Kala Anak Kita “Memilih Orang Lain” : The story about true love

Hari ini, saya seharian di rumah. Saya agendakan untuk menyelesaikan naskah untuk bimbingan tgl 2 Desember nanti . Saat jam menunjukkan pukul 14, saya menunggu-nunggu suara teriakan si bungsu dari bawah. Jam 14 adalah jam kedatangan si bungsu kelas 1 SD itu dari sekolah. Tapi teriakan khas-nya tak kunjung terdengar. Lima belas menit kemudian, saya mengambil handphone untuk mengontak pak sopir menanyakan sudah dimana. Ternyata ada pesan whatsapp dari pak sopir : “Bu, Dede katanya gak mau pulang. Mau di rumah teh Rini main bola sama de Rendy dan A Reza, sama mau nonton Kungfu Panda”. Teh Rini adalah istri Pak Ayi, sopir kami. Sejak usia si bungsu  7 bulan, setelah kami tidak mendapatkan pengasuh dan asisten yang bisa menginap, memang si bungsu diasuh oleh teh Rini, di rumahnya yang tak jauh dari rumah kami. De Rendy dan A Reza adalah putra dan keponakan teh Rini. Masing-masing kelas 4 dan 6 SD. Sejak saya sekolah S3 dua tahun lalu dan mendapat status tugas belajar, setiap pulang sekolah si bungsu selalu pulang ke rumah, karena program S3 saya yang by Research membuat saya bisa mengerjakan sebagian besar riset saya di rumah.

Saya tercenung agak lama membaca pesan itu. Saya ingat, dulu ketika awal-awal saya S3 dan anak-anak terutama si bungsu menyadari bahwa ibunya tak lagi datang menjelang maghrib, tiap akan berangkat sekolah mereka selalu bertanya : “nanti siang ibu ada di rumah?”. Kalau saya jawab “ya”; mereka akan melompat kegirangan sambil teriak “yes!”. Dan kegirangan itu terus terbawa sampai nanti dia pulang sekolah, berteriak “ibu ! ibu !” dari pintu masuk, agar terdengar oleh saya di ruang kerja di lantai atas.

Hari ini, saya ada di rumah, dan si bungsu memilih untuk tidak mau pulang menghabiskan waktu dengan saya, malah memilih “orang lain”. Beberapa tahun lalu, mungkin saya akan merasakan emosi “negatif”. Sedih mungkin? kesal? kecewa? Tapi tidak rasa negatif itu tak saya rasakan saat ini. Kenapa?

………………………………………………………………………………………………..

Seorang teman saya pernah bertanya pada saya beberapa minggu lalu: “Beneran kan lu udah jarang nulis ya? apa gw yang gak dapet notif? padahal gw pasang notif di imel kok”. Dan saya mengangguk. Yups, sudah sangat jarang memang saya menulis di blog ini. Saya baru menyadari bahwa walaupun tulisan di blog bukanlah tulisan yang “berat”, tapi ternyata menulis itu butuh energi ya…. Dan prioritas saya untuk mengerjakan disertasi ternyata menghabiskan energi sehingga tak cukup untuk menuliskan  pikiran dan perasaan seperti biasanya.

Teman saya yang lain bilang : “nulis penghayatan lu tentang parenting dong…gw kangen tulisan lu ttg itu”. Nah, tentang ini, saya juga vakum untuk waktu yang cukup lama. Terakhir kali nulis bulan apa ya? sampai lupa haha… Kenapa tak menulis lagi tentang penghayatan parenting? karena beberapa bulan lalu, saya masuk ke fase selanjutnya dari pengalaman menjadi ibu, seiring perubahan pada anak-anak saya, terutama pada si sulung dan si bujang yang masuk usia SMA dan SMP. Ada banyak perubahan dan penghayatan yang saya rasa. Ada banyak pengalaman dan kejadian yang membuat saya butuh waktu untuk merenung…. mencerna apa yang terjadi, menghayati apa yang saya rasakan, mempertanyakan hal-hal yang selama ini saya yakini dan saya pahami…. Proses itu membuat saya belajar rasa yang baru, pemikiran yang baru, dan sikap serta perilaku yang baru. Saya belajar dimensi baru dalam perjalanan menjadi seorang ibu.

Dan satu dari sekian banyak pelajaran itu adalah, merasa “it’s oke” ketika anak kita memilih “orang lain” dibandingkan kita. Mungkin ini tampak sederhana dan bisa terjadi secara “otomatis” bagi ibu lain. Tapi tidak buat saya. Dan buat sebagian ibu, juga ini bukan hal yang mudah. Saya ingat seorang remaja pernah bilang ke saya : “ibu saya suka bilang kalau saya harus mandiri. Tapi saya ngeliat, kalau saya misalnya melakukan sesuatu sendiri, ibu aku teh suka sedih, trus suka bilang tuh kan kamu udah gak butuh ibu lagi. Jadi kadang aku teh pura-pura gak bisa sendiri biar ibu aku ngerasa tetap dibutuhkan”. 

