Preparing Ramadhan : Mindful or Mind Full ?

Siapa yang ingin “sering” ke tanah suci? Saya ngacung. Tapi itu dulu. Waktu saya ke tanah suci pertama kali, tentu berdoa agar  bisa “sering” bisa ke tanah suci. Tapi seiring waktu, entahlah…. saya jadi enggan berdoa seperti itu. Saya lebih seneng berdoa agar diberikan “kekhusyukan” ketika ke tanah suci. Ya, seiring dengan usia dan pengalaman, doa-doa saya, tampaknya memang mengalami “evolusi”. Dulu berdoa pengen ini pengen itu, sekarang berubah. Gak pengen kaya. Pengennya diberikan kemurahan hati. Kenapa? karena saya melihat banyak  kenalan saya yang kaya, tapi beda antara kaya yang murah hati dan kaya yang hanya untuk dirinya sendiri. Bahwa untuk untuk bisa memberi banyak kita harus kaya, ya.  Pengen jadi profesional, punya ilmu banyaaaak, udah berubah. Pengennya punya semangat untuk berbagi dan mengamalkan ilmu. Karena pengalaman bertemu orang yang ilmunya keren, mereka memang mengagumkan. Tapi orang yang ilmunya keren dan ia senang berbagi serta semangat mengamalkan, mereka mempesona. Biar ilmu yang dibagi dan diamalkan banyak kita harus terus cari ilmu, ya. Bentuk luarnya sama, tapi yang saya mohonkan pada Yang Maha Kuasa berbeda.

Sebelum ke tanah suci, ustadz pembimbing selalu menekankan persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itu kalimat yang selalu beliau ulang-ulang. Beliau bercerita, bahwa kalau kita tak mempersiapkan diri dengan ilmu, maka tempat-tempat dan waktu-waktu super mustajab di tanah suci saat berhaji, akan lewat dan terbuang dengan sia-sia. Arafah, misalnya. Sebuah tempat yang super duper sakral. Tapi kalau  kita tak menyiapkan ilmu dan menyiapkan hati, tak akan bermakna apa-apa.

Tapi saya gak percaya kata-kata Pak Ustadz. Saya begitu percaya kalau kita ke tanah suci, maka kita akan “tersihir” oleh ka’bah, “tersihir” oleh raudhah, “tersihir” oleh arafah. Dan saya salah. Pak Ustadz itu benar. Saya saksikan dengan mata kepala sendiri, waktu wukuf yang begitu “ajaib” dilewati banyak orang dengan mengobrol, tertawa-tawa, merokok….. Tempat yang sama, waktu yang sama, dimaknai berbeda. Intan dan batu kerikil, bagi yang gak tau sama aja gak berharganya.

Pengalaman ke tanah suci yang kedua, membuat saya semakin menyakini hal ini. Bukan atas pengamatan terhadap orang lain, namun penghayatan terhadap diri sendiri. Persiapan yang berbeda, “teman perjalanan” yang berbeda, membuat penghayatan, kedalaman makna  dan “rasa”nya menjadi berbeda. Kita berada di tanah suci yang menyediakan tak terhingga berkah, namun kita tak menyiapkan radar hati untuk “menangkap” frekuensi berkah itu, menurut saya adalah salah satu paradoks dan ironi yang paling menyedihkan dalam kehidupan ini. Itulah sebabnya saya tak pernah berdoa untuk “sering” bisa ke tanah suci. Saya berdoa agar setiap kali kesana, dikarunia kemampuan dan kemauan untuk menyiapkan diri, sehingga bisa khusyuk, radar hati-nya siap untuk menangkap seluruh frekuensi berkah yang berjejak menjadi kemabruran.

Kurang dari dua bulan lagi kita akan menyambut ramadhan. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan. Inilah doa yangbiasa kita panjatkan pada Allah. Meskipun ada sebagian ulama mengatakan hadits ini dhoif, namun tahun ini, saya punya makna lain terhadap doa ini. Ayah saya sedang sakit. Kami ikhtiar untuk penyembuhannya, namun kami pasrah jika Yang Maha Kuasa menjadikan sakit ini sebagai jalan memanggilnya. Di sisi lain, yang kami semua mohonkan adalah, beliau sampai pada bulan Ramadhan. Maka, doa ini, kami panjatkan dengan kesungguhan. Ya, kita tahu bahwa siapapun kita, gak ada jaminan bisa “ketemu sama ramadhan” yang “cuman” tinggal 2 bulan lagi itu. Tapi menghadapi secara konkrit situasi sakit yang dialami ayah saya, menumbuhkan kesadaran yang berbeda. Bahwa benar-benar tak ada jaminan kita sampai pada ramadhan. Kesadaran bahwa kita benar-benar menginginkannya. Memberi ruh pada doa itu. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballighnaa Romadhon”. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan.

