Saat kita merasa “iri”

Hai temans….pernahkah merasa “iri”?

Kita belum menikah, iri sama orang yang sudah menikah. Kita belum punya anak, iri sama yang udah punya anak. Kita beraktifitas di rumah, iri sama yang punya karier di luar rumah. Kita punya karier di luar rumah, iri sama yang punya waktu banyak di rumah. Kita sekolah di dalam negeri, iri sama yang sekolah di luar negeri. Kita gak bisa liburan, iri sama yang liburan. Kita liburan di dalam negeri, iri sama yang liburan di luar negeri. Kita  sudah berumur, iri sama yang lebih muda. Kita sakit, iri sama yang sehat.

Dari sudut pandang agama, iri adalah penyakit hati. Harus disembuhkan. Etapi, ada pengecualian. Ada iri yang boleh loooh… Dari Abdullah bin Mas‘ud RA, ia ber­kata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal: (iri ter­hadap) orang yang dikaruniai Allah dengan harta kemudian membelanja­kannya dalam kebenaran dan (iri terha­dap) orang yang dikaruniai Allah dengan ilmu kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya’.” (Muttafaq ‘Alaih).

Dari sudut pandang psikologi, iri merupakan salah satu “human nature” manusia. Suatu perasaan yang wajar. Bahkan, itu merupakan salah satu tanda bahwa kita “hidup” dan “waras”. Karena ada fungsi kognitif yang bekerja disana, yaitu membandingkan. Kalau kita hayati, iri itu adalah suatu perasaan yang muncul saat kita melihat ada orang lain yang berbeda kondisinya dengan kita, dan kita merasa kondisi itu lebih baik serta kita inginkan.

Nah, kondisi orang lain itu ada yang bisa kita capai (misalnya iri sama orang yang rajin jadi nilainya bisa bagus terus trus kapasitas kecerdasan kita sebenarnya bisa mencapai nilai itu), tapi ada juga yang tidak (misalnya saya iri sama Ira Koesno gitu haha). Walaupun saya melakukan perawatan rutin ke Senopati Skincare dengan dokter  M. Akbar Wedyadhana, ya gak akan jadi secantik Ira Koesno. Lha wong itu hoax kkk.

Yang pasti, ketika kita merasa Iri, ada ketidakseimbangan dalam diri kita yang membuat kita merasakan emosi yang tidak positif. Resah, gelisah, gak nyaman lah. Kalau dibiarkan, bisa jadi mengambil energi kita terlalu banyak, sehingga energi untuk melakukan amal sholeh menjadi terambil. Itu tampak luarnya. Ada yang lebih gawat sebenarnya, yang terjadi pada psikis kita kalau kita biarkan rasa iri menjamur atau berkembang. Kurangnya rasa menghargai diri sendiri. Merasa bahwa diri ini tidak lebih berguna dibanding orang lain. Kalau istilah Pak ustadznya mah: tidak bersyukur. Waduuuh….gawat banget ituh…. Oleh karena itu, maka sesuai dengan ajaran agama, untuk iri selain pada orang kaya yang dermawan dan pada orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkannya, harus kita atasi sampai tuntas…tas…tas…

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi dua tips jitu mengelola rasa iri. Haha….kayak yang jualan training ajah ;).

Kalau divisualisasikan pake angka, rasa iri itu muncul ketika kita melihat orang lain memiliki nilai diatas nilai kita. Nah, biasanya, secara “instinktif”, yang dilakukan untuk meredakan rasa resah dan gelisah karena iri adalah, membuat orang lain turun nilainya jadi sama dengan kita, atau bahkan lebih rendah.

“Ah, ngapain nikah kalau suaminya gak sayang? mending gue, single and happy”. “Ah, kalau emak-emak gak beraktifitas di luar rumah, pasti kerjaannya ngegosip aja”. “Ngapain ke luar negeri liburan…gak cinta tanah air”. “Percuma sekolah di luar negeri juga…yang penting kan sholeh”. Meskipun ini adalah cara cepat untuk meredam rasa iri kita, namun sifatnya semu. Kenapa semu? karena itu subjektif. Kalau ketemu sama  orang yang sudah menikah dan suaminya  sayang, ketemu emak yang beraktifitas di rumah dan produktif berkarya, ketemu  yang sekolah di luar negeri dan sholeh, akan gubrak kita.  Jadi, cara ini gak efektif bahkan kalau diungkapkan di medsos, para pelakunya akan mendapat cap nyinyirers. Bikin kita (seolah) pede padahal rapuh. So, dont try at home.

Ada cara yang lebih produktif.  Nah, ini yang mau saya ceritain.

(1) Melihat “big picture objektif” dari kondisi kita maupun kondisi orang lain. Asumsi yang mendasarinya adalah, tak ada kondisi objektif yang 100% sempurna.

