PAUD : Yes or No? (studi kasus pola pikir para emak)

Awal semester lalu, saya dimintai bantuan oleh salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) untuk sharing pada orangtua siswa baru di TK tersebut; temanya “pentingnya pendidikan anak usia dini”. Saya berusaha memikirkan apa yang akan saya sampaikan dalam acara sharing tersebut. Saya mengumpulkan buku-buku terkait topik tersebut, berusaha merenung apa yang kira-kira dibutuhkah oleh para mahmud (mamah muda) yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan prasekolah tersebut.

Dalam perjalanan ke kampus, salah satu wa grup yang saya ikuti mengirimkan sebuah tulisan. Tampaknya tulisan tersebut sedang viral di hari itu, terbukti beberapa wa grup yang saya ikuti, juga menyebarkan tulisan tersebut. Judul tulisan tersebut adalah “jika anak sekolah terlalu dini”. Sepertinya kalau di googling gampang ketemu.  Ada 14 poin yang dipaparkan dalam tulisan tersebut, intinya menyampaikan argumen di bawah usia 5 tahun, anak tidak perlu bersekolah. Poin ke-12, cukup bikin saya kaget. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker. Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar. ……..

Saya yakin, penulis memiliki data yang menjadi dasar dari apa yang disampaikan. Saya sendiri belum punya data mengenai hal ini. Kalau ada lembaga yang bisa menyediakan data; misalnya yayasan yang punya PAUD, SD, SMP, SMA; sangat senang sekali kalau litbangnya mengajak saya bekerjasama melakukan penelitian. Membandingkan anak-anak yang “sudah sekolah” sebelum usia 5 tahun dengan anak-anak yang “tidak sekolah” sebelum usia 5 tahun dari berbagai aspek pada saat dia usia SD, SMP, SMA. Dari situ kita bisa punya fakta empirik yang sahih untuk mengatakan apa dampak “sekolah terlalu dini” bagi perkembangan anak selanjutnya.

Saking bikin seremnya poin tersebut, saya sendiri jadi mempertanyakan keputusan saya menyekolahkan 4 anak saya sejak mereka berusia 2 tahun. Kelompok Bermain 2 tahun, TK A 1 tahun, TK B 1 tahun. Waduh…. anak-anak saya udah 3 tahun sekolah sebelum mereka mencapai usia 5 tahun ! gawat banget nih…separah apa nanti kanker yang akan mereka derita ya? Serendah apa nanti motivasi belajarnya?

Lalu saya mengingat-ingat lagi alasan kenapa saya menyekolahkan anak-anak sejak mereka usia 2 tahun. Alasan utama adalah karena saya bekerja. Di rumah, anak-anak didampingi oleh pengasuh yang baik dan responsif, tapi jelas tidak bisa diharapkan menstimulasi secara terstruktur dengan optimal. Kalau begitu, harus berhenti kerja dong…masa ibunya S2 anaknya diasuh lulusan SMA. Berarti pekerjaan lebih berharga dibanding anak dong… Ah, saya mah udah bertahun-tahu lalu selesai dengan pergulatan itu. I love my job, because it’s not only job. It’s my ikigai.

Melakukan aktifitas pekerjaan saya: mengajar, berdiskusi dengan mahasiswa, membaca, praktek psikolog, selalu mengisi jiwa saya. Pulang ke rumah, tubuh saya lelah tapi jiwa saya rasanya terisi penuh. Jiwa yang sudah tercharge- full  itulah yang membuat saya punya energi untuk mengasuh anak-anak. Banyak hal dari luar rumah yang saya bawa ke rumah. Baik itu penghayatan, pengetahuan, keterampilan, dan banyak hal yang menjadi bekal untuk memberikan banyak hal pada anak-anak saya.

Kalau kata si abah : “sebenernya aku lebih suka dirimu di rumah. Tapi aku tau dirimu pasti gila kalau gak menjalankan profesimu. Jadi aku ridho dirimu beraktifitas di luar rumah”.  Jadi, saya mencintai anak-anak saya, tapi saya juga mencintai pekerjaan saya. Dan dalam kondisi saya, feasible untuk punya pilihan AND, bukan OR. My children AND my job; not my children OR my job.