Ramadhan. Usia saya sekarang 38 tahun. Berarti sudah 38 tahun juga saya mengalami ramadhan. Kalau diasumsikan saya puasa sejak usia 6 tahun, sudah 32 ramadhan saya berpuasa. Kalau diasumsikan saya baligh usia 12 tahun, sudah 26 kali saya puasa dengan kualitas yang dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. 26 kali ramadhan. Ramadhan yang sama. Keberkahan yang sama. Setiap tahun kita mendengar pak Ustadz sampaikan kemuliaan ramadhan. menghapuskan dosa, “obral pahala”, malam 1000 bulan. Ramadhan yang sama. Tapi apakah otomatis seluruh kemuliaan itu kita dapatkan? Tidak.

Saya mengenang, tahun demi tahun saya menjalani ramadhan dengan pemaknaan yang berbeda. Ramadhan yang sama, dengan kemuliaan yang sama. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah “ngabuburit” bersama papa saya. Naik vespa putih kami, dengan adik saya pergi ke lapangan; lalu kami tiduran…menyaksikan matahari merah besar yang perlahan terbenam. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah pesantren kilat di masjid yang besar, tempat saya bisa curi-curi pandang sama cowok kecengan saya, anak SMP sebelah. Ada masanya yang saya ingat dari ramadhan adalah keseruan pergi pulang taraweh dengan teman-teman, atau main sepeda selepas subuh. Ada masanya ramahan yang saya ingat adalah keseruan jadi panitia dan pengisi sanlat jaman SMA. Ada masanya ramadhan yang saya ingat adalah membagi-bagikan tajil ke masyarakat yang tak berada. Ada masanya yang saya ingat adalah keheningan itikaf, kenikmatan tangis mengadu padanya. Ada juga masanya ketika ramadan terasa “sama” dengan hari-hari biasa. Lewat begitu saja. Tertelan keriuhan rutinitas. Ada masanya saya berada di lingkungan yang seolah-olah ramadhan tak hadir disana. Ada masanya ramadhan saya dipenuhi dengan rencana-rencana tentang masakan, tentang baju-baju yang saya “hunting” untuk keluarga besar.

26 kali ramadhan yang akan saya pertanggungjawabkan. 26 Ramadhan mulia yang sama. 26 kali penghayatan yang berbeda. Dan salah satu faktor yang membedakannya adalah, persiapan. If you fail to prepare, you prepare to fail. Itulah sebabnya para salafusshalih konon menghabis sisa waktu 11 bulan selain ramadhan; 5,5 bulan setelah ramadhan untuk berdoa agar amal ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan diterima menjadi amal sholeh, dan 5,5 bulan sebelum ramadhan mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan.

Di luar sana, ada beragam reaksi mengenai ramadhan. Ada banyak keriuhan. Segala sesuatu, kini muda menjadi bahan keriuhan. Mulai dari topik yang buruk seburuk-buruknya, sampai topik yang baik sebaik-baiknya. Tapi semua itu adalah “keriuhan”.  Keriuhan di “luar sana”, yang kalau tak kita sadari dan kita kendalikan, keriuhan itu akan masuk ke pikiran kita, ke hati kita. Dan buat saya “keriuhan” adalah lawannya “kekhusyukan”. Jaman dulu, Kekhusyukan bisa kita upayakan secara fisik. Kita tinggal diam di rumah atau di masjid. Jaman kini, keriuhan bisa kita undang masuk ke dalam kamar kita, bahkan ke mihrab mesjid. Smartphone.

 

Sekolah anak saya, mulai minggu lalu mengkondisikan murid-muridnya untuk puasa senin kamis. Kantin tidak akan buka, makan siang diganti goodibag makanan ringan dan buah. Saya senang sekali dengan sistem ini. Sesuai dengan filosofi if you fail to prepare, you prepare to fail. Pada anak, yang harus dipersiapkan adalah hal yang konkrit. Kemampuan menahan lapar.

Bagi kita, yang sudah puluhan tahun melalui ramadhan, tentu “level” kita harus berbeda. Bukan hanya menahan hal sifatnya konkrit indrawi: perasa, penglihatan, pendengaran, perabaan. Namun yang harus sudah kita siapkan adalah hal yang sifatnya abstrak dan hakiki. Kekhusyukan.

