Children Have Their Own Wisdom : Kisah Butterfly Hug saat Liburan

Lima puluh dua tahun yang lalu, pada tahun 1967, dua orang psikiater bernama Thomas Holmes dan Richard Rahe meneliti apakah stress berpengaruh terhadap kondisi sakit pasien. Mereka mensurvey lebih dari 5,000 pasien, dan pada akhirnya menyusun “The Social Readjustment Rating Scale” atau terkenal dengan “Holmes-Rahe Stress Scale”.  Dalam alat ukur ini, ada 43 “life event” atau kejadian dalam hidup, dengan bobot stress-nya masing-masing, diurut dari yang bobot stress-nya paling tinggi ke yang paling rendah. Lima daftar stressor tertinggi yaitu : (1)  kematian pasangan, bobot stress 100, (2) Perceraian, bobot stress 73, (3) Perpisahan dalam pernikahan, bobot stress 65, (4) Masuk penjara, bobot stress 63, (5) Kematian anggota keluarga yang dekat dengan kita, bobot stress 63. Bagi teman-teman ynag ingin melihat daftar lengkapnya, mangga googling dengan keyword “Holmes-Rahe Stress Scale”. Yang berbentuk gambar juga banyak beredar. Yang menariknya, dalam daftar stressor itu adalah, ada “vacation”/ liburan, dengan bobot stress 13. Waktu baca itu beberapa tahun lalu, saya mengeryitkan kening. Kenapa liburan yang harusnya refreshing juga bisa jadi stressor ya?

Saya baru paham dan setuju bahwa liburan, ternyata bisa juga jadi stressor buat kita setelah mengalaminya bulan Desember lalu. Jadi Desember lalu, kami sekeluarga ber-6 merencanakan liburan berupa umroh plus turki. Jadi kami akan 3 hari ke Turki, baru umroh : 3 hari di Madinah, 4 hari di Mekah. Sejak packing, udah terasa tuh ketegangan stress itu. Yang jadi sumber utamanya adalah 2 anak “kecil” itu. Si gadis kecil 9 tahun dan si bungsu 6 tahun. Pertama, ini adalah perjalanan jauh pertama kami sekeluarga. Kami akan ber-pesawat selama 12 jam. Padahal perjalanan pesawat terlama anak-anak hanyalah ke Lombok, 3 jam-an. Khawatir banget dua anak itu “rewel” dan mati gaya di pesawat dan proses sebelum-setelahnya. Kedua, di Istanbul sudah masuk winter. Saya pernah ke Osaka pas winter, jadi sedikit kebayang. Tapi anak-anak kan belum pernah. Jadi saya cemas banget apakah persiapan saya cukup untuk anak-anak atau engga. Pas di toko baju winter maupun pas packing 6 koper, pikiran dan perasaan saya selalu bergejolak : masukin segala perlengkapan, trus berpikir: ini terlalu berlebihan gak ya? kluarin lagi. Tapi kalau nanti kurang persiapan, nyesel loh. Masukin lagi. Karena si sulung boarding dan si abah di Jakarta, maka packing 6 koper itu bingung sendiri. Ada sih si bujang, si gadis kecil dan si bungsu nemenin. Tapi minta pendapat ke mereka mah… bukan solusi dalam hal ini haha…Ketiga, karena ini bukan semata-mata liburan tapi ibadah, maka itu juga bikin stress. Saya tahu sih, pada dua anak “kecil” itu harapan saya gak terlalu tinggi. Tujuannya mengajak ke tanah suci juga adalah mengenalkan mereka pada jatidiri mereka sebagai muslim. Tapi tetep aja perasaan bahwa harus menyiapkan mereka secara spiritual, itu membuat stress hadir. Jadi dua bulan sebelum Desember, tiap malam “bacain buku cerita” sebelum tidurnya adalah pengenalan pada sejarah-sejarah di tempat-tempat di tanah suci yang akan mereka kunjungi. Dan yang keempat adalah, saya stress karena takut nanti pas liburan stress haha….bener kan, kehidupan emak itu selalu complicated …. Duh, soalnya saya sering denger cerita anak-anak, klien saya, yang menghayati liburan bukan sebagai momen menyenangkan tapi momen menegangkan. Dan itu semua disebabkan oleh karena….. ibunya stress jadi marah-marah haha….