Maka, jadilah saya mencari partner yang bisa memberikan stimulasi yang tidak bisa saya berikan selama saya beraktifitas di luar rumah. Partner yang paling gampang adalah sekolah. Paud. Play Group, TK A dan TK B. Setelah mencari-cari kesana kemari, ketemu lah saya sama sebuat sekolah yang “pas”dengan kebutuhan saya. Guru-gurunya responsif. Anak-anak saya yang perempuan, cenderung butuh waktu lama untuk adaptasi di lingkungan baru. Dan selama masa adaptasi itu, bu guru tak segan menggendong, memeluk, memangku anak-anak saya sampai mereka pelan-pelan merasa nyaman bergabung dengan teman-temannya. Ketika anak-anak gak mau ditinggal, guru-gurunya punya teknik “memisahkan” anak dengan orangtua yang efektif. Sehingga meskipun pas ditinggal nangis-nangis, 5 menit kemudian saya telpon gurunya, anak saya udah “lupa” aja…..atau bahkan bu gurunya yang proaktif memfoto 5 mrnit kemudian, mengirimkan pada saya.

Ah, tapi itu kan pengalaman subjektif sama. Pendapat saya pribadi. Bias ah….Aha….saya pun punya ide. Jadilah materi sharing di TK yang tadi saya ceritakan di awal, formatnya tidak ceramah dan tanya jawab seperti biasanya. Saya print artikel “Bila anak sekolah terlalu dini” tadi. Ada sekitar 80 orangtua yang hadir pada pertemuan itu, saya bagi menjadi sekian belas kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orangtua.  Pada masing-masing kelompok, saya bagikan artikel tersebut, lalu saya beri waktu 30 menit untuk mendiskusikan.

Ada 3 hal yang saya mintakan:

(1) Menyimpulkan isi artikel itu dan menyampaikan dengan bahasa ibu-ibu sendiri (konon kan katanya emak-emak jaman now semangat menshare-nya jauh lebih besar dibanding semangat membaca isinya. Seringkali keputusan menshare cukup dengan membaca judulnya saja)

(2) Menyampaikan pendapat mengenai isi artikel tersebut. Adanya fitur “copy” dan “share” juga membuat kita jadi gak terbiasa mengolah informasi dan menyampaikan gagasan kita sendiri terhadap informasi itu.

Setelah 30 menit berlalu, beberapa kelompok saya minta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Proses dan hasil diskusi yang terjadi, membuat saya bangga sama emak-emak yang hadir di ruangan tersebut.

Saya rangkum poin pendapat peserta mengenai isi artikel tersebut.

(1) Bahwa dalam artikel tersebut, ada poin-poin yang mereka setujui

Contohnya pernyataan: “Permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dengan ayah ibu juga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet”.

(2) Sebagian poin-poin dalam artikel tersebut tidak mereka setujui

Contohnya pernyataan: Anak di bawah usia 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama. Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yang sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2). Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

Berdasarkan pengalaman ibu-ibu yang mempresentasikan hasil diskusinya, anak usia 4 tahunan udah bisa main bareng. Dan menurut teori pun, potensi anak untuk cooperative play memang sudah dimiliki di usia 4 tahun.

Bersosialisasi, berdasarkan hasil diskusi, adalah tujuan utama ibu-ibu menyekolahkan anak-anaknya di PAUD. Mengapa? peserta menyatakan bahwa mereka menghayati kemampuan sosialisasi adalah kemampuan penting untuk anak. Sosialisasi meliputi kemampuan untuk berbagi, bekerjasama, mengatasi konflik misalnya. Salah seorang ibu yang mempresentasikan mewakili kelompoknya menyatakan bahwa anaknya baru satu, di lingkungannya tidak ada teman sebaya.

Kenapa engga sosialisasi sama orangtuanya saja? Ya, saya memang tidak bekerja, punya waktu banyak main sama anak, kata ibu tersebut. Tapi saya lihat pola sosialisasi sama teman sebaya, misal kalau main sama sepupunya, itu beda dibanding sama orangtuanya. Kalau sama sebaya kan egonya sama, jadi saya liat dia juga belajar keterampilan yang dia gak dapat kalau interaksinya sama orangtua; begitu pendapatnya.

Seorang ibu yang lain menyampaikan bahwa walaupun anaknya punya 3 kakak, ia pun menilai bahwa interaksi dengan teman sebaya itu berbeda dengan interaksi dengan yang tidak sebaya. Dan itu mereka rasa penting.

(3) Artikel ini tujuannya bagus, namun cara penyampaian di artikel itu menurut peserta terlalu “judgmental”;  satu perspektif, tidak membuka peluang adanya perspektif lain.

Misal kalimat : “Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu”.

Menilai orangtua yang menyekolahkan anaknya di PAUD sebelum usia 5 tahun berarti orangtua tersebut tidak punya kesabaran dan endurance untuk jafdi ortu dinilai terlalu judgmental oleh para peserta.