Buat saya, anak-anak have their own wisdom. Saya selalu dapat banyak hal ketika mendengarkan kata-kata mereka, terutama apa yang mereka rasakan dan katakan tentang orangtua mereka. Saya selalu mempersepsi, kata-kata anak-anak mengenai orangtuanya adalah pelajaran dariNya untuk saya, yang Allah titipkan lewat lisan mereka.

Saya pernah menulis di status medsos, bahwa ketika anak kita kecil, lalu mereka lebih mengidolakan guru mereka, atau teman-teman mereka, kita tak keberatan. Kita berterima kasih pada bu guru, kita senang karena teman-teman anak kita menemani anak kita. Tapi saat itu, mereka masih menceritakan “semuanya” pada kita. We are still their “number one” 

Tapi kemudian, ada suatu masa, dimana anak kita mulai memilah. Ada hal-hal yang tidak ia ceritakan pada kita sebagai orangtuanya.  Ada hal-hal yang tak dia bagi lagi dengan kita, namun di abagi dengan orang lain ynag “istimewa” buat dia. Kita tak lagi jadi “their number one”. Ada masa dimana anak kita bilang pada seseorang yang istimewa buatnya : “lo lebih ngertiin gw dibanding ibu gw” . Dan pada saat itu terjadi,  tiba-tiba saya merasa… tak bisa se-legowo ketika anak-anak saya mengidolakan gurunya, atau menceritakan sahabat-sahabatnya.

Sebuah pergulatan yang berat buat saya untuk meresapi situasi ini. Perasaan “saya tak dibutuhkan lagi”, kenyataan bahwa “ada seseorang lain yang lebih penting buat anak saya”, ternyata begitu menakutkan dan menyakitkan. Butuh waktu lama bagi saya untuk meresapi dan memahami perubahan konstelasi psikologis ini. Sampai kemudian, pergulatan panjang ini membuat saya mendapatkan  sebuah pelajaran : bahwa seiring waktu berkembangnya anak kita, ada ruang-ruang yang tak lagi bisa saya masuki. Sesayang apapun saya sama dia, dia perlu bentuk sayang lain yang berbeda dengan sayang dari orangtuanya.

trueloveTidak mudah menerima bahwa ada “orang lain” yang berarti buat anak saya dibandingkan saya. Tapi pada akhirnya, pergulatan itu membuat saya meresapi hakikat rahim. Rahim yang sebelum ada janin di dalamnya hanya sebesar buah alpukat, bisa mengembang begitu amat luas dan memberikan kehangatan. Saya merasapi, itu adalah analogi dari yang Maha Kuasa,  bahwa seorang ibu, yang punya rahim dalam dirinya, harus punya ruang cinta yang luas. Ruang cinta yang memberikan tempat bagi anak kita merasakan cinta yang lain, yang juga memberikan tempat bagi orang lain untuk masuk dan turut mencintai anak kita. Ada pelajaran berharga yang saya dapat, bahwa kalau sebelumnya saya memandang “orang lain” itu sebagai “perebut” anak saya, kini saya memandang bahwa kami, sama-sama menyayanginya. Dengan bentuk sayang yang berbeda, yang melengkapi kebutuhan anak saya.

Setiap kali membaca mengenai perkembangan anak dan bagaimana orangtua harus belajar untuk “berkembang bersamanya”, saya selalu punya pertanyaan : Kenapa Allah menciptakan proses perkembangan anak kayak gitu? Mengapa kami orangtua harus belajar untuk melekatkan diri di tahun-tahun awal kehidupan mereka, harus menunda dan bahkan “melupakan” mimpi-mimpi besar kami karenanya? mengapa mereka dibuat sedemikian tak berdaya sehingga “tergantung pada kami orangtuanya? Lalu setelah kita begitu lekat, perlahan meraka menemukan “orang lain”, perlahan mereka tak membutuhkan kita lagi dengan bentuk yang sama seperti yang kita inginkan.

Sekarag saya tau jawabannya. Perkembangan anak, sejatinya adalah media buat kita orangtua untuk belajar menjadi wise, menjadi bijaksana, menjadi rendah hati, dan menjadi bisa mencintai tanpa syarat. Ketika wisdom itu sudah didapat, rendah hati sudah dipelajari, cinta tanpa syarat sudah dimiliki; tak akan ada lagi rasa sesak saat nanti anak kita lebih memilih passion-nya dibandingkan arahan kami; lebih memilih keputusan pasangan hidupnya dibandingkan keputusan kami. Akan ada rasa legowo ketika cucu-cucu saya lebih memilih nenek “sana” dibanding saya.

Dan hasil pembelajaran itu terasa hari ini. Ketika jam 5 tadi si bungsu datang dan menceritakan keseruan bermain dengan teman-temannya, menceritakan kekangenannya dipeluk teh Rini, saya tak merasa “tersaingi”. Seperti yang saya sampaikan pada teman istimewa anak saya, saya akan bilang ke teh Rini : “terima kasih sudah sayang sama anak saya” 

 

 

 

 

 

Advertisements