Kita belum punya anak: ya, kita jadi gak punya seseorang yang harus kita urus. Padahal mengurus anak itu sepertinya menyenangkan dan membuat kita merasa dibutuhkan. Tapi kita jadi punya waktu luang yang banyak. Kita bisa melakukan hal-hal produktif yang tidak bisa dilakukan oleh emak-emak yang punya anak.

Ya..ya..asik banget sekolah di luar negeri. Bisa keliling negara-negara keren, ngerasain salju, berpose di sana-sini. Tapi tau gak, kalau mereka juga mengalami episode menghadapi supervisor yang tidak ramah, menghadapi deadline-deadline yang ketat, mengalami homesick, “melarat” karena beasiswa tak kunjung datang, bahkan tak jarang gak minat makan berminggu-minggu karena kangen gurilem dan seblak…haha;) Sanggupkah kita menghadapinya? (dibaca gaya presenter SILET)

(2) Mencari role model yang sesuai dengan kondisi kita. Nah, ini nih favorit saya. Maklum saya mah orangnya konkrit praktis hehe…..Cari sosok orang yang kondisinya sesuai dengan kondisi kita, tapi dia tetap produktif, bahagia dan sejahtera. Kalau cari role model udah pada tau kan ya….cuman yang harus diperhatikan dan jadi keyword adalah: yang kondisinya sesuai sama kita. 

  • Kita belum menikah, iri sama orang yang sudah menikah. Cari role model orang yang belum menikah, tapi tampak hepi dan mensyukuri kondisinya.
  • Kita belum punya anak, iri sama yang udah punya anak. Cari role model yang tak menghabiskan waktunya dengan menyesali kondisi dan punya banyak kegiatan produktif.
  • Kita beraktifitas di rumah, iri sama yang punya karier di luar rumah. Cari sosok yang riweuh dengan segala macam printil-printil rumah tangga tapi tetap hepi dan ceria.
  • Kita punya karier di luar rumah, iri sama yang punya waktu banyak di rumah. Cari sosok emak bekerja yang pontang panting mengurus domestik dan publik dengan tegar dan optimis.
  • Kita sekolah di dalam negeri, iri sama yang sekolah di luar negeri. Cari sosok orang yang sekolah di dalam negeri tapi kualitas pemikiran dan kontribusinya gak kalah sama yang sekolah di luar negeri.
  • Kita gak bisa liburan, iri sama yang liburan.Cari contoh keluarga yang gak liburan, tapi bisa menikmati kualitas kebersamaan di rumah yang gak kalah asik sama yang liburan.
  • Kita  sudah berumur iri sama yang muda, cari sosok “orangtua” yang meskipun mobilitasnya terbatas, tak pernah kehilangan cara untuk berkarya.
  • Kita sakit iri sama yang sehat, cari sosok orang sakit yang tak mau menyerah dan tetap merasa bisa memaknai hidupnya dalam kondisi sakit.

Terkait dengan poin kedua ini, saya jadi ingat kata-kata seorang ustadz. Saya lupa namanya. Gak terkenal. Beliau ustadz favorit si abah, di Kalimantan sana punya kajian tafsir rutin. Setiap kami pergi, si abah selalu memutar rekaman kajian ustadz ini di tape mobil kami. Kemarin, waktu si abah mengantarkan saya ke Jatinangor, bahasan Pak Ustadz adalah mengenai kaum Bani Israil yang menolak Nabi Muhammad sebagai Nabi, meskipun di kitab mereka jelas diberitakan. Mereka beralasan tidak mau menerima karena Nabi Muhammad berasal dari kalangan manusia. Mereka mengatakan, akan menerima kalaulah Nabi Muhammad berasal dari kalangan non manusia, misalnya dari kalangan malaikat. Tentu saja ini hanya alasan mereka dan tak logis, kata Pak Ustadz. Kenapa tak logis? karena ajaran agama ini adalah penuntun untuk cara hidup. Kehidupan sehari-hari. Cara makan, minum, tidur, menikah, berkeluarga, dll. Aneh kalau yang memberi contohnya bukan dari manusia. Bagaimana ia bisa memberi contoh sesuatu yang tidak ia jalani ?

Ilmu, pertolongan, pelajaran dari Allah Sang Maha Kuasa tak hanya datang dari mimpi atau dari kata-kata Ulama. Ia juga hadir dalam setiap fenomena yang kita lihat. Baik fenomena alam maupun fenomena sosial.

iriKalau dari alam kita bisa mendapatkan pelajaran dan hikmah dari matahari yang terbit-ternggelam, keteraturan tata surya, mekanisme fisika…maka dari fenomena sosial, kita bisa melihat ada tak terhingga orang  di sekitar kita  dengan beragam kondisinya, dengan beragam cara menjalani kehidupannya.

Melalui cermin itu, kita bisa belajar menghargai dan mencintai diri kita. Karena menghargai dan mencintai diri, berarti menghargai dan mencintai pencipta kita, Allah yang Maha Sempurna.

Sumber gambar:https://id.pinterest.com/explore/self-acceptance/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s