cerita pesiar: dua kekhawatiran dan dua rasa perpisahan

Awal Oktober lalu, tgl 2-7 Oktober, adalah waktu yang dinanti-nanti si sulung, teman-teman se-boarding schoolnya, dan keluarganya masing-masing. Pesiar. Waktunya “pulang”. Empat hari yang sudah dinanti-nanti selama 3 bulan. Setiap menengok si sulung, saya selalu tak bisa menahan senyum melihat “kalender pesiar” yang ditempel di kamar si sulung, karya teman-teman sekamarnya. Ada deretan tanggal sejak akhir Juli, sampai dengan hari H pesiar. Setiap hari yang terlewati disilang sepenuh hati, tak jarang dengan beragam ekspresi emosi yang tertuang  dalam bentuk tekanan, gambar dan komentar 😉

Riak euphoria pesiar sudah mulai terasa 3 minggu sebelumnya di grup telegram orangtua.  Mulai dari pendaftaran travel, serta koordinasi pembookingan tiket pesawat bagi santri yang di luar kota/luar pulau/luar negeri. Di minggu terakhir menengok sebelum pesiar, euphoria itu sangat terasa di kamar asrama. Saya senyum-senyum sambil berkaca-kaca melihat gadis-gadis remaja itu “heboh” packing, menyiapkan baju apa yang akan dipakai pulang, membuat rencana kegiatan yang akan dilakukan selama 4 hari di rumah. Ketika ketemu adik-adiknya, si sulung sudah berkali-kali wanti-wanti : “Awas loh! kamar Kaka jangan berantakan ! Harus kalian beresin!”. Kalimat itu disertai tatapan tajam setajam silet, khususnya pada si bujang yang saat ini menempati kamarnya haha….

Euphoria juga terasa di rumah kami. Selain si gadis kecil dan si bungsu yang heboh bikin gambar dan surat penyambutan buat kakaknya, saya pun tak mau kalah. Saya kosongkan semua jadwal saya di minggu itu. Beberapa kali saya harus “menolak” beragam aktifitas di minggu itu dengan mengatakan : “anakku mau pulang” ;). Si abah, saya tugasi mengecat kamar si sulung dengan warna biru, warna favoritnya. Plus nempel-nempelin foto-foto kelas SMP, bergabung bersama foto-foto kelas SD-nya.

Tapi seiring dengan euphoria itu, di sudut hati saya, ada 2 kekhawatiran yang muncul. Kekhawatiran pertama,  bernuansa “rasio”. Kekhawatiran kedua, bernuansa emosi.

Kekhawatiran pertama. Saya khawatir bahwa “kebaikan” yang terbiasa dilakukan si sulung di boarding school-nya (baik yang sifatnya habit : sholat malam, tilawah, dll; maupun yang sifatnya value), “luntur” saat tiba di rumah. Saya sudah banyak mengetahui dan menyaksikan bahwa anak-anak “sholih/sholihah-disiplin” di boarding school itu, bisa berubah 180 derajat saat di rumah. Artinya, nilai-nilai yang coba ditanamkan, hanya bersifat “perilaku situasional”, bukan terinternalisasi menjadi kepribadian. Saya banyak mendengar, bagaimana anak-anak yang terbiasa bangun jam 4 itu, saat di rumah kembali susah dibangunkan dan kesiangan shalat subuh. Saya juga tida jarang mendengar kisah, pemisahan antara putera-puteri di boarding, membuat mereka seperti “kuda keluar dari kandangnya” saat di rumah.

Kekhawatiran kedua. Seperti ibu-remaja putri lainnya, saya mengalami fase-fase “renggang” dengan si sulung di usia SMPnya. Hari-hari kami dipenuhi konflik, saling kesal dan saling marah. “Perpisahan” ini lah yang kemudian memberi andil besar pada kedekatan hati kami kembali. Berpisah, membuat masing-masing kami punya waktu untuk menelusuri relung-relung hati. Meresapi banyak rasa seiring dengan menelusuri beragam peristiwa selama 3 tahun terakhir. Memunculkan rasa sesal, kangen, perasaan bersalah, rasa bangga, bercampur aduk. Campur aduk rasa itu yang saya tuangkan dalam bentuk surat, yang saya berikan setiap saya mengunjunginya. Maka, tiga bulan secara fisik berpisah, tapi kami merasa justru secara hati sangat dekat. Tanpa konflik-konflik keseharian, setiap bertemu kami berpelukan erat dan lama, saya kembali bisa merasakan degup jantungnya di dada saya. Tanpa kekesalan sehari-hari, saya kembali bisa menciumi wajahnya, dan dia menjadi my little sweet girl kembali. Saya sangat khawatir, 3 bulan masa “bulan madu” itu, hancur dalam 4 hari. Saya takut gesekan-gesakan aktivitas, ketidaksesuaian harapan saat kami bersama 4 hari, kembali memunculkan kekesalan-kekesalan yang membuat jarak kembali antar kami berdua.

Dan hari itu pun tiba. Tidak tahu siapa yang lebih heboh; 5 orang yang menyambut atau satu orang yang disambut 😉. Dua hari penuh, saya menghabiskan waktu bersama si sulung. Nonton, makan, jakan-jalan, belanja belanji, masak, dan tentu saling curhat diantara aktivitas-aktivitas tersebut. Dua hari lainnya, terbagi menjadi satu hari untuk janjian dengan teman-temannya dan satu hari sendirian di rumah. Saya pikir saya juga pelu memberi ruang buat dia untuk sendiri. Dia juga ternyata pulang dengan membawa banyak tugas. Selain tugas menghafal 7 hadits, murojaah hafalannya, mencari sumber untuk lomba essay yang akan diikutinya, juga memvideokan 5 aktivitas untuk ujian TKK pramuka-nya : berenang, bersepeda, memasak, beres-beres rumah, dan menjahit 😉

Dan, tak terasa tanggal 7, kami mengantarkannya kembali ke asrama. Kehadirannya sore itu disambut teriakan teman-temannya yang sudah duluan datang. Dan lalu mereka berebut saling cerita tentang pengalaman pesiar, plus tentu saja kabar terbaru dari monyet-monyet… eh cinta-cinta monyet mereka haha….

Bagaimana kabar dua kekhawatiran saya diatas? Alhamdulilah keduanya tak terjadi. Mulai terlihat perubahan nilai, sesuai dengan yang ia dapat di boarding schoolnya. Dan secara otomatis, itu mereduksi konflik-konflik dianatar kami. Hal-hal yang dulu jadi bahan “pertengkaran” antara kami, kini sudah tak ada.

azkaaaaaaWaktu kami pulang menjelang maghrib, kami berpelukan eraaat ….saya bisa merasakan degupan dadanya di dada saya. Saya ingat tiga bulan lalu, kami berpisah dengan sejuta keresahan dan kekhawatiran dalam diri masing-masing. Kali ini, rasa resah dan khawatir itu tak ada. Pengalamannya selama 3 bulan disana, kami berdua bersyukur, Allah tunjukkan pilihan terbaik yang paling pas untuk dia.

Satu hal yang masih sama terjadi seperti ketika 3 bulan lalu saya meninggalkannya, satu kesamaan yang tidak saya duga, adalah ternyata saya masih sesenggukan sesampainya di mobil. Dan saya yakin dia juga, begitu sampai di kamarnya. But its oke. Tangis itu belum tentu karena luka. Sedih itu bisa berarti karena seseorang, amat berarti buat kita.

Advertisements