PAUD dan PR

Hari Kamis lalu, menjelang long wiken, saat saya tiba di rumah sore, si bungsu TK B bercerita bahwa ia dikasih “PR” sama gurunya. Apaaaah? anak TK dikasih PR? TK apa itu? pasti TK gak bener itu ! pasti cuman bisnis doang ! makanya, sebelum SD itu anak gak usah “disekolahkan”. Ibu adalah guru terbaik buat anak. Tuh kaaan…kalau disekolahkan anak dikasih beban yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Anak PAUD itu harusnya bermain yang kreatif bersama ibu, bukan dibebani dengan PR.

Kira-kira begitulah reaksi saya kalau dikomik-kan heheh #hiperbola. Yups, saya pernah membaca pendapat yang meng”haram”kan PR. Apalagi pada anak PAUD. Kenapa ya, gak boleh ada PR ? Kenapa anak PAUD gak boleh dikasih PR?

Oh…oh…saya tau jawabannya: Karena “PR” itu identik dengan “akademik”. PR menghafalkan perkalian. PR ngerjain berlembar-lembar soal. Kadangkala, konon katanya PR dijadikan alat bagi guru-guru yang “malas” menjelaskan materi. Jadi murid dikasih PR yang belum dijelaskan materinya. Itulah sebabnya PR, konon juga katanya jadi pintu gerbang buat ibu-ibu yang gemesh sama anaknya yang gak ngerti materi pelajaran, dan melakukan KDRT dengan verbal : “masa gitu aja gak bisa?” atau dengan perilaku : mencubit, menjiwir, memukul. Duh, bahaya banget ya dampak PR itu 😉

Nah, bener-bener…kalau anak PAUD dikasih PR, bahaya banget tuh… padahal, setiap kali saya sharing sama ibu-ibu maupun guru TK, saya selalu bilang : “sekolah formal” pertama anak-anak itu adalah SD. SEKOLAH Dasar. Kalau TK, ya bukan sekolah. Namanya juga TAMAN. Secara filosofis nama juga beda. 

Oke…oke…kalau ngasih PR ke anak TK itu adalah “malpraktik” pendidikan anak usia dini, pasti anak akan terbebani, kesel, males, muncul emosi negatif. Baiklah, mari kita amati si bungsu…

Waktu si bungsu ngasih tau bahwa dia punya “PR” dari bu guru, kenapa dia memberi tahu saya dengan wajah “sumringah” ya? “Bu, de Azzam dikasih PR sama bu guru. Ibu tau gak PRnya? de Azzam harus bikin makanan atau minuman kesukaan de Azzam. Terus, pas bikinnya, de Azzam harus di video-in, terus dikirim ke bu guru. Gitu bu…de Azzam, gak sabar pengen ngerjain PRnya ! bikin apa ya bu? bikin nutrijel, de Azzam udah bisa sendiri belum? harus sendiri bu, jadi harus pilih bikin-bikin yang de Azzam gak perlu bantuan ibu dan abah”

Hhhmmm….aneh nih. Kan harusnya anak stress ya kalau dikasih PR, tapi ini kenapa gak stress ya? malah antusias. Yang salah teorinya atau anaknya ya? Seinget saya, ini memang bukan kali pertama si bungsu dapat “PR” dari gurunya.

Beberapa bulan lalu, pas long wiken juga, si bungsu dikasih PR menggambar. “Kata bu guru, menggambarnya jangan langsung sekali, harus dicicil tiap hari sedikit-sedikit. Biar bagus. Idenya harus kreatif”. Dan pesan gurunya, dia amalkan sepenuh hati. Tiap pagi dia akan mengingatkan saya untuk “temenin bikin PR menggambar”. Lalu seperempat jam kemudian, dia berhenti : “Kan kata bu guru gak boleh langsung selesai, biar bagus. Besok dikerjain lagi”. Dan jadilah gambar itu, hardfilenya dikumpulkan ke bu guru, softfilenya saya kirim ke majalah bobo junior, yang ternyata 2 minggu kemudian dimuat. Wah, bahagia sekali si bungsu (dan emaknya hehe).

PR lainnya yang saya ingat adalah : membuat roket dari barang bekas. Hasilnya dikirim via foto di grup wa. Ngerjainnya sama papanya masing-masing. Waaah…gile..kreatif-kreatif ternyata para papa memberikan ide dan mengerjakan “PR” itu bersama anak-anaknya. Akhirnya, setelah 2 minggu karena si abah lagi padet di luar kota, roket si bungsu pun jadi. Waktu bikin, dia semangaaat banget. Sampai pas udah jadi, sebelum dikumpulkan (dan ternyata hanya diperlihatkan aja sama bu guru, selanjutnya dibawa pulang lagi), dia pajang di lemari. Sesekali diambil, dipeluk, dicium-cium sambil muji diri sendiri : “ternyata de Azzam, bisa bikin roket yang bagus ya”.  Saking terharunya bu guru karena anak-anak begitu antusias mengerjakan, bu guru pun membuat gantungan kunci buat anak-anak, bergambar foto masing-masing anak dengan roket buatannya. Gantungan kunci itu jadi kebanggan si bungsu.