(4) Ada pertanyaan juga terkait dengan pernyataan “memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker”; beberapa ibu menyampaikan, ia mengamati bahwa anak-anaknya atau anak-anak yang ia kenal yang sekolah sejak  usia kecil, tampak baik-baik saja. Apakah sekolah dini hanya satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan anak jadi bermasalah? atau ada faktor lain ? 

Menurut saya, pertanyaan itu adalah pertanyaan keren banget, yang mengantar kami pada diskusi selanjutnya ….

HAsil dari diskusi itu adalah :

Hasil “baik” atau “buruk” dari keputusan memasukkan anak ke PAUD, tergantung dari beberapa hal :

  1. Kondisi anak
  2. Kondisi orangtua
  3. Kondisi sekolah dan guru

Jadi, kesimpulannya,

memasukkan anak ke PAUD “Iyesh” kalau:

  1. Anak enjoy sekolah. Di awal semester, anak “engga betah” itu wajar. Anak nangis ditinggal ortu itu wajar. Kalau sesudah itu anak gak ngamuk-ngamuk  setiap hari saat harus sekolah, gak marah setiap kali diingetin harus sekolah, berarti baik-baik saja.
  2. Ibu bekerja, atau ibu di rumah tapi ibu merasa tidak akan punya waktu berkualitas untuk menstimulasi anak. Misal : ibu gak punya pembantu, jadi sebagian besar waktunya dipakai untuk beberes rumah, dll. Anak bersama ibu sih di rumah, tapi gak diapa-apain. Atau malah jadi objek kemarahan. Atau ibu punya waktu luang, tapi gak tau harus menstimulasi anak dengan cara gimana. Bingung gimana harus menyikapi anak, gak tau perilaku anak di usia segini wajar atau engga, perkembangan kayak gini telat atau engga. Pengalaman saya, jenjang pendidikan tinggi dan tingkat kecerdasan ibu tidak otomatis sejalan dengan pengetahuan dan keterampilan mengasuh. Ya, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dan bisa dimiliki ibu. Tapi tentu tidak semua ibu punya kompetensi menyusun kurikulum, melakukan evaluasi dari aspek-aspek yang harus distimulasi pada anak-anak usia prasekolahnya.
  3. PAUD itu semuanya bisnis? mungkin ya. Saya sendiri gak punya data, belum pernah mensurvey dan gak punya indikator yang dinamakan PAUD adalah bisnis itu kayak gimana. Mungkin benar. Tapi minimal, ada 2 PAUD di Bandung, yang saya tahu persis tidak berorientasi bisnis. Dua PAUD ini saya bantu sejak beberapa tahun lalu. Salah satu PAUD, bahkan membiayai full anak-anak dhuafa dengan latar belakang pemikiran, anak-anak ini sangat terlantar. Ibu-ibunya rata-rata pembantu rumah tangga, rumahnya cuman sepetak. Anak-anak ini ditinggal di rumah. Kadang sendirian, kadang dititipin tetangga; sering dimarahi, bahkan dipukul; mainan boro-boro punya, pengetahuan ibu-ibu untuk kreatif menggunakan alat yang ada di rumah untuk mainan anak boro-boro… Nah di PAUD, mereka dipegang oleh guru-guru yang punya pengetahuan dan keterampilan lebih baik dibanding orangtuanya. Orangtua anak-anak dhuafa itu, diwajibkan mengikuti program sekolah ibu. Saya membantu menjadi fasilitatornya. Di sana ibu-ibu dikasih tau kenapa mukul anak itu gak boleh, ibu-ibu akan belajar latihan gimana caranya kalau lagi kesel sama suami, atau lagi pusing gak punya uang, jangan sampai melampiaskan ke anak. Di PAUD satunya lagi, saya membantu guru-guru menangani kasus-kasus anak dimana para guru itu butuh “second opinion” dari psikolog anak.  Misalnya anak usia 4 tahun, belum bisa toliet training karena ibunya single mother harus bekerja.  Di rumah pake pampers terus, karena tinggal di rumah nenek dan nenek sudah renta, gak mau rumah bau pesing dan gak kuat harus melatih anak toliet training. Di sekolah tersebut, salah satu aturannya adalah anak gak boleh pake pampers di kelas. Meskipun beberapa ibu terutama ibu-ibu playgroup suka “nego” karena khawatir anaknya ngompol, tapi guru-guru di sekolah ini akan mengatakan : “gapapa bu, kalau ngompol tinggal di pel”. Dan mereka konsisten … setiap berapa jam sekali anter anak-anak pipis lah, pup lah…. termasuk si anak 4 tahun tadi. Guru-guru itu yang kemudian mengajari dan meyakinkan si orangtua untuk “berani” melepas pampers anak, menyadarkan ibu apa dampak jika itu tak dimulai sekarang, dll.