Singkat kata singkat cerita, tgl 22 Desember kami berangkat. Kami ber-6 plus 6 koper bagasi, 3 koper kabin dan 2 tas gendong. Salah satu dari 3 koper kabin adalah milik si bungsu, yang keukeuh pengen “bawa koper sendiri”. Sebagai penganut madzhab parenting “autonomy support”, saya izinkan juga dengan penjelasan kondisi di bandara nanti gimana, tanggung jawab dia gimana, plus tentunya saya pilihkan koper yang mudah dan bisa saya bantu nanti kalau dia mengalami kesulitan. Isi kopernya segala macam hal yang membuat saya merasa bisa mengantisipasi kalau dia rewel atau si gadis kecil mati gaya. Buku-buku favorit mereka, buku dan alat gambar, mainan kesukaan. Selain yang “kasat mata”, saya juga mengajarkan dua anak kecil itu “butterfly hug”. Butterfy hug adalah teknik relaksasi sederhana, yang saya ajarkan untuk dilakukan anak-anak kalau mereka panik, cemas, bete dll. Teman-teman yang mau tau, bisa googling di youtoube ya…

Sampai di Bandara jam 2 siang, pesawat kami take off jam 21. Jam 19, kami mulai prosesnya. Saya udah mulai sport jantung. Saya khawatir anak-anak lelah dan bete. Tapi alhamdulillah selama menunggu, mereka ternyata punya coping masing-masing. Si abah, mudah banget terlelap nyenyak. Si bujang asyik dengan novel tebalnya. Si sulung khusyuk dengan hafalan Qur’annya. Si gadis kecil dan si bungsu? ah, mereka ternyata gak pernah kehilangan gaya dengan beragam imajinasi berdua mereka. Kadang mereka lari-lari, pas saya tanya lagi ngapain, mereka bilang lagi jadi binatang. Kadang cekikikan berdua. Saya mulai berpikir: kayaknya saya yang perlu butterfly hug haha….

Masuk ke pesawat, saat saya masih tegang-tegang menenangkan diri (maklum, cerita-cerita tentang kecelakaan pesawat pasti langsung datang tak diundang dalam pikiran), eh pas saya liat, dua anak kecil itu udah asyik main game dan explore fitur-fitur yang ada di layar depan mereka. Jadi ketegangan karena pikiran saya harus “menenangkan” anak-anak, ternyata memang kecemasan belaka. Si bungsu dan si gadis kecil memilih duduk dengan saya, sementara si sulung, si bujang dan si abah di baris belakang kursi kami. Pikiran bahwa saya harus “take care of” dua anak kecil itu, ngajarin ini itu, ternyata tak terjadi. Malah beberapa jam ke depan, saya yang diajarin beragam macam fitur layar. “Liat bu, kita diatas Irak nih” kata si gadis kecil. “Bu, ibu mau denger murrotal? sini dede pilihin” kata si bungsu. Saya sekali lagi merasa, butterfly hug itu tak dibutuhkan anak-anak, saya yang membutuhkannya.

Sampai di bandara Istanbul, menjelang subuh. Setiap masuk antrian imigrasi, saya suka tegang. Mungkin karena kebanyakan nonton “locked up abroad” haha… Tambah tegang karena si anak-anak itu keukeuh pengen “sendiri”. Pegang paspor sendiri, cek imigrasi sendiri. Saya tau mereka sangat excited dengan hal baru, seneng ekslporasi, dan di ujungnya, akan merasa “aku bisa”, lalu mereka akan tumbuh menjadi berdaya dan percaya diri. Akhirnya saya bolehin sambil degdegan, terutama karena liat wajah petugas imigrasi Turki yang jutek2. Tapi lihatlah… dua anak itu masuk ke pengecekan imigrasi dengan riang. Dan lalu, si wajah jutek petugas itu pun senyum, tos-tos-an segala… Kembali saya merasa, saya yang harus butterfly hug😉