Kekhusyukan. Menurut saya, konsep  Psikologi yang paling mendekati adalah  mindfulness. Mindfulness is a state of active, open attention on the present. When you’re mindful, you observe your thoughts and feelings from a distance, without judging them good or bad. Instead of letting your life pass you by, mindfulness means living in the moment and awakening to experience (https://www.psychologytoday.com/basics/mindfulness).

Apa yang paling mengganggu kekhusyukan kita? apa yang membuat kita dalam melakukan ibadah (yang paling rutin adalah sholat dan berdoa) tak khusyuk? masing-masing orang bisa beda. Tapi yang penting adalah penghayatan kita, kesadaran kita, dan kemauan kita berjuanga mengubah kondisi. Dan kemauan berjuang itu membutuhkan kerendahan hati

Smartphone. Internet. Menembus ruang dan dan waktu. Menurut saya, sangat potensial menggangu kekhusyukan kita. Sedih banget liat para itikaf-ers di ramadhan, “killing  the time” waktunya di masjid dengan bermedsos. Apalagi selfie dan posting “lagi itikaf nih” halah….  gak ada bedanya kalau kita gitu sama anak TK B yang belajar puasa trus nonton TV atau main game seharian. Just killing the time. Di tanah suci pun demikian. Kalau tak dikendalikan dan tak dihayati, tempat-tempat super duper penuh berkah seperti ka’bah, dua masjid suci, raudhah, hanya meninggalkan jejak berbentuk foto. Sudah.

Nah, disini kita butuhkan kerendahan hati. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa kita “tak cukup kuat untuk menahan godaan medsos untuk jaga kekhusyukan kita” Teman saya, selama dia tak di jam kerja, terutama jam ibadah (sholat dan dzikir), menjauhkan hapenya. Saat itikaf, dia matikan hapenya. Atau pernah di awal-awal dia gak bawa hape. Dia sarankan ke saya untuk gak ngaji dari hape. Soalnya kalau ngaji dari hape mudah tergoda untuk liat fitur lain kata dia.

Kenikmatan beribadah, dalam bahasa psikologinya disebut flow. Dan flow tak akan tercapai dengan instan. Maka, kalau kita pengen nikmat baca Qur’an, baca tafsir, jangan mulai di day one ramadhan. Mulai sekarang, biar nanti udah flow. Saya suka bilang sama temen-temen yang belum dan pengen ke tanah suci, baca buku tentang haji jangan nanti pas manasik. Dari sekarang, meskipun gak kebayang perginya kapan. Baca siroh Rasul, sekarang. Jangan pas mau berangkat. Kalau sudah baca berkali-kali kisah perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah, maka perjalanan dalam bis berAC dari Mekah ke Madinah dan sebaliknya, akan kita maknai berbeda. Kita tak hanya akan memandang, memotret dan memvideokan jajaran gunung batu dan padang pasir dalam perjalanan. Kalau kita sudah berkali-kali baca sejarah ka’bah, saat Nabi Ibrahim, saat serbuan Abrahah, saat futuh Mekah, maka akan beda penghayatan kita. Frekuensi kesakralan itu akan mudah kita tangkap kala radarnya sudah siap.

Demikian juga Ramadhan. Baca buku tentang kemuliaan ramadhan, lailatul qodar, keutamaan memberi makan buka puasa bagi kaum dhuafa, jangan nanti pas day one. Dari sekarang. Sehingga kalaupun nanti di luar penuh dengan keriuhan, aktivitas kita tetap padat, tapi hati kita sudah terkondisikan untuk khusyuk dan radarnya “siap” menangkap frekuensi keberkahannya. Secara “habit” kita sudah “flow”, jadi bener-bener ternikmati setiap detiknya.  Dengan demikian, output taqwa yang dijanjikan olehNya, semoga bukan kita hayati seperti “dongeng” yang tak kita hayati sungguh-sungguh.

Ramadhan yang hanya hitungan hari, belum tentu kita alami. Tak ada yang menjamin usia kita sampai di saat itu. Namun keinginan untuk menjalani ramadhan dengan khusyuk, harus  kita buktikan dengan upaya sungguh-sungguh untuk menyiapkannya.

Ramadhan yang akan kita jelang, adalah ramadhan yang sama dengan puluhan ramadhan yang telah kita jalani. Kemuliaan yang sama, berkah yang sama Allah tumpahkan di bulan ini. Kala kita tak menyiapkan diri, maka ramadhan tak akan bedanya dengan hari-hari biasa. 1000 bulan akan sama rasanya dengan satu bulan atau tanpa bulan. Yang membedakannya adalah, kesiapan radar hati kita untuk menerima frekuensi keberkahan itu.

 

 

Advertisements