Sebaliknya, memasukkan anak di bawah 5 tahun ke PAUD “NO” jika :

  1. Anak sama sekali gak pisah dari ibu. Misalnya mengalami “separation anxiety” (harus didiagnosa sama psikolog), atau anak punya banyak teman sebaya di lingkungan rumah, bisa main bola, main sepeda, masin boneka bareng sama temen-temen di rumah. Atau anak nangis tiap ada PR, sakit perut tiap mau berangkat sekolah.
  2. Ibu, bisa memanage dirinya sehingga punya energi emosi yang berlimpah. Misal anak ikut nyuci, anak ikut masak, meskipun lama tapi ibu gak marah, anak enjoy belajar banyak hal. Anak selalu ngeberantakin mainan, ibu bisa tenang aja, lalu ibu punya waktu mendengarkan anak, mengajak anak main dengan playful. Ibu kreatif mempersiapkan aktivitas beragam buat anak tiap hari, sehingga gak cuman fisik aja bareng sama ibu di rumah, tapi ada interaksi yang berkualitas. Aturan bisa ibu tegakkan dengan tegas.
  3. Gak nemu sekolah yang “ramah anak”. Misalnya, PAUD yang ada hanyalah PAUD yang dari mulai anak 3 tahun sampai 5 tahun, pelajarannya adalah menjumlah dan mengurang. menulis huruf sambung. Yang gak bisa gak boleh pulang. Anak ada PR sekian lembar menulis dan menghitung. Guru-gurunya “galak”.

paudBegitu sih rambu-rambunya menurut saya. Intinya adalah, bahwa anak usia dini perlu mendapatkan stimulasi/pendidikan; IYESH. Golden age tea…. Bahwa bentuknya dengan “sekolah” PAUD, atau dengan ibu di rumah, atau melalui aktifitas lainnya, itu bisa berbeda keputusannya antara satu ibu dengan ibu lainnya. Yang penting bertanggung jawab dan memahami hakikatnya. Stimulasi. Apapun pilihannya, kalau didasari oleh kepedulian, pasti ada upaya mengevaluasi. Gimana proses belajar di sekolah ini? Gimana proses stimulasi di rumah?

Saya ingat, dalam salah satu kesempatan, saya membantu acara “parents meeting” di acara pembagian raport di sebuah PAUD. Modelnya, guru akan memberikan raport sambil menjelaskan perkembangan anak selama 1 term sekolah pada orangtua, lalu saya mendampingi untuk menjawab pertanyaan orangtua terkait masalah anaknya. Ada salah seorang anak, perkembangannya bagus banget. Melampaui anak-anak seusianya, di usia 4 tahunan. Si ibu itu bilang: “iya, dia udah sekolah dari umur 6 bulan bu. Waktu itu kan saya baby blues gitu, saya tuh kerjaannya nangis aja, merasa gak mampu gitu jadi orangtua, nyusuin gak bisa..kalau lama-lama gendong bayi tuh rasanya jadi gak sayang sama bayinya. Ya udah sama suami saya akhirnya anak saya diikutin sekolah bayi gitu…yang dipijet-pijet, terus distimulasi apa gitu…pas merangkak, terus pas jalan, terus melompat gitu…di XXX (ia menyebutkan sebuah lembaga  pendidikan anak ternama). Nah..kalau anak saya dibawa pergi, gak terus-terusan saya yang gendong, pas dateng saya jadi kayak kangen gitu bu, jadi saya enak meluknya juga. Kerasa sayang gitu. ASI saya juga jadi keluar. Pas saya udah lewat masa itunya, alhamdulillah jadi deket gitu rasanya, penerimaan saya tuh sama dia jadi normal.”

Baru sekali ini saya dapat kasus kayak gini. Dan saya menyimpulkan: oh ya…setiap keputusan itu sangat tergantung konteks dan kebutuhan masing-masing keluarga. Karena setiap keluarga punya keterbatasan pilihan yang berbeda. Gak semua ibu punya pilihan tinggal di rumah, punya pengetahuan dan keterampilan, serta kesediaan dan kapasitas emosi  yang mumpuni untuk menstimulasi anak. Dan kalaupun ada ibu yang tipenya kayak gitu, bisa jadi kebutuhannya berbeda, kebutuhan anak berbeda.