Kami sholat subuh di Bandara, dan bertemu dengan guide kami, om Yusuf. Orang Turki yang fasih berbahasa Indonesia ;). Keluar dari Bandara, udara dingin mulai terasa. Saya mulai cemas. Si gadis kecil punya asma. Saya takut banget dia gak menikmati liburan kalau asmanya kambuh. Kembali kekhawatiran saya tak terbukti. Si gadis kecil anteng-anteng aja. Si bungsu bahkan gak mau pake jaket tebel, cukup sweater aja. Kami tidak langsung ke hotel, melainkan langsung city tour. Selama city tour ke kota tua Istanbul, dua anak kecil itu udah “ngilang” aja. Terutama si bungsu yang maunya selalu jalan di depan sama om Yusuf. Saking cerewetnya dia, om Yusuf punya panggilan buatnya : “little monster” 😉 . Di sepanjang perjalanan, hampir selalu si anak-anak itu ada yang manggil, lalu dikasih sesuatu. Ada makanan, es krim, entah sama pedagang ataupun sama pengunjung. Ada juga yang sekedar memeluk atau mencium.

Tiga hari di Istanbul dan main-main salju di kota Bursa, tibalah saat kami terbang ke Madinah. Take off jam 12 malam, setelah menunggu sekitar 4 jam di bandara. Sampai di Madinah, antrian imigrasi panjaaaang… saya mulai stress lagi. Saya aja, orang dewasa, lelaaah banget rasanya. Apalagi anak-anak. Tapi kembali, saya semakin yakin kalau butterfly hug itu buat saya, bukan buat anak-anak. Di tengah kelelahan berdiri sekitar 2 jam-an, anak-anak itu punyaaaa aja cara. Tiba-tiba ketawa-ketawa. Saya perhatikan… ternyata mereka lagi cepet-cepetan nyari “Sultan”. Jadi mereka berdua pernah nonton channel youtube yang menggambarkan “kehidupan sultan vs kehidupan orang biasa”. Bodor-bodoran tentunya. Misalnya : “orang biasa, kalau gerah… pake kipas kertas. kalau sultan, gerah, kipas-kipasnya pake kipas uang ;)”. Di youtube itu, si sultan digambarkan pake gamis putih dan kafiyeh khas timur tengah. Nah… disana kan yang antri banyak…jadi mereka tiap kali liat yang yang pake baju gitu bilangnya sultan dan menghitung jumlah mereka haha….

childrenhasownwisdomDi pesawat pulang, ketika semuanya telah terlelap, saya pun merenung… perjalanan liburan keluarga ini mengajarkan banyak hal. Satu hal yang peling penting adalah… saya semakin yakin bahwa children has their own wisdom. Kita, sebagai orangtua, sering merasa bahwa kita adalah kuat, mereka adalah lemah. Kita adalah berdaya, mereka adalah bergantung. Padahal 15 tahun menjadi ibu dari 4 anak, plus membantu puluhan kasus relasi anak-orangtua, mengajarkan bahwa… teori perkembangan yang bilang bahwa setiap periode perkembangan itu punya kekuatan dan kelemahan masing-masing itu, benar.

Kalau bahasa spiritual nya mah… dalam setiap tahap perkembangan, manusia  tuh “sempurna”. Dalam perjalanan liburan ini saya Allah menunjukkannya. Ya, anak-anak memang gak punya pengetahuan banyak mengenai keterampilan memecehkan masalah. Tapi mereka punya cara sendiri memcahkan masalah mereka. Mereka memang fisiknya lebih lemah dibanding kita, tapi mereka punya antusiasme, spontanitas, rasa ingin tahu …

Ada banyak hal yang dari perjalanan liburan ini, meyakinkan saya bahwa seringkali kita hanya melihat anak-anak dari satu sisi, bahwa mereka belum kuat dalam pemikiran, emosi ataupun fisik. Itu sebabnya kita merasa bahwa kita harus selalu dalam posisi take care of mereka. Kita harus “menjaga ” mereka, kita harus “memberi” mereka. Kita harus serba kuat, serba bisa, serba tahu. Itu yang bikin kita menjadi tegang, dan stress.

Padahal Allah menciptakan mereka tak se-pasif itu, Mereka bukan anak yang diam “menunggu menjadi matang dan dewasa”. Kita tak selalu harus menjaga mereka, kita sesekali harus “berani” melepas mereka. Dan kadang, bahkan seringkali, kalau kita mau “melihat dan mendengar”, mereka yang take care of kita. Mereka yang “menjaga” kita. Syaratnya satu… kita lebih rileks untuk memberi ruang buat mereka. Dan biar kita rileks, kita lah yang memang perlu sering-sering ber-butterfly hug 😉

 

 

Advertisements

Untuk apa test Psikologi? Ujian cinta buat ibu

Usianya 8,5 tahun kala itu. Kelas 2 SD. Kreatif; pemikiran-pemikirannya selalu out of the box. Spontanitas dan tingkah polahnya selalu menghangatkan suasana dalam keluarga. Resilient, Ia selalu bisa memandang situasi sulit dari sudut pandang lain, sudut pandang yang unik. Mudah berteman. Kalau di tempat bermain, tiba-tiba dia sedang asyik ngobrol sama teman yang baru ia kenal. Exploratif, sangat suka mencoba hal baru. Saya bangga padanya. Tapi semua kelebihan itu, terhapus tanpa jejak tiap pagi hari dan tiap belajar matematika. Rasa bangga itu berganti dengan kekesalan.

Pelupa. Ia selalu lupa langkah-langkah pengerjaan matematika. Bagi kurung, pecahan senilai, mengalikan dua angka puluhan bersusun ke bawah …. Bukankah itu hal sederhana? prosedural. Yang paling mengesalkan adalah, tiap pagi berangkat sekolah, dia bisa 4 kali bolak-balik lantai atas-lantai bawah untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di kamarnya. Tas mukena, botol air minum, bahkan mensletingkan roknya, ia hampir selalu lupa.

Tiap pagi, meskipun saya melepasnya dengan ciuman di kening, tapi perasaan saya adalah, kesal. Bukan hanya kesal karena “masa gitu aja lupa sih?” … tapi seperti seluruh ibu di dunia ini, saya ingin memastikan ia terlindungi. Dan saya merasa “tegang”, sangat takut kalau saya lupa mengingatkan dia untuk mensletingkan roknya, ke sekolah dengan bagian belakang roknya menganga, dia akan diejek sama temen-temannya.  Jadi, kalau dianalisa, rasa kesal dan marah saya terkait sleting rok ini adalah reaksi emosi primer : kesal karena dia lupa; sekaligus reaksi emosi sekunder (saya khawatir dia diejek temannya ketika lupa, dan reaksi saya untuk menunjukkan kekahwatira itu adalah dengan marah). Ah, kehidupan emosi emak-emang memang complicated ya 😉

Begitu terus berlanjut sampai saya merasa : hubungan saya dengannya sudah tak sehat. Saya tidak suka rasa cinta saya padanya, tertutup oleh kekesalan dan kemarahan di titik-titik aktivitas keseharian. Saya juga benci diri saya yang begitu mudahnya “melupakan” semua kelebihan anak ini, tertutup oleh satu hal kekurangannya. Maka, saya merasa harus mengubah pola sikap saya. Dan langkah pertamanya, adalah memahami apa yang terjadi padanya.

Pemeriksaan psikologi. Itulah yang saya lakukan. Saya minta mahasiswa saya melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui apa yang terjadi dalam diri anak saya, sehingga perilaku “pelupa” itu tampil. Dalam psikologi, ada hukum BEHAVIOR IS MORE THAN YOU SEE. Ada seribu satu alasan yang berbeda untuk satu perilaku yang sama. Anak pelupa, bisa jadi karena kapasitas kecerdasannya rendah, bisa jadi karena cemas, bisa jadi karena gak peduli, dll dll. Saya harus tahu, apa yang terjadi dalam diri anak saya, yang mendasari munculnya perilaku itu.

Hasil pemeriksaan psikologi pun diberikan mahasiswa saya pada saya. Terkait dengan kesulitan di matematika, saya cek kapasitas kecerdasan dan kemampuan berpikir matematisnya. Hasilnya, IQ-nya 130. Very superior. Sangat cerdas. Lalu kenapa dia kesulitan matematika? kenapa dia pelupa? jawabannya adalah : ada satu aspek berpikirnya, yang membuat dia memang kesulitan untuk mengingat sekuens. Sekuens itu adalah langkah-langkah berurutan. 

Hasil pemeriksaan psikologi itu, membuat saya mengetahui “keunikan” anak saya; kekurangannya.  Itu adalah langkah pertama. Langkah selanjutnya, keputusannya ada di tangan saya. Apakah saya :

a. mau menerima kelemahan itu  sebagai bagian dari diri anak saya?

atau

b. tetap merasa bahwa anak saya, di usianya saat ini harusnya sudah bisa mengelola diri?

Saya harus menimbang-nimbang. Jika saya memilih option b;  tetap tak mau merubah diri, saya tetap menuntut anak, maka situasi tidak nyaman dalam relasi saya dengannya, akan terus terjadi. Sikap saya padanya akan didominasi oleh kekesalan dan kemarahan. Kebanggaan saya, rasa cinta saya, kelebihan-kelebihannya, akan menjadi invisible. Mengecil, tak terlihat, tertutup. Dia akan merasa tak punya kelebihan, karena input yang ia terima adalah label : “kamu pelupa”. Label itu akan menjadi identitasnya. Identitas yang tertanam dari luar, yang kemudian terinternalisasi menjadi citra dirinya. Dramatis ya? sedihnya, pola itulah yang secara real banyak terjadi.

Saya juga akan terus marah saat mengajari dia matematika, sehingga bisa jadi dia “takut” dengan matematika. Tak bisa dibedakan lagi materi matematika mana yang dia kuasai dan materi matematika mana yang ia kesulitan.

Kalau saya menuntutnya untuk berubah? jelas hasil pemeriksaan psikologi menunjukkan dia punya “lack” disitu. Saya berpikir… kalau saya menuntut dia yang berubah, bukan saya yang berubah, maka secara filosofis, mental saya sama dengan mental anak. Casing saya ibu yang umurnya 38 tahun, tapi mental saya mental egois karena menganggap anak yang umurnya beda 30 sama saya, “harus mengalah”. Dan jika saya memilih option b, saya jelas-jelas membiarkan anak saya berjuang sendirian mengatasi kelemahannya. Saya bukan bantuan bagi anak. Saya adalah ancaman buatnya. Saya bukan bagian dari sumber daya yang ia miliki, tapi saya adalah sumber stress buatnya.

Oke, baiklah. Saya memilih option a. Saya akan menerima kelemahan anak saya sebagai bagian dari dirinya. Saya akan berjuang untuk mencintainya tanpa syarat. So, what next? selalu memaklumi kah? selalu mengingatkannya tiap pagi untuk mensletingkan roknya? selalu menyimpankan handout materi pelajarannya yang tercecer? Lalu apa kabar dengan “kemandirian” yang kita idam-idamkan dimiliki oleh anak kita?

