, 2016 @ 10:50:18

    “Nanti lain waktu saya cerita gimana menyiasati 24 jam, anak lebih dari 2, tapi tetep dapet “mindfull experiences” dengan si kecil.”—-> ditungguu ya mbaaaak tulisannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s