Chapter-Chapter Kehidupan Kita bersama Anak : Apa yang Kita Tuliskan ?

Sebulan lalu, si abah mengirimkan beberapa foto motor touring via whatsapp. Karena kami LDR-an; maka selain weekend, komunikasi kami via wa, telpon dan video call. “Ini keren banget De…kita beli yuks…biar kita bisa touring berdua”. Bla..bla..bla… Ia menceritakan ke-kerenan motor-motor touring itu. Saya baca sambil pengen ketawa. Seperti bapak-bapak lainnya, kalau udah bicara tentang otomotif, persis kayak anak kecil pengen mainan. Persis juga sih sama kelakuan saya kalau lagi merajuk membujuk si abah untuk mengizinkan saya beli tas lah, batik lah, sepatu lah.  Sejak saya punya instagram, memang jadi terpapar barang-barang lutuuuu…. dan meskipun kalau saya beli barang pake uang sendiri dan  si abah pun kalau mau beli sesuatu pake uangnya sendiri, tapi kami punya perjanjian tak tertulis untuk saling minta izin . Kenapa ya? ya untuk saling menghargai saja. Dan kalau masing-masing kami bilang “engga”, biasanya kami urung. Meskipun saya lagi punya banyak uang, kalau si abah bilang “gak usah beli, kan tasmu udah banyak”, saya pasti urung. Demikian juga si abah.

Waktu liat foto-foto motor touring itu, saya mengakui sih…itu motor keren-keren banggets. Ya sesuai harganya lah haha… Mendengar cerita si abah tentang rencana touring berdua ke tempat-tempat yang keren, saya jadi membayangkan emang enak banget dibonceng sambil memeluk punggungnya ,,,ya…mirip-mirip adegan Dilan dan Milea lah #eaaaaa… Tapi ketika kita lagi asyik ngobrolin rencana itu, tiba-tiba terintas sesuatu di pikiran saya ; lalu saya sampaikan ke si abah: “Tapi bah, kapan kita mau touring berdua nya? segitu tiap weekend kita hectic  sama acara anak-anak…” . “Oh iya ya..” kata si abah. “Kapan ya, kita bisa punya waktu berdua di weekend? kayaknya 6 tahun lagi ya? kalau si bungsu udah SMP? Ya udah…beli motor touringnya 6 tahun lagi aja ya kalau begitu”. Kata si abah. “Iya, tapi 6 tahun lagi, kita masih kuat gitu touring berdua?” kata saya hahaha…..

Yups…saat ini, di tahun ke-15 pernikahan kami, dengan 4 anakumur 15, 12, 9 dan 6,  kami memang sedang hectic-hecticnya dengan urusan anak-anak. Setelah beberapa bulan ke belakang weekend kami dihasbisakn untuk survey boarding school SMA untuk si sulung dan survey SMP untuk si bujang, lalu lanjut rangkaian test, setelahnya, weekend kami juga selalu full untuk urusan anak-anak. Anter ekskul setiap sabtu, lalu nemenin  lomba, atau aktivitas lain yang pengen diikutin anak-anak. Kadang hiking, kadang mendongeng, kadang anter si sulung kerja kelompok ini, syuting itu, hunting ini, tryout itu…bahkan seperti minggu lalu, karena kegiatannya bareng, kita harus split, si abah nemenin anak yang mana, saya nemenin anak yang mana.

Kami tak pernah bicarakan ini secara lugas sih, tapi sepertinya kami berkomitmen untuk mendedikasikan weekend kami untuk anak-anak. Kalau gak kepepet-kepepet banget, gak pernah bikin acara sabtu minggu. Kalaupun akan ada acara yang gak bisa diganti hari lain, maka kami harus koordinasi jauh-jauh hari. Misalnya si abah ada rapat pentiiiing yang harus weekend, atau ikutan ujian sertifikasi apaaa gitu… atau saya ada undangan mengisi seminar, atau misalnya ada klien dari luar kota yang hanya bisa di weekend. Kenapa? karena kami tak punya ART. Anak-anak, terutama si gadis kecil dan si bungsu belum bisa ditinggal sendiri. Harus diawasi si sulung. Padahal si sulung punya segudang aktifitas di weekend.

Sejujurnya, banyak kesempatan pengembangan diri bagi saya dan si abah yang tak bisa dilakukan karena weekend kaki kami “terikat” oleh anak-anak. Kadang saya  dapat tawaran tampil di acara besaaar, kadang ada workshop keren banget, kumpul-kumpul asyik, kadang si abah ada kegiatan sertifikasi penting… Tapi kami selalu saling mengingatkan. Kami jadi rem buat masing-masing. Dan beberapa tahun terakhir ini, saya sangat menikmati kehectican di weekend untuk kegiatan anak-anak. Kenapa?