Bagi saya sendiri, saya banyak belajar dari para guru PAUD anak-anak saya. Setiap kali membawa hasil kreasi seni, saya belajar …oh, botol bekas tuh bisa dibikin roket ya, gitu caranya. Oh, pendekatan ke anak tuh  yang efektif gitu ya, oh reward yang dirasa asyik oleh anak tuh yang kayak gini ya. Sebaliknya, kalau ada yang bisa di sharing, saya dan mahasiswa bantu para guru PAUD melalui program pengabdian masyarakat. Karena PAUD yang berbayar cukup besar, memang diatur bahwa gurunya minimal harus Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini (S,Pd.AUD). Tapi banyak juga PAUD di desa yang guru-gurunya belum punya latar pendidikan yang memadai, itu yang kita bantu.

Proses berpikir dan konklusi yang dihasilkan dari diskusi dengan para emak di atas, adalah proses berpikir yang menurut saya , wajib dimiliki oleh MOM JAMAN NOW. Jaman saya jadi mahmud dulu, baru punya anak satu, untuk cari menu MPASI itu harus ke gramedia, beli bukunya. Banyak pengetahuan yang hanya bisa dimiliki oleh ibu-ibu yang niat beli dan baca buku. Tapi JAMAN NOW, informasi bagai tsunami. Bukan kita yang mencari, namin mereka yang mendatangi kita.

Dulu, saya berpikir ini adalah sebuah keuntungan. Saya berpikir, klien-klien dengan permasalahan stimulasi anak akan jauh berkurang, karena ibu-ibu udah banyak tahu. Tapi ternyata permasalahannya beda. Kalau dulu permasalahannya adalah ibu “tidak tahu”; jaman sekarang adalah “ibu bingung karena terlalu banyak tahu”.

Maka, menurut saya, kemampuan ibu berpikir kritis dalam mengolah informasi, adalah keterampilan strategis bagi seorang emak. Konon, jumlah emak bergadget yang ada, adalah sumber penyebaran hoax tercepat. Artinya, kekuatan emak bergadget tak bisa disepelekan. Nah, kalau semua emak bergadget punya kemampuan mengolah informasi sehingga gak semua infromasi disebar bulat-bulat, diikuti bulat-bulat, dinilai benar 100% atau jelek 100%; lalu menularkan pola pikir itu pada anak-anaknya, bayangkan kekuatan yang akan dimiliki oleh bangsa ini

Dear emaks, kita gak perlu galau dengan  seliweran berita. Gak perlu buang waktu ikutan mom war yang konon katanya menghabiskan energi. Kita berlatih menganalisa informasi yang ada, menilai mana yang perlu diambil mana yang bisa diabaikan. Kita belajar  percaya diri membuat pilihan sesuai kondisi kita, tanpa harus minder atau merasa lebih hebat dibandingkan pilihan emak lain. Kalau ada emak yang merasa hebat dengan pilihannya, tinggalin aja, jangan diladeni. Mending energi kita, kita curahkan untuk mengevaluasi, dan menelusuri sumber daya yang kita punya, potensi yang kita punya. Diskusi tentu saja boleh, sekarang banyak narasumber parenting. Cari  narasumber yang mau mendengarkan kondisi kita, tak hanya sekedar memberi nasihat, saran atau bahkan menilai kita selalu salah dalam mendidik anak.

Dengan proses seperti yang dilakukan para emak dalam kegiatan di atas, insya allah waktu kita tak akan terbuang untuk galau; termasuk pilihan memasukkan atau tidak memasukkan anak ke PAUD.

 

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. istianasutanti
    Jan 15, 2018 @ 08:57:30

    Mbaak.. Makasih banyak artikelnya.. Aku kemarin juga nulis tentang PAUD ini tapi betul2 pendapat pribadi saja. Ini mungkin bisa menjadi jawaban untuk orangtua orangtua yang sekarang lagi bingung sebaiknya anak masuk PAUD atau tidak.. Karena jawabannya ya tergantung kondisi masing-masing lagi ya…

    Thanks a lot udah sampai ngadain studi kasus beginii… Salam kenal 😊😊

  2. Ardiba
    Jan 17, 2018 @ 10:32:43

    Wih. Pembahasannya mendalam dan mancap. Intinya sih semua sesuai sikon ya, semua benar sesuai sikonnya. Tfs mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s