Kala ke”islam”an kita dipertanyakan

Penghakiman. Itulah yang sedang marak akhir-akhir ini. Tanpa konteks. Standar-standar untuk menghakimi ditentukan secara “kasat mata”. Tak ada ruang untuk mendengarkan. Tak ada ruang untuk dialog. Tak ada ruang untuk perbedaan.

Kalau tak ikutan acara ini, munafik. Kalau bajunya gak begini, tak beriman. Kalau ngajinya bukan pada ustadz ini, kafir. Kalau tak ikut komunitas parenting yang itu, tak islami.

Tentu tak semuanya senang menghakimi seperti itu. Bahkan prosentasenya sedikit. Jauh lebih sedikit dibandingkan orang-orang yang memahami bahwa ada beragam cara untuk melakukan amal sholeh. Jumlahnya sebenarnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan para guru yang memahami bahwa kesamaan pemahaman prinsip jauh lebih penting daripada persamaan seragam yang “kasat mata”. Namun yang jumlahnya sedikit ini, seringkali membuat luka yang dalam. Dikatakan bahwa niatnya mengingatkan karena peduli dan “sayang” serta ingin menyelamatkan. Tapi rangkaian kalimat dalam meme itu tak berbohong. “anda waras?” “anda sehat?” dan kalimat-kalimat yang terasa lebih sebagai sindiran dan ejekan itu menusuk lebih tajam.

Pagi sampai sore tadi, saya mengikuti sebuah workshop. Family and couple therapy. Dari seorang ahli psikoterapi dari Belanda. Setelah kami berpasangan mempraktekkan sebuah teknik yang menurut kami super duper keren, pasangan saya, seorang senior berkata: “Fit. kayaknya jaman sekarang mah kita teh dicap kafir kali ya, belajar ilmu kafir dari orang kafir”….

Ya, sudah sangat sering kami, orang-orang yang belajar psikologi, mendapat cap “kurang iman, kurang islam”. Saat saya mengungkapkan tema “menghindari pernikahan yang sakit dan mengupayakan perceraian yang sehat”; saya pernah disebut “berteman dengan syetan yang pekerjaannya memisahkan pernikahan antara dua muslim”. Ketika menyebutkan istilah remaja, saya dibilang terjerumus ke dalam propaganda kafir yang ingin melemahkan islam. Ketika mengajak orangtua untuk memberikan kesempatan pada anak untuk membuat keputusan dan  menghargai keputusan anak, dikatakan mengajarkan anak untuk tak birrul walidain. Ketika mengajak pemuda-pemudi untuk mengevaluasi kematangan diri dan calon pasangan sebelum memutuskan menikah, dibilang mendukung pemuda-pemudi untuk berzina. Ketika berpendapat mengenai poligami yang tak sehat, dikatakan melawan sunnah Rasul. Ketika mengajak menghayati pilihan untuk menjadi orangtua dan memikirkan kualitas pengasuhan, dibilang tak percaya “banyak anak banyak rejeki”.

Saya tak bohong, seringkali sedih sih. Sedih banget. Kesedihan itu terutama karena rasanya “tak dipercaya” bahwa saya beritikad baik oleh “saudara sendiri”. Biasanya kalau sudah menerima penghakiman seperti ini, apapun penjelasan saya mengenai konteks dan apa maksudnya, tak akan didengar. Cap sudah dilekatkan.

Seorang teman, ketika ia tak mengikuti suatu kegiatan lalu oleh temannya yang mengikuti kegiatan tersebut dipertanyakan keimanannya, bertanya pada saya: “emang aku gak beriman ya Fit?”. Saat itu, saya tak menjawab. Kami diam lama….dan dalam diam itu terbayang sebuah film tentang teman saya ini. Seorang yang sangat peduli pada orang yang membutuhkan, menjadi donatur di beberapa rumah anak yatim, memberikan jasa profesional gratis di sana-sini untuk yang membutuhkan. Tapi saya paham bahwa pertanyaannya, bukanlah pertanyaan retoris. Sebuah pertanyaan yang juga berulang-ulang saya tanyakan pada diri saya sendiri setiap kali saya mendapat reaksi “negatif”, Pertanyaan yang kemudian mengundang dialektika.