PR lainnya yang saya ingat adalah, sebulan lalu bu guru minta anak-anak yang sudah bisa menulis untuk menulis kata, yang berawalan huruf tertentu. Hurufnya berurut mulai dari a,b,c,d, dst per hari. Si bungsu yang termasuk sudah terlatih motorik halusnya dan sudah bisa mengeja, juga semangat mengerjakan “PR” ini. Meskipun dia bilang: “Bu guru engga bilang harus nulis berapa kata, katanya terserah. Kalau de Azzam tulisannya kecil, berarti harus banyak. De Azzam mau tulisannya besar aja aaah….biar sedikit kata-nya”. Cukup menyenangkan menemaninya mengerjakan PR ini. Terutama ketika si bungsu “mikir” kata apa yang berawalan huruf tersebut, lalu terpikir satu kata yang lucu: seperti “cangcut dan dodolipret” 😉

Dan, PR membuat makanan kesukaan ini, akhirnya dikerjakan dengan tak kalah antusiasnya dengan PR-PR nya sebelumnya. Saya jadi penonton, si abah jadi kameramen. Dia sudah memutuskan akan membuat telor ceplok kesukaannya. Mulai dari memecahkan telur, memasukkan ke wajan, membalik telur, sampai mengangkat ke piring. Menyalakan dan mematikan kompor, di hasil video terlihat tangan si abah membantu hehe… Sambil melakukan aksinya, gaya si bungsu udah kayak youtuber-youtuber gitu, Meskipun gak pake kata “gays” ya kkk… “Haloo…kita akan membuat ceplok telor…oke, kita mulai saja….”.

Kemarin, ketika saya pulang sore, dia cerita : “Bu, yang kirim video ke Bu Guru cuman bertiga. Dia sebut nama temannya dan apa yang dibuatnya. Gak apa-apa gak ngumpulin juga. Tapi yang ngumpulin dikasih kertas stiker …yeay….

PR2Nah..dari pengamatan saya terhadap jenis PR, sikap si bungsu terhadap PR dan sikap bu guru terhadap PR, saya jadi bisa menyimpulkan : Bukan “Ada PR” atau “Tidak ada PR” yang menjadi inti permasalahan. Tapi yang harus kita cermati adalah:

(1) Apa tujuan PR? Menurut saya, di jenjang pendidikan manapun, tujuan memberi PR atau tugas, akan menentukan bentuk PR apa yang diberikan dan bagaimana sikap siswa terhadap PR tersebut. Misal, di sebuah Perguruan Tinggi nun jauh disana, PR yang diberikan dosen pada mahasiswa adalah menerjemahkan buku/chapter buku. Lalu hasil PR mahasiswa tersebut, di klaim sebagai kinerja menerjemahkan buku untuk kepentingan dosen tersebut. Nah, kalau tugasnya macam ini, mahasiswa gak merasa ada manfaatnya buat dia. Ya, kalau dibikin-bikin sih bisa ada aja. Tapi kalau secara tulus kita hayati, mahasiswa bisa jadi gak dapet apa-apa dengan tugas semacam ini. Saya sendiri sebagai dosen merasakan; ketika merancang tugas/PR itu, tidak mudah. Harus kita hayati betul bentuk aktifitasnya seperti apa, tingkat kesulitannya, lalu nanti bentuk feedbacknya seperti apa.

(2) Bentuk PRnya seperti apa? Setelah saya ngobrol dengan bu guru, ternyata bentuk-bentuk PR yang diberikan pada anak-anak itu, adalah upaya bu guru agar anak-anak terisi waktu luangnya dengan kegiatan yang menstimulasi daya kreatifitas dan kemandirian anak. Maklum, saat libur, para ortu mengeluh ke bu guru: “anak-anak kalau di rumah main gadget terus”. Saya sih gak ikut mengeluh karena saya tahu bahwa  kalau  saya mengeluh begitu, senjata makan tuan buat saya. Kenapa ibu kasih gadget dan gak nemenin anak main? Gak mungkin dong anak  umur 5 tahun main sendiri sementara emaknya gadget-an ;). Dan tugas-tugas tersebut, disesuaikan tingkat kesulitannya dengan kemampuan anak. Juga disesuaikan dengan kondisi “jaman now”. Misal mengirim PR berbentuk foto dan video ke wa bu guru 😉

(3) Reward/punishment terhadap PR. Apakah anak-anak yang tidak mengumpulkan PR diberi hukuman? tidak. Yang mengumpulkan yang diberi reward. Pas dengan tahap perkembangan anak.

Maka, dari pengalaman ini saya mendapatkan satu pelajaran : jangan terjebak nama/istilah. Kita biasakan untuk mengamati (atau bahasa kerennya “menganalisa”) elemen-elemen dari suatu kejadian. Ada banyak keterjebakan yang bisa kita hindari dengan pola seperti ini : mengamati elemen-elemen dari suatu kejadian. Katanya itu yang namanya CRITICAL THINKING. Itu yang membedakan manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dengan makhluk lainnya : manusia diberi akal. 

Apalagi para emaks jaman now yang mengalami tsunami informasi : kata pakar ini boleh, kata ahli ini gak boleh, kata BC-an yang ini harus begini, kata BC-an yang itu gak boleh begini…

Ketika Allah mentakdirkan kita menjadi ibu, maka Allah sudah menganugerahi potensi untuk berpikir, merasa dan bertindak yang paling tepat bagi anak-anak kita. Ya, ilmu pengasuhan harus kita cari untuk mengaktivasi potensi tersebut. Lalu kemudian, curahkan energi kita untuk mengamati anak, mengamati elemen-elemen kejadian dalam persoalan anak. Kalau ada kebimbangan, diskusikan dengan orang yang kita percayai keilmuannya. Insyaallah, kita akan rileks dan tenang dalam menjalani beragam perjalanan bersama buah hati. Itulah hakikatnya “bukan emak biasa” (yang perlu bukunya inbox ya..haha….pesan sponsor)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s