Beberapa bulan lalu, kami ke bioskop ber-5. Saya dan 4 anak saya. Saat itu anak-anak sedang libur, abahnya tentu kerja di luar kota. Kami bersepakat nonton, kebetulan film yang diputar di bioskop sedang bagus-bagus. Film apa yang akan kami tonton? anak-anak keukeuh pengen nonton film Coco. Saya pengeeeeen banget nonton film Wonder. Saya bingung. “Okelah, ibu gak akan nonton film Wonder. Nanti aja kalau udah ada DVDnya ibu beli”. Saya akhirnya memutuskan. Tapi lalu si sulung bilang: “Kenapa kita gak pisah aja bu? Sok aja ibu nonton Wonder, kayaknya ibu pengen banget. Ga apa-apa kita nonton Coco”. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya terima tawaran itu. Masalahnya adalah, selain kami tentunya beda studio, waktu tayangnya juga beda. Film Wonder diputar 45 menit lebih awal dari film Coco. “Percaya bu, kita berdua bisa jagain si dua krucil ini ” kata si sulung. Akhirnya rencana itu kita jalankan. Saya masuk saat film Wonder akan dimulai. Tentu sambil terus-terusan kontak anak-anak, yang dari video callnya sih baik-baik saja haha…

Sambil menikmati film Wonder yang super duper keren, saya merasa amazing dengan kondisi saya. 15 tahun menjadi ibu, inilah pertama kalinya saya menikmati hal-hal yang “entertaining” tanpa anak-anak. Ya, saya beberapa kali sih ke luar  negeri atau luar pulau dan luar kota untuk conference atau pekerjaan. Tapi full menghibur diri, sendirian…rasanya ajaib. Serasa gak percaya gitu haha…Jadi, sambil duduk rileks menyaksikan film, ngemil popcorn plus menyeruput soda, pikiran saya pun melayang.

Ada saat-saat dimana nonton film ke bioskop begitu melelahkan bagi saya. Kala saya masih punya balita. Melelahkan fisik dan psikologis. Psikologis? takut ada salah satu atau salah dua anak saya nangis, atau teriak. Jadi sepanjang film (biasanya kita nonton film anak-anak untuk si sulung), maka saya dan si abah sibuk menenangkan adik-adiknya. Takut ganggu orang. Belum lagi kalau anak laki-laki, kalau gak teriak atau ngomong keras dia jalan-jalan…aduuuh…buat pencemas sejati seperti saya, itu stressful bangget. Belum lagi kalau mau pipis. Trus pipisnya gantian. Baru balik anter pipis si ini, adiknya bilang pengen pipis. Alhasil, jarang bisa menikmati keseluruhan film. Jadi, saya bisa menikmati film dengan rileks, sendirian, itu saya rasakan sebagai sebuah pengalaman “baru”.

Saya juga ingat…. baru ramadhan kemarin saya menikmati itikaf. Full 10 hari terakhir, nginep tiap malam. Dulu waktu masih berdua kami beritikaf berdua. Waktu punya bayi satu, masih suka itikaf. Tapi setelah dua, tiga, empat; lebih banyak cemasnya dibanding khusyuknya saat itikaf dan tarawih. Takut nangis, takut teriak, takut ganggu orang lain… Si abah suka ngajak tarawih ke mesjid tiap ramadhan. “Dirimu kan seneng banget di mesjid” katanya. “Iya, tapi aku stress kalau sambil takut anak-anak teriak, nangis, lari-larian, aku sholat di rumah aja”. Begitu jawaban saya biasanya.  Nah kalau tahun kemarin, saya merasa nikmat banget. Kalau si bungsu bosen dan “rewel”, saya tugaskan si gadis kecil ngajak main di halaman. Antri makan sahur/buka? ada 4 anak yang siap mengambilkan. Wudhu gantian, jaga si bungsu gantian.

Ya, ya…ada masa-masa itu. Masa dimana saya gak mau diajak si abah silaturahim ke sosok-sosok yang kami hormati. Kenapa? dengan 4 anak yang lagi loncat sana-loncat sini, ngomong rebutan…saya engga nyaman bertamu. Kalau kondangan, kami gak pernah makan dulu. Datang, salaman, lalu pulang. Karena anak-anak gak nyaman di kondangan yang biasanya penuh sesak orang yang tak ia kenal.

Tapi sekarang, masa-masa itu sebagian sudah terlewati.