Benarkah saya kurang beriman  jika saya mengatakan perceraian sehat lebih baik dibandingkan pernikahan yang sakit? kenapa dalam Islam diperbolehkan bercerai kalau memang tak ada kebaikan dalam perceraian itu? Lalu, kalau suami isitri tetap bersama tapi setiap hari bertengkar, lalu suami maupun istri memiliki selingkuhan yang membuat mereka nyaman, anak-anak benci berada di rumah…. itu tetap lebih baik dibandingkan dengan bercerai?

Apakah saya kurang islam jika menunjukkan fakta bahwa penyangkalan terhadap perubahan biologis, kognitif dan emosi seorang anak sekitar usia pubertas itu justru akan membuat orangtau menjadi kurang tepat dalam mengarahkan perilaku anak? bahwa istilah remaja hanyalah sebuah istilah yang bisa kita pakai, bisa tidak? bahwa key issue-nya bukan di istilah itu?

Dan teruuuuus dialektika itu terjadi untuk setiap issue yang kami dianggap “bertentangan dengan nilai-nilai agama”. Dan saya tahu akar masalahnya: karena kami bergerak di lapangan. Kami melihat fakta. Perceraian yang buruk diakibatkan tak peduli pada apa yang harus disiapkan saat memasuki pernikahan; anak-anak yang hancur saat sang ayah berpoligami tanpa peduli pada etika; kepribadian tak matang seorang dewasa karena seluruh hidupnya mengikuti apa yang diminta orangtua dengan satu kata “birrul walidain”, dan semua permasalahan yang membuat kami kadang tak bsia tidur kala malam. Semua masalah itu nyata, ada di hadapan mata kami.

Agama ini tak melarang kita untuk hidup bahagia. Bahkan doa “sapu jagad” yang kita lantunkan, adalah memohon kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kita layak bahagia. Pernikahan kita layak kita perjuangkan untuk menjadi pernikahan yang bahagia. Anak-anak kita layak menjalani pilihan hidup yang jadi passionnya, remaja-remaja kita layak untuk dipahami. Toh, semua perubahan itu Allah juga yang mentakdirkan. Psikologi, ya berkembang di Barat. Lalu apakah itu artinya semua temuan Psikologi bertentangan dengan ajaran agama? Ajaran agama tak pernah salah, ia sempurna. Maka, kalau pada prakteknya ternyata memunculkan keburukan, pasti ada yang salah dalam pemahaman terhadap ajaran agama tersebut. Nah, itu yang kemudian perlu didiskusikan.

Setelah saya membawa kegalauan ini pada saat berhaji 4 tahun lalu, kini saya punya tips jitu saat saya merasa “sedih” dan “terluka” karena “penghakiman”  itu.

(1) Kala ada yang mempertanyakan kualitas keislaman, keimanan, kecintaan kita pada agama kita,  dengan pilihan dan tindakan kita yang berbeda dengan “keseragaman” yang dibuat di luar sana, maka terima pertanyaan itu. Secara jujur, tanyakan pada nurani kita. Lalu jawab juga dengan jujur. Dengan mendengarkan alasan mengapa mereka meragukan kita. Dengan melakukan dialog dengan hati nurani kita. Mungkin memang benar kita kurang iman, kurang islam. Maka, dekatkan diri dengan banyak beribadah. Benar-benar tulus minta pada yang Maha Kuasa. Kalau memang benar kita salah, mohon diluruskan.

(2) Kita sesunguhnya tak perlu berjuang untuk membuktikan keislaman dan keimanan kita pada manusia, pada dunia. Keimanan itu, pada hakikatnya adalah hubungan dengan Allah. Bahwa secara “identitas sosial” kita tak dipandang sebagai seseorang yang berada di kubu “agamis”, ya….itu bukan bagian dari inti tauhid sebenarnya. Jangan patah arang. Tetap semangat melakukan kebaikan dan mengkalibrasi kebaikan itu dengan kebenaran agama.

d61d56bdffae15e719edc87fed94bbb3Bahwa ada rasa sedih ketika menghadapi penghakiman itu, ya…kita jalani aja. Nangis aja. Tapi sungguh, kita tak perlu membuktikan keimanan dan keislaman kita pada manusia.

Amalkan saja ayat di QS At-TAubah 105 ini. Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

1 Comment (+add yours?)

  1. Anindita
    Feb 24, 2017 @ 21:18:55

    Saya harus share blogpost ini!!! Terima kasih mba.. Ulasannya “ngena”banget..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: