Children Have Their Own Wisdom : Kisah Butterfly Hug saat Liburan

Lima puluh dua tahun yang lalu, pada tahun 1967, dua orang psikiater bernama Thomas Holmes dan Richard Rahe meneliti apakah stress berpengaruh terhadap kondisi sakit pasien. Mereka mensurvey lebih dari 5,000 pasien, dan pada akhirnya menyusun “The Social Readjustment Rating Scale” atau terkenal dengan “Holmes-Rahe Stress Scale”.  Dalam alat ukur ini, ada 43 “life event” atau kejadian dalam hidup, dengan bobot stress-nya masing-masing, diurut dari yang bobot stress-nya paling tinggi ke yang paling rendah. Lima daftar stressor tertinggi yaitu : (1)  kematian pasangan, bobot stress 100, (2) Perceraian, bobot stress 73, (3) Perpisahan dalam pernikahan, bobot stress 65, (4) Masuk penjara, bobot stress 63, (5) Kematian anggota keluarga yang dekat dengan kita, bobot stress 63. Bagi teman-teman ynag ingin melihat daftar lengkapnya, mangga googling dengan keyword “Holmes-Rahe Stress Scale”. Yang berbentuk gambar juga banyak beredar. Yang menariknya, dalam daftar stressor itu adalah, ada “vacation”/ liburan, dengan bobot stress 13. Waktu baca itu beberapa tahun lalu, saya mengeryitkan kening. Kenapa liburan yang harusnya refreshing juga bisa jadi stressor ya?

Saya baru paham dan setuju bahwa liburan, ternyata bisa juga jadi stressor buat kita setelah mengalaminya bulan Desember lalu. Jadi Desember lalu, kami sekeluarga ber-6 merencanakan liburan berupa umroh plus turki. Jadi kami akan 3 hari ke Turki, baru umroh : 3 hari di Madinah, 4 hari di Mekah. Sejak packing, udah terasa tuh ketegangan stress itu. Yang jadi sumber utamanya adalah 2 anak “kecil” itu. Si gadis kecil 9 tahun dan si bungsu 6 tahun. Pertama, ini adalah perjalanan jauh pertama kami sekeluarga. Kami akan ber-pesawat selama 12 jam. Padahal perjalanan pesawat terlama anak-anak hanyalah ke Lombok, 3 jam-an. Khawatir banget dua anak itu “rewel” dan mati gaya di pesawat dan proses sebelum-setelahnya. Kedua, di Istanbul sudah masuk winter. Saya pernah ke Osaka pas winter, jadi sedikit kebayang. Tapi anak-anak kan belum pernah. Jadi saya cemas banget apakah persiapan saya cukup untuk anak-anak atau engga. Pas di toko baju winter maupun pas packing 6 koper, pikiran dan perasaan saya selalu bergejolak : masukin segala perlengkapan, trus berpikir: ini terlalu berlebihan gak ya? kluarin lagi. Tapi kalau nanti kurang persiapan, nyesel loh. Masukin lagi. Karena si sulung boarding dan si abah di Jakarta, maka packing 6 koper itu bingung sendiri. Ada sih si bujang, si gadis kecil dan si bungsu nemenin. Tapi minta pendapat ke mereka mah… bukan solusi dalam hal ini haha…Ketiga, karena ini bukan semata-mata liburan tapi ibadah, maka itu juga bikin stress. Saya tahu sih, pada dua anak “kecil” itu harapan saya gak terlalu tinggi. Tujuannya mengajak ke tanah suci juga adalah mengenalkan mereka pada jatidiri mereka sebagai muslim. Tapi tetep aja perasaan bahwa harus menyiapkan mereka secara spiritual, itu membuat stress hadir. Jadi dua bulan sebelum Desember, tiap malam “bacain buku cerita” sebelum tidurnya adalah pengenalan pada sejarah-sejarah di tempat-tempat di tanah suci yang akan mereka kunjungi. Dan yang keempat adalah, saya stress karena takut nanti pas liburan stress haha….bener kan, kehidupan emak itu selalu complicated …. Duh, soalnya saya sering denger cerita anak-anak, klien saya, yang menghayati liburan bukan sebagai momen menyenangkan tapi momen menegangkan. Dan itu semua disebabkan oleh karena….. ibunya stress jadi marah-marah haha….

Singkat kata singkat cerita, tgl 22 Desember kami berangkat. Kami ber-6 plus 6 koper bagasi, 3 koper kabin dan 2 tas gendong. Salah satu dari 3 koper kabin adalah milik si bungsu, yang keukeuh pengen “bawa koper sendiri”. Sebagai penganut madzhab parenting “autonomy support”, saya izinkan juga dengan penjelasan kondisi di bandara nanti gimana, tanggung jawab dia gimana, plus tentunya saya pilihkan koper yang mudah dan bisa saya bantu nanti kalau dia mengalami kesulitan. Isi kopernya segala macam hal yang membuat saya merasa bisa mengantisipasi kalau dia rewel atau si gadis kecil mati gaya. Buku-buku favorit mereka, buku dan alat gambar, mainan kesukaan. Selain yang “kasat mata”, saya juga mengajarkan dua anak kecil itu “butterfly hug”. Butterfy hug adalah teknik relaksasi sederhana, yang saya ajarkan untuk dilakukan anak-anak kalau mereka panik, cemas, bete dll. Teman-teman yang mau tau, bisa googling di youtoube ya…

Sampai di Bandara jam 2 siang, pesawat kami take off jam 21. Jam 19, kami mulai prosesnya. Saya udah mulai sport jantung. Saya khawatir anak-anak lelah dan bete. Tapi alhamdulillah selama menunggu, mereka ternyata punya coping masing-masing. Si abah, mudah banget terlelap nyenyak. Si bujang asyik dengan novel tebalnya. Si sulung khusyuk dengan hafalan Qur’annya. Si gadis kecil dan si bungsu? ah, mereka ternyata gak pernah kehilangan gaya dengan beragam imajinasi berdua mereka. Kadang mereka lari-lari, pas saya tanya lagi ngapain, mereka bilang lagi jadi binatang. Kadang cekikikan berdua. Saya mulai berpikir: kayaknya saya yang perlu butterfly hug haha….

Masuk ke pesawat, saat saya masih tegang-tegang menenangkan diri (maklum, cerita-cerita tentang kecelakaan pesawat pasti langsung datang tak diundang dalam pikiran), eh pas saya liat, dua anak kecil itu udah asyik main game dan explore fitur-fitur yang ada di layar depan mereka. Jadi ketegangan karena pikiran saya harus “menenangkan” anak-anak, ternyata memang kecemasan belaka. Si bungsu dan si gadis kecil memilih duduk dengan saya, sementara si sulung, si bujang dan si abah di baris belakang kursi kami. Pikiran bahwa saya harus “take care of” dua anak kecil itu, ngajarin ini itu, ternyata tak terjadi. Malah beberapa jam ke depan, saya yang diajarin beragam macam fitur layar. “Liat bu, kita diatas Irak nih” kata si gadis kecil. “Bu, ibu mau denger murrotal? sini dede pilihin” kata si bungsu. Saya sekali lagi merasa, butterfly hug itu tak dibutuhkan anak-anak, saya yang membutuhkannya.

Sampai di bandara Istanbul, menjelang subuh. Setiap masuk antrian imigrasi, saya suka tegang. Mungkin karena kebanyakan nonton “locked up abroad” haha… Tambah tegang karena si anak-anak itu keukeuh pengen “sendiri”. Pegang paspor sendiri, cek imigrasi sendiri. Saya tau mereka sangat excited dengan hal baru, seneng ekslporasi, dan di ujungnya, akan merasa “aku bisa”, lalu mereka akan tumbuh menjadi berdaya dan percaya diri. Akhirnya saya bolehin sambil degdegan, terutama karena liat wajah petugas imigrasi Turki yang jutek2. Tapi lihatlah… dua anak itu masuk ke pengecekan imigrasi dengan riang. Dan lalu, si wajah jutek petugas itu pun senyum, tos-tos-an segala… Kembali saya merasa, saya yang harus butterfly hug😉

Kami sholat subuh di Bandara, dan bertemu dengan guide kami, om Yusuf. Orang Turki yang fasih berbahasa Indonesia ;). Keluar dari Bandara, udara dingin mulai terasa. Saya mulai cemas. Si gadis kecil punya asma. Saya takut banget dia gak menikmati liburan kalau asmanya kambuh. Kembali kekhawatiran saya tak terbukti. Si gadis kecil anteng-anteng aja. Si bungsu bahkan gak mau pake jaket tebel, cukup sweater aja. Kami tidak langsung ke hotel, melainkan langsung city tour. Selama city tour ke kota tua Istanbul, dua anak kecil itu udah “ngilang” aja. Terutama si bungsu yang maunya selalu jalan di depan sama om Yusuf. Saking cerewetnya dia, om Yusuf punya panggilan buatnya : “little monster” 😉 . Di sepanjang perjalanan, hampir selalu si anak-anak itu ada yang manggil, lalu dikasih sesuatu. Ada makanan, es krim, entah sama pedagang ataupun sama pengunjung. Ada juga yang sekedar memeluk atau mencium.

Tiga hari di Istanbul dan main-main salju di kota Bursa, tibalah saat kami terbang ke Madinah. Take off jam 12 malam, setelah menunggu sekitar 4 jam di bandara. Sampai di Madinah, antrian imigrasi panjaaaang… saya mulai stress lagi. Saya aja, orang dewasa, lelaaah banget rasanya. Apalagi anak-anak. Tapi kembali, saya semakin yakin kalau butterfly hug itu buat saya, bukan buat anak-anak. Di tengah kelelahan berdiri sekitar 2 jam-an, anak-anak itu punyaaaa aja cara. Tiba-tiba ketawa-ketawa. Saya perhatikan… ternyata mereka lagi cepet-cepetan nyari “Sultan”. Jadi mereka berdua pernah nonton channel youtube yang menggambarkan “kehidupan sultan vs kehidupan orang biasa”. Bodor-bodoran tentunya. Misalnya : “orang biasa, kalau gerah… pake kipas kertas. kalau sultan, gerah, kipas-kipasnya pake kipas uang ;)”. Di youtube itu, si sultan digambarkan pake gamis putih dan kafiyeh khas timur tengah. Nah… disana kan yang antri banyak…jadi mereka tiap kali liat yang yang pake baju gitu bilangnya sultan dan menghitung jumlah mereka haha….

childrenhasownwisdomDi pesawat pulang, ketika semuanya telah terlelap, saya pun merenung… perjalanan liburan keluarga ini mengajarkan banyak hal. Satu hal yang peling penting adalah… saya semakin yakin bahwa children has their own wisdom. Kita, sebagai orangtua, sering merasa bahwa kita adalah kuat, mereka adalah lemah. Kita adalah berdaya, mereka adalah bergantung. Padahal 15 tahun menjadi ibu dari 4 anak, plus membantu puluhan kasus relasi anak-orangtua, mengajarkan bahwa… teori perkembangan yang bilang bahwa setiap periode perkembangan itu punya kekuatan dan kelemahan masing-masing itu, benar.

Kalau bahasa spiritual nya mah… dalam setiap tahap perkembangan, manusia  tuh “sempurna”. Dalam perjalanan liburan ini saya Allah menunjukkannya. Ya, anak-anak memang gak punya pengetahuan banyak mengenai keterampilan memecehkan masalah. Tapi mereka punya cara sendiri memcahkan masalah mereka. Mereka memang fisiknya lebih lemah dibanding kita, tapi mereka punya antusiasme, spontanitas, rasa ingin tahu …

Ada banyak hal yang dari perjalanan liburan ini, meyakinkan saya bahwa seringkali kita hanya melihat anak-anak dari satu sisi, bahwa mereka belum kuat dalam pemikiran, emosi ataupun fisik. Itu sebabnya kita merasa bahwa kita harus selalu dalam posisi take care of mereka. Kita harus “menjaga ” mereka, kita harus “memberi” mereka. Kita harus serba kuat, serba bisa, serba tahu. Itu yang bikin kita menjadi tegang, dan stress.

Padahal Allah menciptakan mereka tak se-pasif itu, Mereka bukan anak yang diam “menunggu menjadi matang dan dewasa”. Kita tak selalu harus menjaga mereka, kita sesekali harus “berani” melepas mereka. Dan kadang, bahkan seringkali, kalau kita mau “melihat dan mendengar”, mereka yang take care of kita. Mereka yang “menjaga” kita. Syaratnya satu… kita lebih rileks untuk memberi ruang buat mereka. Dan biar kita rileks, kita lah yang memang perlu sering-sering ber-butterfly hug 😉