Maka, kalau ada adik-adikku yang nangis-nangis; merasa “lelah”, craving for me time; sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat banget di rumah kontrakan saya di Tubagus Ismail 13 tahun lalu, saat si sulung masih berusia 2 tahun-an, waktu itu saya udah lama gak bisa sholat dan doa khusyuk. Waktu saya abis sholat lalu mau mulai menengadahkan tangan, eeeh…si sulung pipis. Di sajadah. Waktu itu saya nangis tersedu-sedu. Saya inget banget kata-kata saya “Ya Allah, plissss. Aku teh bukan pengen apa-apa. Bukan pengen main, bukan pengen tidur nyenyak… Aku cuman pengen berdoa khusyuk…masa gak bisa” ….

Maka, Kalau ada adik-adikku yang baru punya bayi dan tidak terlihat bahagia tapi justru kelelahan, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Si sulung adalah anak yang “ajaib”. Tidurnya selalu harus digendong, sambil berdiri. Kalau dia udah tidur lalu saya duduk, maka ia akan bangun. Nangis. Saya ingat saat-saat itu, kami nangis berdua. Sampai saya bikin shif-shift-an gendong si sulung sama si abah, dan setiap kali si abah tertidur tak terbangun mendengar suara tangis bayi, padahal itu adalah shiftnya, saya akan nangis, capek plus kesel sama si abah haha…..

Maka, kalau adik-adikku merasa kehidupannya sangat “terikat”, jadi pendek langkah, sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya pernah ditegur sama pimpinan radio tempat dulu siaran rutin jadi narasumber, gara-gara tiap siaran saya bawa si sulung yang waktu itu umurnya 1,5 tahun-an. Katanya biarpun anteng, tapi suaranya masuk kerekam. Baiklah, saya memutuskan untuk berhenti siaran. Berat terasa, tapi ya gimana lagi.

Maka, kalau ada adik-adikku kebingungan saat anak-anaknya tantrum, merasa kesal, putus asa,  sini saya peluk. I feel it. I’ve been there. Saya ingat waktu diliatin orang se-BORMA waktu si bujang ngamuk-ngamuk pengen cd ultraman. Saya ingat hari pertama si sulung sekolah, jam 8 sampai jam 11 gak brenti nangis. Si bungsu, saya anter ke sekolah dengan pakaian batik terbaik saya karena mau ketemu pejabat universitas, eeeh..nangis sampai muntah ke dada saya. Ke kampus dengan sisa bau muntah plus bau tissue basah, pernah saya alami.

Maka, itulah sebabnya saya menikmati masa-masa hectic teroccupied di weekend oleh kegiatan anak-anak. Karena saya tahu, masa itu akan berlalu. Maka, selagi di masa ini, kita jalani saja sekhusyuk-kehusyuknya, ikuti saja alurnya, nikmati saja episodenya. Nanti ada saatnya episode itu berganti.

Saya selalu membayangkan bahwa kehidupan kita itu, seperti chapter-chapter di sebuah buku. Buku-buku yang bagus, tiap chapter sambung menyambung, tapi masing-masing chapter punya cerita yang berbeda. Punya warna yang berbeda, keasyikan yang berbeda saat kita membacanya. Seperti yang terjadi saat saya nonton wonder sendirian itu, saya menikmati momen saya saat itu, sambil tersenyum mengenang momen-momen berbeda sebelumnya.

large-kraft-memory-book-photo-album-ba-book-typography-photo-memory-bookMaka, buat adik-adikku yang masih berkutat dengan hal remeh-temeh terkait anak-anak, mari kita nikmati sepenuh hati episode-episode ini. Episode begadang, episode menghadapi tantrum, episode tas kita penuh dengan remah-remah makanan, episode keompolan, episode cemas takut ganggu orang lain, episode harus bawa anak kemana-mana, episode stress saat bawa anak-anak ke supermarket, kita nikmati aja, here and now. Kita tuliskan kisah episode kehidupan kita di chapter ini, dengan penghayatan terbaik yang kita punya, dengan effort terbaik yang kita bisa. Kita tuliskan keindahan dan keseruan rangkaian kata dan peristiwanya dengan ke khusyuk-an dan penerimaan kita.  Jangan memikirkan “pengen pindah chapter”. Nanti kita akan kehilangan keindahan kenangannya.

Biar nanti, saat kita akan menutup mata kembali pada yang Maha Kuasa, kita bisa membaca kembali chapter demi chapter kehidupan kita, dan kita bisa tersenyum bahagia karena keindahan kenangannya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s