Lalu saya pun membuka-buka buku plus banyak merenung. Saya harus selesaikan “pergulatan rasa” dalam diri saya sebelum bersikap padanya. Saya merasa jauh lebih mudah menganalogikan situasi yang kini sedang terjadi, dengan pengalaman konkrit. Saya bayangkan anak saya sedang belajar berjalan. Usianya 18 bulan. Sudah mulai tanda “kuning” kalau di usia itu, belum bisa ajeg berdiri dan belajar melangkah sendiri. Ketika anak saya belum bisa melangkah sendiri padahal harusnya sudah bisa, apakah saya tega membiarkannya melangkah tanpa bantuan? apakah saya bilang pada si bayi 18 bulan itu : “kamu harusnya udah bisa jalan. ayo dong berusaha!kamu pemalas”. Tidak. Saat menghadapi situasi itu, seperti juga ibu-ibu lainnya di dunia ini, saya akan memutar otak sekuat tenaga bagaimana memberikan bantuan pada anak ini. Misal saya akan ngasih kursi, yang bisa dia dorong-dorong. Jadi meskipun tidak kita pegang, dia bisa belajar berjalan. Lalu kita kasih tepukan. Kita tak membiarkannya berdiri sendirian, tanpa bantuan, meskipun seharusnya dia sudah bisa. Kita tetap mencintainya, dan membantunya, lalu memberikan pujian meskipun dia berada di bawah “standar” harapan kita. 

Lalu, kalau kita bisa begitu sama anak waktu dia masih bayi,  kenapa sekarang jadi gak bisa? dia, adalah bayi itu. Anak yang sama. Dengan perasaan “tidak berdaya” yang sama karena kelemahannya. Dia butuh bantuan. Kalau dulu dia bisa jalan dengan proses bantuan kursi, maka bantuan apa yang bisa saya kasih sekarang?

Lalu saya ingat saat saya membantu ibu-ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus

“Pada anak-anak yang memiliki ganguan konsentrasi (ADD), saat mereka membaca, ajarkan mereka untuk menunjuk apa yang dibaca dengan jari. Itu membuat mereka bisa memfokuskan perhatiannya”.  itu kata saya.

“Pada anak-anak yang mengalami autisme non verbal, aturan-aturan keselamatan dibuat dalam bentuk foto dan tanda-tanda sederhana, misal gerbang sekolah, diberi tanda “X”; artinya tidak boleh keluar gerbang sekolah”. itu tips yang saya sampaikan

Pada anak-anak yang belum bisa membedakan sepatu kiri dan kanan, saya kasih tips pada orangtua untuk membuat stiker smile yang digunting dibagi dua, tempelkan masing-masing di sepatu, bilang ke anak “kalau pake sepatu, sepatunya harus ketemu jadi senyum ya”.

Pada anak yang sering ilang tempat minum di sekolah, saya minta anak buat gantungan kunci berisi gambar tempat minumnya, yang cukup besar sehingga tiap dia mau pulang sekolah, dia ingat untuk mengecek tempat minumnya.

Saya ingat juga waktu si bujang usia 4 tahun, saya “membantu dia” untuk tidak tantrum karena pengen mainan, dengan menghindari melewati lorong mainan. Sampai usia 6 tahun, saya ingat betul dia suatu saat gak mau turun dari mobil. Dia bilang : “aku disini aja. kalau ikut aku suka tergoda beli mainan, nanti aku tantrum”.

Saya juga ingat 5 tahun lalu, si bujang selalu kehilangan handout atau lembar tugasnya, saya bantu dengan sederhana : Saya sediakan box, dengan satu perintah : tumpuk apapun yang diterima dari sekolah di box itu. Gak rapi? gapapa. Sehingga apapun, bisa dicari di box itu. And its works.

hanadiaList gambar sederhana yang ia buat sendiri, ia tempel di dinding kamarnya, ia cek sebelum ia turun ke bawah untuk sarapan, menyelesaikan semua masalah anak saya, dan relasinya dengan saya. Saya buang label “pelupa” yang suka dia sematkan pada dirinya sendiri. “Teteh bukan pelupa. Teteh suka lupa kalau gak diingetin. Artinya, kalau ada yang ngingetin, teteh gak lupa. Masalahnya, ibu gak selalu ada untuk ngingetin teteh. Jadi teteh ibu bantu buat punya cara untuk mengingatkan diri sendiri”. 

Saya tak lagi marah karena dia bolak-balik, tak lagi tegang karena harus ingetin  untuk sletingin roknya.

Cara sederhana ini, bisa membuat anak merasa tidak berjuang sendirian. Ia akan merasa dipahami, diterima, dicintai. Penerimaan orangtua, adalah benih bagi anak untuk menerima dirinya. Cinta orangtua, adalah benih untuk dia mencintai dirinya.

Bantuan sederhana ini, juga membuat ia  merasa  “aku bisa”. Kita mengajarkan padanya bahwa tak ada orang yang sempurna, kita semua punya kelemahan. Tapi kelemahan itu bukan penyakit.  Tak ada obat yang bisa menyembuhkannya secara instan, namun kita bisa mengelolanya. Kita juga mengajarkan bahwa setiap masalah ada solusinya. Punya prinsip itu, membuat anak jadi merasa “berdaya”. Kalaurasa “berdaya” dan “menerima kekurangan diri”  sudah dirasakan, maka semua potensi dari dirinya akan bersinar.

Buat kita sebagai ibu, bantuan sederhana ini pun membuat kita bisa memeluknya dengan erat, dengan tulus, karena saldo cinta kita padanya, lebih besar dari saldo kekesalan, kemarahan, dan kekecewaan kita. Lalu kita pun bisa menertawakan kejadian-kejadian yang melibatkan kelemahan anak, bersama-sama. Mentertawakan saat dia lupa membawa tas ke sekolah (ini bener kejadian loh … haha…) dan bisa geleng-geleng kepala tanpa marah saat “insiden2 kecil” terjadi.

Happy ending ini terjadi tentu bukan tanpa proses. Dan dalam prosesnya, kadang kita bisa toleransi, kadang masih meledak, tergantung suasana hati kita dan apakah kita lagi PMS atau engga haha. But its oke. Itu lebih baik dibandingkan kita terus-terusan marah dan kesal. Menjadi ibu ideal, memang harapan kita. Tapi kalau tak bisa, lakukan saja semaksimal yang kita bisa. Karena terfokus untuk jadi ideal, seringkali membuat kita malah jadi tak berbuat apa-apa dan membuat kondisi buruk semakin buruk.

Teman-teman, pasti sedikit banyak mengalami yang saya alami. Mungkin dalam bentuk yang berbeda, dengan kadar yang berbeda. Pengalaman saya dengan teman-teman yang memiliki masalah dengan isu “merasa tidak disayangi, tidak diterima apa adanya, tidak dibanggakan” oleh ibu, rasa itu tak pernah hilang. Itu bagai lubang, yang sulit untuk bisa ditutup dengan pencapaian prestasi pribadi apapun, dengan hadirnya sosok siapapun. Luka batin itu akan menganga, karena Yang Maha Kuasa memang menitipkan cintaNya pada makhluk, lewat sosok ibu. Karena dalam dirinya ada namaNya. Rahiim.

Karena begitu bermakna dan berharga cinta ibu, maka buat kita sebagai ibu, ujian untuk menumbuhkan cinta, menjaga cinta dan menguatkan cinta kita pada anak, bukan hal mudah. Melalui pergulatan rasa, yang tak hanya melibatkan diri kita saat ini, tapi juga kenangan masa lalu dan keresahan akan masa depan. Tapi ingat ! Kita punya rahiim! kita punya sifat Allah dalam diri kita. Kita bisa !Kita bisa menumbuhkan cinta itu. Kita bisa menjaga cinta itu, kita bisa menguatkan cinta itu. Cinta tanpa syarat. Sebanyak apapun kesalahan anak kita, kita punya potensi untuk tetap memeluknya.  Separah apapun kelemahannya, kita punya potensi untuk tetap berada di sampingnya. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mencintai anak kita sebesar itu? siapa yang akan memaklumi anak sesabar itu?

Ujian mencintai tanpa syarat ini, memang berat. Dan tak akan berhenti di usia anak berarapun. Hanya akan beda bentuk saja. Tapi kalau kita terus belajar dan berjuang, doa “robbighfirlii wali-wali dayya warhamhumaa kamaa robbayani soghiro” akan terucap dengan tulus dari anak-anak kita buat kita, semoga.